Friday, September 17, 2010

GALI TERUS, PERSETAN DENGAN WARGA

Setidaknya ada tiga perusahaan milik negara, dimana salah satu proyek “utama” mereka adalah gali lubang-tutup lubang. Ketiga perusahaan tersebut kalau tidak Telkom, PLN, ya PAM. Sepertinya tak ada hari tanpa menggali lubang.

Benar, proyek tersebut dalam rangka melakukan sebuah instalasi, baik itu kabel telepon, listrik, atau pipa air. Namun, saya melihatnya mereka tidak punya visi atau berkordinasi satu sama lain, sehingga begitu sekali menggali, tiga perusahaan bisa sekaligus bisa ikut “menikmati”. Tapi dasar saya bodoh, jadi tidak tahu kalau gali lubang-tutup lubang termasuk bagian dari proyek masing-masing instansi. Kalau sekaligus bikin lubang untuk tiga perusahaan, uang proyek tidak dinikmati oleh oknum-oknum di tiga perusahaan itu dong?


Menggali tanpa pemberitahuan sebelumnya pada seluruh warga di situ. Apakah warga sebagai konsumen tak punya hak untuk menolak dengan alasan tanpa pemberitahuan?

Buat konsumen pengguna jalan, hal ini tentu sangat merugikan. Kenapa? Lubang-lubang mereka menambah kemacetan jalan. Baiklah kalau cuma sekali seumur hidup lubang digali dan kemudian setelah ditutup tidak akan digali lagi. Namun yang terjadi, lubang-lubang yang digali itu sebagian besar juga pernah digali sebelumnya. Uh, dasar memang ingin dijadikan proyek aja!

Yang menyebalkan, ketika sudah ditutup lubangnya, jalan yang tadinya bagus, menjadi tidak sesuai dengan asli. Penutupan lubang cenderung asal-asalan. Hebatnya, kita sebagai konsumen pengguna jalan sulit sekali untuk protes langsung pada si pemilik proyek. Setahu saya sampai sekarang tidak pernah terjadi perusahaan penggali lubang itu yang diadili hanya gara-gara menutup lubang jalan asal-asalan. “Nggak penting banget!” begitu pikir kita.

Terakhir di jalan dekat rumah saya, PAM tiba-tiba menggali jalan sepanjang beberapa ratus meter. Pengalian ini tanpa ada surat pemberitahuan sebelumnya dari Kelurahan kepada warga sekitar. Ibaratnya, tidak ada ba-bi-bu atau basa-basi sedikit pun dari PAM untuk menyusahkan warga, karena ada penggalian. Sungguh egois! Tapi sekali lagi, konsumen tidak dianggap oleh perusahaan negara ini. “Ah, cuekin aja! Kalau ada yang protes, biarkan saja,” begitu pikir PAM.


Mobil-mobil warga di situ tidak bisa lewat gara-gara ada galian, kecuali motor. Kita lihat apakah PAM akan menutup galian tersebut seperti sediakan alias tidak asal-asalan.

Padahal jalanan di kampung dekat rumah saya itu cukup vital. Ada banyak mobil yang hilir mudik melintas di situ. Jadi sungguh aneh jika sebuah perusahaan sekelas PAM tidak memiliki etika. Namun barangkali etika perusahaan PAM atau PLN memang begitu kali ya? Tanpa beri tahu, langsung gali lubang. Tanpa ada surat, tiba-tiba air PAM mati atau listrik byar pet.

Beruntunglah warga di kampung ini baik. Padahal bisa saja warga sekitar situ protes, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Mereka merasa dirugikan dan PAM sangat menyusahkan. Mobil-mobil mereka terpaksa harus diungsikan dan PAM tidak merasa bertanggungjawab untuk menyediakan tempat parkir, apalagi sampai menjaga keamanan.

Apakah lubang-lubang sedalam 1,5 meter ini akan ditutup dengan baik seperti sediakala? Saya akan perlihatkan kembali pada Anda proyek gali lubang-tutup lubang ini. So, ikuti kisah selanjutnya. Sebab, proyek ini sudah berjalan hampir satu minggu ini dan sepertinya masih akan menghabiskan beberapa hari lagi.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

2 comments:

ReBorn said...

daerah mana tuh sob?
tempat gw jg ada yang nutup baliknya ga bener, sampe bus yang lewat bannya ambles. ghehehe...

salam kenal ya. :)

GOKILS DAD said...

Ini daerah di Rawasari, tepatnya di gang kabel (ada jalan yg dulunya gang di bawah kabel/ sutet) yg skrang namanya jalan Kebahagiaan, Rawasri, Jakarta Pusat.

Tuh, kan apa? Selalu begitu. Galinya gak pakai izin, begitu selesai pasti nutupnya asal-asalan. Itu kebiasaan perusahaan2 yg saya tulis di atas itu.

Kita lihat, jika di dekat rumah saya itu nutupnya asal2an, apalagi ada yg sampai celaka, saya akan melakukan advokasi.

Salam kenal juga, bro!