Saturday, August 29, 2015

Musholla di Electronic City, SCBD



Buat Anda yang kebetulan belanja di Electronic City, SCBD, Sudirman, Jakarta Pusat, nggak perlu risau cari musholla. Di gerai yang khusus menjual produk-produk elektronik ini tersedia dua musholla.

Musholla pertama ada di samping pintu keluar, tepatnya menghadap ke Pacific Place. Di musholla pertama ini terdapat dua buah keran buat wudhu yang ada di dalam, tetapi nggak ada tempat buat buang wajat alias WC. Sajadah yang tersedia di situ cukup buat dua baris jamaah, dimana satu barisnya terdiri dari lima sampai enam orang. Tapi kalo ada wanita yang mau sholat, baris kedua nggak bisa dipergunakan buat shaft laki.


Terdapat 2-3 mukena yang tergantung di tembok. Jadi nggak perlu sedih kalo muslimah lupa bawa mukena.

Musholla kedua berada di basement. Kalo ingin menuju ke musholla ini, Anda kudu melewati lorong di belakang food court. Lorong ini juga melewati WC dan kemudian Anda melewati tangga.

Di musholla yang berada di basement ini terdapat empat keran yang terpisah. Sementara jumlah shaft sama dengan musholla yang ada di dekat pintu keluar. Yang membedakan cuma suhu udara. Oleh karena berada di basement, maka suhu udara musholla ini relatif panas dan pengap. Makin berkeringat kalo yang sholat bejibun. Memang sih di musholla di pintu depan juga cuma ada satu kipas angin, tetapi udara masih bisa masuk lewat pintu yang kebetulang menghadap ke jalan SCBD.



Anyway, baik di basement maupun di pintu keluar, Electronic City, SCBD luar biasa. Gerai ini menyediakan dua musholla. Terus terang saya nggak tahu siapa pemilik toko ini dan apa agamanya. Yang pasti, orang Islam yang konglomerat pun belum tentu punya pikiran membuatkan dua musholla sekaligus dalam satu toko.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Friday, August 28, 2015

MASJID BERARSITEKTUR TERBUKA



Memang paling enak jadi orang Islam yang nggak ikut dalam sebuah aliran. Kita bisa bebas sholat dimana saja kita pengen sholat. Bayangkan kalo kita ikut satu aliran, pasti kita merasa ragu buat sholat di masjid A atau di masjid B.

Saya adalah orang Islam yang paling nggak suka ikut aliran-aliran, termasuk ikut organisasi-organisasi Islam. Buat saya, semua itu bisa mengkotak-kotakkan Islam sebagai agama yang asyik dan buat siapa saja.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiqh_mOUxIiCPXobVJNzv5cAVyGXslemtPgR69itPPOqb7BwOVaZKRpb-jdLOf08v2QIhsCAFOYUGHj8ilaSTLfmm0yMfA_0pt4_ldA5IbIUhoDyEyw9xXStS4cZmizY1qfOBDxerDi94/s320/masjid+sahid1.jpg

Namun begitu, Islam saya bukanlah Islam bebas yang masuk ke dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Wah, mohon maaf, JIL nggak masuk hitungan saya. Saya pun bukan ikut aliran pluralis yang menyamakan semua agama. No way! Islam saya, ya Islam.

Itulah yang membuat saya bebas merdeka sholat dimana saja, termasuk di masjid megah dan keren yang ada di kompleks hotel Sahid. Masjid ini bernama masjid Nurul Iman.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7LffYqNkGCDqRTJwMakkt8nB-vJ-Pg77UnXZjYm7G_ZAwFD_Av7UEAUTEX55FN-dnwR3MjPx5Uj5q7nwdiKXHj4AIfOtDxyQSFc5UJh-lXiq0AvMcUhjLU0Gi0yI0klxjvgSm_BPWjXg/s320/masjid+sahid2.jpg

Belakang ini, setiap kali shooting di Citywalk, Sudirman, saya lebih suka sholat di masjid ini. Selain ruangannya nggak bau kayak di musholla Citywalk yang ada di basement, masjid ini punya arsitektur yang menarik sekali. "Terbuka" dan memanfaatkan air sebagai penyerap udara panas di sekitar. Nggak heran masjid ini nggak dipasang penyejuk udara.

Coba deh sekali-sekali mampir ke masjid ini. Ya, selain mengaggumi arsitektur masjidnya, Anda tentu akan merasakan kenikmatan sholat. Yuk, sholat!

all photos coyright by Brillianto K. Jaya

MEMFUNGSIKAN LAHAN PARKIR UNTUK JUM'AT-AN



Saat ini banyak gedung yang memfungsikan lahan parkir mereka menjadi tempat buat sholat Jum'at. Beberapa kali saya sempat sholat Jum'at di gedung-gedung yang menutup sebagian lantai di tempat parkir menjadi tempat sholat Jum'at. Maklumlah, terkadang sebuah gedung nggak punya masjid. Kalo pun ada, kapasitas masjid dengan jumlah jumaah nggak cukup.

Itu artinya apa? Ternyata banyak orang Islam di gedung yang menyelenggarakan sholat Jum'at. Bayangkan kalo orang-orang itu setiap hari sholat berjama'ah, pasti nggak cuma hari Jum'at parkiran ditutup, tetapi setiap hari. Buat saya menyenangkan sekali. Namun sayang, nggak semua orang yang sholat Jum'at melaksanakan sholat wajib lima kali. Barangkali sholat, tetapi jarang sholat berjamaah.

Nah, berikut ini, foto-foto suasana ketika saya sholat Jum'at di Grand Indonesia, jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Lokasi sholat berada di gedung parkir lantai 11.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEgHMsv566-3q9XvbgnnwWAkpuKG1Rl0ZHbE6ZXHT1ximfTfvupHn1vFS1IJkImDcEElmMY0k85hvoISTtdYU8rHBug9cPp9bquXwg4UE1PWyjemR4xYCPQN1QHF5CL_Vzx1ZM0jpxlRg/s200/Image023.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEis2RxGJ1qVWaZ-g7VNekcoFhKoVbJ8HdFc_X6s9pIMHu9taVW8mideaX_Q7DXtT69EBxZs9pfpTatXzMGB6EmTDryiUkCqTRBI69SjJExK64tci3lRi-fL9GOM2CZVsEIyYoMDHKQ34pE/s200/Image016.jpg


Lokasi parkir di lantai 11 Grand Indonesia dirubah menjadi tempat sholat Jum'at.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5pdaxxdutuQVEZy_Jg956XRB0YPUKuyitB-ob_PS1hupWQvJevC4kndAKc20IS-icj-mBJLO7_m0moSyFHlF3YSz0F8KUEQ9_kP-TH30C6h4UslfXzi4OBoMKIOGCdh8tb_EVz3aeiAM/s320/Image017.jpg
Gundukan karpet yang Anda lihat di sebelah kanan itu bukan kuburan, bukan pula orang tidur yang berselimut karpet. Gundukan itu berasal dari pembatas ban di parkiran. Tahu kan? Biasanya kalo kita mundur, ada pembatas ban di garis belakang, dimana berfungsi supaya mobil tidak menyentuh mobil di belakangnya.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw57UGngEtOTO0RIKaLXwegVBcsPzz4irvodqu4zWvkFqrD5XfgEqxmdArY8IcAMNRiU-M1InJm4QcRLcXBa5qLLgbPm3Yrx1fQ-u1a6RTX1S7joZ_VRj8i9JMwJmcObPu13A0je9bc2E/s320/Image019.jpg





Kelar sholat, jamaah saling berebutan untuk meninggalkan lokasi. Ada yang nggak sempat berdoa, langsung cabut. Ini dilakukan demi bisa masuk ke lift. Padahal nggak akan lari gunung dikejar, ya nggak? Kita berdoa dulu dengan tenang, toh nantinya juga bisa naik lift tanpa harus berdesak-desakan.







https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqoGKvXoLxhxhlrZbiWUPsspC0L__4iU89Eoa4og9Npzk7Eg7owyiQT5o1mqDiLhVRIKvHwyjfd5ykRb_mNsxaSN-35XPSGIGeh4IV9WEhEY8RItGj_waa94H6f643-3o8PZzNeNCefvo/s320/Image022.jpg



Bagi yang sudah selesai berdoa, tapi nggak mau ikut-ikutan antre lift, memilih berleha-leha di situ dulu. Mumpung karpet belum diangkut, mereka tidur-tiduran di situ. Kapan lagi bisa tiduran di tempat parkir, ya nggak?


all photos copyright by Brillianto K. Jaya

KURBAN DI KAMPUNG OGUT


Meski masjid kecil dan lokasinya di dalam kampung, ada tiga ekor sapi yang dipotong dan 10 ekor kambing. Kalo dibandingkan dengan masjid Istiqlal yang terdapat 20 ekor sapi dan ratusan kambing, masjid Uswatun Hasanah yang lokasi persisinya di bawah gang Kabel, Cempaka Putih Barat, ya lumayanlah. Daripada nggak ada sama sekali warga yang mau berqurban, mending dikit tapi tetap bisa potong sapi dan kambing.

Sebagai jama'ah masjid di kampung, ogut sedikit banyak membantu, at least membantu mengabadikan moment-mement berharga mereka yang sedang memotong sapi, kambing, atau memporak-porandakan tubuh hewan-hewan qurban dengan pisau mereka. Ogut juga merasa berbahagia bisa bersama-sama para kambing yang hidupnya diujung golok nan tajam membara itu.

Selamat jalan duhai wahai hewan-hewan, semoga selamat sampai tujuan!
















all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Kisah Anak Penghafal Al-Quran, Syarifuddin dari Afrika dan 10 Bersaudara dari Indonesia



Dua buku menarik dan sangat inspiratif yang saat ini saya baca adalah Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang dan 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an. Buku pertama ditulis oleh Mujahidin Nur, sedang buku kedua ditulis oleh Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah.

Buku pertama, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang ini mengisahkan tentang anak bernama Syarifuddin Khalifah yang terlahir dari keluarga Kristen Khatolik ternyata mampu menghafal Al-Qur’an di usia 1,5 tahun. Allah swt memperlihatkan keajaiban bocah Arusha, kota kecil di utara Tanzania, Afrika.

Bloggers, bahwa dikisahkan, penduduk di Arusha yang hanya berjumlah 1.2 juta orang, dimana mayoritas penduduk beragama Kristen, baik Kristen Anglikan dan Kristen Katolik, lahir anak yang di usia 4 bulan sudah mampu membaca ayat suci Al-Qur’an. Anak pasangan Francis dan Domisia ini pun semakin membuat kehebohan ketika di usianya yang masih beberapa hari, menolak untuk dibaptis di Kingori Baptis Church.
Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah na jumba wake Muhammad saw!”

Begitulah Syarifuddin kecil mengucapkan pada kedua orangtuanya dalam bahasa Arusha. “Ibu, tolong jangan baptis saya, saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW.”

Jauh setelah acara pembaptisan yang gagal, Allah memperlihatkan kemampuan Syarifuddin menghafal al-Qur’an maupun sholat lima waktu tanpa ada yang mengajarkan maupun mencontohkan.

Melihat keajaiban demi keajaiban, Francis dan Domisa akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka resmi masuk Islam dengan disaksikan oleh Ustaz Ismael. Penduduk yang sebelumnya mayoritas beragama Kristen ramai-ramai masuk Islam. Tak heran, kini ribuan orang telah diislamkan oleh Syarifuddin.

Bloggers, suatu ketika Syarifuddin –yang sudah digelari Syekh- datang ke Ethiopia. Ribuan orang hadir di stadion Ethiopia. Tak cuma kaum muslimin, justru yang hadir mayoritas umat Kristiani. Harap maklum, anak yang terlahir dari keluarga non-muslim memiliki magnet yang begitu kuat di kalangan Kristiani. Mereka yang tidak percaya maupun setengah percaya ingin melihat langsung sosok Syarifuddin.

Bahkan, mereka yang tidak percaya sempat mengatakan pada Syekh, “Are you Jesus?” Kemudian dengan tenang Syakh Syarifuddin menjawab, “No...I’m not Jesus, I’m created by God. The same God who created Jesus.” (hal 109).  Di stadion Ethiopia itu pula, bocah ini membimbing umat Kristiani untuk mengucapkan dua kalimat syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha illallaah. Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Subhanallah!

Buku kedua 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an memang sudah lama. Buku ini diterbitkan Sygma Publishing, Bandung pada 2010, namun masih sangat update dan direkomendasikan menjadi salah satu buku koleksi Anda. Buku kedua ini mengisahkan sebuah keluarga muslim di Indonesia yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Mereka adalah keluarga pasangan suami istri Mutammimul Ula dan Wirianingsih beserta 10 putra-putri mereka.

Bloggers, Mutammimul Ula (Kang Tamim) adalah anggota DPR RI dari fraksi PKS, sedangkan Wirianingsih (Mbak Wiwi) adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia. Meski kedua orang ini sibuk, namun mereka berhasil mencetak 10 anak yang mampu hafal Al-Qur’an.

Anak pertama, Afzalurahman Assalam, sudah hafal Al-Qur'an sejak usia 13 tahun. Lulusan Teknik Geofisika ITB ini sempat  Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo. Lalu anak kedua, Faris Jihady Hanifah, telah hafal Al-Qur'an di usia 10 tahun dengan predikat mumtaz (sempurna cara membacanya). Mahasiswi Fakultas Syariat LIPIA ini sempat meraih juara I lomba tahfiz Al-Qur'an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003. Bukan cuma itu, di bidang akademik ia pun menjadi juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 2004.

Anak ketiga, Maryam Qonitat, hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo ini adalah pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Kemudian anak keempat, Scientia Afifah Taibah, telah hafal 29 juz sejak SMA. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini sempat menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur'an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.

Anak Kelima, Ahmad Rasikh 'Ilmi, telah hafal lebih dari 15 juz Al-Qur'an. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah. Ismail Ghulam Halim, putra keenam, telah hafal lebih dari13 juz Al-Qur'an. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.

Anak Ketujuh, Yusuf Zaim Hakim, telah hafal lebih dari 9 juz Al-Qur'an. Bukan cuma jago hafal al-Qur’an, prestasi akademiknya pun luar biasa. Ia sempat duduk di peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor. Muhammad Syaihul Basyir, putra kedelapan, sudah hafal Al-Qur'an 30 juz pada saat kelas 6 SD.Hadi Sabila Rosyad, putra kesembilan,  sudah hafal lebih dari 2 juz Al-Qur'an dan terakhir Himmaty Muyassarah,
putri kesepuluh, juga sudah hafal lebih dari 2 juz Al-Qur'an.


Bloggers, apa tips yang dilakukan oleh Kang Tamim dan Mbak Wiwi sehingga mampu mencetak putra-putrinya hafal al-Qur’an?

1. Kuncinya adalah keseimbangan proses. Meski berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain.
2. menyingkirkan televisi dari rumah.
3. Tidak memasang gambar-gambar selain kaligrafi.
4. Tidak membunyikan musik-musik yang melalaikan.
5. Selesai salat Subuh dan Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Quran yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini.
6. Sewaktu anak masih balita, orangtua konsisten membaca Al-Quran di dekat mereka dan mengajarkannya.
7.     Mengkomunikasikan tujuan kenapa harus hafal al-Qur’an. Awalnya tidak masalah memberikan hadiah.
8. Perlu diedukasi pada anak, urgentitas menjadi hafiz Al-Quran, selain keutamaan di dunia dan keutamaan akhirat.

Bloggers, semoga dua kisah di atas, yakni kisah Syarifuddin dari Afrika dan 10 Bersaudara yang hafal al-Qur’an menjadi inspirasi kita bersama. Insya Allah, kelak kita sebagai orangtua muslim harus jauh bersemangat untuk mencetak generasi-generasi Qur’an, ketimbang mendahulukan mengikuti les ini-itu. Sebab, mayoritas mereka yang hafal al-Qur’an, secara akademis memiliki nilai luar biasa.

Menjadi Buku Referensi Jurusan Broadcast

Apa yang menyenangkan bagi seorang penulis? Barangkali banyak penulis yang akan menjawab sama, yakni bukunya laku terjual dan mendapatkan royalti besar. Saya sependapat! Namun, kalu saya ditanya lagi, ada satu hal yang menyenangkan di luar itu. Apakah itu?

BERGUNA! Maksudnya? Maksudnya, buku yang kita hasilkan itu berguna bagi banyak orang. Bukan cuma sekadar bisa terjual habis, gara-gara bukunya membuat banyak pembaca terbahak-bahak. Atau membuat sedih. Tetapi, buku yang dihasilkan harus menginspirasi dan BERGUNA.

Saya bersyukur bisa menghasilkan karya buku Broadcast Undercover. Meski belum terjual sampai puluhan ribu, bahkan jutaan eksemplar, tetapi buat saya sungguh menyenangkan jika buku saya berguna, dijadikan bahan referensi atau rujukan bagi para mahasiswa. Artinya, meski tak banyak pembaca yang membeli, tetapi buku saya ada di perpustakaan dan menjadi rujukan.



Apa sih isi buku Broadcast Undercover? Ada baiknya Anda melihat sejumlah pernyataan teman-teman saya yang ada di cover buku saya ini...



Wednesday, August 26, 2015

Saturday, April 4, 2015