Wednesday, May 20, 2009

SELAMAT JALAN MAS ARIEF....

Entahlah. Ketika menyebut nama Arief Rosendar yang gw ingat profil karyawan yang “lurus”. Kenapa lurus gw kasih apostrof? Ini butuh pembuktian. Namun buat gw, Arief masuk kategori karyawan yang nggak korup, bertanggungjawab terhadap pekerjaan, dan sederhana.

Entahlah. Apakah tulisan gw terlalu berlebihan sehingga bertendensi pada kultus individu alias pemujaan atau ini hanya “kado” dari seorang teman pada teman yang nggak akan pernah berjumpa lagi? Namun yang pasti, nggak ada tendensi apa pun dari tulisan ini. Gw cuma ingin kita sama-sama belajar dari apa yang pernah teman kita lakukan. Tentang sikap apa yang almarhum pernah tunjukan. Dengan begitu, barangkali ada manfaat buat kita pelajari, ya nggak?

Kalo nggak salah gw pertama kali kerjasama dengan almarhum pada saat memproduseri program “Campur-Campur” di sekolah gw yang lama. Di program yang dipandu oleh Rina Gunawan itu, almarhum nggak pernah menunjukan sikap bossy alias nge-bos. Padahal jabatan waktu itu Executive Producer.

You know what? Sesungguhnya di beberapa televisi, apalagi di luar negeri sana, Executive Producer (selanjutnya kita singkat aja ya jadi EP) dianggap manusia setengah Dewa dalam sebuah program televisi. Kenapa? Di posisi ini, seorang EP bisa membuat kebijakan agar sebuah program menjadi yahud. Caranya? Nggak cuma mengobrak-abrik konsep kreatif, tapi juga membongkar pasang kru produksinya. Kalo Producer-nya nggak perform, EP berhak menggantikan dengan Producer lain. Kalo tim kreatifnya kurang kreatif, dengan “tangan besi” EP mempunyai wewenang penuh buat mencopot dan mengganti dengan tim kreatif lain.

“Almarhum nggak kayak EP-EP lain...”

Almarhum punya style tersendiri membimbing Producer atau tim kreatifnya. Beliau nggak menggunakan jabatan EP buat menunjukan keperkasaannya. Namun menggunakan metode komunikasi empati. Istilah ini dipopulerkan oleh John Peter dan saya kutip dari buku karangan Dr. Phil Astrid S. Susanto dalam bukunya, “Komunikasi Massa” (Percetakan Binacipta, Maret 1986).

Bahwa hakekat komunikasi adalah mau menempatkan diri di tempat pihak lain (hal 7). Hal tersebut dimaksudkan sebagai sebuah bentuk empati. Kesediaan buat menempatkan diri dalam kedudukan atau tempat orang lain ini merupakan suatu sikap psikologis, yang berintikan: itikad baik dan usaha buat mencapai persesuaan paham.

Pelaku komunikasi yang mempunyai empati harus berusaha mengubah situasi “subjek-objek” menjadi situasi “subjek-subjek”. Istilah John Peter adalah “becoming the other”. Kalo diterjemahkan secara harafiah, nggak ada yang namanya atasan atau bawahan. Atasan cuma simbol atau jabatan. Tapi ketika dihadapkan pada sebuah masalah, atasan tetap memanusiakan bawahan. Nah, prinsip inilah yang gw lihat pada sosok almarhum. Beliau mempraktekkan teori John Peter, meski gw yakin almarhum nggak pernah membaca buku tentang “Komunikasi Massa” ini.


Ini foto gw terakhir berada di "sekolah" lama gw. Gw cuma punya foto satu-satunya ini dengan almarhum.


Selama gw jadi anak buah beliau, jarang sekali gw mendapat undangan meeting. Beliau lebih suka duduk berdua dengan Producer atau kreatif buat ngobrolin masalah. Pendekatan personal ini agaknya jauh beda dengan EP-EP lain yang lebih suka mengumpulkan anak buahnya duduk di satu meja. Padahal duduk di satu meja belum tentu efektif menyelesaikan masalah. Secara psikologis, duduk di sebuah meja seolah menciptakan hirarki. Ada atasan, ada bawahan. Atasan memimpin rapat, bawahan mengunggkapkan pendapat.

Gw pernah punya atasan yang gaya memimpinnya kayak tentara. Sok galak dan sok tegas. Padahal galak belum tentu tegas. Tegas bukan berarti harus galak. Ini gw alami sendiri sama atasan gw tersebut. Ketika ada sebuah masalah, beliau berperan sebagai orang galak. Ternyata galaknya beliau nggak konsisten. Awalnya ngomong A, eh lambat laun jadi ngomong B. Plintat-plintut istilah orang Betawi. Sementara almarhum, kelihatannya lemah-lembut, namun statementnya kalo dipikir-pikir konsisten.

Selain soal gaya kepemimpinan almahum, ada pelajaran yang gw petik dari beliau, yakni soal kesederhanaan. Sebenarnya dengan menjadi seorang EP, almarhum bisa saja naik mobil terus menerus atau minta dijemput dari kantor. Fasilitas di jabatannya terakhir memungkinkan buat itu. Namun dengan kesederhanaannya, beliau nggak selalu menggandalkan mobil sebagai kendaraannya sehari-hari. Sesuka-suka beliau naik kendaraan menuju kantor. Kadang mobil, kadang motor, kadang naik kendaraan umum. Padahal rumahnya cukup jauh, cong!

Beda banget dengan rekan-rekan sekerja almarhum, bahkan bawahannya yang punya mobil lebih bagus dari beliau. Soal harta benda lainnya pun beliau nggak begitu show off alias pamer. Yang gw tahu, almarhum bukan tipikal gadget freak alias pencandu produk gadget yang lagi happening. Handphone-nya nggak selalu berganti kayak rekan-rekannya, yang selalu gonta-ganti handset tiap kali ada produk baru. Padahal gonta-ganti cuma buat gaya-gayaan. Itu pun bayarnya nyicil, ngutang dengan pihak kartu kredit.

Gw kenal blackberry dari almarhum tahun 2003. Beliau punya blackbarry bukan gara-gara mau pamer kayak orang-orang sekarang ini. Blackberry yang dimiliki beliau itu adalah pemberian dari kantor. Setiap EP dan pejabat-pejabat di atas EP diberikan blackbarry gratis. Awalnya beliau menolak diberikan blackberry. Namun karena ada perintah wajib pakai, mau nggak mau beliau kudu menggunakannya.

“Supaya cepat balas e-mail,” kata almarhum waktu itu.

video
Iring-iringan mobil yang membawa jenazah ke peristirahatan beliau yang terakhir. Banyak yang berduka. Maklum, beliau termasuk "orang baik".

Terakhir gw ketemu sebelum meninggal, beliau nggak lagi pegang blackberry. Kayak-kayaknya udah dikembalikan ke kantor. Eh, sekarang blackberry merajalela. Dimana-mana orang pegang blackberry. Mereka yang berkepentingan pegang blackberry, memaksakan diri kudu punya produk ini. Biar gajinya cuma 3 juta, biar beli blackberry-nya hasil ngutang, biar blackberry cuma buat update status di Facebook doang, sing penting punya. Yang gw tahu, karakter almarhum nggak kayak gitu. Nggak biasa pamer. Inilah yang gw anggap beliau sangat sederhana.

Terakhir yang gw belajar dari beliau tentang tanggungjawab. Terus terang bicara soal tanggungjawab dalam pekerjaan, nggak usah ditanya lagi. Almarhum rela pulang malam, bahkan pagi di hari berikutnya demi pekerjaan. Lha memang tugas EP bukan? Sebenarnya kalo bicara delegasi, bisa aja beliau perintah Producer atau Production Assistance (PA) buat ngecek segala printal-printil sebelum shooting produksi dimulai. Tapi hal tersebut nggak beliau lakukan. Almarhum lebih suka memonitor sebuah pekerjaan. Kayaknya nggak puas kalo nggak melihat langsung gitu.

“Nggak percaya sama orang kali?”

Banyak atasan yang nggak percaya sama anak buahnya. Namun beliau beda. Almarhum selalu mengontrol proses dan hasil sebuah pekerjan lebih karena tanggungjawab. Percaya nggak percaya, hari-hari menjelang meninggal ketika masih berada di ruang ICU, beliau masih sempat bertanya soal pekerjaan. Prinsipnya, nggak menyusahkan orang lain.

Selain nggak mau menyusahkan orang, beliau juga nggak mau menyusahkan kantornya. Ini terbukti dari percakapan beliau pada istrinya soal biaya perawatan selama di rumah sakit. Padahal seharusnya sebagai orang yang butuh pikiran tenang dan butuh istirahat, beliau nggak perlu memikirkan ini dan itu. Tapi sekali lagi, itulah sifat almarhum.

Barangkali gara-gara tanggungjawab ini pula almarhum nggak pernah mau side job (selanjutnya disingkat SJ). Entahlah! Ini juga perlu pembuktian lagi. Namun kenyataannya begitu. Tawaran SJ ke beliau sih banyak. Apalagi networking beliau buat SJ memungkinkan. Padahal kalo mau mengambil SJ-SJ itu, yakin beliau kaya. Tapi anehnya bukan beliau yang melakukannya. Beliau lebih suka memberikan ke orang lain. Ujung-ujungnya, beliau nggak mau maruk mengambil SJ sehingga nggak fokus pada pekerjaan utamanya.

Yang paling sering mendapat rezeki SJ ya gw ini. Nggak tahu apakah karena beliau lebih percaya pada gw dibanding rekan-rekan sekerjanya atau mungkin karena alasan lain. Apapun alasannya, gw bersyukur banget mendapatkan kepercayaan diberikan kesempatan memegang beberapa SJ yang beliau berikan. Dan kami pun kemudian berpisah “sekolah”.

Sejak mendapat “sekolah” baru, cukup lama juga gw nggak ketemu almarhum. Gw berjumpa lagi ketika “sekolah” gw dan beliau dipertemukan dalam sebuah acara yang akhirnya nggak jadi ditayangkan. Sampai ketika gw diberitakan soal beliau yang mendapatkan serangan jantung dan masuk ICU. Terus terang gw kaget. Gw berdoa semoga beliau sembuh.


Mbak Sari, istri almarhum, sambil menggendong putra kedua menyaksikan upacara pemakaman di pemakaman Vila Nusa Indah dengan penuh duka. Memilukan sekali. Tabah ya mbak.


Bersama istri, gw sempat menjengguk di Rumah Sakit Harapan Kita. Namun momennya nggak memungkinkan buat berjumpa dengan beliau. Beliau kudu banyak beristirahat dan itu kami maklumi. Di RS Harapan Kita kami berjumpa dengan istri almarhum. Dengan istrinya, kami diceritakan kronologis serangan jantung yang menimpa beliau. Kami juga berbicara soal kecemasan beliau tentang biaya pengobatan.

Tuhan berkendak dan manusia nggak bisa menolak. Selang beberapa hari, tanggal 17 Mei 2009 pukul 00.15, Arief Rosendar menghembuskan nafas terakhir. Innalilahi wa innailahi roji’un. Nggak ada bisa gw ucap selain kalimat itu. Allah rupanya sudah rindu ingin menjumpai teman gw, mantan EP gw, dan orang yang pernah memberikan gw beberapa SJ. Kayaknya baru kemarin gw ketemu beliau. Kayaknya gw baru minta tandatangan beliau buat pengajuan program. Realitanya berbeda. Beliau sekarang udah tenang di atas sana.

Selamat jalan mas Arief. Semoga Allah membalas segala kebaikan dan amal ibadahmu. Amin!

No comments: