Monday, August 13, 2012

Film “Omar” dan Sosok Presiden RI 2014

MNC TV boleh berbangga. Televisi ini berhasil merebut hati penonton televisi nasional di Ramadhan 1433 H ini. Di antara program-program komedi yang tak memberikan pesan edukasi, film Omar yang diputar Senin-Minggu pkl 04:00 wib di MNC TV ini berhasil rating tinggi. 

Menurut AC Nielsen, rata-rata rating film Omar berkisar 2,5 dengan share 25 persen. Bahkan di weekend, film Omar sempat meraih rating di angka 4. Sekadar info, rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Hitung-hitungannya, jumlah penonton program dikali 100 persen dibagi populasi televisi. 9 kota besar di Indonesia dengan jumlah survey ke 49,5 juta penonton televisi. Sementara share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

Bloggers, Omar memang menjadi film yang sangat menarik. Betapa tidak, beliau adalah seorang Khalifah dimana di masa kekuasaannya Islam tumbuh dengan pesat. Melalui kepemimpinannya, ia berhasil mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syiria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Tentu sebagian dari Anda masih ingat dengan kisah Umar dan rakyat kelaparan berikut ini:

Suatu malam, Sang Khalifah menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya nyaring terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat melihat ada seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.

Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang Ibu berkata, “Tunggulah! Sebentar lagi makanannya akan matang.”

Selagi Umar memerhatikan di luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan sebentar lagi akan matang.

Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, dia memasuki gubuk itu dan bertanya kepada sang ibu, “Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”

“Itu karena mereka sangat lapar,” jawab si ibu.

“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi itu?”

“Tidak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.

“Ya. Saya sudah tidak memiliki keluarga ataupun suami tempat saya bergantung. Saya sebatang kara,” jawab si ibu datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah? Sehingga beliau dapat menolong Ibu beserta anak-anak Ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” nasihat Umar.

“Khalifah telah berbuat zalim kepada saya,” jawab si ibu.

“Bagaimana Khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” sang Khalifah ingin tahu.

“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang senasib dengan saya.”

Umar berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar, Bu. Saya akan segera kembali!”

Pada malam yang telah larut itu, Umar segera bergegas ke Madinah, menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya membantu membawa minyak samin untuk memasak.

Maka, ketika Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada si ibu beserta anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tidak dikenal ini.

Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.

Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

***

Umar bukan cuma dihormati umat Islam. Di mata pemimpin Nasrani, beliau sangat disegani. Betapa tidak, ketika pasukan Muslim yang tengah mengepung kota Yerusalem, membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi sempat ketakutan. Harap maklum, warga Kristen masih trauma dengan dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya. Pasukan Persia melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Namun, pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Uskup Agung Sophronius menyerahkan kota suci itu ke khalifah Umar bin Khattab. 

Lain kisah, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat ini Perjanjian Aelia (istilah lain dari Yerusalem) dirumuskan dan mencapai kata sepakat. Berdasarkan perjanjian Aelia, Umar menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim. Mereka yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. 

Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Luar biasa bukan? Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi kota Muslim. Melihat sejarah tersebut, sesungguhnya ketakutan sebagian orang terhadap syariat Islam yang diterapkan di sebuah Negara, sangat tidak beralasan.

Sosok Umar yang tegas dan sangat bersahaja, memang bisa menjadi contoh tauladan kita semua, terutama untuk pemimpin di negeri ini. Saya membayangkan, andai Presiden Indonesia 2014 nanti memiliki sosok sebagaimana Umar Bin Khattab? Namun terus terang, figur-figur calon Presiden 2014 yang sudah mulai unjuk diri, belum ada yang pantas disejajarkan dengan ketauladanan Umar. Semoga Capres-Capres sempat menyaksikan film Omar dan terinspirasi untuk menjadikan gaya kepimpimpinan Umar untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.

No comments: