Thursday, July 8, 2010
Tuesday, July 6, 2010
PEMBANGUNAN YANG ANEH
Entah saya yang naif (kata lain untuk mengganti "bodoh"), entah memang sudah bukan rahasia lagi, ada sebuah pembangunan yang menurut saya aneh. Meski belum dapat izin dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, sebuah proyek pembangunan apartemen tetap dilakukan. Setidaknya ini dikatakan oleh penduduk setempat.
Tepat di wilayah belakang Universitas Katholik Parahyangan (Unpar), Bandung, tidak akan lama lagi akan berdiri sebuah apartemen megah. Anehnya, apartemen ini berdiri di tanah yang konon belum dapat izin dari Pemkot.

"Tapi nggak tahu pembangunan tetap berangsung," ujar seorang ibu salah satu warga di situ.
Namun anehnya lagi, ada warga yang mengatakan, pembangunan yang sudah berlangsung selama tiga bulan ini sudah mendapatkan izin sah.
"Yang akan dibangun adalah kos-kosan mahasiswa," ujar warga sekitar situ juga. "Kalo nggak salah kos-kosan itu lima lantai dan pake lift pula."
Wow?! Kos-kosan lima lantai dengan lift? Hebring amat! Tapi begitulah gosip yang beredar. Jangan tanya harganya, kos-kosan itu pasti bakal mahal banget! wong kos-kosan dengan luas 3X5 m persegi harganya sudah 1,5 juta per bulan, apalagi yang pake lift segala ya.

Papan pelarangan ya dididirikan di situ, pembangunan ya jalan terus. Aneh!
Konon yang punya kos-kosan ini adalah seorang pengusaha asal Surabaya yang kabarnya merupakan orang pertama yang membuat kos-kosan pertama di daerah itu. Pengusaha ini kabarnya lulusan salah satu perguruan tinggi terkenal di Bandung. Setelah lulus, ia melanjutkan studi di Jerman.
"Istrinya seorang dokter gigi. Tapi mereka nggak punya anak," ungkap warga lain.
Konon pengusaha ini memang dikenal sebagai "konglomerat" kos-kosan di Bandung. Kos-kosan dan tanah di Bandung tersebar. Namun untuk proyek di daerah Ciumbeuleuit ini, ia nampak begitu "ngotot" tetap membangun kos-kosan tanpa dapat izin.
Setidaknya itu terbukti dari papan larangan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (PU) yang ada di dekat proyek. Sudah ada tiga papan yang dipasang di situ, dimana semuanya melarang segala bentuk pembangunan. Namun, selama tiga hari di Bandung, saya melihat pembangunan itu tetap berlangsung. Luar biasa pengusaha ini ya?

"Harusnya kalo proyek yang sampai triliunan rupiah kayak begini ya minta izin ya," komentar warga. "Apalagi saya dengar bukan cuma kos-kosan 5 lantai yang akan dibangun, tetapi ada 300 kamar di basement dan penginapan di situ."
Selain konon belum dapat izin dari PU, saya juga nggak yakin mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingat studi analisa dampak lingkungan (AMDAL) perlu dipertanyakan.
Bayangkan, di sekitar proyek terdapat sungai. Ada pemukiman penduduk di dekat sungai. Kalo kos-kosan maupun penginapan berdiri di situ, dikhawatirkan jika terjadi hujan, sungai akan meluap dan menyebabkan banjir.
"Kemarin saja beberapa perumahan di situ longsor, apalagi nanti kalau sungai menguap," ujar warga.

Barangkali itulah yang menyebabkan "hukum karma" berlaku. Jembatan yang dibuat oleh pengusaha ini ambruk dua kali. Jembatan yang sudah menghabiskan semen 300 sak ini rencananya akan dibuat sebagai akses bagi mobil yang nantinya akan ke kos-kosan dan penginapan yang akan dibuat ini.
Dua kali dibangun, dua kali ambruk. Aneh kan? Yang makin membuat Anda yakin kalo kejadian ini aneh adaleh, konon yang membuat konstruksi jembatan adalah insinyur dari Jerman. Meski belum tentu sama dengan insinyur lokal yang menangani proyek pemerintah, tapi insyinsur Jerman tentu punya kredibilitas yang luar biasa dong. Jerman gitu, loh!
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Tepat di wilayah belakang Universitas Katholik Parahyangan (Unpar), Bandung, tidak akan lama lagi akan berdiri sebuah apartemen megah. Anehnya, apartemen ini berdiri di tanah yang konon belum dapat izin dari Pemkot.

"Tapi nggak tahu pembangunan tetap berangsung," ujar seorang ibu salah satu warga di situ.
Namun anehnya lagi, ada warga yang mengatakan, pembangunan yang sudah berlangsung selama tiga bulan ini sudah mendapatkan izin sah.
"Yang akan dibangun adalah kos-kosan mahasiswa," ujar warga sekitar situ juga. "Kalo nggak salah kos-kosan itu lima lantai dan pake lift pula."
Wow?! Kos-kosan lima lantai dengan lift? Hebring amat! Tapi begitulah gosip yang beredar. Jangan tanya harganya, kos-kosan itu pasti bakal mahal banget! wong kos-kosan dengan luas 3X5 m persegi harganya sudah 1,5 juta per bulan, apalagi yang pake lift segala ya.

Papan pelarangan ya dididirikan di situ, pembangunan ya jalan terus. Aneh!
Konon yang punya kos-kosan ini adalah seorang pengusaha asal Surabaya yang kabarnya merupakan orang pertama yang membuat kos-kosan pertama di daerah itu. Pengusaha ini kabarnya lulusan salah satu perguruan tinggi terkenal di Bandung. Setelah lulus, ia melanjutkan studi di Jerman.
"Istrinya seorang dokter gigi. Tapi mereka nggak punya anak," ungkap warga lain.
Konon pengusaha ini memang dikenal sebagai "konglomerat" kos-kosan di Bandung. Kos-kosan dan tanah di Bandung tersebar. Namun untuk proyek di daerah Ciumbeuleuit ini, ia nampak begitu "ngotot" tetap membangun kos-kosan tanpa dapat izin.
Setidaknya itu terbukti dari papan larangan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (PU) yang ada di dekat proyek. Sudah ada tiga papan yang dipasang di situ, dimana semuanya melarang segala bentuk pembangunan. Namun, selama tiga hari di Bandung, saya melihat pembangunan itu tetap berlangsung. Luar biasa pengusaha ini ya?

"Harusnya kalo proyek yang sampai triliunan rupiah kayak begini ya minta izin ya," komentar warga. "Apalagi saya dengar bukan cuma kos-kosan 5 lantai yang akan dibangun, tetapi ada 300 kamar di basement dan penginapan di situ."
Selain konon belum dapat izin dari PU, saya juga nggak yakin mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingat studi analisa dampak lingkungan (AMDAL) perlu dipertanyakan.
Bayangkan, di sekitar proyek terdapat sungai. Ada pemukiman penduduk di dekat sungai. Kalo kos-kosan maupun penginapan berdiri di situ, dikhawatirkan jika terjadi hujan, sungai akan meluap dan menyebabkan banjir.
"Kemarin saja beberapa perumahan di situ longsor, apalagi nanti kalau sungai menguap," ujar warga.

Barangkali itulah yang menyebabkan "hukum karma" berlaku. Jembatan yang dibuat oleh pengusaha ini ambruk dua kali. Jembatan yang sudah menghabiskan semen 300 sak ini rencananya akan dibuat sebagai akses bagi mobil yang nantinya akan ke kos-kosan dan penginapan yang akan dibuat ini.
Dua kali dibangun, dua kali ambruk. Aneh kan? Yang makin membuat Anda yakin kalo kejadian ini aneh adaleh, konon yang membuat konstruksi jembatan adalah insinyur dari Jerman. Meski belum tentu sama dengan insinyur lokal yang menangani proyek pemerintah, tapi insyinsur Jerman tentu punya kredibilitas yang luar biasa dong. Jerman gitu, loh!
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Wednesday, June 30, 2010
FILM "OBAMA ANAK MENTENG": KETIKA BANCI TAHUN 90-AN HIDUP DI TAHUN 70-AN
Boleh jadi judul tulisan ini membuat anda bingung. Terus terang saya pun demikian. Bayangkan, ketika anda duduk di sebuah bioskop untuk menyaksikan film dokudrama ber-setting 70-an, tiba-tiba muncul kata “doski” dalam sebuah dialog.
Begitulah kenyataan yang saya sebagai penonton terima. Entah tidak sadar atau memang sang sutradara kurang teliti, Teuku Zacky yang berperan sebagai sosok banci bernama Turdi di film Obama Anak Menteng itu, menyebut kata “doski”. Padahal kita tahu, kata “doski” baru muncul pada tahun 90-an.
Selain kata “doski”, masih banyak hal-hal yang luput dari film ini. Misalnya scene pidato Obama asli di televisi. Seharusnya pada saat Obama berpidato, di layar televisi diberikan logo stasiun televisi yang menyiarkan pidato tersebut. Tolong perhatikan siaran televisi anda di rumah, tidak ada satu pun televisi yang tidak menggunakan logo pada saat siaran. Namun sayang, scene Obama pidato di layar televisi dibiarkan kosong, sehingga hampir semua orang tahu, pidato itu bukan dari siaran televisi, melainkan playback dari video tape. Sekali lagi saya tidak tahu persis kenapa sebagai seorang sutradara John de Rantau “membiarkan” itu terjadi.
Ternyata saya terlalu berekspektasi lebih terhadap film Obama Anak Menteng ini. Betapa tidak, setiap kali menyaksikan film nasional, saya selalu berpikir positif. Bahwa film yang saya tonton kelak akan berkualitas. Tidak usah mimpi meraih penonton banyak dulu sebagaimana Laskar Pelangi, tetapi kualitas dulu.

Damien Damitra dengan novel karyanya Obama Anak Menteng. Konon dalam kru film ini sedang "bergejolak" tentang siapa sutradara sebenarnya. Konon Damien tidak menyutradarai film ini. Menurut beberapa kru, Damien tidak pernah melakukan job desk sebagaimana layaknya sutradara, termasuk meneriakkan "action" dan "cut". Sutradara sesungguhnya John de Rantau
Ukuran kualitas tentu saja pada cerita, sinematografi, dan tidak kalah hebat adalah detail-detail dari produksi film tersebut, baik itu properti maupun dialog. Harapan saya juga berlebih pada film Obama Anak Menteng ini. Pasalnya, film ini rencanannya akan menjadi salah satu bagian dari program Celebrating Obama`s Homecoming, yakni saat Obama akan datang ke Jakarta, dimana nantinya Obama “dipaksa” menyaksikan film yang berdurasi 100 menit ini. Entah kebetulan atau memang takdir, Obama akhirnya gagal total datang ke Jakarta.
Namun harapan-harapan positif saya ternyata harus berakhir dengan kekecewaan. Saking kecewa, saya sampai berpikir negatif. Bahwa kegagalan Obama datang ke Jakarta barangkali bukan cuma masalah internal di Amerika Serikat atau keamanan di Jakarta, tetapi (mohon maaf) demi menghindar nonton film Obama Anak Menteng.
Meski begitu, sebagai orang yang terlahir di Indonesia, saya tetap menghargai karya anak bangsa ini. Film yang berasal dari novel berjudul sama Obama Anak Menteng karya Damien Damitra yang diterbitkan Penerbit Gramedia ini. Saya juga salut dengan film yang diproduksi oleh Multivision Plus ini, dimana cuma dalam tempo 18 hari (14 Mei-3 Juni 2010), tim produksi film ini berhasil menyelesaikan proses shooting dengan berbagai tantangan.
Saya baru mengerti, proses shooting yang sangat singkat itu karena mengejar kedatangan Obama yang terakhir direncanakan datang pada bulan Juni. Jangan heran kalo sebelum akhirnya dirilis per 1 Juli 2010, film ini sudah direncanakan diputar di bioskop per 17 Juni. Namun kemudian dimundurkan lagi menjadi tanggal 24 Juni. Sampai akhirnya, begitu tahu Obama tidak jadi datang, Multivision konfirm merilis film ini di awal Juli ini.
Saya juga baru mengerti, jadwal shooting yang pendek ini membuat banyak hal yang miss. Selain detail shot yang nampak kurang kaya, juga riset terhadap lokasi, properti, dan wardrobe juga kurang matang. Apakah di tahun 70-an semua payung menggunakan payung dari kertas dan berbatang bambu? Apakah seorang Turdi yang cuma berprofesi sebagai pembantu memang wardrobe-nya colourfull dan selalu berganti-ganti seperti itu? Menjadi pertanyaan besar buat saya dan penonton lain.
Anyway, seperti juga novel dan kisah yang barangkali sudah anda ketahui sebelumnya, bahwa film ini juga berkisah mengenai Obama ketika di Jakarta. Dimulai saat kedatangan keluarga Sutoro di Jakarta tahun 1969. Bersama Sutoro, Obama kecil (diperankan oleh Hasan Faruq Ali, 12 tahun) tinggal bersama sang ibu Ann Dunham (diperankan oleh Kara Lachele, 25 tahun).
Selama tinggal di Jakarta, Obama mencoba beradaptasi dengan tetangga, teman, maupun lingkungannya. Seperti bisa diduga, selama beradaptasi, banyak tantangan yang dihadapi oleh Obama kecil. Namun tantangan-tantangan tersebut berhasil dilaluinya termasuk menjalin persahabatan dengan musuhnya, Carut.
Begitulah kenyataan yang saya sebagai penonton terima. Entah tidak sadar atau memang sang sutradara kurang teliti, Teuku Zacky yang berperan sebagai sosok banci bernama Turdi di film Obama Anak Menteng itu, menyebut kata “doski”. Padahal kita tahu, kata “doski” baru muncul pada tahun 90-an.
Selain kata “doski”, masih banyak hal-hal yang luput dari film ini. Misalnya scene pidato Obama asli di televisi. Seharusnya pada saat Obama berpidato, di layar televisi diberikan logo stasiun televisi yang menyiarkan pidato tersebut. Tolong perhatikan siaran televisi anda di rumah, tidak ada satu pun televisi yang tidak menggunakan logo pada saat siaran. Namun sayang, scene Obama pidato di layar televisi dibiarkan kosong, sehingga hampir semua orang tahu, pidato itu bukan dari siaran televisi, melainkan playback dari video tape. Sekali lagi saya tidak tahu persis kenapa sebagai seorang sutradara John de Rantau “membiarkan” itu terjadi.
Ternyata saya terlalu berekspektasi lebih terhadap film Obama Anak Menteng ini. Betapa tidak, setiap kali menyaksikan film nasional, saya selalu berpikir positif. Bahwa film yang saya tonton kelak akan berkualitas. Tidak usah mimpi meraih penonton banyak dulu sebagaimana Laskar Pelangi, tetapi kualitas dulu.

Damien Damitra dengan novel karyanya Obama Anak Menteng. Konon dalam kru film ini sedang "bergejolak" tentang siapa sutradara sebenarnya. Konon Damien tidak menyutradarai film ini. Menurut beberapa kru, Damien tidak pernah melakukan job desk sebagaimana layaknya sutradara, termasuk meneriakkan "action" dan "cut". Sutradara sesungguhnya John de Rantau
Ukuran kualitas tentu saja pada cerita, sinematografi, dan tidak kalah hebat adalah detail-detail dari produksi film tersebut, baik itu properti maupun dialog. Harapan saya juga berlebih pada film Obama Anak Menteng ini. Pasalnya, film ini rencanannya akan menjadi salah satu bagian dari program Celebrating Obama`s Homecoming, yakni saat Obama akan datang ke Jakarta, dimana nantinya Obama “dipaksa” menyaksikan film yang berdurasi 100 menit ini. Entah kebetulan atau memang takdir, Obama akhirnya gagal total datang ke Jakarta.
Namun harapan-harapan positif saya ternyata harus berakhir dengan kekecewaan. Saking kecewa, saya sampai berpikir negatif. Bahwa kegagalan Obama datang ke Jakarta barangkali bukan cuma masalah internal di Amerika Serikat atau keamanan di Jakarta, tetapi (mohon maaf) demi menghindar nonton film Obama Anak Menteng.
Meski begitu, sebagai orang yang terlahir di Indonesia, saya tetap menghargai karya anak bangsa ini. Film yang berasal dari novel berjudul sama Obama Anak Menteng karya Damien Damitra yang diterbitkan Penerbit Gramedia ini. Saya juga salut dengan film yang diproduksi oleh Multivision Plus ini, dimana cuma dalam tempo 18 hari (14 Mei-3 Juni 2010), tim produksi film ini berhasil menyelesaikan proses shooting dengan berbagai tantangan.
Saya baru mengerti, proses shooting yang sangat singkat itu karena mengejar kedatangan Obama yang terakhir direncanakan datang pada bulan Juni. Jangan heran kalo sebelum akhirnya dirilis per 1 Juli 2010, film ini sudah direncanakan diputar di bioskop per 17 Juni. Namun kemudian dimundurkan lagi menjadi tanggal 24 Juni. Sampai akhirnya, begitu tahu Obama tidak jadi datang, Multivision konfirm merilis film ini di awal Juli ini.
Saya juga baru mengerti, jadwal shooting yang pendek ini membuat banyak hal yang miss. Selain detail shot yang nampak kurang kaya, juga riset terhadap lokasi, properti, dan wardrobe juga kurang matang. Apakah di tahun 70-an semua payung menggunakan payung dari kertas dan berbatang bambu? Apakah seorang Turdi yang cuma berprofesi sebagai pembantu memang wardrobe-nya colourfull dan selalu berganti-ganti seperti itu? Menjadi pertanyaan besar buat saya dan penonton lain.
Anyway, seperti juga novel dan kisah yang barangkali sudah anda ketahui sebelumnya, bahwa film ini juga berkisah mengenai Obama ketika di Jakarta. Dimulai saat kedatangan keluarga Sutoro di Jakarta tahun 1969. Bersama Sutoro, Obama kecil (diperankan oleh Hasan Faruq Ali, 12 tahun) tinggal bersama sang ibu Ann Dunham (diperankan oleh Kara Lachele, 25 tahun).
Selama tinggal di Jakarta, Obama mencoba beradaptasi dengan tetangga, teman, maupun lingkungannya. Seperti bisa diduga, selama beradaptasi, banyak tantangan yang dihadapi oleh Obama kecil. Namun tantangan-tantangan tersebut berhasil dilaluinya termasuk menjalin persahabatan dengan musuhnya, Carut.
Monday, June 28, 2010
FILM 3 HATI: PILIH PACAR, ORANGTUA, ATAU AGAMA?
Sungguh beruntung nasib Rosid (diperankan oleh Reza Rahardian). Meski tidak kuliah, berambut kribo, dan bukan anak orang kaya, tetapi punya dua pacar sekaligus. Pacarnya cantik pula. Pacar pertama bernama Delia (diperankan oleh Laura Basuki). Pacar kedua bernama Nabila (diperankan oleh Arumi Bachsin).
Apa yang membuat Rosid “digila-gilai” oleh dua wanita cantik itu? Selain wajah yang tampan –keturunan Arab dengan ukuran tubuh tinggi dan berhidung mancung-, juga jago membuat dan membaca puisi. That’s it! Cuma itu? Yap, cuma itu! Gara-gara berwajah ganteng dan berprilaku “ala” WS Rendra yang jago berpuisi, Rosid “digila-gilai” Delia dan Nabila. Itulah mengapa film ini dikasih judul 3 Hati. Ada hati Rosyid serta dua hati wanita cantik tersebut. Dan Rosid pun harus memilih cintanya di antara dua wanita itu.

Rosid (tengah) dan dua wanita yang mencintainya: Delia (kiri) dan Nabila (kanan).
Tentu konflik bukan cuma soal memilih cinta. Sebab, kalo yang dipake cuma itu, cerita akan basi. Sudah banyak film-film yang berkisah soal memilih cinta. Oleh karena itu, sebagai penulis skenario dan juga sutrdara, Benni Setiawan mencoba menambah konflik dengan memasukkan tema perbedaan agama. Meski konflik ini pun sudah basi, namun Benni menambah sub plot-sub plot lain agar kisah di film 3 Hati ini semakin terlihat dramatik.
Sub plot pertama soal keinginan babenya Rosid, yakni pak Mansur (diperankan oleh Rasyid Karim), untuk menjadikan Rosyid anak yang benar-benar berprilaku islami. Hal yang pertama dilakukan oleh pak Mansur adalah meminta Rosid untuk memotong rambutnya.
“Kalo rambut loe kribo, mane bisa pake peci?” ujar pak Mansur.
Dalam Islam, setiap kali sholat rambut kita tidak boleh menutupi jidat alias kening. Yang namanya jidat, kudu bersih dari rambut. Nah, salah satu upaya agar rambut yang panjang tidak menutupi jidat adalah dengan menggunakan peci atau istilah untuk penutup kepala khas Indonesia.
Namun Rosid ternyata lebih “pintar”. Menurutnya antara sholat dengan peci dan rambut kribonya nggak ada hubungannya. Yang ia yakini, bahwa Allah pasti akan menerima setiap orang yang sholat dengan khusuk, tanpa melihat manusia yang sholat itu nggak pake paci atau berambut gondrong. Apalagi dalam tradisi babenya Rosid, memakai peci adalah lambang bagi orang Islam yang shaleh.
Dengan berbagai cara, pak Mansur berusaha agar Rosid “tunduk” pada babenya. Maklum, baik Rosid maupun babenya sama-sama keras kepala. Saking frustrasi, pak Mansur sempat mencari ramuan-ramuan yang bisa membuat Rosid mau mengikuti perintah babenya. Mulai dari mantra-mantra, sampai minyak wangi yang dioleskan di tangan pak Mansur yang baunya tidak sedap.
Pertentangan soal rambut dan peci menjadi salah satu sub plot, dimana penonton diajak buat mengerti kalo Rosyid dan babenya memiliki perbedaan pendapat. Sub plot ini makin berkembang menjadi sub plot-sub plot kecil lagi. Sub plot kecil pertama, saat pak Mansur mengajak Rosid ke seorang Kiai yang konon menjadi guru ngaji. Pak Mansur berharap Rosid sadar.
“Apakah tradisi turun temurun yang diajarkan oleh orang-orang terdahulu semuanya benar, tidak juga?” kata Rosid pada Kiai tersebut.
Pada saat mengucapkan kalimat itu, hampir semua murid, termasuk pak Mansur, membelalakkan mata. Mereka memandang Rosid sebagai orang yang murtad. Pemuda ber-KTP muslim yang dianggap menodai ajaran agama.
“Dia penganut aliran sesat, nih!” teriak salah seorang jamaah si Kiai itu.
Scene ini menurut saya luar biasa. Bukan shot-shot-nya yang spektakuler. Tetapi dialog-dialog yang diucapkan Rosid sangat kontemplatif. Kita, terutama umat Islam, diajak merenung tentang tradisi atau budaya. Bahwa selama ini, Islam yang diturunkan oleh orangtua kita dianggap sudah benar. Padahal belum tentu!
Seharusnya kita sebagai manusia yang berpikir, jangan ikut-ikutan orangtua. Memang sih, kita wajib menghormati orangtua kita sesuai ajaran Islam. Namun kalo ajaran orangtua atau leluhur tentang Islam kita anggap melenceng, kita wajib untuk meluruskannya. Tergantung bagaimana mengkomunikasikannya. Kalo kita cukup keras, pasti akan timbul konflik dan dianggap durhaka. Namun kalo kita sabar, lambat laun mereka bisa mengerti.
Rosid ternyata lebih memakai dengan cara keras. Ia memang tipikal pemuda muslim idealis yang main “hajar bleh”. Tidak peduli siapa orang yang dihadapi. Apalagi bahasa komunikasinya Betawi-Arab yang keras, ya jadilah konflik semakin meruncing.
Itu baru soal peci. Konflik dengan babenya semakin tajam begitu tahu Rosid pacaran dengan Delia. Wanita dari keturunan keluarga kaya ini beragama Katolik. Kisah cinta Rosid-Delia ibarat roman Cinderella atau kisah-kisah cinta lain, dimana ada sepasang kekasih yang dimabuk cinta, tapi memiliki perbedaan. Kalo nggak perbedaan soal latar belakang keluarga (kaya dan miskin), ya latar belakang agama.
Barangkali saat ini masih terjadi. Dengan berlandaskan cinta, pasangan nggak peduli dengan latar belakang. Namun kalo latar belakang kaya dan miskin, menurut saya terlalu klise. Mereka yang mencari pasangan saat ini malah cenderung melihat kekayaan (bibit-bebet-bobot). Anak konglomerat, pacaran dengan sesama anak konglomerat. At least pacaran dengan selebritis lah. Meski sekolahnya nggak jelas, yang penting bintang sinetron. Dalam film 3 Hati, Delia naik BMW sementara Rosid naik vespa.
Era kapitalis seperti sekarang ini kalo tidak lihat kaya atau tidaknya pasangan, sepertinya rugi banget. Yang saat ini rada cuek adalah masalah perbedaan agama. Kisah cinta beda agama sebagaimana dialami Rosid saat ini banyak kita temui. Pola pikir masyarakat kita semakin berubah. Buat pasangan, agama dan kepercayaan itu nomor dua. Mending nomor dua, belakangan menjadi nomor kesekian. Yang menjadi agama saat ini adalah cinta dan uang.
Sebagai keluarga muslim yang taat, orangtua Rosid melakukan berbagai cara agar Rosid putus dengan Delia. Sebaliknya, orangtua Delia pun demikian. Kalo keluarga Rosid memilih mencari jodoh, pak Frans (diperankan oleh Robby Tumewu) dan bu Martha (diperankan oleh Ira Wibowo), orang tua Delia, memakai strategi mengirim Delia sekolah ke Amerika.
Atas bantuan adik pak Mansur, Rosid berkenalan dengan gadis bernama Nabila, yang juga keturunan Arab-Betawi. Nabila ternyata begitu mengidolakan Rosid. Namun sayang, cinta bertepuk sebelah tangan. Rosid cuma menganggap Nabila sebagai teman.
“Emak nggak minta ape-ape sama elo Sid,” papar bu Rodiah, emaknya Rosid. “Emak cuma pengen kali ini elo menolong emak. Kali ini aja, Sid. Mau kan?”

Biar Kribo, nggak kuliah, dan cuma pake Vespa, Rosid "diburu" dua perempuan cantik, euy! Kisah model Cinderella versi pria memang masih laku
Permohonan bu Rodiah sebenarnya merupakan upaya untuk memisahkan Rosid dari Delia. Sulit sekali bagi Rosid untuk menolak permintaan emaknya, namun di sisi lain hati Rosid memang tidak ikhas mencintai Nabila. Di sini penonton diajak berputar-putar dari scene ke scene, dimana memperlihatkan kemana nanatinya Rosid akan memilih. Delia kah? Atau Nabila yang sebenarnya tidak dicintainya.
Benni Setiawan menutup kisah dengan netral. Rosid dan Delia ditokohkan sebagai dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan agama mereka. Di akhir scene, mereka sepakat untuk tidak meneruskan hubungan mereka. Begitu pula dengan hubungan Rosid dan Nabila. Bahwa Nabila juga sadar, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Ia pasrah Rosid juga tidak memilih dirinya sebagai istri.
Film ini merupakan produksi keenam Mizan Production. Sebelumnya Mizan sempat bekerjasama dengan beberapa rumah produksi, antara lain dengan Miles Production di film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Film 3 Hati ini diangkat dari novel bestseller karya Ben Sohib, yakni Da Peci Code dan Rosid & Della.
Apa yang membuat Rosid “digila-gilai” oleh dua wanita cantik itu? Selain wajah yang tampan –keturunan Arab dengan ukuran tubuh tinggi dan berhidung mancung-, juga jago membuat dan membaca puisi. That’s it! Cuma itu? Yap, cuma itu! Gara-gara berwajah ganteng dan berprilaku “ala” WS Rendra yang jago berpuisi, Rosid “digila-gilai” Delia dan Nabila. Itulah mengapa film ini dikasih judul 3 Hati. Ada hati Rosyid serta dua hati wanita cantik tersebut. Dan Rosid pun harus memilih cintanya di antara dua wanita itu.

Rosid (tengah) dan dua wanita yang mencintainya: Delia (kiri) dan Nabila (kanan).
Tentu konflik bukan cuma soal memilih cinta. Sebab, kalo yang dipake cuma itu, cerita akan basi. Sudah banyak film-film yang berkisah soal memilih cinta. Oleh karena itu, sebagai penulis skenario dan juga sutrdara, Benni Setiawan mencoba menambah konflik dengan memasukkan tema perbedaan agama. Meski konflik ini pun sudah basi, namun Benni menambah sub plot-sub plot lain agar kisah di film 3 Hati ini semakin terlihat dramatik.
Sub plot pertama soal keinginan babenya Rosid, yakni pak Mansur (diperankan oleh Rasyid Karim), untuk menjadikan Rosyid anak yang benar-benar berprilaku islami. Hal yang pertama dilakukan oleh pak Mansur adalah meminta Rosid untuk memotong rambutnya.
“Kalo rambut loe kribo, mane bisa pake peci?” ujar pak Mansur.
Dalam Islam, setiap kali sholat rambut kita tidak boleh menutupi jidat alias kening. Yang namanya jidat, kudu bersih dari rambut. Nah, salah satu upaya agar rambut yang panjang tidak menutupi jidat adalah dengan menggunakan peci atau istilah untuk penutup kepala khas Indonesia.
Namun Rosid ternyata lebih “pintar”. Menurutnya antara sholat dengan peci dan rambut kribonya nggak ada hubungannya. Yang ia yakini, bahwa Allah pasti akan menerima setiap orang yang sholat dengan khusuk, tanpa melihat manusia yang sholat itu nggak pake paci atau berambut gondrong. Apalagi dalam tradisi babenya Rosid, memakai peci adalah lambang bagi orang Islam yang shaleh.
Dengan berbagai cara, pak Mansur berusaha agar Rosid “tunduk” pada babenya. Maklum, baik Rosid maupun babenya sama-sama keras kepala. Saking frustrasi, pak Mansur sempat mencari ramuan-ramuan yang bisa membuat Rosid mau mengikuti perintah babenya. Mulai dari mantra-mantra, sampai minyak wangi yang dioleskan di tangan pak Mansur yang baunya tidak sedap.
Pertentangan soal rambut dan peci menjadi salah satu sub plot, dimana penonton diajak buat mengerti kalo Rosyid dan babenya memiliki perbedaan pendapat. Sub plot ini makin berkembang menjadi sub plot-sub plot kecil lagi. Sub plot kecil pertama, saat pak Mansur mengajak Rosid ke seorang Kiai yang konon menjadi guru ngaji. Pak Mansur berharap Rosid sadar.
“Apakah tradisi turun temurun yang diajarkan oleh orang-orang terdahulu semuanya benar, tidak juga?” kata Rosid pada Kiai tersebut.
Pada saat mengucapkan kalimat itu, hampir semua murid, termasuk pak Mansur, membelalakkan mata. Mereka memandang Rosid sebagai orang yang murtad. Pemuda ber-KTP muslim yang dianggap menodai ajaran agama.
“Dia penganut aliran sesat, nih!” teriak salah seorang jamaah si Kiai itu.
Scene ini menurut saya luar biasa. Bukan shot-shot-nya yang spektakuler. Tetapi dialog-dialog yang diucapkan Rosid sangat kontemplatif. Kita, terutama umat Islam, diajak merenung tentang tradisi atau budaya. Bahwa selama ini, Islam yang diturunkan oleh orangtua kita dianggap sudah benar. Padahal belum tentu!
Seharusnya kita sebagai manusia yang berpikir, jangan ikut-ikutan orangtua. Memang sih, kita wajib menghormati orangtua kita sesuai ajaran Islam. Namun kalo ajaran orangtua atau leluhur tentang Islam kita anggap melenceng, kita wajib untuk meluruskannya. Tergantung bagaimana mengkomunikasikannya. Kalo kita cukup keras, pasti akan timbul konflik dan dianggap durhaka. Namun kalo kita sabar, lambat laun mereka bisa mengerti.
Rosid ternyata lebih memakai dengan cara keras. Ia memang tipikal pemuda muslim idealis yang main “hajar bleh”. Tidak peduli siapa orang yang dihadapi. Apalagi bahasa komunikasinya Betawi-Arab yang keras, ya jadilah konflik semakin meruncing.
Itu baru soal peci. Konflik dengan babenya semakin tajam begitu tahu Rosid pacaran dengan Delia. Wanita dari keturunan keluarga kaya ini beragama Katolik. Kisah cinta Rosid-Delia ibarat roman Cinderella atau kisah-kisah cinta lain, dimana ada sepasang kekasih yang dimabuk cinta, tapi memiliki perbedaan. Kalo nggak perbedaan soal latar belakang keluarga (kaya dan miskin), ya latar belakang agama.
Barangkali saat ini masih terjadi. Dengan berlandaskan cinta, pasangan nggak peduli dengan latar belakang. Namun kalo latar belakang kaya dan miskin, menurut saya terlalu klise. Mereka yang mencari pasangan saat ini malah cenderung melihat kekayaan (bibit-bebet-bobot). Anak konglomerat, pacaran dengan sesama anak konglomerat. At least pacaran dengan selebritis lah. Meski sekolahnya nggak jelas, yang penting bintang sinetron. Dalam film 3 Hati, Delia naik BMW sementara Rosid naik vespa.
Era kapitalis seperti sekarang ini kalo tidak lihat kaya atau tidaknya pasangan, sepertinya rugi banget. Yang saat ini rada cuek adalah masalah perbedaan agama. Kisah cinta beda agama sebagaimana dialami Rosid saat ini banyak kita temui. Pola pikir masyarakat kita semakin berubah. Buat pasangan, agama dan kepercayaan itu nomor dua. Mending nomor dua, belakangan menjadi nomor kesekian. Yang menjadi agama saat ini adalah cinta dan uang.
Sebagai keluarga muslim yang taat, orangtua Rosid melakukan berbagai cara agar Rosid putus dengan Delia. Sebaliknya, orangtua Delia pun demikian. Kalo keluarga Rosid memilih mencari jodoh, pak Frans (diperankan oleh Robby Tumewu) dan bu Martha (diperankan oleh Ira Wibowo), orang tua Delia, memakai strategi mengirim Delia sekolah ke Amerika.
Atas bantuan adik pak Mansur, Rosid berkenalan dengan gadis bernama Nabila, yang juga keturunan Arab-Betawi. Nabila ternyata begitu mengidolakan Rosid. Namun sayang, cinta bertepuk sebelah tangan. Rosid cuma menganggap Nabila sebagai teman.
“Emak nggak minta ape-ape sama elo Sid,” papar bu Rodiah, emaknya Rosid. “Emak cuma pengen kali ini elo menolong emak. Kali ini aja, Sid. Mau kan?”

Biar Kribo, nggak kuliah, dan cuma pake Vespa, Rosid "diburu" dua perempuan cantik, euy! Kisah model Cinderella versi pria memang masih laku
Permohonan bu Rodiah sebenarnya merupakan upaya untuk memisahkan Rosid dari Delia. Sulit sekali bagi Rosid untuk menolak permintaan emaknya, namun di sisi lain hati Rosid memang tidak ikhas mencintai Nabila. Di sini penonton diajak berputar-putar dari scene ke scene, dimana memperlihatkan kemana nanatinya Rosid akan memilih. Delia kah? Atau Nabila yang sebenarnya tidak dicintainya.
Benni Setiawan menutup kisah dengan netral. Rosid dan Delia ditokohkan sebagai dua anak muda yang rasional dalam menyikapi perbedaan agama mereka. Di akhir scene, mereka sepakat untuk tidak meneruskan hubungan mereka. Begitu pula dengan hubungan Rosid dan Nabila. Bahwa Nabila juga sadar, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Ia pasrah Rosid juga tidak memilih dirinya sebagai istri.
Film ini merupakan produksi keenam Mizan Production. Sebelumnya Mizan sempat bekerjasama dengan beberapa rumah produksi, antara lain dengan Miles Production di film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Film 3 Hati ini diangkat dari novel bestseller karya Ben Sohib, yakni Da Peci Code dan Rosid & Della.
Friday, June 11, 2010
DENGAN BEGITU KITA BEBAS MEMBUAT VIDEO PORNO...
Simaklah cuplikan berita-berita di bawah ini:
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amelia Sari Gumelar menilai pelaku video seks tidak bisa dijerat UU Pornografi. Hal itu dikarenakan UU Pornografi tidak mengatur ihwal kepentingan pribadi, melainkan kepentingan umum.
Dalam UU Pornografi, menurutnya lebih dititikberatkan pada soal siapa yang menggandakan dan menyiarkannya. Sementara untuk pelaku perlu diteliti apakah memang ada motif tertentu di balik perbuatan tersebut. Yang jadi masalah apakah itu penggunaan pribadi saja, karena memang UU Pornografi tak mengatur kepentingan pribadi, melainkan kepentingan umum. kasus ini tergantung niatnya, apakah dibuat untuk kepentingan sendiri atau memang untuk diedarkan ke publik, jadi perlu penyelidikan lebih lanjut (Lihat “Hentikan Penayangan Berita Cabul”, Kompasiana, 9 Juni 2010)
Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta mengatakan, Polri terus berusaha mengungkap penyebar video itu. Penyebar video, kata dia, bisa diancam dengan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sekaligus Undang-undang Pornografi.
Sedangkan untuk para pemeran, tambah dia, akan dijerat dengan Undang-undang Pornografi jika terbukti sengaja membuat dan menyebarkan video mesum itu. "Makanya dibuktikan ada niat atau tidak. Kalau tidak ada niat maka baru kita baru mengatakan dia tidak (sengaja)," kata dia.
Ito sendiri berpendapat para pelaku yang mirip tiga artis papan atas itu tidak berniat untuk membuat rekaman dan sengaja menyebarkannya. "Kalau ada niat sepertinya nggak-lah. Masak kita mau mempermalukan diri sendiri," kata dia (Lihat “Polri: Kalau Tidak Tuntas Akan Ada Video Lagi”, VivaNews, 10 Juni 2010).
Apa kesimpulan Anda?
Kalo saya kesimpulannya, yang dipermasalahkan adalah siapa yang menyebarkan video porno, bukan pelaku video porno tersebut. Memang sih, yang menyebarkan adalah orang yang terkutuk. Namun kenapa para pelaku video porno yang katanya mirip Ariel, mirip Luna Maya, mirip Cut Tari, dan nantinya akan mirip-mirip artis lain lagi kayaknya tidak sungguh-sungguh diselidiki dan selanjutnya ditahan ya? Aneh!
Buat saya, mencari siapa penyebar sama saja berhubungan dengan mafia. Yaiyalah! Anda jangan bohong, pasti pernah ke Glodok atau tempat-tempat jual DVD bajakan. Nah, di situ banyak banget video porno dengan aneka bintang serta aneka judul. Para pedagang itu jelas masuk dalam kategori menyebarkan, ya tidak? Baiklah kalo pedagang tidak mau disalahkan, lalu perusahaan yang menduplikasi video-video porno itu tentunya yang bertujuan menyebarkan video ya tidak? Lalu kenapa sampai sekarang Polri tidak menyelidiki penyebar-penyebar video porno yang dijual dengan mudah dan dapat dilihat oleh anak-anak itu? Saya jadi curiga....
Padahal yang di depan mata sudah jelas. Ada pemain video porno yang mirip Ariel dan ada pemain yang mirip Luna dan Cut Tari. Kenapa mereka tidak langsung dipanggil saja sih? Kalo memang benar mereka pelaku video porno itu, ya mbok langsung ditangkap.
Jujur, saya dan barangkali beberapa orang merasa beruntung mengetahui bahwa ada orang yang mirip Ariel, ada orang yang mirip Luna Maya, dan ada orang yang mirip Cut Tari yang main video porno. Kenapa? Kami, terutama saya, jadi tahu bahwa kelakuan mereka itu ternyata begitu. Mereka cantik tapi sakit! Bukan prianya yang sakit –yang kebetulan semuanya mirip dengan Ariel-, tetapi wanita-wanitanya sakit jiwa, karena mau-mauan di-shooting dalam keadaan yang sangat intim di ranjang.
Kami beruntung mengetahui video porno itu, sehingga mereka yang selama ini menjadi bintang iklan, dianggap figur masyarakat, ternyata orang sakit jiwa. Dan mereka yang menidolakan orang sakit jiwa itu adalah masuk dalam kelompok orang sakit jiwa.
Entahlah kenapa saya begitu pesimis membaca statement-statement pejabat negara yang lebih concern pada si penyebar video mesum itu. Padahal ada orang sakit jiwa yang harusnya lebih dulu ditangkap.
Semakin pesimis setelah tahu bahwa edisi beberapa video mesum dari Indonesia tersebut menguap begitu saja. Pelaku yang jelas-jelas bermain dalam video mesum itu tidak diadili, ditangkap, dan dipenjara. Mereka tetap bebas bekeliaran. Tertawa dengan teman dan keluarga. Anda tentu belum lupa video mesum Bandung Membara, dan kota-kota lain. Yang paling menyesakkan adalah video porno anggota DPR Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini dan Maria Eva, dimana dulu menghebohkan dan kini menguap begitu saja.
Dan kita pun apatis dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana semua orang Indonesia berhak membuat video porno dengan berbagai orang, lokasi, dan konsep. Saya membayangkan, nantinya akan ada video porno di atas tugu Monas, di menara Jam Gadang, atau lokasi suci seperti Borobudur. Membuat video porno dengan pamain orang Indonesia dianggap biasa. Soal niat buat disebarkan, ya tinggal kita berbohong aja sama orang yang nanya, ya tidak? Manusia kan punya akal?!
Kalo perlu sebelum tersebar di dalam negeri, dijual dulu ke Vivid Entertainment. Tahu kan Vivid Entertainment? Itu-tuh production house yang memproduksi film-film porno paling populer, bukan cuma seantero Amrik, tetapi di seluruh dunia. Saya yakin, video porno yang dimainkan oleh orang Indonesia rating-nya jauh lebih dahsyat! Gimana?
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amelia Sari Gumelar menilai pelaku video seks tidak bisa dijerat UU Pornografi. Hal itu dikarenakan UU Pornografi tidak mengatur ihwal kepentingan pribadi, melainkan kepentingan umum.
Dalam UU Pornografi, menurutnya lebih dititikberatkan pada soal siapa yang menggandakan dan menyiarkannya. Sementara untuk pelaku perlu diteliti apakah memang ada motif tertentu di balik perbuatan tersebut. Yang jadi masalah apakah itu penggunaan pribadi saja, karena memang UU Pornografi tak mengatur kepentingan pribadi, melainkan kepentingan umum. kasus ini tergantung niatnya, apakah dibuat untuk kepentingan sendiri atau memang untuk diedarkan ke publik, jadi perlu penyelidikan lebih lanjut (Lihat “Hentikan Penayangan Berita Cabul”, Kompasiana, 9 Juni 2010)
Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta mengatakan, Polri terus berusaha mengungkap penyebar video itu. Penyebar video, kata dia, bisa diancam dengan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sekaligus Undang-undang Pornografi.
Sedangkan untuk para pemeran, tambah dia, akan dijerat dengan Undang-undang Pornografi jika terbukti sengaja membuat dan menyebarkan video mesum itu. "Makanya dibuktikan ada niat atau tidak. Kalau tidak ada niat maka baru kita baru mengatakan dia tidak (sengaja)," kata dia.
Ito sendiri berpendapat para pelaku yang mirip tiga artis papan atas itu tidak berniat untuk membuat rekaman dan sengaja menyebarkannya. "Kalau ada niat sepertinya nggak-lah. Masak kita mau mempermalukan diri sendiri," kata dia (Lihat “Polri: Kalau Tidak Tuntas Akan Ada Video Lagi”, VivaNews, 10 Juni 2010).
Apa kesimpulan Anda?
Kalo saya kesimpulannya, yang dipermasalahkan adalah siapa yang menyebarkan video porno, bukan pelaku video porno tersebut. Memang sih, yang menyebarkan adalah orang yang terkutuk. Namun kenapa para pelaku video porno yang katanya mirip Ariel, mirip Luna Maya, mirip Cut Tari, dan nantinya akan mirip-mirip artis lain lagi kayaknya tidak sungguh-sungguh diselidiki dan selanjutnya ditahan ya? Aneh!
Buat saya, mencari siapa penyebar sama saja berhubungan dengan mafia. Yaiyalah! Anda jangan bohong, pasti pernah ke Glodok atau tempat-tempat jual DVD bajakan. Nah, di situ banyak banget video porno dengan aneka bintang serta aneka judul. Para pedagang itu jelas masuk dalam kategori menyebarkan, ya tidak? Baiklah kalo pedagang tidak mau disalahkan, lalu perusahaan yang menduplikasi video-video porno itu tentunya yang bertujuan menyebarkan video ya tidak? Lalu kenapa sampai sekarang Polri tidak menyelidiki penyebar-penyebar video porno yang dijual dengan mudah dan dapat dilihat oleh anak-anak itu? Saya jadi curiga....
Padahal yang di depan mata sudah jelas. Ada pemain video porno yang mirip Ariel dan ada pemain yang mirip Luna dan Cut Tari. Kenapa mereka tidak langsung dipanggil saja sih? Kalo memang benar mereka pelaku video porno itu, ya mbok langsung ditangkap.
Jujur, saya dan barangkali beberapa orang merasa beruntung mengetahui bahwa ada orang yang mirip Ariel, ada orang yang mirip Luna Maya, dan ada orang yang mirip Cut Tari yang main video porno. Kenapa? Kami, terutama saya, jadi tahu bahwa kelakuan mereka itu ternyata begitu. Mereka cantik tapi sakit! Bukan prianya yang sakit –yang kebetulan semuanya mirip dengan Ariel-, tetapi wanita-wanitanya sakit jiwa, karena mau-mauan di-shooting dalam keadaan yang sangat intim di ranjang.
Kami beruntung mengetahui video porno itu, sehingga mereka yang selama ini menjadi bintang iklan, dianggap figur masyarakat, ternyata orang sakit jiwa. Dan mereka yang menidolakan orang sakit jiwa itu adalah masuk dalam kelompok orang sakit jiwa.
Entahlah kenapa saya begitu pesimis membaca statement-statement pejabat negara yang lebih concern pada si penyebar video mesum itu. Padahal ada orang sakit jiwa yang harusnya lebih dulu ditangkap.
Semakin pesimis setelah tahu bahwa edisi beberapa video mesum dari Indonesia tersebut menguap begitu saja. Pelaku yang jelas-jelas bermain dalam video mesum itu tidak diadili, ditangkap, dan dipenjara. Mereka tetap bebas bekeliaran. Tertawa dengan teman dan keluarga. Anda tentu belum lupa video mesum Bandung Membara, dan kota-kota lain. Yang paling menyesakkan adalah video porno anggota DPR Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini dan Maria Eva, dimana dulu menghebohkan dan kini menguap begitu saja.
Dan kita pun apatis dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana semua orang Indonesia berhak membuat video porno dengan berbagai orang, lokasi, dan konsep. Saya membayangkan, nantinya akan ada video porno di atas tugu Monas, di menara Jam Gadang, atau lokasi suci seperti Borobudur. Membuat video porno dengan pamain orang Indonesia dianggap biasa. Soal niat buat disebarkan, ya tinggal kita berbohong aja sama orang yang nanya, ya tidak? Manusia kan punya akal?!
Kalo perlu sebelum tersebar di dalam negeri, dijual dulu ke Vivid Entertainment. Tahu kan Vivid Entertainment? Itu-tuh production house yang memproduksi film-film porno paling populer, bukan cuma seantero Amrik, tetapi di seluruh dunia. Saya yakin, video porno yang dimainkan oleh orang Indonesia rating-nya jauh lebih dahsyat! Gimana?
Tuesday, May 25, 2010
ANDI KALAH, DORCE MENANGIS
Judul di atas ini masih perlu penyelidikan lebih jauh. Kebenarannya masih abu-abu. Memang sih Andi Mallarangeng nggak ada hubungan apa-apa dengan Dorce. Begitu pula sebaliknya. Namun, semua orang pernah tahu kalo Dorce adalah nge-fans berat pada Andi. Bukan lantaran Andi adalah politikus, tetapi karena kumisnya yang bikin gemes.
Oleh karena Dorce fans berat Andi, maka saya mencoba menghubung-hubungkan dengan kekalahan Andi terhadap Anas Urbaningrum. Andi yang dianggap di atas angin dan di atas kertas mampu menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, eh ternyata nggak ada apa-apanya. Angka pemilihnya jauh di bawah Anas.
Di putaran pertama, Andi cuma mampu mengumpulkan 82 suara (16 persen), sementara Marzuki Ali meraih 209 suara (40 persen) dan Anas 236 suara (45 persen). Pada putaran kedua, suara yang didapat Andi nggak berbeda jauh. Bahkan Anas dan Marzuki mendapat suara makin gokil, yakni Anas meraih 280 suara (53 persen) dan Marzuki 248 suara (47 persen).

Salah satu bilboard bergambar Andi Mallarangeng yang ada di jalan Prof. Dr. Satrio, Casablanca, Jakarta Selatan.
Kasihan banget sih dikau bung Andi? Sudah investasi gokil-gokilan, eh suaranya nggak ada apa-apanya. Investasi apa? Salah satunya investasi buat promosi. Mulai dari pembuatan bilboard gede-gedean, spanduk, public service announcement (PSA) di televisi, maupun buku. Sekadar mengutip istilah Ikrar Nusa Bhakti (Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI, Jakarta) di harian Kompas.
Andi ibarat "menggunakan meriam untuk membunuh nyamuk" melalui baliho dan iklan-iklannya yang aduhai mahalnya. Padahal, konstituen Partai Demokrat (PD) atau rakyat biasa tidak memiliki hak suara pada pemilihan ketua umum DPP PD tersebut, hanya elit-elit PD di pusat dan daerah yang berhak memberikan suara (lihat Ikrar Nusa Bhakti, "Matinya Politik Pencitraan?", Kompas, Selasa, 25 Mei 2010, hal 6).
Saya bukanlah anggota PD, penggemar PD, atau pendukung Anas Urbaningrum. Namun kejadian kekalahan yang mengagetkan banyak orang ini menunjukan, politik dewasa ini benar-benar menggunakan hati nurani. Bukan cuma mengkultuskan seorang individu saja sebagaimana ketua umum di partai-partai besar lain. Saya kembali mengkutip tulisan peneliti senior di Sugeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit di Kompas (25/05/2010).
"Kita memang sedang memasuki zaman baru, yaitu era ngomong bener tumindak temen. Orang yang bicara benar dan bertindak jujur akan menang. Tuhan tidak tidur."
Yang menyesakkan lagi, di rubrik Pojok harian Kompas membuat komentar atas kekalahan telak Andi ini dengan nada yang cukup "menampar", bahwa "Kemenangan Anas momentum alih generasi Demokrat. Uang dan ketampanan bukan segalanya!"
Wah, kayaknya Dorce kudu ganti idola nih kalo begitu?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Oleh karena Dorce fans berat Andi, maka saya mencoba menghubung-hubungkan dengan kekalahan Andi terhadap Anas Urbaningrum. Andi yang dianggap di atas angin dan di atas kertas mampu menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, eh ternyata nggak ada apa-apanya. Angka pemilihnya jauh di bawah Anas.
Di putaran pertama, Andi cuma mampu mengumpulkan 82 suara (16 persen), sementara Marzuki Ali meraih 209 suara (40 persen) dan Anas 236 suara (45 persen). Pada putaran kedua, suara yang didapat Andi nggak berbeda jauh. Bahkan Anas dan Marzuki mendapat suara makin gokil, yakni Anas meraih 280 suara (53 persen) dan Marzuki 248 suara (47 persen).

Salah satu bilboard bergambar Andi Mallarangeng yang ada di jalan Prof. Dr. Satrio, Casablanca, Jakarta Selatan.
Kasihan banget sih dikau bung Andi? Sudah investasi gokil-gokilan, eh suaranya nggak ada apa-apanya. Investasi apa? Salah satunya investasi buat promosi. Mulai dari pembuatan bilboard gede-gedean, spanduk, public service announcement (PSA) di televisi, maupun buku. Sekadar mengutip istilah Ikrar Nusa Bhakti (Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI, Jakarta) di harian Kompas.
Andi ibarat "menggunakan meriam untuk membunuh nyamuk" melalui baliho dan iklan-iklannya yang aduhai mahalnya. Padahal, konstituen Partai Demokrat (PD) atau rakyat biasa tidak memiliki hak suara pada pemilihan ketua umum DPP PD tersebut, hanya elit-elit PD di pusat dan daerah yang berhak memberikan suara (lihat Ikrar Nusa Bhakti, "Matinya Politik Pencitraan?", Kompas, Selasa, 25 Mei 2010, hal 6).
Saya bukanlah anggota PD, penggemar PD, atau pendukung Anas Urbaningrum. Namun kejadian kekalahan yang mengagetkan banyak orang ini menunjukan, politik dewasa ini benar-benar menggunakan hati nurani. Bukan cuma mengkultuskan seorang individu saja sebagaimana ketua umum di partai-partai besar lain. Saya kembali mengkutip tulisan peneliti senior di Sugeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit di Kompas (25/05/2010).
"Kita memang sedang memasuki zaman baru, yaitu era ngomong bener tumindak temen. Orang yang bicara benar dan bertindak jujur akan menang. Tuhan tidak tidur."
Yang menyesakkan lagi, di rubrik Pojok harian Kompas membuat komentar atas kekalahan telak Andi ini dengan nada yang cukup "menampar", bahwa "Kemenangan Anas momentum alih generasi Demokrat. Uang dan ketampanan bukan segalanya!"
Wah, kayaknya Dorce kudu ganti idola nih kalo begitu?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
GARA-GARA FILM "GLEE", 7 ELEVEN BANGKIT LAGI
Film Glee memang fenomenal. Betapa tidak, gara-gara film ini, 7 Eleven jadi ngetop lagi. Padahal dahulu kala, zaman saya, 7 Eleven sempat muncul, merajai, tetapi kemudian kalah jauh dengan AM-PM atau toko serba ada kayak begitu. Namun kini, 7 Eleven jadi tongkrongan anak-anak muda metropolitan.

Mesin pembuat slurpee. Self service.
Indikasi kebangkitan 7 Eleven bisa Anda lihat sendiri di gedung Fuji Image Plaza (FIP). Dulu, ketika gedung itu masih dikenal sebagai gedung FIP, pengunjung bisa dihitung dan kepentingannya bisa ditebak. Kalo nggak cuci atau cetak film, ya beli bingkai foto. Kendaraan yang diparkir di depan gedung itu pun biasa-biasa aja. Tapi sekarang....wah, buat parkir mobil aja syusah, bo!
Apa yang membuat 7 Eleven bangkit lagi?
Salah satunya adalah slurpee. Itu minuman yang biasa built in alias muncul di scene-scene Glee. Sebenarnya minuman ini cuma biasa. Cuma soft drink yang dibekukan dan dicacah menjadi es yang frozen. Ya, namanya juga anak-anak muda. Ketika ada sesuatu yang kayaknya "unik", "lucu", "menarik", dan "patut dicoba" di televisi, biasanya dihajar.

Pelanggan dibuat senyaman mungkin. Yang pasti makanan dan fasilitas komplet buat nongkrong, termasuk hot spot.
Namun kalo saya amati, tempat-tempat yang jadi tongkrongan anak muda juga menawarkan fasilitas dan kenyamanan. Ada tenda-tenda payung buat ngerumpi, waktu ngobrol nggak dibatasi, food & baverage yang tersedia beragam sehingga kalo laper bisa makan apa aja, dan hot spot wajib hukumnya. Selain 7 Eleven, beberapa tahun ini konsep Kentucky Fried Chicken (KFC) pun sudah berubah, yakni ke family dan anak-anak muda. Nggak jadul kayak dahulu kala.
Saya bukanlah penggemar Glee (lebih suka nonton Desperate Housewife), bukan pula ABG yang senang menyruput slurpee. Kalo bukan karena anak-anak saya, saya nggak akan pernah nongkrong di Matraman dengan anak-anak muda itu. Parkirnya syusah, bo!
all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Mesin pembuat slurpee. Self service.
Indikasi kebangkitan 7 Eleven bisa Anda lihat sendiri di gedung Fuji Image Plaza (FIP). Dulu, ketika gedung itu masih dikenal sebagai gedung FIP, pengunjung bisa dihitung dan kepentingannya bisa ditebak. Kalo nggak cuci atau cetak film, ya beli bingkai foto. Kendaraan yang diparkir di depan gedung itu pun biasa-biasa aja. Tapi sekarang....wah, buat parkir mobil aja syusah, bo!
Apa yang membuat 7 Eleven bangkit lagi?
Salah satunya adalah slurpee. Itu minuman yang biasa built in alias muncul di scene-scene Glee. Sebenarnya minuman ini cuma biasa. Cuma soft drink yang dibekukan dan dicacah menjadi es yang frozen. Ya, namanya juga anak-anak muda. Ketika ada sesuatu yang kayaknya "unik", "lucu", "menarik", dan "patut dicoba" di televisi, biasanya dihajar.

Pelanggan dibuat senyaman mungkin. Yang pasti makanan dan fasilitas komplet buat nongkrong, termasuk hot spot.
Namun kalo saya amati, tempat-tempat yang jadi tongkrongan anak muda juga menawarkan fasilitas dan kenyamanan. Ada tenda-tenda payung buat ngerumpi, waktu ngobrol nggak dibatasi, food & baverage yang tersedia beragam sehingga kalo laper bisa makan apa aja, dan hot spot wajib hukumnya. Selain 7 Eleven, beberapa tahun ini konsep Kentucky Fried Chicken (KFC) pun sudah berubah, yakni ke family dan anak-anak muda. Nggak jadul kayak dahulu kala.
Saya bukanlah penggemar Glee (lebih suka nonton Desperate Housewife), bukan pula ABG yang senang menyruput slurpee. Kalo bukan karena anak-anak saya, saya nggak akan pernah nongkrong di Matraman dengan anak-anak muda itu. Parkirnya syusah, bo!
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Sunday, May 23, 2010
BUKAN "BENGAWAN SOLO" CIPTAAN GESANG
Sejak bergulirnya berita kemiringan gedung DPR sebanyak 7 derajat, saya langsung penasaran ingin mengunjungi gedung tersebut. Biasalah, ingin tahu lebih dekat dan sok ingin menyelidiki kebenaran itu.
Berhari-hari nggak ada undangan ke gedung DPR atau punya janji berjumpa dengan anggota MPR. Nggak enak kan ke kompleks DPR tapi nggak punya janji dengan siapa-siapa.
Padahal sebelum heboh gedung DPR miring, saya sering bolak-balik ke situ, tepatnya ke TV Parlemen yang ada di gedung Nusantara II. Ada urusan yang kudu diselesaikan dengan teman-teman di TV Parlemen. Bahkan sebelumnya, saya dan kru dari tvOne sampat melakukan shooting di kompleks DPR, yakni ketika shooting program "Titian Kalbu". Kebetulan ustadz yang mengisi program ini adalah anggota DPR.

Alhamdulillah Mei lalu saya sempat diundang salah satu anggota DPR yang berkantor di lantai 13 di gedung yang digosipkan miring itu. Lagi-lagi kebetulan saya ditawari jabatan yang cukup keren. Bukan, bukan jadi anggota DPR, lho. Pokoknya ada lah! Nah, itulah kesempatan emas yang membuat saya merasakan gedung miring.
You know what? Ketika saya berada di gedung miring yang berjudul gedung Nusantara I ini, jalan saya jadi miring. Begitu masuk ke dalam lift, liftnya pun miring. Saya merasa, otak saya pun miring. Anggota tubuh saya ikut-ikutan miring, termasuk bibir saya jadi miring. Semua yang ada di situ terlihat miring.
"Wah, jadi berita yang dibilang gosip itu benar! Gedung DPR memang miring. Jadi gedung ini perlu perbaikan."
Kisah saya soal miring-miring di atas tadi nggak bener, kok. Jalan saya tetap normal. Lift pun juga normal, nggak miring. Otak saya dan otak-otak lain, juga normal. Jadi nggak perlu perbaikan sampai Rp 1,8 triliun dong? Ah, entahlah! Saya nggak tahu kenapa perlu diperbaiki. Bukankah lebih baik kemiringan gedung itu dijadikan satu objek wisata, yakni keajaiban yang dimiliki Indonesia sebagaimana Menara Piza di Italia?
Ternyata bukan cuma kehebohan soal gedung DPR yang miring. Kalo di warga negara meributkan soal gedung miring, sebaliknya di kalangan internal anggota DPR/ MPR justru meributkan soal keberadaan "Bengawan Solo" yang ada di gedung DPR, yakni tepatnya di antara Nusantara 1 dan Nusantara 2.
Kenapa "Bengawan Solo" diributkan?

Please jangan kira "Bengawan Solo" kali ini soal meninggalnya sang pencipta dan kemudian ada orang yang mengklaim lagu Bengawan Solo ciptaannya, bukan ciptaan (alm.) Gesang. "Bengawan Solo" dalam konteks ini adalah sebuah kafe tempat nongkrong ala Starbucks.
Di periode Ketua DPR maupun MPR sebelumnya, nggak ada kafe yang bisa mendapatkan tempat di kompleks DPR, apalagi di depan antara gedung Nusantara 1 dan Nusantara 2. Namun ketika periode 2009-2014, muncul kafe yang bernama "Bengawan Solo".
Kira-kira Anda bisa menebak kenapa "Bengawan Solo" hadir di gedung DPR?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Berhari-hari nggak ada undangan ke gedung DPR atau punya janji berjumpa dengan anggota MPR. Nggak enak kan ke kompleks DPR tapi nggak punya janji dengan siapa-siapa.
Padahal sebelum heboh gedung DPR miring, saya sering bolak-balik ke situ, tepatnya ke TV Parlemen yang ada di gedung Nusantara II. Ada urusan yang kudu diselesaikan dengan teman-teman di TV Parlemen. Bahkan sebelumnya, saya dan kru dari tvOne sampat melakukan shooting di kompleks DPR, yakni ketika shooting program "Titian Kalbu". Kebetulan ustadz yang mengisi program ini adalah anggota DPR.

Alhamdulillah Mei lalu saya sempat diundang salah satu anggota DPR yang berkantor di lantai 13 di gedung yang digosipkan miring itu. Lagi-lagi kebetulan saya ditawari jabatan yang cukup keren. Bukan, bukan jadi anggota DPR, lho. Pokoknya ada lah! Nah, itulah kesempatan emas yang membuat saya merasakan gedung miring.
You know what? Ketika saya berada di gedung miring yang berjudul gedung Nusantara I ini, jalan saya jadi miring. Begitu masuk ke dalam lift, liftnya pun miring. Saya merasa, otak saya pun miring. Anggota tubuh saya ikut-ikutan miring, termasuk bibir saya jadi miring. Semua yang ada di situ terlihat miring.
"Wah, jadi berita yang dibilang gosip itu benar! Gedung DPR memang miring. Jadi gedung ini perlu perbaikan."
Kisah saya soal miring-miring di atas tadi nggak bener, kok. Jalan saya tetap normal. Lift pun juga normal, nggak miring. Otak saya dan otak-otak lain, juga normal. Jadi nggak perlu perbaikan sampai Rp 1,8 triliun dong? Ah, entahlah! Saya nggak tahu kenapa perlu diperbaiki. Bukankah lebih baik kemiringan gedung itu dijadikan satu objek wisata, yakni keajaiban yang dimiliki Indonesia sebagaimana Menara Piza di Italia?
Ternyata bukan cuma kehebohan soal gedung DPR yang miring. Kalo di warga negara meributkan soal gedung miring, sebaliknya di kalangan internal anggota DPR/ MPR justru meributkan soal keberadaan "Bengawan Solo" yang ada di gedung DPR, yakni tepatnya di antara Nusantara 1 dan Nusantara 2.
Kenapa "Bengawan Solo" diributkan?

Please jangan kira "Bengawan Solo" kali ini soal meninggalnya sang pencipta dan kemudian ada orang yang mengklaim lagu Bengawan Solo ciptaannya, bukan ciptaan (alm.) Gesang. "Bengawan Solo" dalam konteks ini adalah sebuah kafe tempat nongkrong ala Starbucks.
Di periode Ketua DPR maupun MPR sebelumnya, nggak ada kafe yang bisa mendapatkan tempat di kompleks DPR, apalagi di depan antara gedung Nusantara 1 dan Nusantara 2. Namun ketika periode 2009-2014, muncul kafe yang bernama "Bengawan Solo".
Kira-kira Anda bisa menebak kenapa "Bengawan Solo" hadir di gedung DPR?
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
DULU GAK DIANGGAP, KINI JADI PILIHAN
Ya begitulah nasib SMP dan SMA Diponegero saat ini. Ibarat pepatah, dari nasib buruk, berubah bernasib baik.
Beberapa tahun lalu, sekolah ini bukan menjadi pilihan yang asyik buat dijadikan tempat menuntut ilmu. Mohon maaf, citra yang kurang asyik seringkali terdengar mengenai sekolah yang berada persis di samping pasar Sunan Giri ini.

Namun, kurang lebih empat tahun ini, SMP dan SMA Diponegoro berubah total. Sekolah ini jauh banget dari beberapa tahun lalu. Bahkan boleh dibilang nggak kalah dengan sekolah yang ada di seberangnya, yakni Al Azhar, Rawamangun, Jakarta Timur.

Siang ini saya menyempatkan diri masuk ke pekarangan sekolah ini. Kebetulan saya memang ingin sholat di masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SMP dan SMA Diponegoro. Selain ingin merasakan sholat di masjid yang baru saja diresmikan oleh H. Probosutedjo selaku Dewan Pembina HM Soeharto Center dan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, saya juga ingin melihat dari dekat fasilitas lain yang dimiliki Diponegoro.

Luar biasa! Barangkali itulah kata yang tepat buat mengungkapkan ekspresi saya melihat apa yang ada di Diponegoro ini. Totally different! Beda banget dengan apa yang saya lihat saat masih sekolah dulu. Ketika masih langganan bolos dan nongkrong di Sunan Giri atau beli poster di pojokan Pasar Sunan Giri. Diponegoro benar-benar beda. Dulu nggak dianggap, sekarang jadi pilihan.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Beberapa tahun lalu, sekolah ini bukan menjadi pilihan yang asyik buat dijadikan tempat menuntut ilmu. Mohon maaf, citra yang kurang asyik seringkali terdengar mengenai sekolah yang berada persis di samping pasar Sunan Giri ini.

Namun, kurang lebih empat tahun ini, SMP dan SMA Diponegoro berubah total. Sekolah ini jauh banget dari beberapa tahun lalu. Bahkan boleh dibilang nggak kalah dengan sekolah yang ada di seberangnya, yakni Al Azhar, Rawamangun, Jakarta Timur.

Siang ini saya menyempatkan diri masuk ke pekarangan sekolah ini. Kebetulan saya memang ingin sholat di masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SMP dan SMA Diponegoro. Selain ingin merasakan sholat di masjid yang baru saja diresmikan oleh H. Probosutedjo selaku Dewan Pembina HM Soeharto Center dan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, saya juga ingin melihat dari dekat fasilitas lain yang dimiliki Diponegoro.

Luar biasa! Barangkali itulah kata yang tepat buat mengungkapkan ekspresi saya melihat apa yang ada di Diponegoro ini. Totally different! Beda banget dengan apa yang saya lihat saat masih sekolah dulu. Ketika masih langganan bolos dan nongkrong di Sunan Giri atau beli poster di pojokan Pasar Sunan Giri. Diponegoro benar-benar beda. Dulu nggak dianggap, sekarang jadi pilihan.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Friday, May 14, 2010
IKLAN-IKLAN JADOEL part # 1
Sunday, May 9, 2010
LIMABELAS TAHUN SEBELUM SAYA LAHIR
Monumen Nasional (Monas) merupakan bangunan monumental yang berada di pusat ibu kota Republik Indonesia, yakni DKI Jakarta. Monumen yangi dibangun pada tahun 1961 ini menjadi lambang perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Foto yang saya temukan ini adalah saat pembangunan monas pada tahun 1961. Sekadar info, pembangunan monas berlangsung dari tahun 1961-1975 (lihat buku Pemugaran Monumen Nasional Tahap I 1982-1984 terbitan Depdikbud RI, 1985).

Empat mesin giling yang sedang menghaluskan jalan di sekitar monas.
Monas berada di sebuah tanah lapang seluas 800 ribu m2 dengan ketinggian 4 meter di atas permukaan air laut. Sebelum dibuat oleh arsitek F. Silaban dan Soedarsono, Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno sempat membuat sayembara gambar tugu monas ini yang dilakukan mulai dari tanggal 17 Februari 1955-Mei 1956. Namun tak seorang pun yang berhasil memenangkan lomba ini. Tak heran Soekarno membuat sayembara lagi yang berlangsung 10 Mei 1960-15 Oktober 1960. Lagi-lagi gambar peserta belum memuaskan Soekarno.
Akhir kisah, Soekarno akhirnya menunjuk dua arsitek (F. Silaban dan Seodarsono) membuat gambar monas. Tepat pada tahun 1961, tugu yang punya ketinggian 131,70 ini mulai dibangun. Pembangunan monas ini tepat limabelas tahun sebelum saya hidup di muka bumi ini.
Foto yang saya temukan ini adalah saat pembangunan monas pada tahun 1961. Sekadar info, pembangunan monas berlangsung dari tahun 1961-1975 (lihat buku Pemugaran Monumen Nasional Tahap I 1982-1984 terbitan Depdikbud RI, 1985).
Empat mesin giling yang sedang menghaluskan jalan di sekitar monas.
Monas berada di sebuah tanah lapang seluas 800 ribu m2 dengan ketinggian 4 meter di atas permukaan air laut. Sebelum dibuat oleh arsitek F. Silaban dan Soedarsono, Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno sempat membuat sayembara gambar tugu monas ini yang dilakukan mulai dari tanggal 17 Februari 1955-Mei 1956. Namun tak seorang pun yang berhasil memenangkan lomba ini. Tak heran Soekarno membuat sayembara lagi yang berlangsung 10 Mei 1960-15 Oktober 1960. Lagi-lagi gambar peserta belum memuaskan Soekarno.
Akhir kisah, Soekarno akhirnya menunjuk dua arsitek (F. Silaban dan Seodarsono) membuat gambar monas. Tepat pada tahun 1961, tugu yang punya ketinggian 131,70 ini mulai dibangun. Pembangunan monas ini tepat limabelas tahun sebelum saya hidup di muka bumi ini.
ADA YANG MEMPERINDAH, ADA YANG MERUSAK TAMAN
Tulisan saya di Wikimu mengenai Green Pramuka Residences (GPR) yang dipublikasikan pada 4 April 2010 lalu, mendapat beberapa tanggapan. Ada yang pro, tidak sedikit yang kontra. Yang kontra mengatakan, saya dianggap memfitnah, karena apa yang saya tulisa tidak akurat.
Mohon maaf kalo ada yang merasa dirugikan. Tetapi saya sama sekali tidak bermaksud mendeskriditkan pihak-pihak mana pun, baik itu pihak GPR maupun Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Tata Kota. Tulisan saya pun bukan pesanan dari salah satu pihak yang membayar saya. Oh, NO! Saya semata-mata menulis apa adanya, karena saya ingin menjadikan kota saya hijau kembali. Green, sebagaimana visi GPR.

Papan tanda milik Green Pramuka Residences di lahan RTH yang sedang mereka percantik.
Dalam tulisan saya berjudul Demi Akses Tega Memotong RTH, saya menulis tentang sebuah jalan yang dibuat untuk kepentingan marketing maupun developer GPR yang menggunakan lahan RTH. Sebuah tanggapan mengatakan pihak GPR sudah berkordinasi dengan Pemda dan lahan yang “dipotong” buat jalan tersebut akan diperbagus lagi.
Ketika menggowes sepeda di Minggu pagi yang cerah ini, saya menyempatkan diri melihat RTH yang dahulu merupakan tempat para penjual rotan dan keramik yang berada di pojok jalan Rawasari, Jakarta Pusat. Alhamdulillah, pihak GPR benar-benar merealisasikan itikad baiknya buat mengganti lahan RTH yang sempat “dipotong” buat jalan itu. Pagi itu tiga tukang sedang sibuk merapikan tanah baru yang kebetulan ada di areal situ. Nampak beberapa gundukan tanah yang nantinya akan diratakan dan ditanami rumput.

Taman yang rusak parah, dimana taman ini berada di depan proyek SPBU Shell yang sedang digarap.
Sementara pihak GPR berusaha mempercantik RTH, eh tak jauh dari tempat tersebut, sebuah taman rusak parah. Taman tersebut tepat di depan bengkel Auto Look, jalan Jenderal Ahmad Yani, Jakarta Pusat. Konon menurut orang yang tinggal dekat situ, di depan tanam yang rusak ini akan berdiri SPBU Shell. Weleh! Weleh! Apa lagi, nih!
Kalo lihat pagar proyek yang terbuat dari seng, kayaknya memang Shell. Sebab ada warna Shell, yakni kuning dan merah. Buat memastikan lagi agar lebih akurat, saya juga mendekati papan proyek. Benar, di depan taman yang rusak akan berdiri SPBU Shell, dimana di papan tersebut tercatat nama pemiliknya, yakni Ronny Wibowo. Supaya saya tidak dibilang memfitnah, silahkan lihat papan proyek.

Buat memastikan proyek di depan taman yang rusak adalah proyek SPBU Shell, saya memfoto papan proyek. Di papan tersebut ada nama pemilik SPBU Shell ini. Moga-moga bukan gara-gara mau dibanggung SPBU, taman jadi korban.
Beberapa saat saya mengamati taman yang rusak parah itu. Terus terang saya tidak habis pikir kenapa taman ini dirusak? Apa salah taman ini? Padahal tidak jauh dari taman yang rusak ini, ada taman yang indah sekali persis di depan perusahaan Bypassindo yang menjual beberapa merek mobil, suku cadang, maupun perawatan. Sambil menggowes, saya pulang dengan rasa sedih. “Satu lagi taman yang dirusak. Demi kepentingan pribadi, tega mengorbankan kepentingan umum”.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Mohon maaf kalo ada yang merasa dirugikan. Tetapi saya sama sekali tidak bermaksud mendeskriditkan pihak-pihak mana pun, baik itu pihak GPR maupun Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Tata Kota. Tulisan saya pun bukan pesanan dari salah satu pihak yang membayar saya. Oh, NO! Saya semata-mata menulis apa adanya, karena saya ingin menjadikan kota saya hijau kembali. Green, sebagaimana visi GPR.
Papan tanda milik Green Pramuka Residences di lahan RTH yang sedang mereka percantik.
Dalam tulisan saya berjudul Demi Akses Tega Memotong RTH, saya menulis tentang sebuah jalan yang dibuat untuk kepentingan marketing maupun developer GPR yang menggunakan lahan RTH. Sebuah tanggapan mengatakan pihak GPR sudah berkordinasi dengan Pemda dan lahan yang “dipotong” buat jalan tersebut akan diperbagus lagi.
Ketika menggowes sepeda di Minggu pagi yang cerah ini, saya menyempatkan diri melihat RTH yang dahulu merupakan tempat para penjual rotan dan keramik yang berada di pojok jalan Rawasari, Jakarta Pusat. Alhamdulillah, pihak GPR benar-benar merealisasikan itikad baiknya buat mengganti lahan RTH yang sempat “dipotong” buat jalan itu. Pagi itu tiga tukang sedang sibuk merapikan tanah baru yang kebetulan ada di areal situ. Nampak beberapa gundukan tanah yang nantinya akan diratakan dan ditanami rumput.
Taman yang rusak parah, dimana taman ini berada di depan proyek SPBU Shell yang sedang digarap.
Sementara pihak GPR berusaha mempercantik RTH, eh tak jauh dari tempat tersebut, sebuah taman rusak parah. Taman tersebut tepat di depan bengkel Auto Look, jalan Jenderal Ahmad Yani, Jakarta Pusat. Konon menurut orang yang tinggal dekat situ, di depan tanam yang rusak ini akan berdiri SPBU Shell. Weleh! Weleh! Apa lagi, nih!
Kalo lihat pagar proyek yang terbuat dari seng, kayaknya memang Shell. Sebab ada warna Shell, yakni kuning dan merah. Buat memastikan lagi agar lebih akurat, saya juga mendekati papan proyek. Benar, di depan taman yang rusak akan berdiri SPBU Shell, dimana di papan tersebut tercatat nama pemiliknya, yakni Ronny Wibowo. Supaya saya tidak dibilang memfitnah, silahkan lihat papan proyek.
Buat memastikan proyek di depan taman yang rusak adalah proyek SPBU Shell, saya memfoto papan proyek. Di papan tersebut ada nama pemilik SPBU Shell ini. Moga-moga bukan gara-gara mau dibanggung SPBU, taman jadi korban.
Beberapa saat saya mengamati taman yang rusak parah itu. Terus terang saya tidak habis pikir kenapa taman ini dirusak? Apa salah taman ini? Padahal tidak jauh dari taman yang rusak ini, ada taman yang indah sekali persis di depan perusahaan Bypassindo yang menjual beberapa merek mobil, suku cadang, maupun perawatan. Sambil menggowes, saya pulang dengan rasa sedih. “Satu lagi taman yang dirusak. Demi kepentingan pribadi, tega mengorbankan kepentingan umum”.
all photos copyright by Brillianto K. Jaya
Subscribe to:
Posts (Atom)