Wednesday, April 1, 2009

DISTRIBUSI BASA-BASI


Plumpang terbakar. Gosip bekibar, ada Teroris yang membakar tangki no 24 berisi 3.000 kiloliter Premium di Depo Pertamina itu. Akibatnya, Premium habis dimana-mana. Selidik punya selidik, nggak ada indiksi terorisme atau sabotisme. Gw jadi negative thingking, Teroris jadi kambing hitam gara-gara Pertamina memang nggak becus ngurus distribusi selama ini. Makanya nggak heran Presiden SBY marah-marah. Dirut-nya langsung dicopot. Sebelum ada kebakaran, distrubusi Pertamina memang kayak basa-basi. Beberapa POM bensin di Jakarta seringkali ada tulisan "Premium Habis" atau "Solar Habis". Distribusi di Jakarta aja kayak begitu, gimana di kampung-kampung ya? Katanya dari dulu, Pertamina jadi sarang "tikus" yang doyan duit. Makanya dari dulu sampai sekarang, gw selalu dengar: "Enak kerja di Pertamina. Cepat kayaknya". Nggak tahu maksudnya kayak monyet atau kayak tikus. Tapi gw nggak suka dua binatang itu. Gw lebih suka jadi manusia. Biar bisa mencuri setetes demi setetes bensin dari mobil tangki yang tiap hari lewat di lampu merah depan rumah gw.

BOKER PAKE TOPI


Kalo udah nggak tahan, sebaiknya memang nggak usah ditahan-tahan lagi. Seperti Bapak berjenis kelamin Pria ini. Doi kelihatannya udah nggak tahan. Perutnya udah sakit alias sakit perut. Pengen boker. Tapi kenapa boker pake topi ya? Bukannya kalo boker topinya harus dilepas, celananya harus dilepas juga, dan bajunya juga harus dilepas. Supaya kelihatan boker gitu. Tapi gw yakin, Bapak ini nggak mau lepas topinya, takut pitaknya kelihatan sama Kamtib. Kenapa takut Kamtib? Sekarang ini Kamtib memang nggak cuma menggusur para Pedagang asongan. Tapi mereka yang punya pitak, juga diusirin. Kamtib-Kamtib kita memang lucu-lucu. Main gusur, tapi begitu dikasih uang pelicin, eh dibiarin. Nah, soal Bapak yang punya pitak ini jelas akan cemas kalo topinya dibuka. Kan nggak lucu kalo lagi enak-enak boker, si Bapak jadi ketangkep Kamtib.

GARA-GARA KARAOKE

Menurut gw bukan perkara mudah membawa sebuah perusahaan “baru” dengan mentalitas SDM lama. Udah gitu, dalam setahun, perusahaan “baru” ini bisa memberikan bonus buat seluruh karyawannya. Inilah yang terjadi di perusahaan Faiz dan Gigan.

“Gw nggak nyangka baru masuk enam bulan udah terima bonus,” kata Faiz, cowok ganteng yang biasa pake penjepit rambut ini. “Lumayan juga buat kawin akhir tahun ini”.

“Iya ya, Iz. Dulu di perusahaan lama, bonus baru gw terima dua tahun kemudian,” tambah Gigan, pria kurus kering dan berlesung pipit manis sekali itu.

Menurut Faiz dan Gigan, Big Bos-nya memang oke punya. Doi berhasil berjuang ke Owner buat memberikan bonus ke seluruh karyawan. Alasannya, income perusahaan jauh di atas target. Yang seharusnya Cuma 350 milyar perak, eh malah sampai 510 milyar. Gokil abis!!!

“Mari kita nyanyikan lagu kemenangan buat Big Bos kita,” ajak Faiz.

“Lagu kemenangan itu dari grub band apa Iz? Gw kayak-kayaknya belum pernah dengar?” tanya Gigan agak blo’on. “Yang gw tahu lagunya Ular Berbisa”.

“Yaudah! Kalo gitu mari kita nyanyikan lagunya Afgan, ‘Terima Kasih Cinta’,” ajak Faiz lagi.

“Nada dasarnya apa, Iz?”

“Suka-suka loe deh, Cin!”

Menyanyilah Faiz dan Gigan lagu “Terima Kasih Cinta” milik Afgan. Lagu itu dipersembahkan kepada Big Bos tempat mereka bekerja. Wajah mereka ceria. Ada pancaran bonus di wajah mereka. Meski dicicil dua kali, namun mereka sangat suka cita dengan perusahaannya yang begitu mengerti hidup mereka.

Sambil menyanyi, di otak mereka juga terus menerawang ke bulan Juni dan tahun depan. Kenapa begitu? Karena menurut mereka, Big Bos udah memberikan sinyal kalo tahun depan pasti akan mendapatkan bonus lagi. Hebatnya, bonus tersebut pasti udah disesuaikan dengan kenaikan gaji para karyawan yang udah dijanjikan itu.

Lalu bulan Juni? Tentu saja, baik Faiz, Gigan, maupun seluruh karyawan mendapat cicilan bonus. Cicilan bonus ini diiringi dengan kanaikan gaji karyawan yang konon akan membuat tajkub. Angka-angka fantastis akan diperlihatkan dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

“Hidup ini benar-benar indah ya, Iz?” tanya Gigan sambil membelai rambut Faiz.

“Iya. Semoga hari-hari ke depan semakin membuat kita ceria....”

Ternyata mereka nggak cuma nyanyi satu lagu. Tapi beberapa lagu. Rupanya mereka berdua suka nyanyi dan punya cita-cita pergi ke karaoke. Semangat nyanyi itulah yang menyebabkan mereka sepakat buat pergi ke karaoke.

“Gimana kalo kita undang juga Mia, Agam, dan si Uki buat meraikan karaokean kita?” usul Faiz.

“Setuju!”

“Enrico sama Nanda diajak nggak?”

“Mereka bisa nyanyi nggak?”

“Kalo Enrico kayak-kayanya sih bisa. Tapi kalo Nanda, ya nandatau ya...”

Mereka bersama-sama akhirnya ke karaoke Inul Vizta di Plaza Semanggi. Begitu gembiranya mereka. Palylist mereka yang nyanyikan jumlahnya cukup banyak. Yang paling niat nyanyi adalah Uki. Wanita bertubuh seksi dan berambut panjang terurai ini nyanyi 20 buah lagu, mulai lagu “Walangkeke” sampai “Madu dan Racun”. Sementara Enrico memilih lagu-lagu hits Batak dan Tapanuli.

Sejam. Dua jam. Mia dan Agam lemes. Mereka kelelahan gara-gara berjoget menjadi penari latar Uki. Lima jam. Enrico terkapar di lantai. Sepuluh jam. Akhirnya karaoke berakhir. Mia, Agam, Enrico, Uki, dan Nanda pulang. Mereka berterima kasih sekali atas undangan Faiz dan Gigan berkaraokean. Sebab, mereka memang bercita-cita ingin mengetes vokal mereka apakah masih diandalkan jadi Penjual Obat atau nggak.

Sebaliknya, Faiz dan Gigan berterima kasih juga Mia, Agam, Enrico, Uki, dan Nanda mau datang memenuhi undangan berkaraokean. Semoga dalam waktu dekat akan ada event yang sama, pada jam dan waktu yang sama pula.

Sepeninggal teman-temannya...

“Elo yang bayar kan, Iz?” tanya Gigan.

“Kenapa gw? Elo yang bayar dong. Kan baru dapat bonus?”

“Lha, elo juga dapat bonus juga kalee....”

“Tapi gw nggak bawa duit nih, Cin!” kata Faiz.

“Sama! Gw juga nggak bawa duit.”

“Lah, duit bonus loe mana?”

“Udah abis. Elo?”

“Udah abis juga...”

“Kok kita sama ya?”

“Trus bayarnya gimana?”

Akhirnya mereka pulang dengan wajah manyun. Orang-orang di sekitar mereka tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Ada pula orang yang mencoba menutup wajah dengan tangan. Malu katanya. Kenapa sih mereka malu? Soalnya Faiz dan Gigan keluar dari karaoke Inul Vizta cuma memakai celana kolor. Udah gitu nyeker pula. Ini terjadi gara-gara mereka kudu membarter pembayaran karaokean tadi dengan pakaian, sepatu, dan aksesoris yang mereka kenakan.

“Dasar apes!”

“Nasib! Nasib! Tahu gini gw nggak undang deh tuh cecungguk-cecungguk karaokean...”

NGGAK JELAS


Terus terang gw nggak tahu siapa yang pertama kali menamakan ikan ayam-ayaman. Kenapa kata itu seperti menunjukan keragu-raguan? Nggak jelas maunya apa. Mau dibilang ikan ya kok memang jenis mahkluknya "ikan". Tapi kenapa masih pake embel-embel "ayam-ayaman"? Kalo mau ikan ya ikan aja. Kalo mau ayam ya ayam aja. Ayam atau ikan? Jangan kaya banci. Siang namanya Suprapto, malam pas mejeng di Taman Lawang namanya ganti jadi Suprapti. Mau Prapto atau Prapti? Kalo keputusannya Prapti, nasib loe ya akan mirip Dorce. Lelaki yang mengaku Perempuan. Nggak jelas!

JEMBATAN POLITIS


Nggak cuma ada di San Fransisco, sebuah jembatan terbentang menghubungi dua buah lokasi. Memang bukan pulau, tapi jembatan ini relatif fungsional. Inilah "keajaiban" UI ketika gw udah nggak berguru di ranah Depok itu. Gw lebih menyebut sebagai jembatan politis. Kenapa? Warna-warna jembatan, lebih mengingatkan warna-warna partai. Merah sebagai partai (yang katanya partai) wong cilik. Warna kuning mengingatkan partai zaman Orba (yang katanya udah reformis padahal masih mengambang kayak tokai). Politis juga dimaksudkan buat ajang venue romantis dua Fakultas, yakni Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi. Gw nggak tahu dan belum dapat data, berapa jumlah perjodohan yang terjadi antarduafakultas itu. Kalo ada, gw pengen tahu gimana konsep perkawinannya? Apakah kehidupan perkawinannya gaya sastra yang ekonomis atau gaya ekonomis yang nyastra. Kalo gaya pertama, pasti hidupnya penuh puisi. Tapi puisinya dibatasi secara ekonomis. Kalo gaya kedua, hidupnya penuh dinamika ekonomi. Tapi tetap dibumbui oleh bumbu-bumbu sedap kata-kata nan indah sebagaimana para sastrawan.

SELAMAT TERJEBAK



Begitu menginjakkan kaki di Jakarta, Anda seharusnya lapor dulu ke sepasang insan ini. Mereka pasti akan menyapa Anda dengan penuh suka cita: "Selamat Terjebak". Mereka nggak salah, yang salah kita. Siapa suruh datang Jakarta? Di kota metropolis ini, Anda akan terjebak dengan berbagai problematika. Mulai dari terjebak kemacetan, terjebak jadi manusia shopahilics, terjebak jadi individualistis, terjebak egois, banjir, dll. Di rumah, Anda pun seringkali terjebak oleh rong-rongan tikus yang mengganggu tidur Anda, gara-gara pecicilan lari-lari di loteng.

TERPAKSA BERGABUNG



Kata "terpaksa" sangat lemah, karena terkasan negatif. Ambil contoh, "terpaksa menyerah", "terpaksa mengaku salah", dll. Namun ketika di Medan, kata "terpaksa" lebih tinggi harkatnya. Setidaknya itu menurut gw. Kenapa? Kalo motor "terpaksa" digabungkan sama becak, ini lebih karena yang punya butuh uang. Uang buat makan keluarga, sekolah anak-anak, dan sisanya buat ngerokok. Mumpung di Medan, "terpaksa" gw nyoba naik kendaraan khas Sumatera Utara ini. Nggak negatif kan?

SENIOR AND JUNIOR



Dua-duanya doyan Harley Davidson. Bedanya, satu senior, satunya lagi junior. Satu hidup jauh lebih dulu sebelum si junior dan menunggang Harley sebelum si junior ditunggangi oleh siapapun juga. Meski begitu, dua-duanya kompak. Bisa berbagi ilmu. Ilmu ngerawat moge supaya nggak jadi toge.

POHON TUMBANG vs MENUMBANGKAN POHON



Selama hujan lebat dan angin kencang menerpa Jakarta dan sekitarnya di awal 2009 ini, belum ada data resmi berapa jumlah pohon yang tumbang. Namun kalo pake data 2008, sekadar perkiraan, jumlahnya mendekati 100 pohon. Pohon tumbang terbanyak berasal dari jenis angsana dan beringin. Sisanya, pohon lamtoro, trembesi, kupu-kupu, asam kranji, waru, tanjung, biola cantik, jinjing, dan akasia. Fenomena alam pohon tumbang, beda sama menumbangkan pohon. Kalo menumbangkan pohon, ini dilakukan oleh para Pengusaha "genit" yang cari-cari keuntungan. Caranya, kongkalingkong sama Aparat. Lahirlah penebangan liar dan illegal logging. Moga-moga Anda bukan termasuk Pengusaha itu ya?

GAJAH DAN TOKAINYA



Aku biasa disapa gajah. Apa-apa yang ada pada diriku besar-besar. Badan, kuping, kaki, termasuk tokaiku besar. Meski besar, aku bukan tipe besar kepala. Aku terlalu humble buat mahkluk berbadan besar. Padahal kalo ngamuk, pagar di gedung MPR/ DPR bisa rubuh. Tapi maaf, kelakuanku nggak seperti para mahasiswa terhormat itu. Aku cukup puas jadi binatang, meski kelakuanku bisa sebaik manusia.

Sunday, March 29, 2009

DAN LOKASI BENCANA PUN BERUBAH JADI OBJEK WISATA...

Ternyata niat orang buat datang ke lokasi bencana Situ Gintung, Cireundeu, Tangerang Selatan, macam-macam. Ada yang niatnya buat menyumbang, entah itu menyumbang tenaga buat membantu mencari korban tewas atau hilang, atau menyumbang uang, pakaian, dan makanan. Ada yang menyumbang doa. Ada pula yang menyumbang lagu. Eh, ini bohong, ding! Yang benar ada anggota keluarga yang datang buat mencari keluarga yang masih hilang entah kemana. Banyak pula yang niat datang jauh-jauh buat jalan-jalan ke lokasi bencana.

Hah?! jalan-jalan?! Sumpe loe, cin?!

"Ya, gitu deh! Maklum orang Indonesia. Biasa kalo ada bencana, malah sibuk nontonin..."



Tapi sebenarnya sih nggak ada yang salah juga dengan niat mereka, termasuk mereka yang cuma datang buat lihat-lihat. Itu hak mereka, kok. Ya nggak? Nggak ada peraturan Pemerintah yang melarang kedatangan mereka ke lokasi bencana. Kalo kita positif thinking, jangan-jangan mereka itu datang buat melatih kepekaan sosial. Berharap dengan datang ke situ, mereka malah tambah peduli dengan sesama, atau bisa mengantisipasi diri kalo ada bencana datang. Buat orangtua yang mengajak anak-anak mereka, juga mungkin ingin menanamkan rasa sosial pada anak. Bahwa nggak ada yang bisa mengalahkan keperkasaan Tuhan. Mau rumah orang kaya, kalo Tuhan berkehendak, tembok rumah yang tebal pun akan rubuh.




Nggak peduli jalanan becek dan berlumpur, orang-orang ini berdatangan silih berganti. Sambil menenteng sandal, yang penting bisa lihat secara langsung TKP.



Pemandangan Ibu atau Bapak menggendong anak di lokasi, udah bukan hal luar biasa. Anak-anak ikut dilibatkan ke TKP. Berharap sense of crisis atau sense of humanity terbangun. Jangan sampai kayak Caleg-Caleg atau Capres-Capres yang pas kampanye aja carmuk alias cari muka, eh begitu terpilih nggak punya sense of crisis, lupa!


By the way busway, lucu juga sih melihat jibunan orang yang kepentingannya cuma lihat-lihat. Kayak-kayaknya, mereka memposisikan lokasi bencana di Situ Gintung bak objek wisata, dimana mereka bisa melihat tembok rumah gedong rubuh, ada mobil jip nyangsang di kawat listrik, kotak telepon umum hancur lebur, dan masih banyak lagi pemandangan yang mereka anggap sebagai objek wisata.

Banyak orangtua yang datang bersama anak mereka. Sambil digendong, anak-anak yang punya orangtua ini dijelaskan nggak cuma soal ikwal terjadinya bencana. Tapi anak-anak juga diajak mengingat sejarah Situ Gitung ini.




Mau rumah gedong, kek! Mau jalanan beraspal, kek! Tetap aja nggak bisa mengalahkan pasukan air made in Situ Gintung. Semua hancur lebur.





Percaya nggak percaya, mobil jip yang nyangkut di kabel listrik di atas kuburan ini, datangnya dari rumah yang jauh dari TKP. Lihat pula ada kambing. Itu bukan patung, tapi kambing hidup yang tewas dan jadi bangkai dalam kondisi mulut nyengir.


“Situ Gintung ini udah dibangun sejak zaman Belanda, Nak,” kata salah seorang Bapak. “Kira-kira tahun 30-an, deh. Tujuannya buat menyediakan kebutuhan air di wilayah sekitar sini, yakni di Kelurahan Cireundeu, kecamatan Ciputat, Tanggerang Selatan, Banten.”

Lanjut Bapak tua itu, lokasi Situ Gintung berada di RW 11 Kampung Gunung, Cireundeu. Hebatnya, Kampung yang didiami oleh 2.600 warga atau 700 keluarga ini, nggak terkena pasukan air sedikit pun. Soalnya, Kampung Gunung lokasinya lebih tinggi dari Kampung Poncol dan Kampung Gintung. Sekitar 300-an rumah di dua kampung itu rusak berat. Kalo kita lihat, kejadiannya mirip kayak tsunami di Aceh. Selain dua kampung itu, dua perumahan yang berada di tepi Kali Pesanggrahan juga kena musibah, yakni Perumahan Cirendeu Permai dan Perumahan Bukitt Pratama.

Kalo ditelusuri lebih jauh, ternyata bukan cuma para orang tua dan anak-anak yang datang, beberapa anak muda pun ada di lokasi objek wisata, ups maaf lokasi bencana Situ Gintung ini. Kayak-kayaknya mereka itu masih pacaran. Soalnya mesra banget. Beda kan kalo udah married biasanya nggak semesra pas pacaran. Nah, sambil berpegangan tangan, mereka itu melihat rumah roboh, pohon roboh, jalan aspal terbelah dua, dan pagar ambrol. Kalo ada objek yang menarik, mereka langsung mengambil handphonenya dan foto-foto. Bener-benar mirip suasana di sebuah objek wisata.

Namun, sejumlah Aparat dan Regu Penolong akhirnya menginstruksikan kepada sejumlah warga, agar nggak usah jalan-jalan ke lokasi bencana lagi. Kenapa? Ini akan menyulitkan pencarian orang-orang hilang di sekitar situ, karena terlalu banyak orang. Kalo kebetulan ada orang yang memang niatnya menyumbang atau mengetahui status keluarga, nggak perlu datang ke lokasi. Panitia udah menyediakan posko. Kalo minta info eksistensi keluarga, bisa melihat daftarnya di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Kalo niat mau nyumbang, sumbangan bisa diberikan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Achmad Dahlan atau posko Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ). So, for a while objek wisata Situ Gintung ditutup dulu ya, cin!


all photos and video copyright by Brillianto K. Jaya

KENAPA KENCING HARUS JONGKOK SIH?

Gw nggak nyangka masih ada sebagian masjid yang melarang jama'ahnya kencing jongkok. Kok kencing harus jongkok? Emangnya kencing nggak boleh berdiri? Kalo jama'ah yang biasa kencing berdiri apa dipaksa harus jongkok. Nggak demokratis!



Menurut gw masjid-masjid yang memaksa Jama'ah-nya buat kencing jongkok melanggar hak azasi jama'ah. Bukankah Islam menghormati hak azasi manusia? Demokratis? Kecuali ada seruan wajib "kencing jongkok", itu mah nggak bisa ditawar-tawar lagi. Kita kudu mengikuti, soalnya kalo nggak kita lakukan (maksudnya kencing dengan gaya jongkok), kita berdosa.

Beda banget kalo kencing jongkok adalah Sunnah, itu artinya kalo nggak dilakukan nggak berdosa. Artinya, ummat bebas memilih. Yang ada, kalo gw ketemu masjid yang mewajibkan kencing duduk, gw terpaksa tengok kiri-kanan. Kalo nggak ada yang ngeliat, gw kencing berdiri. Giliran ada yang ngeliat pura-pura jongkok alias pura-pura kencing.