Thursday, June 18, 2009

BANYAK GODAAN MENUJU ROMA: ANAK BAND vs GROUPIST

Ketika popularitas meningkat, banyak hal yang bakal terjadi. Ini risiko yang wajar dan seharusnya udah diketahui oleh si pemilik popularitas itu. Risiko pertama, duit melimpah. Gara-gara tawaran main sinetron atau manggung dimana-mana banyak, duit pun banyak. Otomatis standar honor lambat laun pun meningkat.

Risiko kedua, banyak fans yang bakal mengelilingi kita sebagai orang yang lagi naik daun. Fans pertama, tentu fans yang menggemari sinetron atau musik si pemilik popularitas. Fans kedua, para wartawan yang dahulu kala disebut sebagai kuli tinta (kasihan ya kok disebut sebagai “kuli tinta”? Padahal beda banget dengan “kuli pasir” atau “kuli panggul”, wartawan nggak ngangkut-ngangkut barang, even ngangkut tinta. Menurut gw, yang menciptakan istilah “kuli” sebagai pengganti profesi wartawan, kebangetan banget, deh!). Bukan dikejar-kejar wartawan media cetak, tapi sekarang yang jadi “musuh” mayoritas Selebritas adalah wartawan infotainment.

“Pokoknya ada gula, ada semut! Ada Selebritas yang lagi happening, di situ bakal ada infotainment!”

Dalam dunia musik, ada istilah Groupist. Groupist beda sama Kue Pukis atau Kue Lupis. Tapi baik Kue maupun Groupist sama-sama enak, sama-sama empuk. Sebagian besar orang mendiskripsikan, Groupist adalah seekor Manusia yang ngefans banget dengan band atau penyanyi yang menjadi idolanya. Fans di sini bukan cuma sekadar pengemar yang memiliki kaset atau CD komplet, poster-poster komplet, selalu hadir dalam konser-konser musik sang idola, lalu mengejar-ngejar idola buat minta tanda tangan, dan foto bareng. Groupist lebih dari itu.


Saking kegedean payudaranya, Groupist ini susah buat menempelkan clip on di kaos. Kejadian ini berlangsung saat shooting program Bukan Rahasia. Sementara Audioman malu-malu kucing untuk membantu menempelkan clip on di dada Groupist ini. Habis di dadanya ada tulisan: "Sekali pegang, harap bayar cash!"

Seekor Groupist rela melakukan apa saja demi sang idola. Hah?! Sumpe, loe?! Yap! Groupist itu lebih banyak berjenis kelamin Wanita. Memang sih ada Groupist yang Pria. Tapi kalo ada band yang anggotanya Pria tulen dan ada fans fanatik berjenis kelamin Pria, pasti mereka geli. Ngapain juga “jeruk” ketemu “jeruk”? Memangnya mau adu anggar? Kecuali ada anggota band yang suka sama Pria alias guy. Itu persoalan lain. Namun Groupist lazimnya berjenis kelamin Wanita.

Saking rela diapa-apain, seekor Groupist nggak masalah diajakin ML sama anggota band atau penyanyi idolanya. ML-nya pun gratis. Inilah yang sangat menggoda anak-anak band. Yaiyalah! Pikir mereka lumayan kan bisa ML gratis tanpa harus ada komitmen? Lho memangnya Groupist nggak rugi “dipake” anak-anak band? Yang penting buat si Groupist bisa mendapatkan kehangatan anggota band pujaan hatinya, cong!

Dalam band, Groupist nggak cuma satu, tapi bisa lebih dari satu. Kalo lebih dari satu, masing-masing anggota akan punya Groupist sendiri-sendiri. Biasanya tetap yang paling banyak punya Groupist ya vokalis atau anggota band yang paling ganteng lah yah. Makanya kalo elo-elo pernah tahu atau mendengar ada vokalis band yang punya banyak pacar, gonta-ganti pasangan, ya wajar aja. Wanita-wanita itu biasanya Groupist-Groupist band.

“Bahkan ada beberapa vokalis band yang sempat menghamili Groupist,” ungkap anak band yang tahu sisi kelam dunia musik ini. “Wanita-Wanita yang dihamili oleh anggota band ini biasanya nggak peduli. Ketidakpedulian ini barangkali gara-gara mereka waktu ML udah bikin komitmen. Kalo perbuatan mereka menyebabkan hamil, isi percetakan di luar tanggungan anggota band tersebut.”

Memang sih nggak semua anggota band berhubungan dengan Groupist, tapi mayoritas memanfaatkan Groupist buat menyalurkan hobinya sebagai PK alias Penjahat Kelamin. Mumpung Groupist mau melakukan apa aja demi pujaan hati. Oh iya, Groupist juga nggak masalah digilir. Maksudnya, kalo dalam sebuah band cuma ada seekor Groupist, nah seekor Groupist ini digilir dari satu anggota band ke anggota band lain.


Dik Doang yang memandu acara Bukan Rahasia di tvOne sedang mengintograsi Groupist bareng grup Alexa. Ketika dites sama Dik, Groupist memilih pria kayak vokalis Alexa. Kok vokalis terus yang dipilih ya? Soalnya rata-rata vokalis itu ganteng-ganteng, kecuali vokalisnya Kangen Band.

“Makanya seekor Groupist nggak boleh dijadikan pacar. Itu udah komitmen nggak tertulis dari masing-masing anggota,” kata anak band itu lagi. “Tapi ada sih beberapa anggota band yang melanggar komitmen itu alias pacaran dengan Groupist”.

Memang banyak godaan menuju Roma. Maksudnya, sebagai pemain band, godaannya bertubi-tubi, apalagi kalo popularitasnya gokil. Contohnya gw ini lah. Gw memang nggak seganteng Ariel Peter Pan, tapi jauh kalo dibanding dengan vokalis Kangen Band yang jelek itu. Tapi meski cuma ngetop sebagai band sekolahan, godaan datang bertubi-tubi.

“Godaan dikerubuti Groupist?” tanya teman sekampus gw, yang sempat kepalanya benjol gara-gara kena batu pada saat tawuran maut UKI vs YAI beberapa waktu lalu.

“Bukan!”

“Godaan syeitan yang terkutuk?”

“Bukan juga!”

“Apa dong?”

“Kebetulan waktu manggung lagi bulan puasa, bulan Ramadhan. Nah, gw sebagai vokalis melihat ada penonton band gw minum Fanta berwarna merah. Wah, sebagai orang yang Iman-nya belum kuat, gw tergoda dong? Makanya begitu selesai manggung, gw langsung minta dibelikan Fanta oleh Panitia. Gw nggak tahan godaan, coy!”

“Halah!”

Kalo ada tes kesetiaan, anak-anak band cenderung nggak setia. Memang sih belum ada yang membuktikannya atau belum ada meriset hal ini. Namun, elo-elo bisa melihat beberapa vokalis band terkenal yang pacarnya membludag alias banyak. Kemarin nempel sama A, bulan depan udah ganti lagi dengan C. Ini baru taraf pacaran. Nah, kalo yang udah married, biasanya durasi married-nya nggak lama. Dalam waktu di bawah lima tahun, pasangan udah bubaran alias cerai.

“Banyak godaan menuju Roma!”

Eksistensi Groupist dalam kehidupan anak-anak band menjadi salah satu penyebab itu semua. Bayangkan, ketika pacaran dan married, wajah sang Istri masih terlihat cantik. Body seksi dan anggota body nggak ada yang kendor. Eh, begitu udah punya anak, hal yang indah-indah tentang Istri sirna. Apalagi banyak Groupist yang lebih cantik, lebih seksi, lebih hot goyangannya siap menanti anggota band yang udah married ini. So, apakah godaan itu nggak bisa meruntuhkan Iman?


Ini bukan Groupist yang lagi digilir anggota band. Tapi ini adalah kambing yang lagi mau dipotong dalam rangka kurban di Idul Adha. Nasib Groupist rada mirip kambing. Disayang-sayang kalo ada maunya, begitu udah merasakan kenikmatan, si Groupist dibiarkan begitu saja.

Groupist! Groupist! Groupist! Memang edan! Eksistensi mereka memang banyak. Hal tersebut seiring dengan bertumbuhkan band-band baru, yang masih muda dan ganteng-gateng. Kalo zaman dahulu kala, band masih sedikit, pemain band-nya pun kurang ganteng kayak sekarang. Rambut kribo udah dianggap keren abis. Rambut gondrong meski nggak keramas, dianggap simbol sex. Seekor Groupist bisa konak melihat penampilan-penampilan model kayak begitu, ya era 70-an gitu deh. Kalo sekarang, penampilan kayak gitu nggak begitu laku. Jangan harap dihinggapi para Groupist, lalat dari Batargebang pun ogah hinggap di anggota band itu.

My all Friends, Groupist itu bukan cuma orang-orang biasa. Maksudnya dari rakyat jelata yang ngefans berat band tertentu dan berubah menjadi Groupist. Seekor Groupist bisa berasal dari Selebritas juga, lho. Selebritas itu menyukai salah satu anggota band, kemudian menjadi Groupist, melakukan perbuatan hina dina (baca: ML), lalu hamil, dan kemudian melahirkan anak tanpa ayah.

Yang paling banyak memang Groupist dari rakyat biasa. Sebenarnya para pemain band lebih suka dari rakyat biasa, sehingga kalo ada pertanggungjawaban, nggak terlalu terekspos oleh infotainment. Paling-paling, begitu hamil, si anggota band pura-pura mengawini si Groupist. Sok-sok bertanggungjawab gitu. Setelah si Groupist udah tenangan dikit, anggota band ini menceraikannya. Kasihan banget nggak sih?

Itu tadi Groupist tolol. Kalo Groupist pintar, dia pakai strategi hidup. Dia tahu tubuhnya dimanfaatkan oleh anggota band, tapi dia juga harus memanfaatkan kedekatannya dengan anggota band yang ngetop buat karirnya. Nah, dalam upaya menapaki karir, Groupist lebih dulu hinggap dari vokalis satu ke vokalis yang lain. Hinggap dari anggota band satu ke anggota band lain. Sampai aakhirnya, Groupist punya kesempatan menjadi Pemain sinetron atau Host.

“Setelah si Groupist terkenal, dia jelas akan meninggalkan masa lalunya sebagai budak nafsu para anggota band,” papar anggota band itu lagi. “Level berpikir mantan Groupist berubah. Oleh karena namanya udah dikenal, gantian dia yang menjadi incaran orang-orang dari berbagai profesi, salah satunya Pengusaha. Agar hidupnya di masa mendatang terjamin, ya dia pasti akan memilih pacaran dan married dengan Pengusaha lah yau. Ngapain juga pacaran sama anak band? Sekarang mungkin bandnya happening, manggung di sana-sini. Tapi masa depan band happening ini belum tentu cerah ceria, ya nggak?”

Hebring juga ya strategi hidup Groupist yang pintar kayak begitu? Elo-elo tertarik jadi Groupist? Gw sarankan jangan! Ngapain juga bela-belain menapaki karir dengan cara nggak menjual diri kayak begitu. Analoginya kayak begini: main beberapa film panas dahulu, kalo udah ngetop dan banyak duit, cari Pengusaha dan married. After that, pake jilbab deh! Itu nggak beda jauh sama Koruptor. Sukses dengan cara instans.

No comments: