Bukan infotainment jika tidak mengangkat aib figure publik. Mau figure publik yang masih hidup, maupun yang sudah meninggal. Bagi infotainment semua bisa jadi berita dan barangkali mendapatkan rating tinggi.
Paling aktual tentang almarhum Ade Namnung. Belum juga seminggu meninggal, ada infotainment yang sudah siap mengorek-ngorek rahasia keluarganya. Bahkan di situs detik, berita tentang masalah keluarga almarhum sudah dipublikasikan kemarin. Judulnya: “Keluarga Kecewa Ada yang Mengaku Ayah Ade Namnung”.
Awal berita itu muncul sebetulnya dari pesan yang di-broadcast via Blackberry maupun SMS, yang isinya seperti ini:
“Saya Ramon Papana, papanya alm. Ade Namnung ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, doa, dan dukungan teman-teman selama Ade Namnung dirawat di Surabaya dan Jakarta sampai menutup mata dan dimakamkan hari ini. Ade anak baik dan punya teman-teman yang baik seperti Mas dan Mbak sekalian. Terima kasih dan mohon doanya untuk Ade Namnung”
Seperti tertulis di pesan tersebut, yang mengirim pesan adalah Ramon Papana. Di kalangan comic di dunia stand up comedy, nama pria tersebut sudah tidak asing lagi. Ia seorang penghibur yang memulai karirnya sebagai disc jockey (DJ). Di tahun 70-an, namanya dikenal sebagai DJ profesional pertama di Indonesia.
Pada 1997, Ramon membuka cafe bernama Comedy Cafe. Di cafe itulah ia mengembangkan stand up comedy yang sekarang ini berkembang pesat. Tak heran di kalangan comic, ia dianggap sebagai mentor dan mendapat julukan “Bapak Stand Up Comedy Indonesia”.
Kebetulan saya kenal dengan Ramon. Oleh beliau saya dijelaskan mengenai mengapa berita itu sampai terjadi dan akan melakukan klarifikasi di 40 hari meninggalnya almarhum Ade Namnung pada Maret mendatang. Namun saya mencoba memberi saran pada beliau agar tidak terpancing oleh infotainment dan kemudian meruncing menjadi konflik keluarga. Sebab, saya pribadi tidak suka jika orang sudah meninggal dibuka aibnya.
“Mas Ramon ada baiknya diselesaikan secara baik dan kekeluargaan,” saran saya. “Tidak perlu membuat konfrontasi. Dengan begitu akan membuat tenang almarhum”.
“Betul. Saya juga berharap dan bermaksud seperti itu,” ujar Ramon via BBM. “Yang utama adalah Namnung yang kita cintai bersama biar tenang. Amin. Thanks mas Brill”
“Alhamdulillah kalo mas Ramon berpikir sama dengan saya. Jangan terpancing oleh infotainment untuk buka masalah keluarga. Itu aib dan kasihan almarhum,” ujar saya menutup percakapan via BBM pagi ini.
Sahabat, kita tahu selama ini almarhum tidak memiliki catatan negatif sepanjang karirnya. Di mata para warga di rumah almarhum di Pondok Bambu pun Ade Namnung memiliki kepribadian yang baik. Jadi alangkah tidak terpuji jika “masalah” ini jadi bahan liputan infotainment dan dikonsumsikan untuk pemirsa televisi. Insya Allah baik Ramon Papana dan keluarga Ade Namnung bisa menyelesaikan “masalah” ini dengan baik dan lancar. Amin.
Thursday, February 2, 2012
Saturday, January 28, 2012
STAND UP COMEDY INDONESIA MENCARI BENTUK
Fenomena stand up comedy (SUC) yang belakangan ini muncul, memang cukup menarik. Betapa tidak, salah satu bentuk komedi ini tak cuma berkembang di kota-kota besar, tetapi juga berkembang di sejumlah daerah. Sebut saja Balikpapan, Makassar, Pontianak, Manado, dan sejumlah daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah komunitas SUC serta sejumlah event yang menampilkan comic baru lewat open mic di kafe-kafe di seluruh Indonesia. Namun apakah SUC yang saat ini muncul di televisi sudah mencerminkan SUC Indonesia?
Jelas, tak ada SUC Indonesia. Kita tahu, SUC bukan made in Indonesia. SUC adalah bentuk komedi yang berasal dari Eropa dan Amrik dari abad ke-18 ini. Meski begitu, bukan berarti kita (baca: para comic) bisa dijiplak mentah-mentah SUC sebagaimana biasa dimainkan di luar negeri.
“Oleh karena itu, saat ini saya sedang merumuskan stand up comedy Indonesia,” ujar pemilik Comedy Cafe dalam sebuah workshop SUC yang berlangsung di Metro TV pada 27 Januari 2012 lalu.
Sebagai televisi yang saat ini menjadi “kiblat” SUC di Indonesia, Metro TV membuat workshop bertema: “Fenomena Stand Up Comedy di Indonesia”. Tujuan dari workshop ini adalah memberikan pemahaman tentang SUC, mulai dari sejarah dan perkembangan di Indonesia. Dalam kesempatan workshop tersebut, hadir pula Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini hadir dalam kapasitas sebagai pengamat sosial dan budaya. Kebetulan UIN Syarif Hidayatullah sendiri adalah kampus yang pertama kali mengadakan workshop SUC pertama dan membentuk komunitas SUC.
Menurut Komaruddin tidak semua materi bisa dibawakan oleh para comic. “Di luar negeri mungkin segala materi yang dibawakan oleh para comic sangat bebas,” terang Komaruddin. “Di sana agama atau suku bisa dibuat joke atau guyonan. Tapi di sini kita tidak mungkin bisa sebebas di sana. Ada rambu-rambu yang harus diingat oleh para comic.“
Ada hal yang perlu diketahui oleh para comic, lanjut Komaruddin. Bahwa ada materi joke yang masih bisa diungkapkan dalam wilayah komunal, yakni sekelompok orang atau komunitas. Materi joke ini hanya terbatas pada kelompok tersebut. Namun jika materi joke komunal tersebut diangkat ke wilayah publik, maka joke tersebut akan didengar oleh masyarakat luas. Inilah yang seringkali bersingunggan dengan masalah Suku, Agama, Ras, Antargolongan (SARA).
Wilayah SARA inilah yang seringkali membuat banyak orang tidak suka. Ini dialami sendiri oleh komunitas SUC di Kalimantan dan Sulawesi. Sebagaimana saya kutip dari Republika (28/01/2012), menurut Yogi Setiawan (kordinator SUC wilayah Kalimantan dan Sulawesi), banyak haters yang kurang suka dengan konsep SUC yang banyak menyampaikan kerisauan sosial lewat humor.
“Sebenarnya ada jutaan materi joke yang bisa dibawakan oleh comic tanpa membawakan materi yang berbau SARA,” ucap Ramon yang selama ini dikenal sudah berhasil mencetak sejumlah comic di tanah air.
Selain SARA, Komaruddin juga mengomentari tentang materi joke yang jorok. Menurutnya, comic yang membawakan materi seperti itu adalah comic yang sudah kehilangan materi joke. “Saya cenderung menilai comic yang membawakan joke yang jorok itu tidak smart ya,” komentar Komaruddin. “Oleh karena itu perlu kecerdasan si comic agar terus memiliki materi-materi yang smart, tetapi tidak murahan“.
Komaruddin mengusulkan agar joke yang dibawakan tidak menyangkut idiom-idiom khusus yang akan bersinggungan dengan SARA. Sebab, idiom khusus jelas diketahui sebagai atribut dari agama tertentu atau suku tertentu. Misal kata “sholat”. Kata itu jelas merupakan idiom bagi agama Islam. Namun jika kita menggunakan kata “sembahyang” atau “berdoa” itu menjadi idiom umum. Tidak cuma agama tertentu yang memiliki idiom tersebut, sehingga penonton dari agama tertentu tidak bisa protes, karena tidak menggunakan idiom agamanya.
Begitu pula dengan nama Tuhan. Jika comic mengungkapkan nama Tuhan dari agama tertentu, misal Yesus, tentu hal tersebut akan menyinggung umat Kristen. Meski si comic sekadar menceritakan dirinya atau mengkritisi fenomena yang dianggap “tidak masuk akal”, namun hal tersebut jelas bersinggungan dengan masalah SARA. Oleh karena itu, lanjut Komaruddin, idiom Tuhan tentu akan “aman”.
Tambah Ramon, memilih idiom itu justru menjadi tantangan bagi para comic. Dengan adanya rambu-rambu, hal tersebut bukan berarti comic Indonesia memiliki “keterbatasan”, tetapi justru tantangan para comic untuk mengasah kecerdasan.
Soal kecerdasan ini, sosiolog UI DR Ida Ruwaida S. Sos, Msi juga setuju. Sebagai sebuah bentuk komedi yang cerdas, pelaku SUC jelas harus memiliki selera humor yang cerdas. “Tentu ini juga bukan perkara gampang,” ujarnya. “Sebab bukan berarti semua masyarakat kita sekarang sudah kritis menyikapi berbagai isu sosial yang ada.”
“Makanya menurut saya stand up comedy yang muncul di televisi, tidak sepenuhnya stand up yang sesuai dengan Indonesia,” papar Ramon. “Barangkali kalo kita ibaratkan anak sekolah, stand up comedy yang sekarang ini masih duduk di kelas satu. Namun karena masih terus belajar, ya jadi mohon dimaafkan“
Jadi seperti apa SUC Indonesia nantinya? Ramon tengah menyusun buku putih yang akan menjadi panduan para comic melakukan performance. Sambil menunggu buku putih SUC, para comic terus mencari bentuk-bentuk materi yang sesuai dengan semangat ke-Indonesia-an. Bahkan Komaruddin memberi gagasan memasukkan tradisi budaya Indonesia yang kaya itu ke dalam SUC.
Jelas, tak ada SUC Indonesia. Kita tahu, SUC bukan made in Indonesia. SUC adalah bentuk komedi yang berasal dari Eropa dan Amrik dari abad ke-18 ini. Meski begitu, bukan berarti kita (baca: para comic) bisa dijiplak mentah-mentah SUC sebagaimana biasa dimainkan di luar negeri.
“Oleh karena itu, saat ini saya sedang merumuskan stand up comedy Indonesia,” ujar pemilik Comedy Cafe dalam sebuah workshop SUC yang berlangsung di Metro TV pada 27 Januari 2012 lalu.
Sebagai televisi yang saat ini menjadi “kiblat” SUC di Indonesia, Metro TV membuat workshop bertema: “Fenomena Stand Up Comedy di Indonesia”. Tujuan dari workshop ini adalah memberikan pemahaman tentang SUC, mulai dari sejarah dan perkembangan di Indonesia. Dalam kesempatan workshop tersebut, hadir pula Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini hadir dalam kapasitas sebagai pengamat sosial dan budaya. Kebetulan UIN Syarif Hidayatullah sendiri adalah kampus yang pertama kali mengadakan workshop SUC pertama dan membentuk komunitas SUC.
Menurut Komaruddin tidak semua materi bisa dibawakan oleh para comic. “Di luar negeri mungkin segala materi yang dibawakan oleh para comic sangat bebas,” terang Komaruddin. “Di sana agama atau suku bisa dibuat joke atau guyonan. Tapi di sini kita tidak mungkin bisa sebebas di sana. Ada rambu-rambu yang harus diingat oleh para comic.“
Ada hal yang perlu diketahui oleh para comic, lanjut Komaruddin. Bahwa ada materi joke yang masih bisa diungkapkan dalam wilayah komunal, yakni sekelompok orang atau komunitas. Materi joke ini hanya terbatas pada kelompok tersebut. Namun jika materi joke komunal tersebut diangkat ke wilayah publik, maka joke tersebut akan didengar oleh masyarakat luas. Inilah yang seringkali bersingunggan dengan masalah Suku, Agama, Ras, Antargolongan (SARA).
Wilayah SARA inilah yang seringkali membuat banyak orang tidak suka. Ini dialami sendiri oleh komunitas SUC di Kalimantan dan Sulawesi. Sebagaimana saya kutip dari Republika (28/01/2012), menurut Yogi Setiawan (kordinator SUC wilayah Kalimantan dan Sulawesi), banyak haters yang kurang suka dengan konsep SUC yang banyak menyampaikan kerisauan sosial lewat humor.
“Sebenarnya ada jutaan materi joke yang bisa dibawakan oleh comic tanpa membawakan materi yang berbau SARA,” ucap Ramon yang selama ini dikenal sudah berhasil mencetak sejumlah comic di tanah air.
Selain SARA, Komaruddin juga mengomentari tentang materi joke yang jorok. Menurutnya, comic yang membawakan materi seperti itu adalah comic yang sudah kehilangan materi joke. “Saya cenderung menilai comic yang membawakan joke yang jorok itu tidak smart ya,” komentar Komaruddin. “Oleh karena itu perlu kecerdasan si comic agar terus memiliki materi-materi yang smart, tetapi tidak murahan“.
Komaruddin mengusulkan agar joke yang dibawakan tidak menyangkut idiom-idiom khusus yang akan bersinggungan dengan SARA. Sebab, idiom khusus jelas diketahui sebagai atribut dari agama tertentu atau suku tertentu. Misal kata “sholat”. Kata itu jelas merupakan idiom bagi agama Islam. Namun jika kita menggunakan kata “sembahyang” atau “berdoa” itu menjadi idiom umum. Tidak cuma agama tertentu yang memiliki idiom tersebut, sehingga penonton dari agama tertentu tidak bisa protes, karena tidak menggunakan idiom agamanya.
Begitu pula dengan nama Tuhan. Jika comic mengungkapkan nama Tuhan dari agama tertentu, misal Yesus, tentu hal tersebut akan menyinggung umat Kristen. Meski si comic sekadar menceritakan dirinya atau mengkritisi fenomena yang dianggap “tidak masuk akal”, namun hal tersebut jelas bersinggungan dengan masalah SARA. Oleh karena itu, lanjut Komaruddin, idiom Tuhan tentu akan “aman”.
Tambah Ramon, memilih idiom itu justru menjadi tantangan bagi para comic. Dengan adanya rambu-rambu, hal tersebut bukan berarti comic Indonesia memiliki “keterbatasan”, tetapi justru tantangan para comic untuk mengasah kecerdasan.
Soal kecerdasan ini, sosiolog UI DR Ida Ruwaida S. Sos, Msi juga setuju. Sebagai sebuah bentuk komedi yang cerdas, pelaku SUC jelas harus memiliki selera humor yang cerdas. “Tentu ini juga bukan perkara gampang,” ujarnya. “Sebab bukan berarti semua masyarakat kita sekarang sudah kritis menyikapi berbagai isu sosial yang ada.”
“Makanya menurut saya stand up comedy yang muncul di televisi, tidak sepenuhnya stand up yang sesuai dengan Indonesia,” papar Ramon. “Barangkali kalo kita ibaratkan anak sekolah, stand up comedy yang sekarang ini masih duduk di kelas satu. Namun karena masih terus belajar, ya jadi mohon dimaafkan“
Jadi seperti apa SUC Indonesia nantinya? Ramon tengah menyusun buku putih yang akan menjadi panduan para comic melakukan performance. Sambil menunggu buku putih SUC, para comic terus mencari bentuk-bentuk materi yang sesuai dengan semangat ke-Indonesia-an. Bahkan Komaruddin memberi gagasan memasukkan tradisi budaya Indonesia yang kaya itu ke dalam SUC.
"TRIAL BY THE PRESS" LEBIH AMPUH DARIPADA "TRIAL BY THE COURT"
Begitu identitas diri Afriani Susanti (29) diketahui sebagai alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ada sebagian masyarakat langsung melebeli sekolah film dan televisi ini dengan cap negatif. Yang paling kasar mengatakan: “IKJ sarang narkoba”. Bahkan untuk mengantisipasi tindak kriminal yang barangkali akan dilakukan oleh warga masyarakat terhadap IKJ, pihak keamanan kampus membuat pemberitahuan untuk seluruh mahasiswa dan alumni IKJ agar mencopot stiker atau atribut yang ada tulisan maupun gambar IKJ di kendaraan mereka.
Selama ini kasus yang dilakukan seseorang dan merembet pada institusi bukan ini kali saja. Hal ini lazim terjadi di mana-mana. Ambil contoh yang paling sering dilebeli buruk oleh masyarakat, yakni anggota DPR. Apakah 560 anggota DPR yang berkantor di Senayan, Jakarta itu buruk? Tidak juga. Memang tidak banyak, tetapi ada anggota DPR yang masih idealis. Begitu pula dengan IKJ. Tidak semua mahasiswa dan alumni IKJ seperti Afriani yang menggunakan narkoba.
“Meski stigma itu kadung menempel pada para seniman, bukan berarti semua mahasiswa seni, khususnya IKJ, pakai narkoba,” ujar alumnus IKJ yang tidak mau disebutkan namanya, sebagaimana saya kutip dari okezone, Selasa (24/1/2012).
Kasus tabrakan di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Selatan, Minggu siang, yang menewaskan 9 orang itu murni karena kelalaian pribadi, bukan institusi. “Ini kasus pertama yang menimpa IKJ. Sebagai rektor, saya bangga jika alumni IKJ berprestasi. Tetapi kali ini saya sangat resah. Ini contoh buruk bagi alumni IKJ,” ucap Rektor IKJ Wagiono.
Oleh karena itulah, kecamanan saya di akun Twitter, di Facebook, Kompasiana, maupun di blog ini, tidak ditujukan pada institusi IKJ, tetapi pada pribadi Afriani. Sikap dingin yang ditunjukan wanita tambun ini membuat sakit hati masyarakat, apalagi para keluarga korban. Simak pernyataan Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Umar Wirahadikusuma ini:http://www.blogger.com/img/blank.gif
“Kondisi Afriani terlihat tenang, bahkan tidak terlihat ada penyesalan di wajahnya. Ia dalam keadaan sehat dan tidak tampak shock,” ujar Umar yang saya kutip dari Republika (24/01/2012)
Kenapa tak ada ekspresi?
“Mungkin dia belum lihat atau masih terpengaruh (narkoba),” kata Kasubdit II Psikotropika Ditnarkoba Polda Metro Jaya, AKBP Eko Saputro, di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, yang saya kutip dari detikNews (Selasa (24/1/2012).
Eko membeberkan bukti, Afriyani mengantuk karena pengaruh obat (baca: narkoba), saat menabrak 9 pejalan kaki. Ia baru merasa mengantuk dan bisa tidur pada Senin (23/1) pagi, sementara peristiwa insiden kecelakaan terjadi pada Minggu (22/1) siang.
Membaca berita tersebut, saya geleng-geleng kepala. Ekspresi yang digambarkan di berita tersebut langsung saya asosiasikan pada beberapa film action, dimana biasanya ada tokoh antogonis. Tokoh yang memerankan seorang Pembunuh berdarah dingin, yang membuhuh orang tanpa memperlihatkan ekspresi penyesalan.
Lebih menyakitkan lagi, hukuman yang diberikan pada Afriani cuma 6 tahun. Menurut bekas petinggi Polri Brigadir Jenderal Pol (Purn) Parasian Simanungkalit menilai, tersangka Afriani bisa dijerat hukuman lebih berat dari yang seharusnya. Sangat tidak adil bila polisi hanya menjerat pasal 395 KUHP, tentang kelalaian yang mengakibatkan hilang 9 nyawa orang dan 3 orang sedang kritis, hanya dengan hukuman 6 tahun penjara.
“Itu tidak wajar,” ungkap Brigadir Jenderal Pol. Purnawirawan Parasian Simanungkalit di Dewan Pers, Jakarta Pusat, (25/2/2012).
Ketidakadilan dalam pemberian hukuman bisa terlihat dari tiga kasus ini. Anak kecil yang mencuri sandal dituntut 9 tahun penjara. Lalu nenek miskin yang mengambil buah cokelat yang sudah jatuh dituntut penjara selama 15 tahun. Sementara Afriani hanya dituntut 6 tahun. Hukum kita memang sedang sakit. Rasanya benar, trial by the press memang lebih ampuh daripada trial by the court.
Selama ini kasus yang dilakukan seseorang dan merembet pada institusi bukan ini kali saja. Hal ini lazim terjadi di mana-mana. Ambil contoh yang paling sering dilebeli buruk oleh masyarakat, yakni anggota DPR. Apakah 560 anggota DPR yang berkantor di Senayan, Jakarta itu buruk? Tidak juga. Memang tidak banyak, tetapi ada anggota DPR yang masih idealis. Begitu pula dengan IKJ. Tidak semua mahasiswa dan alumni IKJ seperti Afriani yang menggunakan narkoba.
“Meski stigma itu kadung menempel pada para seniman, bukan berarti semua mahasiswa seni, khususnya IKJ, pakai narkoba,” ujar alumnus IKJ yang tidak mau disebutkan namanya, sebagaimana saya kutip dari okezone, Selasa (24/1/2012).
Kasus tabrakan di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Selatan, Minggu siang, yang menewaskan 9 orang itu murni karena kelalaian pribadi, bukan institusi. “Ini kasus pertama yang menimpa IKJ. Sebagai rektor, saya bangga jika alumni IKJ berprestasi. Tetapi kali ini saya sangat resah. Ini contoh buruk bagi alumni IKJ,” ucap Rektor IKJ Wagiono.
Oleh karena itulah, kecamanan saya di akun Twitter, di Facebook, Kompasiana, maupun di blog ini, tidak ditujukan pada institusi IKJ, tetapi pada pribadi Afriani. Sikap dingin yang ditunjukan wanita tambun ini membuat sakit hati masyarakat, apalagi para keluarga korban. Simak pernyataan Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Umar Wirahadikusuma ini:http://www.blogger.com/img/blank.gif
“Kondisi Afriani terlihat tenang, bahkan tidak terlihat ada penyesalan di wajahnya. Ia dalam keadaan sehat dan tidak tampak shock,” ujar Umar yang saya kutip dari Republika (24/01/2012)
Kenapa tak ada ekspresi?
“Mungkin dia belum lihat atau masih terpengaruh (narkoba),” kata Kasubdit II Psikotropika Ditnarkoba Polda Metro Jaya, AKBP Eko Saputro, di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, yang saya kutip dari detikNews (Selasa (24/1/2012).
Eko membeberkan bukti, Afriyani mengantuk karena pengaruh obat (baca: narkoba), saat menabrak 9 pejalan kaki. Ia baru merasa mengantuk dan bisa tidur pada Senin (23/1) pagi, sementara peristiwa insiden kecelakaan terjadi pada Minggu (22/1) siang.
Membaca berita tersebut, saya geleng-geleng kepala. Ekspresi yang digambarkan di berita tersebut langsung saya asosiasikan pada beberapa film action, dimana biasanya ada tokoh antogonis. Tokoh yang memerankan seorang Pembunuh berdarah dingin, yang membuhuh orang tanpa memperlihatkan ekspresi penyesalan.
Lebih menyakitkan lagi, hukuman yang diberikan pada Afriani cuma 6 tahun. Menurut bekas petinggi Polri Brigadir Jenderal Pol (Purn) Parasian Simanungkalit menilai, tersangka Afriani bisa dijerat hukuman lebih berat dari yang seharusnya. Sangat tidak adil bila polisi hanya menjerat pasal 395 KUHP, tentang kelalaian yang mengakibatkan hilang 9 nyawa orang dan 3 orang sedang kritis, hanya dengan hukuman 6 tahun penjara.
“Itu tidak wajar,” ungkap Brigadir Jenderal Pol. Purnawirawan Parasian Simanungkalit di Dewan Pers, Jakarta Pusat, (25/2/2012).
Ketidakadilan dalam pemberian hukuman bisa terlihat dari tiga kasus ini. Anak kecil yang mencuri sandal dituntut 9 tahun penjara. Lalu nenek miskin yang mengambil buah cokelat yang sudah jatuh dituntut penjara selama 15 tahun. Sementara Afriani hanya dituntut 6 tahun. Hukum kita memang sedang sakit. Rasanya benar, trial by the press memang lebih ampuh daripada trial by the court.
Monday, December 12, 2011
SUAMI YANG BAIK PASTI MENJEMPUT ISTRINYA SEBELUM DIJEMPUT KPK
Namun itu tak terjadi pada Nunun Nurbaeti. Setelah ditangkap oleh Kepolisian Kerajaan Thailand pada Sabtu (10/12) pukul 09:30 wib, sang suami Adang Daradjatun tidak nampak bersama Nunun. Begitu pula ketika KPK menjemput Nunun di bandara dan membawanya ke Gedung KPK di jalan HR Rasuna Said, Jakarta, mantan Wakil Kepala Polri yang tak juga anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak menjemput istri tercinta.
Ada apa gerangan? Hayo coba para suami beri penjelasan mengenai hal tersebut! Apa gara-gara sang istri diduga terlibat kasus suap sehingga suami tidak mem-back up?
Ketika membaca headline tentang Nunun di Kompas, di bawah berita tersebut ada kisah memilukan yang masih ada hubungannya dengan eksistensi seorang suami. Kali ini berita tentang istri Kepala Unit Reskrim yang diperkosa di rumahnya sendiri. Saya mencoba berempati dengan peristiwa kriminal itu. Ironisnya, pada saat diperkosa, ada informasi yang menyebutkan, saat kejadian (pemerkosaan), suami korban berada di dalam rumah. Lho kenapa ada suami, tetapi pemerkosa leluasa memperkosa Ny EK?
…suami korban berada di rumah, tetapi tertidur nyenyak sehingga tidak menyadari perampok masuk rumahnya. Sang suami baru mengetahui peristiwa itu setelah pelaku kabur. (Kompas, 12/12/11)
Ah, ironis sekali…
Ya Allah! Berikan kekuatan kepada kami, terutama saya, untuk menjadi suami yang selalu setia, menjemput istri sebelum dijemput KPK dan selalu waspada terhadap para pemerkosa yang mencoba-coba memperkosa istri saya di rumah sendiri. Amiin!
Ada apa gerangan? Hayo coba para suami beri penjelasan mengenai hal tersebut! Apa gara-gara sang istri diduga terlibat kasus suap sehingga suami tidak mem-back up?
Ketika membaca headline tentang Nunun di Kompas, di bawah berita tersebut ada kisah memilukan yang masih ada hubungannya dengan eksistensi seorang suami. Kali ini berita tentang istri Kepala Unit Reskrim yang diperkosa di rumahnya sendiri. Saya mencoba berempati dengan peristiwa kriminal itu. Ironisnya, pada saat diperkosa, ada informasi yang menyebutkan, saat kejadian (pemerkosaan), suami korban berada di dalam rumah. Lho kenapa ada suami, tetapi pemerkosa leluasa memperkosa Ny EK?
…suami korban berada di rumah, tetapi tertidur nyenyak sehingga tidak menyadari perampok masuk rumahnya. Sang suami baru mengetahui peristiwa itu setelah pelaku kabur. (Kompas, 12/12/11)
Ah, ironis sekali…
Ya Allah! Berikan kekuatan kepada kami, terutama saya, untuk menjadi suami yang selalu setia, menjemput istri sebelum dijemput KPK dan selalu waspada terhadap para pemerkosa yang mencoba-coba memperkosa istri saya di rumah sendiri. Amiin!
FB MARIO TEGUH TEMBUS 5 JUTA FANS: "KEBAIKAN PASTI MENEMUKAN JALAN"
Golden Ways adalah jalan kebaikan. Ketika seseorang berdoa pada Tuhan untuk minta petunjuk agar diberikan jalan kebaikan, orang tersebut menemukan Golden Ways. “Dan saya senang sekali jika akhirnya Tuhan menemukan saya pada orang tersebut,” ujar Mario Teguh.
Mario Teguh dan Golden Ways memang tak bisa terpisahkan. Melalui Golden Ways, Mario menyebarkan konsep kebaikan dengan pendekatan universal, sehingga konsep kebaikan tersebut dapat diterima oleh banyak orang. Tanpa membedakan darimana asalnya, maupun agamanya.
“Banyak sekali komentar di FB yang mengatakan, bahwa mereka seringkali berdoa untuk menemukan kebaikan dan akhirnya mereka menemukan saya di FB,” tambah pria kelahiran Makassar, 5 Maret 55 tahun lalu ini. “Kebaikan pasti menemukan jalan”
Benih-benih kebaikan yang disebarkan Mario berbuah hasil. Tepat di awal bulan November 2011 ini, jumlah fans-nya di Facebook menembus angka 5 juta fans. Ketika saya menulis tulisan ini, jumlah fans-nya sudah mencapai 5,019.500 juta.
Awalnya tak terpikirkan oleh Mario tentang kedahsyatan FB. Pria yang sempat bekerja di Head of Sales Citibank (1983–1986), kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp, Chief Executive Officer (CEO) dan Senior Consultan ini mengaku gaptek. “Istri saya yang memaksa saya mencoba menggunakan social media, dalam hal ini FB,” ungkap Mario mengingat.
Akun FB atas nama Mario Teguh pertama kali dipublikasikan pada 1 Januari 2009. Meski sudah dibuat, tidak serta Mario menggunakannya. Padahal sang istri -ibu Linna Teguh-, berkali-kali mengatakan bahwa di masa depan akan menjadi trend yang cukup baik.
Setelah 5 bulan dibiarkan menganggur (baca: tidak reguler meng-update status dan menjawab beberapa fans), akhirnya sekitar bulan Mei 2009, Mario mulai intens. Ia masih ingat, ketika pertama kali dipublikasikan, jumlah fans-nya baru sekitar 300-an orang. Belakangan jumlah orang yang “melamar” jadi fans-nya per hari bisa mencapai 5.000 sampai 6.000 orang. Tepat 2 tahun 11 bulan, dan 5 hari, FB Mario Teguh pun mencapai 5 juta fans.
Selain karena selalu menyebar kebaikan, sehingga orang tertarik menjadi fans-nya, Mario juga memperlakukan FB seolah sebagai sebuah organisasi atau ia menyebutnya seperti bank. “Saya menerapkan sistem service exellence, dimana dalam menjalankan FB kami punya admin-nya dan saya adalah chief service officer-nya,” kata lulusan Sophia University, Tokyo, Jepang jurusan International Business dan Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA) ini.
Dengan pola layanan yang super, FB Mario Teguh mendapat sambutan luar biasa. FB bukan lagi sebagai social media yang sekadar update status yang tidak penting, tetapi justru menjadi ajang penyebar kebaikan. Dan Mario melihat perkembangan itu melalui komentar-komentar atas update status, baik kata-kata bijak maupun kalimat positif tentang kebaikan, dimana semua dilakukan dengan konsep kebaikan universal.
“Saya juga terbantu dengan program Golden Ways di Metro TV,” aku Mario. “Sebab dengan sistem yang terintegrasi atau multimedia, misi akan tercapai. Dan kami melakukan itu baik lewat FB, televisi, internet, dan belakangan kami sedang membuat sistem dengan menggunakan telepon selular”.
Tentu sebuah kebanggaan bagi Mario, bahwa ada 5 juta fans yang bergabung di FB. Seperti tulisan saya sebelumnya, bahwa ke-5 juta fans tersebut tidak sekadar menjadikan teman Mario Teguh, tetapi mereka setiap hari aktif mengomentari status di FB yang dibuat Mario. Menurut ibu Linna, jika dihitung total interaksi fans Mario Teguh tiap kali ada posting-an baru di FB mencapai 20 ribu sampai 30 ribu fans. Luar biasa bukan? Tak heran jika situs All Facebook sempat menulis artikel dengan judul “Mario Teguh Has Facebook’s Most Engaging Page”, karena paling interaktif . Per Juli 2011, interaksi per bulan fans Mario Teguh mencapai 1.066.399 orang. FB-nya mengalahkan interaksi fans Lady Gaga di FB yang cuma 817.657, padahal jumlah fans-nya 39.336.157 orang. Juga mengalahkan Justin Bieber yang punya fans di FB sebanyak 31.993.916 orang, tetapi interaksi per bulannya cuma 831.125 orang.
Oleh karena jumlah fans FB dan interaksi-nya cukup besar, Mario Teguh dan tim IT-nya tengah mempersiapkan alternatif social media. Luar biasanya, social media ini produksi tim Mario Teguh sendiri. “Ya bisa dikatakan FB versi Mario Teguh,” ujar pemilik acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW) di Metro TV yang tayang setiap Minggu ini. “Namun social media buatan kami ini masih tetap berintegrasi dengan FB.”
Tujuan dibuatnya social media ala Mario Teguh ini lebih menjaga keamanan dari ke-5 juta fans di FB tersebut. “Banyak teman di FB yang mengatakan pada saya, agar perlu mengantisipasi jika FB terjadi crash. Nah, agar tidak menimbulkan risiko yang tidak kita inginkan, maka kami sedang menggarap social media yang mirip dan menduplikasi apa yang sudah dijalankan oleh FB. Bedanya, kalo FB dijalankan dengan menggunakan sistem yang dibuat oleh Mark Zuckerberg, sedang social media yang kami buat sistemnya dijalankan oleh tim Mario Teguh,” papar pria yang pada tahun 2010 sempat meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai motivator dengan halaman penggemar FB terbesar di dunia ini.
Mario Teguh dan Golden Ways memang tak bisa terpisahkan. Melalui Golden Ways, Mario menyebarkan konsep kebaikan dengan pendekatan universal, sehingga konsep kebaikan tersebut dapat diterima oleh banyak orang. Tanpa membedakan darimana asalnya, maupun agamanya.
“Banyak sekali komentar di FB yang mengatakan, bahwa mereka seringkali berdoa untuk menemukan kebaikan dan akhirnya mereka menemukan saya di FB,” tambah pria kelahiran Makassar, 5 Maret 55 tahun lalu ini. “Kebaikan pasti menemukan jalan”
Benih-benih kebaikan yang disebarkan Mario berbuah hasil. Tepat di awal bulan November 2011 ini, jumlah fans-nya di Facebook menembus angka 5 juta fans. Ketika saya menulis tulisan ini, jumlah fans-nya sudah mencapai 5,019.500 juta.
Awalnya tak terpikirkan oleh Mario tentang kedahsyatan FB. Pria yang sempat bekerja di Head of Sales Citibank (1983–1986), kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp, Chief Executive Officer (CEO) dan Senior Consultan ini mengaku gaptek. “Istri saya yang memaksa saya mencoba menggunakan social media, dalam hal ini FB,” ungkap Mario mengingat.
Akun FB atas nama Mario Teguh pertama kali dipublikasikan pada 1 Januari 2009. Meski sudah dibuat, tidak serta Mario menggunakannya. Padahal sang istri -ibu Linna Teguh-, berkali-kali mengatakan bahwa di masa depan akan menjadi trend yang cukup baik.
Setelah 5 bulan dibiarkan menganggur (baca: tidak reguler meng-update status dan menjawab beberapa fans), akhirnya sekitar bulan Mei 2009, Mario mulai intens. Ia masih ingat, ketika pertama kali dipublikasikan, jumlah fans-nya baru sekitar 300-an orang. Belakangan jumlah orang yang “melamar” jadi fans-nya per hari bisa mencapai 5.000 sampai 6.000 orang. Tepat 2 tahun 11 bulan, dan 5 hari, FB Mario Teguh pun mencapai 5 juta fans.
Selain karena selalu menyebar kebaikan, sehingga orang tertarik menjadi fans-nya, Mario juga memperlakukan FB seolah sebagai sebuah organisasi atau ia menyebutnya seperti bank. “Saya menerapkan sistem service exellence, dimana dalam menjalankan FB kami punya admin-nya dan saya adalah chief service officer-nya,” kata lulusan Sophia University, Tokyo, Jepang jurusan International Business dan Jurusan Operations Systems, Indiana University, Amerika Serikat, 1983 (MBA) ini.
Dengan pola layanan yang super, FB Mario Teguh mendapat sambutan luar biasa. FB bukan lagi sebagai social media yang sekadar update status yang tidak penting, tetapi justru menjadi ajang penyebar kebaikan. Dan Mario melihat perkembangan itu melalui komentar-komentar atas update status, baik kata-kata bijak maupun kalimat positif tentang kebaikan, dimana semua dilakukan dengan konsep kebaikan universal.
“Saya juga terbantu dengan program Golden Ways di Metro TV,” aku Mario. “Sebab dengan sistem yang terintegrasi atau multimedia, misi akan tercapai. Dan kami melakukan itu baik lewat FB, televisi, internet, dan belakangan kami sedang membuat sistem dengan menggunakan telepon selular”.
Tentu sebuah kebanggaan bagi Mario, bahwa ada 5 juta fans yang bergabung di FB. Seperti tulisan saya sebelumnya, bahwa ke-5 juta fans tersebut tidak sekadar menjadikan teman Mario Teguh, tetapi mereka setiap hari aktif mengomentari status di FB yang dibuat Mario. Menurut ibu Linna, jika dihitung total interaksi fans Mario Teguh tiap kali ada posting-an baru di FB mencapai 20 ribu sampai 30 ribu fans. Luar biasa bukan? Tak heran jika situs All Facebook sempat menulis artikel dengan judul “Mario Teguh Has Facebook’s Most Engaging Page”, karena paling interaktif . Per Juli 2011, interaksi per bulan fans Mario Teguh mencapai 1.066.399 orang. FB-nya mengalahkan interaksi fans Lady Gaga di FB yang cuma 817.657, padahal jumlah fans-nya 39.336.157 orang. Juga mengalahkan Justin Bieber yang punya fans di FB sebanyak 31.993.916 orang, tetapi interaksi per bulannya cuma 831.125 orang.
Oleh karena jumlah fans FB dan interaksi-nya cukup besar, Mario Teguh dan tim IT-nya tengah mempersiapkan alternatif social media. Luar biasanya, social media ini produksi tim Mario Teguh sendiri. “Ya bisa dikatakan FB versi Mario Teguh,” ujar pemilik acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW) di Metro TV yang tayang setiap Minggu ini. “Namun social media buatan kami ini masih tetap berintegrasi dengan FB.”
Tujuan dibuatnya social media ala Mario Teguh ini lebih menjaga keamanan dari ke-5 juta fans di FB tersebut. “Banyak teman di FB yang mengatakan pada saya, agar perlu mengantisipasi jika FB terjadi crash. Nah, agar tidak menimbulkan risiko yang tidak kita inginkan, maka kami sedang menggarap social media yang mirip dan menduplikasi apa yang sudah dijalankan oleh FB. Bedanya, kalo FB dijalankan dengan menggunakan sistem yang dibuat oleh Mark Zuckerberg, sedang social media yang kami buat sistemnya dijalankan oleh tim Mario Teguh,” papar pria yang pada tahun 2010 sempat meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai motivator dengan halaman penggemar FB terbesar di dunia ini.
CHARITTY SETTINGAN: "TV MERAH ITU TERPELESET LAGI
“Acara charity yang tadi itu acara settingan buat acaranya tvOne, nanti yang buat Nando, mbak bikin Broadcast Message aja, nanti kubantu cariin donator”
Kalimat itu keluar dari mulut Fifie Buntaran (model dan bintang sinetron) pada Valencia Mieke Randa beberapa saat setelah acara Charity Fashion Show (19/11). Wajah Valencia kaget. Wanita yang akrab disapa Silly ini tak menyangka jika malam amal untuk menghimpun dana untuk Nando di Hotel Sheraton, Gunung Sahari, Jakarta Pusat itu charity setting-an alias bohong-bohongan.
Di charity tersebut, tvOne diundang Fifie untuk meliput aktivitas Fifie yang akan diangkat di program acara Socialite. Silly kemudian mohon ke pihak tvOne dan Fifie untuk tidak menampilkan gambarnya dan foto Nando di program Socialite. “Saya tetep kontak kedua belah pihak, baik Fifie maupun tvOne. Saya bilang, mbak tolong saya gak ikut campur soal settingan. Tolong semua gambar saya dan foto Nando tidak ditampilkan,” pinta Silly.
Sehari sebelum program Socialite ditayangkan, Silly mendapat konfirmasi dari tvOne, bahwa rekaman acara charity settingan itu di-cut. Namun ternyata ketika Socialite ditayangkan, Silly melihat ada insert foto Nando yang dibawa oleh seseorang dan gambar dirinya sedang membawa tulisan tentang Nando. Memang menurut Silly, dalam tayangan tersebut tidak dijelaskan acara amal tersebut untuk Nando (anak penyandang gagal ginjal) dan Silly pun tidak sedang tampak memberi sambutan. Namun munculnya gambar tersebut tetap membuat Silly marah dan protes di blog dan twitter.

Fifie Buntaran dan Melinda Dee.
“Mereka pintar, mereka bermain di grey area dan tidak mau rugi dengan tetap menayangkan acara tersebut,” ucapnya.
Dalam pembelaannya, Fifie mengatakan, Silly telat datang di acara amal, sehingga uang hasil amal diserahkan kepada pihak lain yang juga membutuhkan. Fifie menyesalkan, kenapa Silly tidak datang tepat waktu saat acara amal berlangsung. Padahal Silly diundang untuk briefing acara pukul 10.00 WIB, selanjutnya acara berlangsung pukul 14.00-18.00 WIB. Sementara Silly datang hampir pukul 18.00 WIB, dan acaranya sudah mau selesai, sudah penutupan.
Kebetulan saya kenal banyak teman di tvOne. Penasaran ingin tahu duduk persoalan sesungguhnya, saya pun berusaha mencari tahu, apalagi saya kenal dengan Produser program Socialite tersebut. Sayang, saya tidak bisa berhubungan langsung ke Produser, begitu pula dengan Reporter yang malam itu meliput Charity Fashion Show yang dibuat Fifie, yakni sdri. Rey (Production Assistance).
Beberapa teman saya di tvOne bersikeras mengatakan, bahwa yang menjadi “problem” adalah Fifie. Wanita yang sebelumnya dikabarkan sempat mengundang wartawan infotainment meliput dia berjumpa dengan sahabatnya Melinda Dee di rumah tahanan ini tidak menginformasikan tentang charity settingan ini pada tvOne. Namun bodoh-nya, tvOne tidak meng-cross check lagi tentang event tersebut.
“Si Rey itu tahu kok charity itu settingan,” ujar teman saya via Blackberry Massage (BBM). “Ia juga menjamin kalo gambarnya Silly akan di-cut.”
Jika melihat kronologis di atas, tvOne jelas tetap salah. Meski yang membuat charity setting bukan tvOne alias kru tvOne cuma meliput, namun tvOne melanggar janji yang sudah diutarakan ke Silly. Melalui PA-nya, tvOne sudah berjanji tidak menayangkan hasil liputan tersebut, tetapi ternyata tetap saja tayang. Andai saja janji tersebut dijalankan, barangkali kasus ini tidak akan happening di dunia social media. Terlebih lagi Silly punya banyak followers di twitter, terkahir 14.452 followers.
Dalam tweet-nya, Silly menulis: “Teman-teman, tolong jangan salahkan mbak Rey. Dalam hal ini dia sudah berusaha keras bicara pada Produser-nya sampai berbusa katanya, supaya gambar saya diangkat. Tapi keputusan tetap pada Produser-nya. Dia bilang ke mbak Rey, ‘Kalo ada yang keberatan, suruh layangkan surat ke tvOne, which is buat saya buang-buang waktu“
Bagi saya, tvOne kembali “terpeleset”. Sudah beberapa kali “TV merah” (sebutan untuk tvOne, karena memiliki logo dan seragam warna merah) “terpeleset”. Barangkali Anda belum lupa kasus Indy Rahmawaty. Presenter di tvOne itu dituduh Mabes Polri menayangkan makelar kasus (markus) palsu bernama Andris Ronaldi. Mabes Polri kemudian mengadukan Indy ke Dewan Pers atas dugaan merekayasa pemberitaan markus. Markus yang diwawancarai Indi di acara Apa Kabar Indonesia (tvOne) ternyata seorang tenaga lepas di media hiburan.
Saat saya menulis tulisan ini, teman saya dari tvOne mengabarkan pihak tvOne sedang berusaha menyatukan Fifie dangan Silly. TV merah ini nampaknya ingin “mendamaikan” kedua wanita ini. Maklumlah, di social media -khususnya di twitter-, kasus ini sedang heboh-hebohnya.
Silahkan simak timeline berikut ini yang di-posting @justsilly yang ditujukan ke @Indiartopriadi, salah seorang Manager di tvOne.
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Tidak ada sumbangan sepeserpun untuk nando.. If you were me… how would you feel…
49 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Udah saya warning berkali2, krn sy cuma ingin gambar sy tdk tampil, gak pgn diliat org hadir di acara charity, pdhl….
54 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klo mas bisa berempati, pasti mas bs ngerasain apa yg saya rasain. Sy sudah minta agar tidak sedikitpun gambar sy disana..
55 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Setelah acara seleai, tv bubar, sudah direkam, dan mas dikasih tau klo itu acara settingan buat TV… perasaan mas gimana?
56 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Dan anda menyaksikan ada org nge-bid baju smp 100juta demi org yg mau anda tolong, perasaan mas gimana? senang? sama…
57 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klo mas ada disana, terlepas dari mas sebagai org TVOne, mas memposisikan diri sbg saya, org yg tulus mau nolong orglain
58 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Mau jarak jauh, mau jarak dekat, mau cuma 1 detik sekalipun, sy tetap ada disitu, dan sy keberatan krn itu acara rekayasa..
59 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klopun mau ditayangkan, sy sdh minta dari awal supaya Gambar sy tidak ada satupun yg tampil disitu..
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Terlihat tampail diacara tsb. Dan Pihak TVOne tau (lihat BBM Rey) klo ini acara penipuan, jadi harusnya gak usah ditayangkan
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Tidak pernah bilang itu murni settingan TVOne. Yang jelas Charity lelang baju itu MURNI rekayasa, dan sy sangat keberatan
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi As far as I know, bahwa cara Sosialite itu acaranya TVOnbe: YES, tp bhw itu settingan TVOne atau bukan, sy tdk tau dan…
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @hansdavidian @karniilyas Itu yg bikin sy sangat kecewa pada TVOne. Sdh tau ini acara settingan (liat BBM Rey), tp masih ditayangkan
1 hour ago Favorite Retweet Reply
foto: dok. detikNews
Kalimat itu keluar dari mulut Fifie Buntaran (model dan bintang sinetron) pada Valencia Mieke Randa beberapa saat setelah acara Charity Fashion Show (19/11). Wajah Valencia kaget. Wanita yang akrab disapa Silly ini tak menyangka jika malam amal untuk menghimpun dana untuk Nando di Hotel Sheraton, Gunung Sahari, Jakarta Pusat itu charity setting-an alias bohong-bohongan.
Di charity tersebut, tvOne diundang Fifie untuk meliput aktivitas Fifie yang akan diangkat di program acara Socialite. Silly kemudian mohon ke pihak tvOne dan Fifie untuk tidak menampilkan gambarnya dan foto Nando di program Socialite. “Saya tetep kontak kedua belah pihak, baik Fifie maupun tvOne. Saya bilang, mbak tolong saya gak ikut campur soal settingan. Tolong semua gambar saya dan foto Nando tidak ditampilkan,” pinta Silly.
Sehari sebelum program Socialite ditayangkan, Silly mendapat konfirmasi dari tvOne, bahwa rekaman acara charity settingan itu di-cut. Namun ternyata ketika Socialite ditayangkan, Silly melihat ada insert foto Nando yang dibawa oleh seseorang dan gambar dirinya sedang membawa tulisan tentang Nando. Memang menurut Silly, dalam tayangan tersebut tidak dijelaskan acara amal tersebut untuk Nando (anak penyandang gagal ginjal) dan Silly pun tidak sedang tampak memberi sambutan. Namun munculnya gambar tersebut tetap membuat Silly marah dan protes di blog dan twitter.

Fifie Buntaran dan Melinda Dee.
“Mereka pintar, mereka bermain di grey area dan tidak mau rugi dengan tetap menayangkan acara tersebut,” ucapnya.
Dalam pembelaannya, Fifie mengatakan, Silly telat datang di acara amal, sehingga uang hasil amal diserahkan kepada pihak lain yang juga membutuhkan. Fifie menyesalkan, kenapa Silly tidak datang tepat waktu saat acara amal berlangsung. Padahal Silly diundang untuk briefing acara pukul 10.00 WIB, selanjutnya acara berlangsung pukul 14.00-18.00 WIB. Sementara Silly datang hampir pukul 18.00 WIB, dan acaranya sudah mau selesai, sudah penutupan.
Kebetulan saya kenal banyak teman di tvOne. Penasaran ingin tahu duduk persoalan sesungguhnya, saya pun berusaha mencari tahu, apalagi saya kenal dengan Produser program Socialite tersebut. Sayang, saya tidak bisa berhubungan langsung ke Produser, begitu pula dengan Reporter yang malam itu meliput Charity Fashion Show yang dibuat Fifie, yakni sdri. Rey (Production Assistance).
Beberapa teman saya di tvOne bersikeras mengatakan, bahwa yang menjadi “problem” adalah Fifie. Wanita yang sebelumnya dikabarkan sempat mengundang wartawan infotainment meliput dia berjumpa dengan sahabatnya Melinda Dee di rumah tahanan ini tidak menginformasikan tentang charity settingan ini pada tvOne. Namun bodoh-nya, tvOne tidak meng-cross check lagi tentang event tersebut.
“Si Rey itu tahu kok charity itu settingan,” ujar teman saya via Blackberry Massage (BBM). “Ia juga menjamin kalo gambarnya Silly akan di-cut.”
Jika melihat kronologis di atas, tvOne jelas tetap salah. Meski yang membuat charity setting bukan tvOne alias kru tvOne cuma meliput, namun tvOne melanggar janji yang sudah diutarakan ke Silly. Melalui PA-nya, tvOne sudah berjanji tidak menayangkan hasil liputan tersebut, tetapi ternyata tetap saja tayang. Andai saja janji tersebut dijalankan, barangkali kasus ini tidak akan happening di dunia social media. Terlebih lagi Silly punya banyak followers di twitter, terkahir 14.452 followers.
Dalam tweet-nya, Silly menulis: “Teman-teman, tolong jangan salahkan mbak Rey. Dalam hal ini dia sudah berusaha keras bicara pada Produser-nya sampai berbusa katanya, supaya gambar saya diangkat. Tapi keputusan tetap pada Produser-nya. Dia bilang ke mbak Rey, ‘Kalo ada yang keberatan, suruh layangkan surat ke tvOne, which is buat saya buang-buang waktu“
Bagi saya, tvOne kembali “terpeleset”. Sudah beberapa kali “TV merah” (sebutan untuk tvOne, karena memiliki logo dan seragam warna merah) “terpeleset”. Barangkali Anda belum lupa kasus Indy Rahmawaty. Presenter di tvOne itu dituduh Mabes Polri menayangkan makelar kasus (markus) palsu bernama Andris Ronaldi. Mabes Polri kemudian mengadukan Indy ke Dewan Pers atas dugaan merekayasa pemberitaan markus. Markus yang diwawancarai Indi di acara Apa Kabar Indonesia (tvOne) ternyata seorang tenaga lepas di media hiburan.
Saat saya menulis tulisan ini, teman saya dari tvOne mengabarkan pihak tvOne sedang berusaha menyatukan Fifie dangan Silly. TV merah ini nampaknya ingin “mendamaikan” kedua wanita ini. Maklumlah, di social media -khususnya di twitter-, kasus ini sedang heboh-hebohnya.
Silahkan simak timeline berikut ini yang di-posting @justsilly yang ditujukan ke @Indiartopriadi, salah seorang Manager di tvOne.
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Tidak ada sumbangan sepeserpun untuk nando.. If you were me… how would you feel…
49 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Udah saya warning berkali2, krn sy cuma ingin gambar sy tdk tampil, gak pgn diliat org hadir di acara charity, pdhl….
54 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klo mas bisa berempati, pasti mas bs ngerasain apa yg saya rasain. Sy sudah minta agar tidak sedikitpun gambar sy disana..
55 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Setelah acara seleai, tv bubar, sudah direkam, dan mas dikasih tau klo itu acara settingan buat TV… perasaan mas gimana?
56 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Dan anda menyaksikan ada org nge-bid baju smp 100juta demi org yg mau anda tolong, perasaan mas gimana? senang? sama…
57 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klo mas ada disana, terlepas dari mas sebagai org TVOne, mas memposisikan diri sbg saya, org yg tulus mau nolong orglain
58 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Mau jarak jauh, mau jarak dekat, mau cuma 1 detik sekalipun, sy tetap ada disitu, dan sy keberatan krn itu acara rekayasa..
59 minutes ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Klopun mau ditayangkan, sy sdh minta dari awal supaya Gambar sy tidak ada satupun yg tampil disitu..
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Terlihat tampail diacara tsb. Dan Pihak TVOne tau (lihat BBM Rey) klo ini acara penipuan, jadi harusnya gak usah ditayangkan
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi Tidak pernah bilang itu murni settingan TVOne. Yang jelas Charity lelang baju itu MURNI rekayasa, dan sy sangat keberatan
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @Indiartopriadi As far as I know, bahwa cara Sosialite itu acaranya TVOnbe: YES, tp bhw itu settingan TVOne atau bukan, sy tdk tau dan…
1 hour ago
@justsilly Valencia M R (Silly) @hansdavidian @karniilyas Itu yg bikin sy sangat kecewa pada TVOne. Sdh tau ini acara settingan (liat BBM Rey), tp masih ditayangkan
1 hour ago Favorite Retweet Reply
foto: dok. detikNews
Saturday, November 5, 2011
IDA ARIMURTI: APA YANG KITA CONTOHKAN AKAN MENJADI KEBIASAAN
Kalimat itu diucapkan seorang Ida Arimurti siang ini. Dengan suara lembut dari balik telepon, saya mendengar kisah bagaimana wanita ini mendidik anaknya. Jika orangtua mencontohkan kebiasaan buruk, maka anak akan melihat dan membiasakan diri mengikuti kebiasaan buruk si orangtua. Sebaliknya jika kita punya kebiasaan positif, kelak si anak akan memiliki kebiasaan positif pula.
Setiap pagi, sebelum anak berangkat sekolah, Ida Arimurti punya kebiasaan mengajak anak berdoa bersama. “Kami membaca Al-Fatihah,” ujar Ida. “Yang memimpin berdoa bergantian, bisa saya atau anak saya”.

Saya diapit oleh Denny Chandra dan Ida Arimurti saat shooting "Zona Memori" di Metro TV
Tambah Ida, setelah membaca Al-Fatihah saya menanyakan pada anak harapan apa yang akan ia raih pagi ini. Harapan di sini tidak harus harapan besar, tetapi bisa juga harapan kecil. Mendapatkan teman baru, mungkin atau meraih angka yang bagus saat ulangan.
“Setelah berdoa dan menayakan harapan, saya pasti akan memeluk anak saya dan mengucap: I LOVE YOU,” kata penyiar radio yang sempat menjadi host program Metro TV: Zona Memori ini.
Bertahun-tahun kebiasaan positif itu dilakukan Ida pada anaknya. Walhasil, aura positif pun tumbuh dan menjadi kebiasaan sang anak. Pelukan dan kata-kata I LOVE YOU sudah menjadi bagian dari keseharian ibu dan anak.
“Setiap pagi saya selalu melihat anak saya mengucapkan kata I LOVE YOU dari balik mobil tanpa harus berucap,” aku wanita kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember 1966 ini. “Dari bibirnya saya tahu, ia mencintai saya dengan tulus. Dan itu ia ucapkan sampai mobil tidak terlihat lagi oleh saya, menghilang di kejauhan”.
Selama beberapa menit kami bercakap-cakap via telepon seluler, saya belajar dari Ida Arimurti. Bahwa kebiasaan positif akan menghasilkan aura positif. Kebiasaan positif yang dilakukan setiap hari akan menyebarkan aura positif pada anak dan dengan sendirinya akan jadi kebiasan positif. Nah, sekarang tinggal Anda pilih, mau memberikan contoh buruk atau baik?
Setiap pagi, sebelum anak berangkat sekolah, Ida Arimurti punya kebiasaan mengajak anak berdoa bersama. “Kami membaca Al-Fatihah,” ujar Ida. “Yang memimpin berdoa bergantian, bisa saya atau anak saya”.

Saya diapit oleh Denny Chandra dan Ida Arimurti saat shooting "Zona Memori" di Metro TV
Tambah Ida, setelah membaca Al-Fatihah saya menanyakan pada anak harapan apa yang akan ia raih pagi ini. Harapan di sini tidak harus harapan besar, tetapi bisa juga harapan kecil. Mendapatkan teman baru, mungkin atau meraih angka yang bagus saat ulangan.
“Setelah berdoa dan menayakan harapan, saya pasti akan memeluk anak saya dan mengucap: I LOVE YOU,” kata penyiar radio yang sempat menjadi host program Metro TV: Zona Memori ini.
Bertahun-tahun kebiasaan positif itu dilakukan Ida pada anaknya. Walhasil, aura positif pun tumbuh dan menjadi kebiasaan sang anak. Pelukan dan kata-kata I LOVE YOU sudah menjadi bagian dari keseharian ibu dan anak.
“Setiap pagi saya selalu melihat anak saya mengucapkan kata I LOVE YOU dari balik mobil tanpa harus berucap,” aku wanita kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember 1966 ini. “Dari bibirnya saya tahu, ia mencintai saya dengan tulus. Dan itu ia ucapkan sampai mobil tidak terlihat lagi oleh saya, menghilang di kejauhan”.
Selama beberapa menit kami bercakap-cakap via telepon seluler, saya belajar dari Ida Arimurti. Bahwa kebiasaan positif akan menghasilkan aura positif. Kebiasaan positif yang dilakukan setiap hari akan menyebarkan aura positif pada anak dan dengan sendirinya akan jadi kebiasan positif. Nah, sekarang tinggal Anda pilih, mau memberikan contoh buruk atau baik?
PEMUDA YANG NGGAK TAHU SUMPAH PEMUDA
Cobalah tanyakan pada anak-anak Anda, apakah mereka hafal isi Sumpah Pemuda 1928 ? Kalo hafal, anak Anda luar biasa. Meski belum tentu tahu detail peristiwa Sumpah Pemuda, hafal tiga rumusan hasil Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, yakni (1) Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; (2) Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan (3) Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, merupakan hal yang luar biasa.
Saya mengatakan luar biasa, karena bertepatan dengan 28 Oktober 2011 kemarin, saya melihat di Metro TV, anak-anak muda banyak yang tidak hafal rumusan tersebut. Menyebalkannya, mereka yang tak hafal cengegesan seolah Sumpah Pemuda adalah peristiwa tak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Padahal kalo anak-anak muda ini tahu, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan bukti otentik kelahiran Bangsa Indonesia. Tambah Wikipedia, proses kelahiran Bangsa Indonesia tersebut merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan itulah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli untuk mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian, yaitu pada 17 Agustus 1945.

Saya di dalam museum Sumpah Pemuda. Salah satu museum yang menurut saya miris sekali, karena kotor, berdebu, dan seperti tidak terawat. Maklum, biaya pengelolaannya kecil plus yang berkunjung ke museum ini sedikit, meski tiketnya murah meriah.
Nah, bayangkan anak-anak muda sekarang yang tidak hafal rumusan Sumpah Pemuda yang ditulis Moehammad Yamin itu cengegesan. Saya sedih sekali melihat kondisi tersebut. Yang menyedihkan kalo anak-anak muda sekarang lebih hafal lokasi-lokasi tempat nongkrong favorit ketimbang letak museum Sumpah Pemuda; atau hafal konser band-band luar negeri ketimbang tahu organisasi-organisasi yang ikut dalam Kongres Pemuda 1928; atau mungkin lebih tahu film-film yang dibintangi oleh Selena Gomez, Demi Lovato, dan Cory Monteith. Dan semakin menyedihkan kalo anak-anak muda ini lebih tahu detail biodata Justin Bieber ketimbang nama-nama tokoh penting di Sumpah Pemuda.
Ibu-ibu/ Bapak-Bapak coba tes anak Anda sekali lagi, apakah hafal isi Sumpah Pemuda? Kalo belum hafal, sudah saatnya Anda menjelaskan hakekat Sumpah Pemuda pada anak Anda. Atau sepertinya zaman sekarang pemuda-pemuda Indonesia memang harus disumpahin agar mengerti betapa pentingnya peristiwa Sumpah Pemuda 1928.
Saya mengatakan luar biasa, karena bertepatan dengan 28 Oktober 2011 kemarin, saya melihat di Metro TV, anak-anak muda banyak yang tidak hafal rumusan tersebut. Menyebalkannya, mereka yang tak hafal cengegesan seolah Sumpah Pemuda adalah peristiwa tak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Padahal kalo anak-anak muda ini tahu, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan bukti otentik kelahiran Bangsa Indonesia. Tambah Wikipedia, proses kelahiran Bangsa Indonesia tersebut merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan itulah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli untuk mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian, yaitu pada 17 Agustus 1945.
Saya di dalam museum Sumpah Pemuda. Salah satu museum yang menurut saya miris sekali, karena kotor, berdebu, dan seperti tidak terawat. Maklum, biaya pengelolaannya kecil plus yang berkunjung ke museum ini sedikit, meski tiketnya murah meriah.
Nah, bayangkan anak-anak muda sekarang yang tidak hafal rumusan Sumpah Pemuda yang ditulis Moehammad Yamin itu cengegesan. Saya sedih sekali melihat kondisi tersebut. Yang menyedihkan kalo anak-anak muda sekarang lebih hafal lokasi-lokasi tempat nongkrong favorit ketimbang letak museum Sumpah Pemuda; atau hafal konser band-band luar negeri ketimbang tahu organisasi-organisasi yang ikut dalam Kongres Pemuda 1928; atau mungkin lebih tahu film-film yang dibintangi oleh Selena Gomez, Demi Lovato, dan Cory Monteith. Dan semakin menyedihkan kalo anak-anak muda ini lebih tahu detail biodata Justin Bieber ketimbang nama-nama tokoh penting di Sumpah Pemuda.
Ibu-ibu/ Bapak-Bapak coba tes anak Anda sekali lagi, apakah hafal isi Sumpah Pemuda? Kalo belum hafal, sudah saatnya Anda menjelaskan hakekat Sumpah Pemuda pada anak Anda. Atau sepertinya zaman sekarang pemuda-pemuda Indonesia memang harus disumpahin agar mengerti betapa pentingnya peristiwa Sumpah Pemuda 1928.
Wednesday, August 3, 2011
MENEMUKAN "KEMEGAHAN" DI TOILET PORTABLE
Moga-moga Anda sependapat dengan saya. Toilet mencerminkan pribadi si pemilik rumah. Saat kita bertamu ke rumah seseorang dan melihat toilet itu kotor dan bau, biasanya si pemilik malas merawat toilet miliknya. Padahal toilet yang bersih tidak harus baru dengan perangkat yang mahal pula.
Begitu pula ketika buang air kecil dan besar di toilet umum, kita melihat ada sisa-sisa kotoran di toilet tersebut, itu mencerminkan si pengguna toilet. Namun belakangan, sejak sejumlah toilet harus bayar biaya kebersihan, kebanyakan toilet-toilet tersebut dijaga kebersihannya. Meski tak wajib bayar, rata-rata toilet yang ada di POM bensin juga relatif bersih.
Pernahkah Anda buang air di toilet portable? Toilet portable adalah toilet yang penggunaannya dilakukan temporary dan fleksible di tempat umum sebagai pengganti toilet permanen. Biasanya toilet ini digunakan saat ada event-event outdoor yang kebetulan di venue tersebut tidak ada toilet permanennya.

Sebenarnya toilet portable juga ada di beberapa venue yang dibuat portable. Jika sempat mampir ke Terminal Blok M, di situ ada toilet portable yang penggunaannya dibuat permanen.
Setiap kali saya mempergunakan toilet portable di sebuah event, kondisinya memprihatinkan. Meski ada yang menjaga toilet, tetapi perawatannya tidak terlalu bersih. Nah, minggu lalu, saya berkesempatan hadir di sebuah event, dimana di event itu panitia menyewa toilet portable.
Terserah Anda bilang saya norak, tetapi saya baru pertama kali bertemu dengan toilet portable bersih dengan “kemegahan” sebagaimana toilet di rumah. Barangkali saya tidak berlebihan, toilet portable yang saya masuki ini lebih “megah” daripada toilet di pesawat udara maupun kereta api.
Selain item-item standar seperti selang air, kaca, toilet ini dilengkapi aneka sarana lain, yakni sabun tangan cair, wastafel untuk cuci tangan dan muka, sabun cuci muka, dan kipas angin. Untuk tisu, di toilet portable ini disediakan di sisi kiri dan kanan. Yang menarik, setelah kita buang air kecil atau besar, metode flush-nya cukup menginjakkan tombol di lantai.
“Seandainya nggak ada yang antre, saya bisa berjam-jam nongkrong di toilet ini,” ungkap saya dalam hati. Maklum, toilet bagi saya adalah ruang inspiratif yang produktif. Selain bisa membaca, sambil nongkrong di toilet, saya bisa mendapat sejuta inspirasi.
Selain bersih dan wangi, ukuran toilet ini cukup besar. Ukurannya dua kali toilet portbale yang biasa kita pernah mampir. Tak heran, jika masuk ke toilet ini, Anda ingin berlama-lama di dalam. Setelah buang air kecil atau besar, kita cuci tangan, dan wajah, sambil merapikan rambut di depan cermin yang disediakan cukup banyak di toilet itu.
Begitu pula ketika buang air kecil dan besar di toilet umum, kita melihat ada sisa-sisa kotoran di toilet tersebut, itu mencerminkan si pengguna toilet. Namun belakangan, sejak sejumlah toilet harus bayar biaya kebersihan, kebanyakan toilet-toilet tersebut dijaga kebersihannya. Meski tak wajib bayar, rata-rata toilet yang ada di POM bensin juga relatif bersih.
Pernahkah Anda buang air di toilet portable? Toilet portable adalah toilet yang penggunaannya dilakukan temporary dan fleksible di tempat umum sebagai pengganti toilet permanen. Biasanya toilet ini digunakan saat ada event-event outdoor yang kebetulan di venue tersebut tidak ada toilet permanennya.

Sebenarnya toilet portable juga ada di beberapa venue yang dibuat portable. Jika sempat mampir ke Terminal Blok M, di situ ada toilet portable yang penggunaannya dibuat permanen.
Setiap kali saya mempergunakan toilet portable di sebuah event, kondisinya memprihatinkan. Meski ada yang menjaga toilet, tetapi perawatannya tidak terlalu bersih. Nah, minggu lalu, saya berkesempatan hadir di sebuah event, dimana di event itu panitia menyewa toilet portable.
Terserah Anda bilang saya norak, tetapi saya baru pertama kali bertemu dengan toilet portable bersih dengan “kemegahan” sebagaimana toilet di rumah. Barangkali saya tidak berlebihan, toilet portable yang saya masuki ini lebih “megah” daripada toilet di pesawat udara maupun kereta api.
Selain item-item standar seperti selang air, kaca, toilet ini dilengkapi aneka sarana lain, yakni sabun tangan cair, wastafel untuk cuci tangan dan muka, sabun cuci muka, dan kipas angin. Untuk tisu, di toilet portable ini disediakan di sisi kiri dan kanan. Yang menarik, setelah kita buang air kecil atau besar, metode flush-nya cukup menginjakkan tombol di lantai.
“Seandainya nggak ada yang antre, saya bisa berjam-jam nongkrong di toilet ini,” ungkap saya dalam hati. Maklum, toilet bagi saya adalah ruang inspiratif yang produktif. Selain bisa membaca, sambil nongkrong di toilet, saya bisa mendapat sejuta inspirasi.
Selain bersih dan wangi, ukuran toilet ini cukup besar. Ukurannya dua kali toilet portbale yang biasa kita pernah mampir. Tak heran, jika masuk ke toilet ini, Anda ingin berlama-lama di dalam. Setelah buang air kecil atau besar, kita cuci tangan, dan wajah, sambil merapikan rambut di depan cermin yang disediakan cukup banyak di toilet itu.
Thursday, July 7, 2011
MARIO TEGUH MENGALAHKAN LADY GAGA & JUSTIN BIEBER
Judul ini tidak bermaksud sebagai gimmick agar Anda tertarik membaca paragraf demi paragraf tulisan saya ini. Ini true story, bahwa Mario Teguh memang berhasil mengalahkan dua penyanyi yang sedang populer di seluruh dunia itu: Lady Gaga dan Justin Bieber.
Tentu bukan jumlah fans yang dimiliki Mario Teguh sehingga berhasil mengalahkan dua penyanyi itu, tetapi dari jumlah interaksi fans-nya di Facebook (FB) yang membuat motivator yang muncul seminggu sekali di Mario Teguh Golden Ways (Metro TV) ini duduk di posisi dua. Meski fans Mario Teguh “cuma” 4.308.534 orang, namun interaksi per bulan fans-nya luar biasa, yakni mencapai 1.066.399 orang. Bandingan dengan fans Lady Gaga di FB yang mencapai 39.336.157 orang, interaksi di FB cuma 817.657 orang. Begitu juga dengan Justin Bieber yang punya fans di FB sebanyak 31.993.916 orang, tetapi interaksi per bulannya cuma 831.125 orang.

“Ini menandakan fans kita fans yang fanatik,” papar ibu Linna Mario Teguh, istri motivator ‘super’ kelahiran Makassar, 5 Maret 1956. “Fans Mario Teguh bukan sekadar klik jadi fans, tetapi terlibat secara interaktif di tiap-tiap pak Mario mem-posting di FB”.
Menurut ibu Linna, jika dihitung total interaksi fans Mario Teguh tiap kali ada posting-an baru di FB mencapai 20 ribu sampai 30 ribu fans. Luar biasa bukan? Tak heran jika situs All Facebook menulis artikel dengan judul “Mario Teguh Has Facebook’s Most Engaging Page”, karena paling interaktif setelah situs Jesus Daily yang interaksi fans-nya mencapai 1.713.143 orang dengan total fans mencapai 6.115.171 orang.
“Insya Allah bulan Januari 2012 kami berencana akan pergi ke headquarter Facebook,” tambah ibu Linna.
Sebelum duduk di posisi terhormat dengan mengalahkan Lady Gaga dan Justin Bieber, pada 2011 lalu, Mario Teguh telah meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai “Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia”. Di tahun yang sama, pendiri Mario Teguh Super Club (MTSC) ini terpilih sebagai satu dari “8 Tokoh Perubahan 2009″ versi Republika.
Tentu bukan jumlah fans yang dimiliki Mario Teguh sehingga berhasil mengalahkan dua penyanyi itu, tetapi dari jumlah interaksi fans-nya di Facebook (FB) yang membuat motivator yang muncul seminggu sekali di Mario Teguh Golden Ways (Metro TV) ini duduk di posisi dua. Meski fans Mario Teguh “cuma” 4.308.534 orang, namun interaksi per bulan fans-nya luar biasa, yakni mencapai 1.066.399 orang. Bandingan dengan fans Lady Gaga di FB yang mencapai 39.336.157 orang, interaksi di FB cuma 817.657 orang. Begitu juga dengan Justin Bieber yang punya fans di FB sebanyak 31.993.916 orang, tetapi interaksi per bulannya cuma 831.125 orang.

“Ini menandakan fans kita fans yang fanatik,” papar ibu Linna Mario Teguh, istri motivator ‘super’ kelahiran Makassar, 5 Maret 1956. “Fans Mario Teguh bukan sekadar klik jadi fans, tetapi terlibat secara interaktif di tiap-tiap pak Mario mem-posting di FB”.
Menurut ibu Linna, jika dihitung total interaksi fans Mario Teguh tiap kali ada posting-an baru di FB mencapai 20 ribu sampai 30 ribu fans. Luar biasa bukan? Tak heran jika situs All Facebook menulis artikel dengan judul “Mario Teguh Has Facebook’s Most Engaging Page”, karena paling interaktif setelah situs Jesus Daily yang interaksi fans-nya mencapai 1.713.143 orang dengan total fans mencapai 6.115.171 orang.
“Insya Allah bulan Januari 2012 kami berencana akan pergi ke headquarter Facebook,” tambah ibu Linna.
Sebelum duduk di posisi terhormat dengan mengalahkan Lady Gaga dan Justin Bieber, pada 2011 lalu, Mario Teguh telah meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai “Motivator dengan Facebook Fans terbesar di dunia”. Di tahun yang sama, pendiri Mario Teguh Super Club (MTSC) ini terpilih sebagai satu dari “8 Tokoh Perubahan 2009″ versi Republika.
Tuesday, July 5, 2011
FILM "CATATAN HARIAN SI BOY": SEBETULNYA TAK PERLU MEMIKUL IMAGE ONGKY
Ketika film Catatan Si Boy (Cabo) mau diproduksi lagi pada tahun 2008, saya langsung punya kekhawatiran. Sebagai penggemar Cabo –sejak masih mengudara di Radio Prambors tahun 1980an-, saya khawatir Cabo sulit menjadi film box office lagi, apalagi kalo yang berperan sebagai Si Boy bukanlah Ongky Alexander.
Kekhawatiran kedua, generasi sekarang ini bukanlah generasi Cabo. Ketika Cabo menjadi ikon, generasi sekarang banyak yang belum lahir. Kalo pun sudah lahir, mereka pasti masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Tak heran setelah sekuel terakhir Cabo, yakni Cabo 5 (1991), kisah Si Boy ini diangkat ke sinetron tetapi tidak sukses. Itulah kenapa saya khawatir ketika film Cabo akan digarap lagi.
Ternyata bukan cuma saya sebagai calon penonton yang khawatir, menurut Produser sekaligus sutradara, Putratama Tuta, pihaknya juga merasa terbebani membuat kisah Si Boy ini. Memang, ia mengaku memproduksi film ini lantaran melihat fenomenal yang muncul dari film Cabo-Cabo sebelumnya, sehingga terinspirasi mengangkat kembali kesuksesan melalui konsep multiproduk: buku storygraph dan layar lebar.
“Jadi kedua konsep di atas terintegrasi satu sama lain. Film ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak muda dalam menghadapi masalah hidupnya. Jadi dikemas dengan kehidupan anak muda zaman sekarang,” ujar Tama, panggilan Putratama Tuta, saat presscrening di Epicentrum Park, Kuningan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
“Saya harap adanya film ini dapat membangun kembali nostalgia melalui nilai sentimentil penggemar setianya dan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, utamanya anak muda jaman sekarang yang penasaran dengan fenomena Catatan Si Boy dulu. Kami berusaha mengembalikan film ini ke masyarakat,” ucapnya lagi.

Banyak angkatan 80-an yang berharap besar terhadap film Catatan Harian Si Boy ini, termasuk saya. Sudah diduga, ada banyak yang kecewa, tetapi tidak sedikit yang memuji. Mereka yang kecewa mengatakan, mindset mereka ketika berada di bangku bioskop adalah menyaksikan Si Boy yang di-remake. Artinya, ada pengganti Ongky Alexander sebagai Si Boy; pengganti Btari Karlinda sebagai Ina; pengganti Dede Yusuf sebagai Andy; dan tentu saja pengganti Didi Petet sebagai Emon. Nyatanya Catatan Harian Si Boy bukanlah remake.
“Film ini bukan remake, namun lebih ke regenerasi dari Boy. Jadi lebih ke esensi dan dampaknya. Keberadaan jaman Boy dulu bisa memberikan dampak positif terhadap generasi saat ini. Nah, itu yang saya angkat dan tekankan di sini,” terangnya.
Ketika memutuskan untuk menonton Catatan Harian Si Boy, mind set saya masih ingin melihat remake Si Boy. Saya membayangkan Ongky akan digantikan oleh Aryo Bayu. Saya ternyata juga kecewa, tetapi sebagai salah seorang penggemar Si Boy yang hidup di generasi 80-an, saya masih bisa menerima film Catatan Harian Si Boy ini.
Saya bisa menerima, bahwa Satrio (diperankan oleh Ario Bayu) bukanlah Si Boy. Saya tidak melihat Ario Bayu berusaha menggantikan Ongky Alexander. Satrio adalah sosok yang berbeda dengan Si Boy, sehingga ketika menonton saya tidak berusaha memaksa mind set saya untuk menjadikan Satrio sebagai wujud Si Boy. Barangkali ini berbeda dengan generasi 80-an lain yang tetap berusaha memposisikan Satrio sebagai Si Boy, sehingga sampai ujung film mereka tetap kecewa.
“Sebagai tontonan ok, tetapi roh Si Boy tidak nampak,” ujar Marwan Alkatiry, ketika saya mintai komentar via BBM.
Sekadar informasi, Marwan Alkatiry –yang akrab saya sapa dengan Babe- adalah penulis skenario film Cabo sejak Cabo 1 sampai Cabo 5. Saya mengerti yang dimaksud dengan Babe dengan istilah “roh Si Boy tidak tampak”. Bayangkan, di film Catatan Harian Si Boy ini, Ongky hanya main 2 scene (scene di heliped ketika hendak pergi ke airport dan scene di gedung kantornya. Kalo scene di RS tidak nampak wajah Ongky, cuma tangan yang menurut saya tidak mencerminkan scene utuh). Di dua scene itu, Ongky pun tidak sampai 10 menit muncul.
Lalu Didi Petet cuma main 1 scene, dimana ia tidak berperan sebagai Emon yang banci itu, tetapi sebagai motivator. Kemudian Btari Karlinda main di 2 scene, yakni saat melakukan yoga dan duduk di sofa. Terakhir, LeRoy cuma main 1 scene.
Menurut saya, jika saja Tama tidak memikul image Si Boy, barangkali tidak banyak penggemar Si Boy atau penonton dari generasi 80-an yang kecewa. Cobalah simak sinopsis cerita film Catatan Harian Si Boy ini.

Saya dan Ario Bayu pemeran Satrio.
Bahwa dikisahkan Satrio yang tertarik dengan Natasha (diperankan oleh Carissa Putri) memutuskan untuk membantu Natasha mencari pemilik buku yang dipegang Nuke, yang ternyata adalah sebuah buku catatan harian seorang laki-laki bernama Si Boy (Onky Alexander).
Namun usaha mencari Si Boy tidak berjalan mulus. Kisah cinta segitiga antara Satrio-Natasha-Paul Foster menimbulkan konflik baru. Bengkel milik Poppy Sovia yang juga tempat kerja Satrio dihancurkan.
Di saat-saat kritis Nuke, Satrio bergegas mengejar Si Boy. Mereka pun berjumpa di heliped. Sambil mendesak Si Boy, Satrio membacakan beberapa kalimat dalam catatan milik Si Boy itu.
Dari sinopsis tersebut, sebetulnya Tama bisa membuat film “lain”. Artinya, film Catatan Harian Si Boy ini tidak perlu lagi mengajak Ongky demi mengangkat kembali sosok Si Boy atau pemain-pemain film Cabo lain. Buku harian di situ tidak harus buku harian Si Boy, tetapi sosok lain. Jika ini dilakukan, ya konsekuensinya memang ganti judul. Atau malah tidak masalah dengan judul itu?
Namun saya mengerti mengapa Tama tetap ngotot menghadirkan Ongky, karena konsep awal memang ingin mengangkat kembali kisah Si Boy ke layar lebar. Ia ingin mengajak kembali generasi 80-an “bernostalgia” ke bioskop dengan film kegemaran mereka dahulu kala. Namun karena “ada konflik”, sehingga film Cabo tidak dibuat sekuel maupun remake, tetapi dengan konsep baru, tetapi tetap menggunakan ikon Si Boy. Gara-gara konflik inilah, film Catatan Harian Si Boy yang seharusnya sudah diproduksi tahun 2008 molor menjadi tahun 2011 ini. Yang dari awalnya disutradarai oleh John D. Rantau di-handle langsung oleh Tama.
Kekhawatiran kedua, generasi sekarang ini bukanlah generasi Cabo. Ketika Cabo menjadi ikon, generasi sekarang banyak yang belum lahir. Kalo pun sudah lahir, mereka pasti masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Tak heran setelah sekuel terakhir Cabo, yakni Cabo 5 (1991), kisah Si Boy ini diangkat ke sinetron tetapi tidak sukses. Itulah kenapa saya khawatir ketika film Cabo akan digarap lagi.
Ternyata bukan cuma saya sebagai calon penonton yang khawatir, menurut Produser sekaligus sutradara, Putratama Tuta, pihaknya juga merasa terbebani membuat kisah Si Boy ini. Memang, ia mengaku memproduksi film ini lantaran melihat fenomenal yang muncul dari film Cabo-Cabo sebelumnya, sehingga terinspirasi mengangkat kembali kesuksesan melalui konsep multiproduk: buku storygraph dan layar lebar.
“Jadi kedua konsep di atas terintegrasi satu sama lain. Film ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak muda dalam menghadapi masalah hidupnya. Jadi dikemas dengan kehidupan anak muda zaman sekarang,” ujar Tama, panggilan Putratama Tuta, saat presscrening di Epicentrum Park, Kuningan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
“Saya harap adanya film ini dapat membangun kembali nostalgia melalui nilai sentimentil penggemar setianya dan diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, utamanya anak muda jaman sekarang yang penasaran dengan fenomena Catatan Si Boy dulu. Kami berusaha mengembalikan film ini ke masyarakat,” ucapnya lagi.

Banyak angkatan 80-an yang berharap besar terhadap film Catatan Harian Si Boy ini, termasuk saya. Sudah diduga, ada banyak yang kecewa, tetapi tidak sedikit yang memuji. Mereka yang kecewa mengatakan, mindset mereka ketika berada di bangku bioskop adalah menyaksikan Si Boy yang di-remake. Artinya, ada pengganti Ongky Alexander sebagai Si Boy; pengganti Btari Karlinda sebagai Ina; pengganti Dede Yusuf sebagai Andy; dan tentu saja pengganti Didi Petet sebagai Emon. Nyatanya Catatan Harian Si Boy bukanlah remake.
“Film ini bukan remake, namun lebih ke regenerasi dari Boy. Jadi lebih ke esensi dan dampaknya. Keberadaan jaman Boy dulu bisa memberikan dampak positif terhadap generasi saat ini. Nah, itu yang saya angkat dan tekankan di sini,” terangnya.
Ketika memutuskan untuk menonton Catatan Harian Si Boy, mind set saya masih ingin melihat remake Si Boy. Saya membayangkan Ongky akan digantikan oleh Aryo Bayu. Saya ternyata juga kecewa, tetapi sebagai salah seorang penggemar Si Boy yang hidup di generasi 80-an, saya masih bisa menerima film Catatan Harian Si Boy ini.
Saya bisa menerima, bahwa Satrio (diperankan oleh Ario Bayu) bukanlah Si Boy. Saya tidak melihat Ario Bayu berusaha menggantikan Ongky Alexander. Satrio adalah sosok yang berbeda dengan Si Boy, sehingga ketika menonton saya tidak berusaha memaksa mind set saya untuk menjadikan Satrio sebagai wujud Si Boy. Barangkali ini berbeda dengan generasi 80-an lain yang tetap berusaha memposisikan Satrio sebagai Si Boy, sehingga sampai ujung film mereka tetap kecewa.
“Sebagai tontonan ok, tetapi roh Si Boy tidak nampak,” ujar Marwan Alkatiry, ketika saya mintai komentar via BBM.
Sekadar informasi, Marwan Alkatiry –yang akrab saya sapa dengan Babe- adalah penulis skenario film Cabo sejak Cabo 1 sampai Cabo 5. Saya mengerti yang dimaksud dengan Babe dengan istilah “roh Si Boy tidak tampak”. Bayangkan, di film Catatan Harian Si Boy ini, Ongky hanya main 2 scene (scene di heliped ketika hendak pergi ke airport dan scene di gedung kantornya. Kalo scene di RS tidak nampak wajah Ongky, cuma tangan yang menurut saya tidak mencerminkan scene utuh). Di dua scene itu, Ongky pun tidak sampai 10 menit muncul.
Lalu Didi Petet cuma main 1 scene, dimana ia tidak berperan sebagai Emon yang banci itu, tetapi sebagai motivator. Kemudian Btari Karlinda main di 2 scene, yakni saat melakukan yoga dan duduk di sofa. Terakhir, LeRoy cuma main 1 scene.
Menurut saya, jika saja Tama tidak memikul image Si Boy, barangkali tidak banyak penggemar Si Boy atau penonton dari generasi 80-an yang kecewa. Cobalah simak sinopsis cerita film Catatan Harian Si Boy ini.

Saya dan Ario Bayu pemeran Satrio.
Bahwa dikisahkan Satrio yang tertarik dengan Natasha (diperankan oleh Carissa Putri) memutuskan untuk membantu Natasha mencari pemilik buku yang dipegang Nuke, yang ternyata adalah sebuah buku catatan harian seorang laki-laki bernama Si Boy (Onky Alexander).
Namun usaha mencari Si Boy tidak berjalan mulus. Kisah cinta segitiga antara Satrio-Natasha-Paul Foster menimbulkan konflik baru. Bengkel milik Poppy Sovia yang juga tempat kerja Satrio dihancurkan.
Di saat-saat kritis Nuke, Satrio bergegas mengejar Si Boy. Mereka pun berjumpa di heliped. Sambil mendesak Si Boy, Satrio membacakan beberapa kalimat dalam catatan milik Si Boy itu.
Dari sinopsis tersebut, sebetulnya Tama bisa membuat film “lain”. Artinya, film Catatan Harian Si Boy ini tidak perlu lagi mengajak Ongky demi mengangkat kembali sosok Si Boy atau pemain-pemain film Cabo lain. Buku harian di situ tidak harus buku harian Si Boy, tetapi sosok lain. Jika ini dilakukan, ya konsekuensinya memang ganti judul. Atau malah tidak masalah dengan judul itu?
Namun saya mengerti mengapa Tama tetap ngotot menghadirkan Ongky, karena konsep awal memang ingin mengangkat kembali kisah Si Boy ke layar lebar. Ia ingin mengajak kembali generasi 80-an “bernostalgia” ke bioskop dengan film kegemaran mereka dahulu kala. Namun karena “ada konflik”, sehingga film Cabo tidak dibuat sekuel maupun remake, tetapi dengan konsep baru, tetapi tetap menggunakan ikon Si Boy. Gara-gara konflik inilah, film Catatan Harian Si Boy yang seharusnya sudah diproduksi tahun 2008 molor menjadi tahun 2011 ini. Yang dari awalnya disutradarai oleh John D. Rantau di-handle langsung oleh Tama.
SM*SH... OH... SM*SH
Beruntunglah saya bisa berkenalan dengan anggota SM*SH. Beruntung pula saya bisa melihat dari dekat bagaimana SM*SH melakukan persiapan sebelum shooting. Nah, berikut ini beberapa foto hasil jepretan saya saat SM*SH shooting di program Just Alvin di studio Metro TV.




all photos copyright by Brillianto K. Jaya
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Subscribe to:
Posts (Atom)