Sunday, January 27, 2013

EMPAT PRESENTER TERBAIK METRO TV RESIGN


Arus migrasi profesional SDM televisi. Begitu barangkali kata yang cocok untuk mengomentari resign-nya empat Presenter Terbaik Metro TV per Januari 2013 ini. Keempat presenter ini adalah Kania Sutisnawinata, Tommy Tjokro, Gadiza Fauzi, dan Tascha Liudmila.

Sebagaimana presenter-presentar di stasiun televisi lain yang juga sempat keluar-masuk dari stasiun televisi satu ke stasiun televisi lain, secara profesional mereka melakukan migrasi ke stasiun televisi yang lebih baik. Kecuali Gadiza yang memilih tidak lagi terjun ke televisi, tetapi berbisnis di bidang properti dan industri kreatif, tiga presenter hijrah ke stasiun televisi baru, BloombergTV Indonesia (Idea group).

Bloggers, sebagaimana penulis kutip dari situs metrotvnews.com, pada Rabu, 23 Januari 2013 lalu, Metro TV harus melepas empat presenter terbaiknya untuk melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Kania, salah seorang presenter senior sempat meneteskan air mata, saat acara perpisahaan di kantor Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat.
Sejujurnya saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya. Saya merupakan salah satu presenter yang tidak bisa menahan tawa. Yang saya ingat cara mencegahnya ialah dengan mencubit diri sendiri,” ujar Kania yang sudah bekerja di Metro TV selama 12 tahun dan memutuskan pindah bekerja ke Bloomberg.

Sementara Tommy, yang terakhir dikenal sebagai presenter 811 ini, merasa berhutang budi pada Metro TV yang telah menggemblengnya menjadi seorang Jurnalis. Padahal, akunya, pada saat pertama kali melamar di Metro TV pada 2003, ia juga melamar sebagai Sales, selain sebagai Jurnalis. Maklumlah, presenter tampan ini memiliki latar belakang di dunia marketing. Seperti juga Kania, Tommy juga melenggang ke Bloomberg.

Sekadar info, Bloomberg adalah stasiun televisi berita yang dimiliki oleh pengusaha muda, Sandiaga Uno.

Jika Kania dan Tommy meluncur ke Bloomberg, Tascha Liudmila yang telah bergabung dengan Metro TV selama lima tahun ini hijrah ke KompasTV. Sebelumnya, presenter Metro TV yang lebih dulu hijrah ke KompasTV adalah Timothy Marbun.

Bloggers, arus migrasi profesional SDM televisi memang tak bisa dibendung. Arus ini sudah lazim terjadi di dunia kreatif, termasuk di dunia televisi. Tina Talisa, misalnya. Setelah populer sebagai presenter Apa Kabar Indonesia (AKI) Malam, Tina hijrah ke Indosiar. Lalu Ratna Dumila yang sekarang wara-wiri di tvOne, dahulu adalah presenter dari TransTV. Metro TV juga menerima presenter lulusan televisi lain, yakni Prabu Revolusi yang sebelumnya presenter TransTV. Jadi, selama secara profesional mereka bekerja dan dijaga, tak ada yang bisa menghalangi rezeki mereka. Apalagi nanti pada 2014-2015 saat era televisi digital, pemerintah telah memberikan izin sejumlah stasiun televisi baru yang jumlahnya ratusan, arus migrasi profesional akan makin banyak terjadi dan tentu saja SDM-SDM baru di bidang televisi tetap dibutuhkan.


WARTAWAN IYA, PENCARI IKLAN JUGA


Belum lama ini mantan Jurnalis dari TransTV Satrio Arismunandar memposting surat terbuka milik Syamsul Huda di sebuah milis yang kebetulan saya ikuti. Isi surat terbuka tersebut berupa protes dari Syamsul yang dikenal dengan Syam Terrajana ini. Baginya, profesi Jurnalis haruslah independen. Namun, ke-independen-an tercoreng manakala manajemen LKBN Antara meminta Jurnalis juga harus mencari duit.
Berikut surat terbuka dari Syamsul Huda M. Suhari yang dikasih judul: Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan!

*****
MENJADI Jurnalis adalah impian terbesar dalam hidup saya. Tak peduli apa kata orang-orang sekitar yang masih memandang profesi ini sebelah mata. Ada kerabat yang bilang, kalau wartawan itu bukan pekerjaan yang baik, rentan persoalan, tak jelas masa depan.

Bahkan ada juga yang enteng bertanya: berapa saya dapat duit dari pejabat setiap kali wawancara. Sebagian besar tidak percaya bahwa memberi amplop pada wartawan itu haram hukumnya.

“Ah, aturan dibuat kan untuk dilanggar,” begitu kata mereka. Sebagai orang yang dibesarkan dalam keluarga yang “bertradisi” Pegawai Negeri Sipil (PNS), tentu ada saja sentilan tak mengenakkan kuping. Tentu teman-teman sesama jurnalis yang benar-benar sadar mencemplungkan diri ke dunia ini pernah mengalami hal serupa.

Tapi saya tidak peduli. Saya jalani profesi bersahaja namun mulia ini dengan ikhlas dan gembira.Alhamdulillah, istri saya yang manis sangat mengerti sejak awal, bahkan mendukung pilihan hidup saya ini.

Singkat cerita, impian saya terwujud. Tak lama setelah menikah, tepat tanggal 1 Januari 2008 saya resmi bergabung dengan LKBN ANTARA biro Gorontalo, mula-mulai berstatus training, lalu menanjak menjadi pembantu koresponden.Bayarannya antara 10-15 ribu perberita.

Aih. Saya ingat, gaji pertama saya 140 ribu rupiah. Senang sekali rasanya, meski harus terpotong 40 ribu gara-gara berurusan dengan Polantas yang menilang lantaran saya lupa pakai helm saat berkendara. Hiks.

Untuk menutupi kebutuhan, saya nyambi mengajar ekskul teater di salah satu SMA. Syukurlah punya sedikit pengetahuan tentang itu semasa kuliah dulu. Lambat laun pendapatan saya meningkat, di samping makin terampil menyusun tulisan, honor perberita di LKBN ANTARA juga meningkat, jadi 25 ribu perberita.

Itu terjadi pada pertengahan 2008, ketika ANTARA mendapat penugasan khusus dari negara
untuk peliputan dan/atau penyebarluasan informasi kegiatan kenegaraan dan kemasyarakatan baik di tingkat nasional, daerah, maupun internasional.

Lewat penugasan ini, negara mengucurkan dana pelayanan masyarakat (Public Service Obligation/PSO) kepada ANTARA yang telah berstatus Perusahaan Umum (BUMN) sejak 2007.

Dana PSO ANTARA untuk tahun 2008 sebesar Rp40,6 Miliar. Cukup kecil memang jika dibanding kucuran serupa pada BUMN lain. Namun Tak bisa dipungkiri, dana publik talangan ini cukup membantu kehidupan segenap karyawan ANTARA.

Kami di daerah terutama yang berstatus kontributor/karyawan tidak tetap, berpacu memproduksi berita sebanyak mungkin, sepanjang memenuhi kriteria atau tema PSO yang telah ditetapkan.

***************

"Direksi BUMN harus semakin kreatif, jangan berbisnis "as usual" tetapi harus berani mencari terobosan untuk menambah penghasilan perusahaan," begitu kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, sebagaimana berita yang dikutip dari antaranews.com, Rabu (25/1) 2012.

Sebagai orang yang hanya berposisi sebagai sekrup dalam rangkaian instalasi besar bernama Perum LKBN ANTARA , terus terang saya kurang begitu paham pun mengerti dengan maksud pernyataan Dahlan Iskan.

Namun yang saya tahu betul, ada pernyataan menyolok dari Direktur Pemberitaan Perum LKBN ANTARA, Ahmad Kusaeni, dalam artikel yang sengaja di tempel di papan pengumuman kantor kami. Menyolok karena pernyataan itu sengaja distabillo oleh Kepala Biro:

“Wartawan ANTARA harus cari berita dan cari uang. Kapitalisasikan jaringan yang ada dan layani kebutuhan pencitraan pemerintah,” begitu bunyi pernyataan itu.

Dan topik mengenai wartawan mencari iklan kian diangkat di hampir setiap rapat, terutama setelah biro kami memiliki portal berita sendiri, antaragorontalo.com.

Kepala biro ANTARA Gorontalo, Hence Paat, dengan semangat dan tak bosan-bosannya mengingatkan hal itu, juga pernyataan yang diwarnai menyolok itu..
Tak sebatas itu, bahkan dia meminta kami untuk aktif melobi iklan maupun kerja sama pemberitaan di setiap Pemda. Komisi 15 persen pada setiap iklan yang berhasil digolkan setiap wartawan jadi iming-iming.

Segelintir wartawan jadi galau. Kami merasa ada laten di balik praktek pengembangan bisnis dengan cara demikian. Yang pertama jelas soal independensi jurnalisme yang bisa terancam. Praktek kerja sama pemberitaan dengan setiap Pemda, cenderung memberikan informasi dan sudut pandang satu arah. Meski bekerja untuk media yang katanya “Pelat merah”, saya tidak sepakat dengan cara demikian. Bukankah loyalitas pertama seorang jurnalis adalah pada publik?

Karena itu sejak awal ketika bertugas liputan di Kota Gorontalo, saya tidak memilih ngepos tetap di kantor Pemda. Saya berkeliling sejauh saya bisa, meski saya tahu itu membuat lebih capek. Selain keluar masuk ke dinas-dinas SKPD, saya main ke pasar, ke kampung nelayan dsb. Sebagai jurnalis tentu saja saya ingin menambah sudut pandang pemberitaan dari berbagai lapisan masyarakat . Tidak membebek/nempel di belakang pejabat penguasa.

Tapi itu tidak bisa lagi leluasa dilakukan, jika media di tempat saya bekerja akan menjalin kerja sama pemberitaan.

Jangan berharap wartawan leluasa melakukan kritik dalam pemberitaan. Posisi wartawan yang seharusnya egaliter dan terhormat, jadi terjerumus bak pesuruh yang bisa dicocok hidungnya tergantung penguasa yang memberi kue MoU kontrak pemberitaan melalui APBD.

Lagi pula setahu saya produk yang dihasilkan dari praktek ini, bukan lagi jadi karya jurnalistik, tapi advertorial. Tiada lagi pagar api yang membedakan mana iklan mana berita murni.

Media yang menjalin MoU pemberitaan juga rentan dijadikan alat politik penguasa daerah. Beberapa fakta di Gorontalo, bahkan ada Pemda yang memberi insentif bulanan kepada wartawan menempel (Planted).

Independensi jurnalis hanya jadi sederet kalimat mati yang terkubur dalam buku tipis berjudul Kode Etik Jurnalistik yang belum tentu pernah diziarahi setiap wartawan.
Praktek ini sebenarnya sudah cukup lama jadi modus bisnis bagi sejumlah media di Gorontalo. Bahkan ada koran yang hampir tak menyisakan ruang publik dalam setiap halamannya; sudah terkapling-kapling karena kontrak pemberitaan Pemda ini atau DPRD itu.

Warga sipil lebih sering muncul dalam rubrik kriminal, atau jika ada kejadian bencana, entah banjir, kebakaran atau hal apes lainnya. Pengen diliput media, bayar dulu.

Namun kegalauan kami bukannya tanpa solusi. Pada beberapa kali rapat, kami sudah mengusulkan agar kepala biro merekrut staf pencari iklan, semacam marketing.

Tapi usul itu selalu ditolak. Kepala Biro mengaku ingin meniru biro daerah lainnya yang telah mandiri dan besar pemasukannya, yang konon sukses karena mengandalkan wartawannya sebagai ujung tombak menjebol pintu-pintu pengiklan.

Alasan penolakan lainnya , karena menurutnya biro Gorontalo yang masih menyusu anggaran ke pusat belum mampu merekrut dan membayar tenaga iklan.

Pernah juga kami menginformasikan soal staf marketing lepas yang siap dibayar perkomisi, sehingga biro tidak perlu berpikir untuk membayar gaji bulanan. Tapi itu juga dimentahkan, dengan alasan pusat menginstruksikan agar memanfaatkan SDM/staf yang ada.

Pada perkembangannya persoalan itu menjadi senyap. Wartawan yang tidak mau mencari iklan, dibolehkan. Sedang yang mau demi menambah pemasukan, silahkan.

Ada lagi penuturan Kepala Biro yang bagi saya janggal. Pertama, menurutnya ANTARA Pusat menginstruksikan setiap pewarta organik (Karyawan tetap) untuk segera mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), tapi sekalian juga mewajibkan untuk mencari iklan (dan itu masuk dalam lembar penilaian kinerja!).

Duh, kenapa kantor berita berusia 78 tahun yang memiliki cita-cita besar menjadi kantor berita berkelas dunia ini, malah jadi abu-abu warnanya?.

**********

“ Syam, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan, Eem, begini, saya tahu kamu memegang prinsip, itu bagus. Karena itu saya sudah berusaha mencarikan solusi terbaik untuk mempertahankan kamu, ini usul, berhubung kontrak kamu sudah selesai per Desember ini, bagaimana jika ke depan kamu saya ajukan ke pusat untuk jadi kontributor PSO), sebab hanya posisi itu saja yang bebas dari kewajiban mencari iklan,“

Kurang lebih begitu kata Kepala Biro ANTARA pada suatu sore, penghujung Desember 2012. Saya diundang ngobrol di ruangannya. Dia melanjutkan:

“Terus terang ini berat, setiap biro ANTARA di daerah dibebankan target pendapatan, bahkan biro kecil semacam Gorontalo dipatok pendapatan satu milyar untuk tahun 2013, karena itu wartawan harus membantu bisnis perusahaan, “

Saya diam berpikir. Lalu :

“ Memangnya posisi kontributor non PSO punya kewajiban mencari iklan ya pak,”

“Ya, kontributor non PSO punya kewajiban membantu pengembangan bisnis perusahaan, itu tertuang dalam kontrak, tapi kalau yang PSO tidak, karena statusnya hanya kontrak dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI,”

“Sebentar pak, sebelumnya saya ingin tahu, seperti apa definisi membantu pengembangan bisnis perusahaan bagi wartawan, jika pengertiannya sekedar membantu mempertemukan kepala biro dengan calon pengiklan, saya rasa saya masih sanggup, “

“ Terlibatnya harus lebih dalam, Syam,”

“Sedalam apa pak? Saya perlu tahu takarannya, sebab setahu saya wartawan memiliki kode etik,”

“ Harus lebih dalam, tidak sekedar membantu memediasi, tapi juga harus ikut mengurusi hal lain dalam perjanjian kerja sama,”

“Berarti status saya diturunkan ya pak?,”

“Oh tidak, jangan berpikir begitu, di luar sana kan tidak ada yang akan bertanya, kamu wartawan PSO atau tidak, yang mereka tahu kamu kan wartawan ANTARA,” balasnya.

“Tapi dengan jadi kontri PSO, saya tidak lagi mendapatkan THR bukan?,” kata saya.

“Ah, ya, itu dia, tapi kamu tahulah, kita juga sudah membiasakan untuk berbagi rejeki, tapi bisa juga nanti gantian, tahun depan gantian wartawan lain yang jadi kontri PSO, kamu jadi kontributor lagi”

Jelas saya tambah pusing. Logika macam mana itu. Saya meminta waktu beberapa hari sebelum memberi jawaban.

Saya jadi galau seketika. Dengan pilihan itu, saya merasa diberikan buah simalakama. Posisi kontributor PSO jelas akan lebih lemah dengan adanya kerja sama kontrak pemberitaan dengan Pemda.

Namun kegalauan itu seketika berubah jadi rasa sedih, amarah bercampur tersinggung tak tertanggungkan.

Itu terjadi pada suatu hari di awal Januari, saya tidak diundang pada rapat perdana tahun 2013. Saya, hanya saya sendiri satu-satunya wartawan ANTARA yang tidak diundang rapat.

Dan ternyata sampai di situlah keterbatasan saya sebagai manusia,. Saya berada di puncak mempertahankan harga diri saya, membela kemanusiaan saya, membela profesi yang saya anggap mulia ini. Saya hadiri rapat itu sebagai tamu tak diundang. Dan seketika menyatakan diri KELUAR.

Saya tidak mau lagi diajak/digoda untuk melecehkan profesi. Bahkan pasal pertama Kode etik jurnalistik dibuka dengan kalimat “Wartawan Indonesia bersikap Independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”. Yang perlu diberi huruf besar dalam konteks ini adalah kata INDEPENDEN, yang penafsirannya berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

Bagaimana saya bisa bersikap independen dalam pemberitaan? jika saya terlibat konflik interest dengan mencari iklan sebagai pengertian (yang seolah tunggal) dari “membantu pengembangan bisnis perusahaan”.

Tafsir “Membantu Pengembangan Bisnis Perusahaan” bagi saya sebagai wartawan adalah membuat berita bermutu, professional dan berfaedah demi menjaga kepercayaan publik pada perusahaan. Bukankah sebagai kantor berita, ANTARA selaiknya menjaga kepercayaan publik yang tercermin dari media-media yang masih setia jadi pelanggannya?

Kawan, pembaca budiman. Terus terang saya menyesal, menyesal karena saya keluar dalam keadaan tidak baik-baik. Tapi sungguh, tiada maksud hati menjatuhkan martabat ANTARA, kantor berita bersejarah kebanggaan rakyat Indonesia yang pernah dengan lantang menyebarkan informasi proklamasi kemerdekaan RI.

Saya menceritakan hal ini karena merasa terpanggil, bagaimanapun ANTARA pernah jadi bagian hidup yang saya banggakan. Justru karena itu perlu dikritik agar lebih baik. Meski kritik datang dari sekrupnya sendiri, sekrup yang bisa dibuang dan dengan mudah dicarikan gantinya.

Saya yakin ada banyak wartawan ANTARA yang sama gelisahnya dengan saya. Apa yang saya tuliskan bukanlah untuk gagah-gagahan, biarlah mencari sensasi menjadi urusan selebriti dan politisi.
Saya hanya mau jadi wartawan biasa, yang tak sempurna justru karena belajar patuh pada kode etik yang mengikatnya. Yang luar biasa adalah wartawan yang melecehkan profesinya sendiri.

Dengan hormat dari Gorontalo…

*****

Surat terbuka yang diposting pada Minggu, 13 Januari 2013 itu langsung ditanggapi oleh Elizabeth Swanti. Menurutnya, sistem wartawan juga turut 'berpartisipasi' mencari iklan ini adalah sistem yang jamak dijalani di Jawa Pos Group, dimana pak Dahlan Iskan menjadi Direktur-nya.

“Secara umum, sistem ini berhasil dari sisi marketing, tetapi menjadikan integritas seorang jurnalis dipertanyakan. Mungkin, direktur Antara saat ini melihat sistem Jawa Pos bisa diterapkan pada lembaga beritanya. Mungkin,” ujar Elizabeth.

Lalu Produser VOA Naratama menanggapi lagi, bahwa di Amerika, ada yang disebut Ads-Journalism, Profesi ini lebih merupakan profesi Penulis di media digital yang lebih mengutamakan informasi sekitar produk, sesuai dengan keinginan klien.

“Di era digital ini sudah banyak dilakukan oleh berbagai perusahaan, antara lain dengan membayar para Bloggers, Facebookers, Pathers, dan puluhan penulis Social Media online lainnya. Tapi biasanya hal ini tidak menyentuh substansi content dari menu utama berita,” ujar Nara yang saat ini tinggal di Washington bersama istri dan anak-anaknya ini.

Lalu apakah Jurnalis Marketing yang diwajibkan oleh LKBN Antara ini akan kehilangan idependensi? Seharusnya jangan. Meski harus mencari uang, tidak berarti seorang Jurnalis tidak independen. Namun, yang harus dilakukan adalah bagaimana trik-trik agar tidak terjadi conflict of interest terhadap pemilik uang yang ingin diberitakan di sebuah media, khususnya di LKBN Antara.


Friday, January 18, 2013

Dalam Semenit Dukungan Tolak Hakim Agung Sudah Ratusan

Diky Chandra, mantan Wakil Bupati Garut, mengirim Blackberry Massage (BBM) ke saya. Isinya tentang dukungan pernyataan Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia yang mengecam mereka yang menjadikan pemerkosaan sebagai bahan canda. 

Bloggers, jika Anda punya BB, saat ini ramai teman-teman di contact list Anda yang menyebarkan BBM seperti yang saya terima. Sebar menyebar pesan ini ternyata cukup menarik. Sebab, dalam tempo tidak kurang dari satu menit, muncul nama-nama yang turut mendukung, meski saya perhatikan urutan nama yang disebar tidak akurat dari penyebar satu ke penyebar yang lain. Dari nomer satu sampai enampuluhdua masih sama, yakni Moh Jumhur Hidayat di urutan 1 dan Abdul Aziz di urutan ke-62. Begitu di urutan ke-63, BBM yang disebarkan oleh teman saya pertama bernama Ferrasta “Pepeng” Soebardi, sedang dari BBM teman saya satu lagi urutan ini diisi oleh Katon Bagaskara. Diky Chandra yang mengirimkan BBM ke saya duduk di posisi ke-72, sementara BBM dari teman saya yang lain, nomor 72 sudah diisi oleh Netty Prasetiyani. Anyway, pembahasan ini memang sangat nggak penting.

Bloggers, sebar menyebar BBM untuk mencari dukungan ini terjadi lantaran calon Hakim Agung M. Daming Sanusi dalam fit and proper test di hadapan Komisi III DPR melontarkan pernyataan yang sangat tidak pantas. Ia melontarkan candaan bahwa pemerkosa tidak perlu dihukum mati karena si pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati. Ironisnya, anggota Komisi III DPR menanggapi candaan Daming dengan tertawa. Melihat kondisi miris itu, Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia mengajak kita untuk memberi dukungan Petisi Dukungan Tolak Calon Hakim Agung M Daming Sanusi.

Daming memang sangat gegabah mengungkapkan pernyataan tersebut. Padahal, menurut Ustaz Arifin Ilham, hukuman bagi Pemerkosa adalah HUKUMAN MATI. “Sewaktu saya masih belajar di Mesir, para pemerkosa dijatuhkan hukuman mati,” ujar Ustaz Arifin. 

Lanjut Ustaz, hal tersebut pernah ditanyakan kepada Mufti negara Mesir mengenai dasar hukuman mati bagi para pemerkosa?  Jawabanya terdapat dalam surat 5 al-Maidah ayat 33. Pemerkosa digolongkan sebagai “Qothi-ut Thoriiq“, yakni “yang memerangi manusia”.

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah DIBUNUH !, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yg demikian sebagai penghinaan utk mrk didunia, dan diakhirat mrk mendapatkan siksaan yg sangat pedih.”

(Surat al-Maidah 33)

Namun, selama syariat tidak ditegakkan, hukuman MATI tidak akan pernah bisa tegak. Pemerkosa bebas berkeliaran. Pelecahan demi pelecehan terjadi. Bukan cuma yang sudah dilakukan oleh M Daming Sanusi, tetapi orang lain. Barangkali Bloggers belum lupa Olga Syahputra pernah melecehkan dalam candanya ketika menjadi pengisi acara di Dekade Trans Untuk Indonesia pada 15 Desember 2011. Saat itu Olga berperan sebagai hantu. Saat ditanya lawan mainnya tentang kenapa dia sampai menjadi hantu, dia menjawab: matinya sepele, karena diperkosa sopir angkot.

Bloggers, perkataan Olga itu dianggap tidak etis dan tidak menghargai para korban pelecehan di dalam angkot yang memang sedang marak beberapa waktu lalu. Gara-gara perkataan Olga, Helga Worotitjan, perwakilan aktivis advokasi pemerkosaan, mengajukan laporan resmi ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Sunday, November 4, 2012

Meski Kontroversi, KPI Tetap Gelar Workshop P3SPS untuk Praktisi Televisi

Tak banyak pemangku kepentingan di stasiun televisi yang mengetahui isi dalam buku Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Padahal buku yang menjadi pedoman pada pemangku kepentingan di televisi nasional ini sudah disahkan lama.

Bloggers, P3SPS ini terdiri beberapa Bab, dimana Bab tersebut seluruhnya berisi mengenai aturan dalam membuat program televisi. Ada Bab mengenai perlindungan terhadap orang atau masyarakat tertentu, sebagaimana terdapat di Bab XI Pasal 17.

“(1) Program siaran dilarang menampilkan muatan yang melecehkan orang dan/ atau kelompok masyarakat tertentu; (2) Orang dan/ atau kelompok masyarakat tertentu sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) antara lain, tetapi tidak terbatas: a. pekerja tertentu, seperti: pekerja rumah tangga, hansip, pesuruh kantor, pedagang kaki lima, satpam; b. orang dengan orientasi seks dan identitas gender tertentu; c. lanjut usia, janda, duda; d. orang dengan kondisi fisik tertentu, seperti gemuk, ceking, cebol, bibir sumbing, hidung pesek, memiliki gigi tonggos, mata juling; e. tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunagrahita, autis; f. pengidap penyakit tertentu, seperti: HIV/ AIDS, kusta, epilipsi, Alzheimer, latah; dan/ atau; g. orang dengan masalah kejiwaan.”

Jika Bloggers melihat Bab XI Pasal 17 di atas, sangat jelas dan detail P3SPS itu. Namun, pelarangan yang terkandung di Pasal ini selama ini tidak sesuai dengan fakta dalam televisi nasional. Mayoritas televisi hiburan –yang banyak menampilkan program sinetron atau komedi- boleh jadi telah melanggar aturan yang ada di Pasal 17 ini.

Yang Bloggers baca baru satu Bab dan satu Pasal. Belum Bab-Bab maupun Pasal-Pasal lain yang sesungguhnya sangat ‘menyiksa’ pemangku kepentingan di stasiun televisi. Mari kita perhatikan lagi Bab XIII, yakni Bab mengenai pelarangan dan pembatasan kekesaran, Pasal 23.

Program siaran yang memuat adegan kekerasan dilaran: a. menampilkan secara detail peristiwa kekerasan, seperti: tawuran, pengeroyokan, penyiksaan, peran, penusukan, penyembelihan, mutilasi, terorisme, pengrusakan barang-barang secara kasar atau ganas, pembacokan, penembakan, dan/ atau bunuh diri; b. menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah, terpotong-potong dan/ atau kondisi yang mengenaskan akibat dari peristiwa kekerasan; c. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap manusia; d. menampilkan peristiwa dan tindakan sadis terhadap hewan, dan/ atau; e. menampilkan adegan memakan hewan dengan cara tidak lazim.”

Apakah Bloggers pernah melihat berita-berita di televisi nasional, dimana gambarnya tidak menampilkan sesuai perintah Bab XIII Pasal 23 di atas itu, terutama poin a? Pasti Kompasianers selalu melihat berita tawuran dengan gambar yang menampilkan peristiwa pada saat mereka melakukan kekerasan. Tawuran pelajar, misalnya. Footage (visualnya) sekolah A melempar batu ke sekolah B. Atau sekolah C mengejar para pelajar sekolah D dengan menggunakan bambu, bahkan golok. Footage berita terkadang memperlihatkan ada korban tawuran berdarah-darah yang terkena lemparan batu atau tewas di jalan dengan berdarah-darah. Namun, apakah stasiun televisi tidak boleh menampilkan fakta dengan footage seperti itu?

P3SPSI ini bisa jadi jebakan. Kita beberapa kali ditegur KPI, dimana mereka selalu mengaitkan dengan P3SPSI,” ujar salah seorang praktisi televisi yang tidak mau disebutkan namanya. “Di satu kasus mereka tegas, tetapi di kasus lain mereka membiarkan (ada program yang melanggar aturan-pen).”

Bloggers, P3SPS KPI tahun 2012 ini memang kontroversial. Betapa tidak, ketika sudah disahkan, sejumlah lembaga penyiaran swasta berniat mengajukan gugatan, baik ke Mahkamah Agung (MA) atau Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Menurut Arya M Sinulingga, Head of Corporate Secretary MNC Media, yang penulis kutip dari situs Okezone.com, ada tiga hal pokok yang membuat para stakeholder lembaga penyiaran swasta merasa keberatan. Pertama, P3SPS dinilai melanggar Undang-undang karena pembahasannya tidak melibatkan para pemangku kebijakan. Kedua, inti dari aturan-aturan dalam P3SPS dinilai melebihi kewenangan KPI. Ketiga, banyak aturan yang dinilai tumpang tindih dengan aturan lainnya, seperti UU Pers Nomor 40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik.

P3SPS bisa membuat industri penyiaran terbunuh. Selain itu juga berpotensi menghalangi kebebasan pers,” ujar Arya.

Tak beda dengan Arya, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Erick Thohir juga menyesalkan keluarnya P3PSP. Kata Erick, KPI belum melibatkan asosiasi ketika membahas aturan tersebut dan cenderung tumpang tindih dengan aturan lain. "Kami setuju diawasi tapi jangan industrinya dibunuh," kata pemilik sahan tvOne ini.

Meski masih tetap kontroversi di kalangan praktisi televisi, beberapa waktu ini KPI Pusat menggelar kegiatan workshop dan sosialisasi P3SPS KPI tahun 2012 di sejumlah stasiun televisi. Rencananya, dalam setiap akhir pekan, KPI Pusat akan mengadakan workshop P3SPS untuk 11 stasiun televisi di Jakarta secara bergantian. Kegiatan workshop pertama dimulai Global TV dan berlangsung di kantor KPI Pusat, Sabtu, 13 Oktober 2012 lalu, dengan dihadiri oleh Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suryanto.

Menurut Ezki, praktisi televisi wajib mengetahui setiap aturan yang berhubungan dengan pekerjaannya dalam hal P3SPS KPI. Ia juga meminta perhatian para peserta untuk lebih jeli dan teliti pada setiap program acara yang akan ditayangkan. Seperti soal ciuman. Menurutnya, tayangan ciuman ini bisa menjadi masalah besar bagi anak-anak. Sebab, anak-anak yang menonton adegan ciuman akan menganggap sebuah hal yang biasa, jika si anak dicium oleh orang yang lebih tua darinya dan bukan muhrim.

Adegan ciuman, baik sedetik, setengah detik bahkan sampai tiga detik, tidak boleh ditayangkan untuk jam berapa pun,” kata Ezki.

Tentang ciuman dan larangan adegan seks banyak diatur dalam Bab XII di P3SPS ini. Memang, buat pemangku kepentingan, P3SPS ini seperti ‘membunuh’ program televisi (bukan membunuh televisi). Namun, sesungguhnya apa yang dilakukan KPI melakukan pembatasan patut dicungkan jempol, asal konsisten. Sebab, Indonesia bukan Negara liberal. 

Profil Picture dan Status Terakhir di BB Remy Soetansyah

Ajal Tidak Akan Menunggu Tobatmu

Itulah tulisan yang ada di profil picture terakhir rekan saya, almarhum Remy Soetansyah. Bang Remy -begitu saya dan beberapa orang memanggilnya-, memberikan isyarat pada kami, teman-temannya untuk senantiasa bertobat. Sebab, kematian tidak pernah kita tahu. Kematian adalah rahasia Allah swt. Dan sungguh merugi ketika kita belum sempat bertobat, ajal menjemput kita. Na’udzubillahimindzalik!

Namun, Alhamdulillah almarhum Remy telah bertobat di akhir hayat. Setidaknya itu kesimpulan saya pribadi dan Insya Allah juga teman-teman lain. Kesimpulan ini saya dapat setelah saya BBM-an dengan beliau, gara-gara mempertanyakan statusnya: “Belajar sabar, ikhlas en bersyukur sll”.

Sekarang ini bang Remy nampak religius sekali?” tanya saya via BBM.

Yo’i

Bang Remy memang selalu mengekspesikan kata “IYA” dengan kata “YO’I”. Ini untuk menunjukan di usianya yang sebetulnya sudah tidak muda lagi, ia masih tetap gaul. Dalam obrolan saya via BBM itu, ia kemudian menceritakan betapa dirinya dulu bergelimang dosa dan tak heran belakangan ia mendekatkan diri kepada Allah swt.

Bloggers, saya mengenal bang Remy relatif lama, ketika beliau masih menjadi wartawan tabloid Citra. Tabloid terbitan Gramedia Group ini berisi tentang berita-berita musik dan televisi. Soal musik, semua penyanyi maupun anak band pasti kenal nama Remy Soetansyah. Rekan saya, Naratama menulis di milisnya, “Pada masa 1990an, ada pepatah diantara kalangan artis ‘Kalau belum kenal Remy Soetansyah, jangan pernah mimpi menjadi artis musik Indonesia’”. Saya setuju!

Boleh jadi di kalangan wartawan musik, bang Remy adalah legenda. Betapa tidak, ia bukan saja dikenal sebagai wartawan musik, tetapi juga pencari bakat, kritikus musik, dan mentor dari band-band pemula. Kiprahnya di dunia tulis menulis musik, hiburan, film, dan budaya Indonesia tidak bisa dihitung.

Bukan cuma berkarya lewat tulisan, bersama Produser RCTI senior, Yogi Hartanto, dan Hans Miller, bang Remy menggagas program Infotainment pertama di Indonesia, yakni Kabar-Kabari. Setelah Kabar-Kabari, barulah muncul program-program infotaiment lain. Sampai di akhir hayatnya, (alm) Remy masih tercatat memimpin program infotainmen ini.

Bang Remy terakhir mengirim BBM ke saya saat Idul Adha kemarin. Namun setelah itu, Naratama mengirimkan kabar tentang kondisi bang Remy via milis NaratamaTV@yahoogroups pada 30 Oktober 2012.

Teman2x...
Sahabat kita, member milis ini, begawan musik infotainment senior bang Remy Soetansyah sedang terbaring tidak sadar di Rumah Sakit akibat penyakit stroke yang datang mendadak. Bang Remy, adalah salah satu tokoh TV Infotainmen Indonesia, beliau adalah salah seorang penggagas dan produser program infotainment pertama di Indonesia, yaitu Kabar Kabari, di RCTI. Bang Remy dikenal sangat dekat dengan karir sejumlah musisi besar seperti Nicky Astria, Atiek CB dan (alm) Harry Roesli. 

Mari kita sama-sama mendoakan agar diberikan kesembuhan dan dikuatkan dari cobaan ini... Aaaammiiin... 

Terus berjuang Bang...
Salam Naratama

Seorang anggota milis pemilik akun documenter_heroik@yahoo.co.id kemudian meng-update kondisi bang Remy dengan mengirimkan foto pada Rabu, 31 Oktober 2012 pukul 01:00 wib, yang ia abadikan pada hari sebelumnya, yakni Selasa, 30 Oktober 2012. Foto tersebut menunjukan kondisi terakhir bang Remy di ICU Rumah Sakit Umum Pertamina Pusat (RSPP), Jakarta. Menurut istri almarhum, Ayum Sambuniatri, bang Remy terkena stroke pada Senin (29/10/2012) di tempat bekerjanya, PT Shandika Widya Cinema (PH yang memproduksi program Kabar-Kabari), di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam keadaan tak sadar, ia langsung dibawa ke RSPP. Itu merupakan stroke kedua yang dialaminya. Stoke pertama terjadi sekitar lima tahun lalu.

Bloggers, Allah swt berkehendak lain. Tepat pada pukul 18:48 WIB, bang Remy yang bernama asli Koernia Rusmir ini meninggal dunia di RSPP. Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun. Allah swt pasti menerima segala kebaikan yang telah bang Remy lakukan. Terlebih lagi, di ujung harinya, teman dan mentor saya ini telah dekat pada Allah swt dan menjalankan perintah dan menjauhkan larangan-Nya.

Selamat jalan bang Remy!

Friday, October 12, 2012

Sutradara Indonesia Memfilmkan Novel Stephen King

Adalah Marky Jahjali. Sutradara lulusan Fakultas Seni Rupa Insititut Teknologi Bandung (FSDITB) ini berhasil memikat hati penulis novel kelas dunia, Stephen King. Siapa yang tak kenal penulis novel kelahiran 21 September 1947 ini?

Dua dari lima orang yang pegang novel di public places pegang buku King. Pria yang biasa menulis kisah horor, fiksi ilmiah, dan suspen ini merupakan seorang penulis paling populer di dunia setelah JK Rowling. King mendapat julukan American Literary McDonald. Saking laku hasil karyanya itu, novelnya telah menjadi bagian budaya Amrika. Jika King of Pop itu Michael Jackson, lalu di film Steven Spielberg, maka di novel fiksi ada King.

Gelar sebagai King of Fiction tak berlebihan. Buku-bukunya sudah terjual sebanyak 350 juta copy. Bahkan King pernah masuk ke dalam Guiness Book of Records sebagai penulis bayaran dengan kontrak termahal. Kontrak terbesarnya saat menulis buku Bag of Bones, dimana King dibayar lebih kurang Rp 130 miliyar. Tak heran oleh Majalah Forbes ia dijuluki sebagai penulis dengan pendapatan terbesar kedua setelah JK Rowling, yakni sekitar Rp 390 miliyar.

13487939511702931099

Buku-buku King paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia pernah mendapat penghargaan sastra tertinggi America-Medal for Distinguished Contribution to American Letters. Karakter-karakter dalam novelnya sangat kuat, sehingga berhasil memotret kehidupan Amerika.

Novel-novel yang diadaptasi sudah cukup banyak. Hebatnya, banyak yang masuk nominasi Piala Oscar, bahkan ada yang meraih Oscar. Sebut saja film Carrie. Film ini berhasil meraih Best Actress, Best Supporting Actress. Lalu film Stand by Me mendapatkan 4 nominasi Oscar; film Shawsank Mile mendapat 6 nominasi; dan film Misery meraih Oscar untuk kategori Best Actress.

Kini, Marky mendapat kepercayaan untuk memfilmkan novel King berjudul The Woman in the Room. Sebuah drama kelam tentang seorang anak, ibu, dan penyakit kanker.

“Aku suka banget dengan cerita the Woman in the Room ini,” jelas Marky memberi alasan mengapa memilih novel King itu. “Aku bisa sangat mendalami sensibilitas cerita dan karakter-karakter di novel itu, karena secara personal aku alami semua.”

Tentu saat mengangkat novel menjadi film, seorang sutrdara harus membayar hak cipta, sebagaimana sutradara-sutradara lain. Anda pasti membayangkan Marky membayar hak cipta dengan harga sangat mahal dari novel King ini. Apalagi the Woman the Room ini sebelumnya sempat hampir meraih nominasi piala Oscar di kategori Best Short Movie pada 1980-an. Film pendek itu disutradarai oleh Frank Darabont, dimana ia sempat meraih piala Oscar dari film adaptasi novel King berjudul The Shawshank Redemption dan the Green Mile.

Saya tidak membayar hak cipta sama sekali alias free!” ujar Marky. “Namun ini menjadi tantangan terberat saya.”

Apa yang membuat King membebaskan hak cipta pada Marky, boleh jadi karena ia sempat berbagi pengalaman diri dan ibunya. Pada saat mengajukan keinginan membuat film the Woman in the Room, ia  menceritakan ibunya yang memiliki penyakit kanker. “Saya mengalami secara emosional saat ibu kita tercabik-cabik dengan penyakit kanker,” ungkapnya.

Aku bikin proposal tentang ini dan dicoba dikirim,” ujar Marky mengisahkan proses permohonan ke King.

Ia kemudian mengatakan pada King, jika film the Woman in the Room tidak diputar di bioskop komersial, paling tidak bisa diputar di festival-festival internasional atau dipertunjukan publik non komersial. Marky pun menjelaskan, kisah di novel itu bisa dibuat dimana saja, dengan setting mana pun dengan latar belakang sosio kultural di Indonesia sekali pun.

Ternyata aku dapat approval!”

Bloggers, selama ini Marky dikenal sebagai sutradara dari festival film. Sejumlah penghargaan pernah ia raih. Di Jakarta International Film Festival, filmnya Kursinya sempat masuk dalam Nominated for Best Script Award; lalu di South Africa International Film Festival's Top Ten film Kursinya itu pula duduk di posisi 10; di Gannfest, film Lolonii meraih Best Picture Golden Elephant Award; di Festival Film Padjajaran 2011 film Lolonii meraih Best Script Award; film Strangers menjadi one of the 9 official selected movies from 18 countries in Asia Africa Film Festival for competition; film Lolonii dan His Chair menjadi officially selected in Asia Africa Film Festival for non competition category.

Thursday, October 11, 2012

Surat Imbauan Komisi Penyiaran Indonesia untuk Seluruh Direktur Utama TV

Sehubungan film Innocence of Moslems, pada 17 September kemarin, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan surat yang ditujukan kepada seluruh Direktur Utama stasiun televisi, baik swasta maupun TVRI. Surat bernomor 549/K/KPI/09/12 itu ditandatangi langsung Ketua KPI, Mochamad Riyanto. Ada 4 poin yang wajib ditaati oleh ke-10 televisi swasta dan juga TVRI.

1348025248818290591
 Berikut poin-poin imbauan dalam surat KPI:
1. 
 Lebih sensistif dan berhati-hati dalam pembuatan/ penayangan berita atau informasi yang berhubungan dengan film tersebut.
2. Tidak menampilkan cuplikan adegan film tersebut dan/ atau membahas topic tersebut dengan berpedoman pada Pedoman Prilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) Komisi Penyiaran Indonesia 2012.
3. Program siaran dilarang berisi serangan, penghinaan, dan/ atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antaragama, menghargai etika hubungan antarumat beragama, serta tidak menyajikan perbandingan antaragama.
4. Agar menjadikan P3 dan SPS KPI 2012 sebagai acuan utama dalam menayangkan program siaran.

Imbauan KPI ini tentu sangat baik untuk bisa menentramkan kemarahan umat Islam agar tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis. Meski sifatnya imbauan, namun tentu saja seluruh stasiun televisi wajib menjalankan ke-4 poin KPI tersebut di atas.

Membalas Film Ecek-Ecek "Innocence of Muslims", Film Rasulullah SAW Berbiaya 4 Trilyun Bakal Diproduksi

Noor Qatar, sebuah grup milik konglomerat asal Qatar akan melanjutkan proyek memproduksi film tentang Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. Sebagaimana penulis kutip via situs al-intima.com, kualitas film ini nantinya bakal sekelas film-film papan atas Hollywood, baik dari seni maupun gambarnya. Tentu saja jauh dibanding kualitas film Innocence of Muslims yang ecek-ecek secara artistik dan alur cerita itu.

Saat ini, film berbiaya produksi senilai 450 dollar US atau sekitar 4 triliyun perak ini sedang dalam tahap akhir penyelesaian penulisan skenario. Menurut rencana, film yang belum diberi judul ini akan menggunakan bahasa Inggris dan akan diperankan oleh para aktor muslim yang fasih berbahasa Inggris.

Tidak seperti Innocence of Muslims, film produksi Noor Qatar ini benar-benar digarap setelah mendapatkan arahan dari para ulama ternama di dunia Islam. Sebab, nantinya film ini akan ditujukan untuk semua kalangan, tak terkecuali non muslim di seluruh dunia. Tak heran jika film ini akan diterjemahkan ke dalam 6 bahasa.

Yang pasti, film produksi Noor Qatar ini tetap tidak akan menampilkan wajah Rasulullah SAW. Sebelumnya, Sutradara asal Iran, Majid Majidi juga ingin memproduksi film layar lebar tentang Rasulullah SAW. Namun keinginannya sampai saat ini terganjal dengan beberapa fatwa. Fatwa yang terbaru dikeluarkan oleh Al-Azhar adalah mengharamkan visualisasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabat yang mulia.
Meski demikian, sutradara Iran yang namanya meroket setelah menyutradarai film laris Children of Heaven ini tetap ngotot akan memfilmkan Rasulullah SAW. Sebelum memfilmkan Rasulullah SAW, Majidi, sang sutradara, telah membandingkan lebih dari 200 film tentang Yesus Kristus, lebih dari 100 film tentang Nabi Musa, sedangkan tentang sejarah nabi Muhammad hanya diproduksi satu film dalam kurun 40 tahun terakhir. Selain itu, ia juga melihat stasiun televisi Al-Manar di bawah Hizbullah, boleh menyiarkan film tentang Nabi Yusuf dengan dubbing bahasa Arab selama Ramadhan lalu. Di film itu, Nabi Yusuf diperankan oleh aktor Iran Musthafa Zamani.

Hal inilah yang menuai protes dari berbagai pihak di antaranya seperti yang diberitakan koran Kuwait Al-Wathan bahwa telah ada kesepakatan di antara sumber-sumber fiqih rujukan setingkat dunia Islam tentang larangan visualisasi pribadi Rasulullah SAW, bahkan menurut undang-undang Kuwait dianggap sebagai tindak kriminal.

Kenapa Majidi ngotot dan mengabaikan seluruh undang-undang visualisasi wajah Rasulullah SAW, padahal nasibnya bisa seperti sutradara film Innocence of Muslims? Barangkali salah satunya, dialah yang ingin memerankan tokoh Rasulullah SAW di film itu.


Thursday, September 13, 2012

Putra Nababan Membawa Angin Segar di Metro TV

Cerita masuknya Putra Nababan ke Metro TV bukan isapan jempol. Pria kelahiran 30 Juli 1974 yang selama ini dikenal sebagai Anchor dan pembawa acara Seputar Indonesia di RCTI ini akan menggantikan posisi Pemimpin Redaksi Metro TV, Elman Saragih setelah Idul Fitri 1433 H ini.

Bloggers, sebetulnya Putra Nababan bukanlah orang baru di Metro TV. Ia pernah menjadi karyawan Metro TV pada medio 2001. Di`tahun itu, ia menjadi Assigment Editor dan news Anchor di acara Metro Pagi sampai dengan 2004. Setelah empat tahun bekerja, lulusan S1 Jurnalistik di Midland Lutheran College, Fremont, Nebraska, Amerika Serikat ini pindah ke RCTI dan pertama kali menjadi Deputy Chief Editor dan pembawa acara Seputar Indonesia sampai kini.

Saat ini terjadi kasak-kusuk di redaksi untuk ‘menyambut’ kehadiran Putra. Kabar yang beredar, terjadi restrukturusasi para pejabat di redaksi Metro TV. Namun, kehadiran pria ini boleh jadi menjadi ‘angin segar’ di redaksi Metro TV. Betapa tidak, meski usia masih muda, jaringannya luas. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya mewawancarai eksklusif dengan Presiden Barack Obama pada 17 Maret 2010 di Gedung Putih. Para jurnalis lulusan RCTI sekaliber Dessy Anwar saja  tidak mampu mendapatkan wawancara eksklusif.

Monday, August 13, 2012

Setelah Olga, Giliran Wendy Cagur Memplesetkan Lagu “Rindu Muhammadku”

Belum juga sirna kasus Olga Syahputra yang melecehkan sapaan Assalamu’alaikum di acara Fesbukers (ANTV), kini giliran Wendy Cagur buat kasus. Pada program Saatnya Kita Sahur yang disiarkan langsung oleh Trans TV (24/7), pelawak ini memplesetkan lirik lagu Rindu Muhammadku dengan kata ‘sampah’.
 
Bloggers, pagi itu, Raffi Ahmad menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang. Lagu itu diplesetkan oleh Wendy dengan kalimat: ‘Sampah-Sampah Pisang’. Lagu selanjutnya, Raffi menyanyikan sebait lagu Rindu Muhammadku karya Hadad Alwi: ‘Siapa yang cinta pada Nabi-nya pasti bahagia dalam hidupnya’. Oleh Wendy, lirik tersebut diplesetkan menjadi: ‘Sampah yang cinta pada Nabi-nya…”. 

Penggantian kata ‘SIAPA’ dengan ‘SAMPAH’ sepertinya biasa, wajar, dan tak masalah. Ya, namanya juga guyonan. Pasti sebagian dari Anda ada yang mengatakan hal itu. Namun tidak bagi Ahmad Faizal Iksan. Penonton Saatnya Kita Sahur menganggap, plesetan kata tersebut jelas menyinggung dirinya sebagai umat Islam. Tak heran ia melaporkan kejadian ini pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Sebagaimana penulis kutip dalam itoday.co.id (Selasa, 24/7), dalam kanal aduan di situs resmi KPI, Ahmad Faizal Iksan meminta KPI memberikan teguran keras kepada TransTV. Menurut Ahmad, guyonan Wendy tidak pantas dan melecehkan umat Islam. “Sungguh lawakan yang sangat tidak lucu dan menyinggung umat Muslim,” tulis Ahmad Faizal Iksan.

Bloggers, laporan Ahmad tentu sangat beralasan. Jika sebagai muslim Anda berpendapat plesetan itu biasa, berarti Anda golongan SAMPAH, sebagaimana diucapkan Wendy. Atau jangan-jangan Anda memang lebih suka dimasukkan ke dalam golongan SAMPAH? Anyway, kenapa sih pelawak model Wendy ini untuk mengumpulkan duit dari Trans TV harus melakukan pelecehan? Terhadap SIAPA yang di lagu tersebut merupakan umat Rasulullah SAW pula. Astagfirullah

Film “Omar” dan Sosok Presiden RI 2014

MNC TV boleh berbangga. Televisi ini berhasil merebut hati penonton televisi nasional di Ramadhan 1433 H ini. Di antara program-program komedi yang tak memberikan pesan edukasi, film Omar yang diputar Senin-Minggu pkl 04:00 wib di MNC TV ini berhasil rating tinggi. 

Menurut AC Nielsen, rata-rata rating film Omar berkisar 2,5 dengan share 25 persen. Bahkan di weekend, film Omar sempat meraih rating di angka 4. Sekadar info, rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Hitung-hitungannya, jumlah penonton program dikali 100 persen dibagi populasi televisi. 9 kota besar di Indonesia dengan jumlah survey ke 49,5 juta penonton televisi. Sementara share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

Bloggers, Omar memang menjadi film yang sangat menarik. Betapa tidak, beliau adalah seorang Khalifah dimana di masa kekuasaannya Islam tumbuh dengan pesat. Melalui kepemimpinannya, ia berhasil mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syiria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Tentu sebagian dari Anda masih ingat dengan kisah Umar dan rakyat kelaparan berikut ini:

Suatu malam, Sang Khalifah menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya nyaring terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat melihat ada seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.

Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang Ibu berkata, “Tunggulah! Sebentar lagi makanannya akan matang.”

Selagi Umar memerhatikan di luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan sebentar lagi akan matang.

Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, dia memasuki gubuk itu dan bertanya kepada sang ibu, “Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”

“Itu karena mereka sangat lapar,” jawab si ibu.

“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi itu?”

“Tidak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.

“Ya. Saya sudah tidak memiliki keluarga ataupun suami tempat saya bergantung. Saya sebatang kara,” jawab si ibu datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah? Sehingga beliau dapat menolong Ibu beserta anak-anak Ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” nasihat Umar.

“Khalifah telah berbuat zalim kepada saya,” jawab si ibu.

“Bagaimana Khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” sang Khalifah ingin tahu.

“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang senasib dengan saya.”

Umar berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar, Bu. Saya akan segera kembali!”

Pada malam yang telah larut itu, Umar segera bergegas ke Madinah, menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya membantu membawa minyak samin untuk memasak.

Maka, ketika Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada si ibu beserta anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tidak dikenal ini.

Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.

Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

***

Umar bukan cuma dihormati umat Islam. Di mata pemimpin Nasrani, beliau sangat disegani. Betapa tidak, ketika pasukan Muslim yang tengah mengepung kota Yerusalem, membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi sempat ketakutan. Harap maklum, warga Kristen masih trauma dengan dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya. Pasukan Persia melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Namun, pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Uskup Agung Sophronius menyerahkan kota suci itu ke khalifah Umar bin Khattab. 

Lain kisah, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat ini Perjanjian Aelia (istilah lain dari Yerusalem) dirumuskan dan mencapai kata sepakat. Berdasarkan perjanjian Aelia, Umar menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim. Mereka yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. 

Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Luar biasa bukan? Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi kota Muslim. Melihat sejarah tersebut, sesungguhnya ketakutan sebagian orang terhadap syariat Islam yang diterapkan di sebuah Negara, sangat tidak beralasan.

Sosok Umar yang tegas dan sangat bersahaja, memang bisa menjadi contoh tauladan kita semua, terutama untuk pemimpin di negeri ini. Saya membayangkan, andai Presiden Indonesia 2014 nanti memiliki sosok sebagaimana Umar Bin Khattab? Namun terus terang, figur-figur calon Presiden 2014 yang sudah mulai unjuk diri, belum ada yang pantas disejajarkan dengan ketauladanan Umar. Semoga Capres-Capres sempat menyaksikan film Omar dan terinspirasi untuk menjadikan gaya kepimpimpinan Umar untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.

MUI Apresiasi Program Ramadhan: Metro TV Banyak Pujian, Acara “Pesbukers” Banyak Teguran

Hasil evaluasi dari Tim Pemantau Tayangan Televisi Komisi Informasi dan Komunikasi MUI memberikan apresiasi terhadap beberapa program Ramadhan di televise. Program-program ini dianggap mengedepankan tayangan konstruktif atau membangun bagi ibadah Ramadhan.
 
Momentum Ramadhan, sebagai bulan muhasabah atau instropeksi, dan ajang latihan spiritualitas, hendaknya bisa mengetuk kesadaran dunia televisi agar ambil bagian dalam proses pembentukan anak bangsa,” kata Tim Pemantau tayangan televisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Komisi Informasi dan Komuniasi Imam Suhardjo kepada pers di Jakarta (6/7).

Bloggers, Metro TV adalah televisi swasta yang mendapat banyak pujian. Selain program Tafsir Al Misbah yang menampilkan Quraish Shihab, beberapa program Metro TV yang mendapat pujian adalah Sukses Syariah, Cahaya Hati, dan Humor Sahur

Serial Omar yang ditayangkan di MNC TV juga mendapat pujian. Menurut MUI, film yang diproduksi oleh Televisi Qatar ini menampilkan sirah Nabi Muhammad yang dilihat dari sudut pandang Umar bin Khattab.
Ustaz Fahmi Salim, MA menambahkan, film yang melibatkan 30 ribu actor dan tim teknis dari 10 negara berbeda ini tetap memberikan keuntungan terhadap edukasi umat Islam, yakni pelurusan sejarah yang selama ini diputarbalikan oleh ajaran-ajaran Syiah.

Film ini bagus untuk meluruskan fitnah-fitnah kelompok Syiah terhadap para sahabat,” ujar Fahmi sebagaimana penulis kutip dari situs Hidayatullah (07/08).

Tambah Fahmi, serangan Syiahnisasi tidak bisa disepelekan oleh dunia Islam. Sebab, Syiahnisasi sudah masuk pada tataran akar rumput masyarakat. Doktrin-doktrin Abdullah bin saba sebagai tokoh fiktif terus disebarkan oleh Syiah.  Pencelaan terhadap sahabat-sahabat Nabi Muhammad, termasuk terhadap Umar bin Khattab dan pengkultusan terhadap Ali ra, semakin gencar dilakukan.

Karena itulah salah satu manfaat film Omar ini untuk melawan Syiahnisasi,” tambahnya.

Program Musafir dan Jazirah yang ditayangkan Trans7 juga mendapat penghargaan dari MUI. Selain memperkenalkan negara-negara yang menjadi pusat penyebaran Islam di dunia pada awal kelahirannya, program tersebut bermanfaat bagi syiar Islam dengan gambaran dakwah Islam secara damai.

Sementara itu, di Indosiar terdapat program Catatan Harian Santri, Ceria Bersama Mamah dan Xtraligi: Ngaji Seni Bareng Slank yang dinilai kreatif dan mengambil sudut pandang berbeda dari sebuah permasalahan hidup. Lalu program Radio Show Sahur yang ditayangkan di tvOne mendapat apresiasi MUI, karena dinilai menarik dan arif untuk disimak.

Bloggers, MUI juga mengapresiasi beberapa tayangan sinetron bernafaskan religi, seperti Tukang Bubur Naik The Series (RCTI). Smash Ngabuburit, Mutiara Hati, Sabarr, Para Pencari Tuhan dan Insya Allah Ada Jalan yang ditayangkan di SCTV.

Sinetron tersebut memenuhi kualifikasi tontonan sekaligus tuntunan di bulan yang penuh berkah ini,” ujar Imam.

Selain program yang dianggap mengedepankan tayangan konstruktif atau membangun bagi ibadah Ramadhan ini, Tim Pemantau Tayangan Televisi Komisi Informasi dan Komunikasi MUI masih banyak menemukan program-program Ramadan masih menonjolkan guyonan yang bersifat merendahkan. 

Tentang guyonan yang bersifat merendahkan, secara legal telah tertulis di Undang-Undang Penyiaran, UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, pasal 36 ayat (6), melarang, “Memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.” Pelanggaran pasal ini diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10 miliar (pasal 57).

Lalu juga terdapat pada Peraturan KPI Nomor 02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran (SPS), Pasal 24 ayat (1), menyatakan, “Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/ mesum/cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan Tuhan.” Pelanggaran atas pasal ini diancam sanksi “penghentian sementara” (pasal 80), dan bila tidak patuh, dapat diancam sanksi lebih keras: denda administratif; pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;  tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran; atau pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran (pasal 75 ayat 2).

Jika para pengelola televisi membaca Al-Qur’an, pasti mereka tahu, bahwa di surat Al Hujurat (49) ayat 11,  secara terang benderang menyebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) .. Janganlah kamu mencela diri kamu sendiri. Dan janganlah saling memanggil dengan gelar yang buruk. .. Dan barang siapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Selain program-program Ramadhan masih menonjolkan goyonan yang bersifat merendahkan, juga ditemukan beberapa program Ramadhan yang dialognya berorientasi kepada hal-hal berbau seks dan pornografi. “Misalnya, ditemukan juga tingkah laku yang tidak sewajarnya seperti berpelukan dengan lawan main yang bukan muhrim,” ujar Imam.

Tambah Imam, beberapa acara komedi bertema Ramadhan, peran wanita yang dimainkan oleh pria juga masih dipertontonkan. Ironisnya, kemasan ini masih jadi andalan beberapa program televisi saat sahur ataupun berbuka.

Bloggers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sendiri selama pertengahan bulan Ramadhan telah memberikan teguran terhadap tujuh acara komedi televisi di enam stasiun TV. Nina Mutmaina Armando, Komisioner Bidang Isi Siaran KPI, mengatakan, teguran dikeluarkan karena tujuh acara itu dianggap melakukan pelanggaran berupa pelecehan seseorang atau kelompok, perlindungan anak, serta melanggar norma kesopanan dan penggolongan terhadap program siaran.

Tambah Nina, selama bulan Ramadhan ini, KPI menerima 31 pengaduan publik terkait acara khusus Ramadan. Pengaduan tahun ini terkait program-program televisi mencapai 7.147, naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 5.000 pengaduan.

Bloggers, berikut ini sebagian acara-acara yang mendapat teguran KPI:

1.   Pada tayangan Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti) yang ditayangkan ANTV, 25 Juli 2012 , Rafi memperlihatkan contoh kecil prilaku kebebasan yang memang ingin dikampanyekan kaum liberal. Sambil bergandengan, Kristin dan Rafi berdialog, “Gimana kalo tukeran deh Hengki sama Yuni Sara, aku sama kamu, mau cobain stang tinggi”. Tanggal 26 Juli 2012 , terjadi adegan pelukan sampai jatuh berdua antara Olga dan Jesica. Adegan tersebut kemudian diteraki penonton, “Batal, batal.”, kemudian Jesica dipeluk-peluk Rafi dari belakang.

2.   Masih di tayangan Pesbukers pada 3 Agustus 2012, terjadi dialog antara Olga, Rafi (berperan sebagai Napi) dan Opie kumis (penjaga). Rafi mengatakan, “Aku nggak mau sekamar sama dia (menunjuk Olga) saya lagi tidur Pak, masa saya diisep-isep Pak, (jeda) mbun-mbun saya Pak terus digigit. Kalo sekamar lagi saya takutnya balik lagi cintanya sama dia.”

3.   Meski Humor Sahur di Metro TV dipuji, namun komedi yang ditayangkan pada 02.30 – 03.00 ini ada sedikit pelecehan yang tak terhindarkan. Pada tayangan Senin, 23 Juli 2012 misalnya. Ada perkataan kasar dan merendahkan, “Namamu seperti surga, tapi kelakuan neraka.” Ada lagi perkataan, “Ini Dajjal belum waktunya keluar,” kata salah satu pemain kepada pria berambut kribo. 

Lalu pada  Selasa, 24 Juli 2012, salah satu pembawa acara di Humor Sahur mengeluarkan kata-kata merendahkan, “Silahkan orang miskin bertanya.” Terdapat kalimat tidak pantas, “Allah menciptakan kita manusia untuk main-main, ngapain kita serius-serius.” Pada Sabtu, 28 Juli 2012, terdapat kata-kata merendahkan, “Ini dulu kafir, sekarang murtad.” Yang lain bilang,  “Ini host yang kurang kecerdasaannya.


4.  Di Trans TV pelecehan banyak terjadi, baik di program sahur Waktunya Kita Sahur (WKS) yang ditayangkan pada 02.30-04.30, maupun program menjelang buka, Ngabuburit. WKS dibintangi Jessica Iskandar, Raffi Ahmad, dan Olga Syahputra, dimana ketiganya juga tampil di Pesbukers ANTV. Sementara Ngabuburit dibintangi Budi Anduk, Okky Lukman, Ruben Onsu, dan Soimah. Materi dialog bintang-bintang itu sangat tidak mendidik. Mereka lebih banyak cemooh. Begitu pula materi pertanyaan kuis kedua acara itu yang tidak mengandung edukasi, pun materi-materi seputar Ramadhan.

5.  Opera Van Java (OVJ): Sahurnya Indonesia di Trans 7 yang dibintangi Sule, Parto, Nunung, Andre Taulaani, dan Azis Gagap juga kerap mengabaikan etika. Guyonan mereka lebih mengedepankan pelecehan fisik atau ucapan. Tayangan episode pada 4 Agustus 2012, salah satunya. Komedian Mpok Nori yang sudah lansia dibentak-bentak dan secara tiba-tiba dicium secara kasar oleh Sule.