Friday, April 16, 2010

A POLICE AT JAMMING STREET OF PANCORAN - INDONESIA

GOD BLESS - BEHIND THE SCENE - part III

GOD BLESS - BEHIND THE SCENE part II

GOD BLESS - BEHIND THE SCENE part I

CAR FREE DAY AT SUDIRMAN STREET JAKARTA INDONESIA - part 2

MONKEY AT PANCORAN, SOUTH OF JAKARTA - INDONESIA

Sunday, April 11, 2010

PEMERINTAH VS LAHAN HIJAU. KOK NGGAK KONSISTEN YA?

Bukan main bangga hati saya melihat ada spanduk ibu Negara Republik Indonesia, ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono sedang menyiramkan air via selang ke sebuah tanaman yang hijau. Di spanduk itu tertulis: MARI WUJUDKAN INDONESIA YANG SEMAKIN HIJAU BERSERI.

Spanduk yang dipasang di jembatan penyeberangan jalan MT Haryono yang melewati jalan tol dalam kota tersebut, dibuat oleh sebuah gerakan perempuan yang agaknya concern pada asalah lingkungan. Gerakan ini ingin mengajak segala lapisan masyarakat untuk menanam sekaligus memelihara pohon. Luar biasa bukan?

Spanduk yang dipasang pada Desember tahun 2009 lalu itu saya lihat dan kebetulan saya abadikan saat berada di sebuah jalan tol, ketika hendak mengantarkan istri saya ke kantor di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Saat meihat spanduk itu di dalam mobil saya berkata dalam hati, saya bangga punya ibu Negara yang peduli pada lingkungan. Beliau pasti mengerti, meski terlambat, tetapi sudah saatnya Indonesia menjaga kelestarian alam. Ini sesuai dengan semangat go green.


Spanduk di jalan tol dalam kota pada Desember 2009. Luar biasa bukan? Mengajak warga Indonesia untuk berpikir go green!

Saya yakin, ibu Negara juga tahu, bahwa bancana yang terjadi di tanah air, ya akibat dari ulah manusia itu sendiri. Banjir yang terjadi, bukan datang ujug-ujug begitu saja. Ada sistem yang membuat itu terjadi, yakni salah urus. Salah urus apa? Salah urus ekosistem dan infrastruktur tata air perkotaan dan kebijakan lain yang lebih memihak pada pengusaha, bukan pada lingkungan.

Menurut data dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, hanya 26,6% air hujan yang bisa terserap tanah Jakarta. Sisanya 73,4%, mengalir ke laut. Mending kalo langsung mengalir, yang terjadi justru air yang nggak bisa diserap tanah itu yang menjadikan jalanan Jakarta tergenang alias banjir. Nah, itulah yang membuat saya bangga punya Ibu Negara yang concern mengajak warga negara untuk menjadikan Indonesia hijau.

Mau data lagi soal minimnya Indonesia yang dulu hijau? Menurut data WALHI tahun 2007, Indonesia tercatat di Guiness Book of Records sebagai negara dengan laju kecepatan kerusakan hutan (deforestrasi) tertinggi, yakni mencapai 2 juta hektar per tahun. Pada tahun 2008, Indonesia sudah kehilangan 72% hutan aslinya.


Pembangunan gerbang tol baru di KM 18 tol Jagorawi yang saya prediksi menghilangkan 500-1.000 m2 jalur hijau yang sebelumnya ada di tengah jalan tol. Ironis!

Back to Jakarta, sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta tahun 2010 ini, Jakarta mentargetkan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) 9,544,81 hektar (13,94%) dengan kondisi di lapangan 6.900 hektar (10%). Bandingkan dengan kota metropolitan lain seperti New York. Target RTH di New York tahun 2020 sebesar 25,2% (lihat Bagong Suyoto, Peduli Lingkungan, PT. Prima Infosarana Media, 2008, hal 16). Lalu Tokyo (29% menjadi 32% pada tahun 2015); London (39% di tahun 2020); Singapura (19%, lahan hijau cadangan 37% di tahun 2034); Beijing (38% menjadi 43% di tahun 2008), dan Curitiba (17%, lahan hijau cadangan 13% di tahun 2020).

Namun sayang seribu kali sayang, ketika saya melewati tol Jagorawi KM 18, ada proyek pembangunan gerbang tol. Entah gerbang tol apa yang sedang dikerjakan, karena saya belum ngecek. Yang pasti, proyek ini mengambil lahan hijau di tengah jalan tol, yang saya prediksi sekitar 500 sampai 1.000 m2. Ironis bukan?

Kok kayak nggak konsisiten ya? Sementara di bulan Desember 2009 ada spanduk ajakan untuk Indonesia hijau, eh di jalan tol juga yang notabene dioperasikan oleh perusahaan pemerintah Jasa Raharja, ada pengurukan jalur hijau. Ketika melewati proyek itu, hati saya miris banget. Dalam hati saya bilang, satu lagi jalur hijau menjadi korban pembangunan.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Wednesday, March 31, 2010

MENYUSURI JEJAK PSK ABG

Pekerja Seks Komersial (PSK) yang masih berstatus pelajar belakangan makin marak. Mereka bukan cuma dari kalangan SMU sederajat, tetapi mereka yang masih berstatus pelajar SMP pun sudah banyak yang menjadi PSK.

Di kota besar di Jakarta ini, PSK ABG tentu bukan masalah baru. Anda bisa kencan kapan pun dengan pelajar SMU dimana pun di Jakarta ini. Kebetulan saya kenal dengan seorang mucikari yang sanggup mencarikan PSK ABG berstatus pelajar itu. Cukup tinggal Anda ingin SMU berapa, tunggu di mobil, sepulang sekolah PSK ABG itu langsung masuk ke mobil Anda. Dengan begitu, Anda tidak akan ditipu oleh sang mucikari, karena Anda akan melihat sendiri PSK ABG itu keluar dari gerbang sekolah, masih memakai seragam sekolah, dan teman-teman di sekolahnya memang menengenalnya sebagai pelajar SMU tersebut.

Terget saya dan teman-teman bukan menyusuri PSK ABG di kota besar semacam Jakarta atau Bandung. Sebab, itu sudah ‘lumrah’ dan mudah ditelusuri. Namun target kami adalah mencari PSK ABG di kota kecil kayak Sukabumi, Jawa Barat. Kenapa Sukabumi? Menurut data yang kami dapat, 25% PSK di Sukabumi masih berstatus pelajar. Gokil!


Warung tempat pertama kali kami hendak berjumpa dengan PSK ABG. Di sekitar situ memang banyak sekolah. Jadi begitu sekolah bubar, rencanannya kita langsung menjumpai pelajar-pelajar PSK itu. Tapi nggak berhasil.

Di Sukabumi, kami tidak punya kenalan Mucikari sebagaimana di Jakarta atau Bandung. Oleh karena itu, penyusuran dilakukan dari ‘titik nol’. Sejak awal, sebetulnya saya nggak suka kalo penunyusan target ke Sukabumi tanpa narasumber (narsum) yang jelas. Saya bilang ke tim, kalo ke Sukabumi nggak ketemu mucikari atau lokasi PSK ABG mending nggak usah ke Sukabumi aja? Buang-buang waktu! Masa mau menyusuri PSK ABG baru dapat narsumnya anggota DPRD Sukabumi? Memang sih barangkali anggota DPRD ini punya info, tetapi saya yakin, beliau pasti jaga image (jaim). Mana mau prilakunya diketahui oleh kita?

Sebagai mantan Reporter, akhirnya penyusuran dari ‘titik nol’ ini diawali dari berkenalan dengan tukang ojek. Kenapa pilih tukang ojek? Biasanya tukang ojek selalu mengantar dan menjemput PSK-PSK ke hotel atau lokasi short time. Benar saja! Dari tukang ojek ini, akhirnya kami bisa menemukan lokasi yang biasa tempat kencan maupun proses transaksi sebelum diajak jalan atau ‘bermain’ di hotel. Lokasi itu berada di sebuah warung makanan Sunda yang ada di jalan Raya Sukabumi.


Gunung gede dilihat dari warung tempat awal kami hendak berjumpa dengan PSK ABG yang baru pulang sekolah.

Sepintas warung itu nggak mencerminkan sebagai sarang PSK ABG. Sebab, warung itu terang benderang dan memang menjual makanan Sunda. Namun kalo kita masuk ke belakang warung, di situ tersedia beberapa bilik berukuran 1,5 m2. Di bilik yang temaram itulah, kami menunggu beberapa PSK ABG. Oh iya, di warung itu ada seorang Mucikari di warung itu. Sebut saja Mia (bukan nama sebenarnya). Dari dialah terkumpul sebanyak 4 PSK ABG yang akan kami interview.

Tentu nggak mudah bernego dengan PSK ABG ini, terutama nego soal interview. Kalo nego buat kencan atau ‘bermain’ barangkali kita bisa to the point. Namun kita memang tidak ingin berkencan, apalagi ‘bermain’, wah ini butuh tantangan tersendiri. Oleh karena itulah, kami mengajak keempat ABG ini masuk ke dalam mobil Avanza yang kami bawa dari Jakarta. Apa yang terjadi selanjutnya? Dari 4 PSK ABG, cuma seorang yang bersedia diinterview. Sisanya kabur! Keluar dari mobil dan marah-marah.

“Saya seperti dijebak, nih!” ujar salah seorang PSK ABG.

“Udah cape-cape dateng ke sini, cuma mau ditanya-tanya! Embung, ah!”


Lokasi tempat pertemuan kami dengan 4 PSK ABG di sebuah warung makan Sunda di jalan raya Sukabumi.

Kami akhirnya menjelaskan perlahan-lahan. Kalo mereka emosi, kami tetap sabar. Kami berjanji, wajah mereka tidak akan nampak di layar televisi. Selain wajah, nama pun disamarkan. Yang penting, mereka tetap kami bayar, meski bayarannya tidak sama dengan tarif ‘bermain’ dengan mereka, yakni Rp 500 ribu-an.

“Tigaratus ribu atuh, kang,” tawar Hani (bukan nama sebenarnya), salah seorang PSK ABG, yang minta honor interview segitu.

“Wah, masa cuma 5 menit tarifnya segitu?” tanya saya. “Mending main sekalian!”

“Ya, nggak apa-apa kalo akang mau main sekalian,” ucap Hani lagi.

Waduh!

Setelah harga interview disepakati dan kami berhasil bernegoisasi dengan ketiga PSK ABG yang tadi kabur, akhirnya selesai juga. Kami kemudian jalan mencari vila, dimana di vila ini nantinya kami akan melaksanakan target kami, yakni menggali latarbelakang serta motivasi PSK ABG ini.

Lokasi vila ternyata nggak jauh dari lokasi pertemuan kita di warung makan Sunda itu. Vila itu berada di perkampungan penduduk, namun di samping kiri dan kanan vila itu memang masih banyak tanah kosong. Jadi nggak mungkin banget warga di sekitar mendengar jerit lirih mereka yang sedang melakukan adegan mesum. Lebih dari itu, vila ini cukup luas. Kebetulan ada beberapa rumah di dalam areal vila itu. Tiap-tiap rumah tidak saling berdempetan.

“Keperawanan saya dihargai enambelas juta rupiah,” ungkap Icha (bukan nama sebenarnya). “Waktu itu saya langsung main dengan orang Korea. Tapi saya cuma dapat uang sepuluh juta, karena enam jutanya dibagi-bagi lagi dengan beberapa orang.”


Icha ketika sedang diinterview oleh Hangga di sebuah kamar di vila. "Saya ingin jadi penari," ujarnya. "Di sekolah sih sudah daftar, tetapi belum ada jalan menjadi penari profesional."

Icha yang wajahnya mirip Mulan Jamilaa ini mengaku sudah melakukan ini sejak usia 15 tahun. Dia merasakan kenikmatan tiada tara, apalagi bisa cepat mendapatkan uang. Selain kencan short time, Icha ternyata sempat dikawini oleh orang Arab. Namun cuma kawin kontrak.

Nggak beda dengan Icha, tiga PSK ABG pun mengatakan hal yang sama, bahwa mereka terpaksa melakukan ini, karena alasan ekonomi. Apalagi gaya hidup saat ini tidak memungkin mereka buat ikut serta apabila tidak punya banyak uang. Kapitalisme memang salah satu faktor perubahan prilaku. Media serta sinetron juga bagian dari alasan mereka buat ikut serta menghirup kenikmatan memperoleh uang dengan cara instans. Yang menyedihkan, nggak ada dari mereka yang berhasrat ingin tobat.

Di usia yang rata-rata 16 tahun ini, mereka masih menyukai hidup sebagai PSK ABG. Anda tahu, mereka rata-rata juga sudah bermain dengan lebih dari 30-an tamu, terutama Om-Om. Itu baru PSK ABG di Sukabumi, gimana di Jakarta atau Bandung ya?


all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Monday, March 29, 2010

KADO ISTIMEWA DI HARI FILM NASIONAL

Seorang kakek terlentang di sebuah tempat tidur menjelang ajalnya. Ia bernama kakek Zhen. Di samping tempat tidur, ada seorang pria yang tak lain adalah cucu kakek Zhen. Sang cucu menyanyakan apa permintaan terakhir kakek.

”Aku ingin melihat penari erotis,” ujar kakek Zhen.

Dengan diiringi oleh alat tradisional Afrika, muncullah seorang wanita cantik berambut pirang. Menurut cucu Zhen, wanita yang berbusana suster ini adalah wanita Eropa yang paling cantik. Perlahan-lahan, wanita muda ini membuka kancing baju susternya satu persatu. Begitu membuka seluruh kancing, penis si kakek tiba-tiba ’berdiri’. Ia ereksi.


Setelah penutupan bioskop Benhil Raya Theater, kini tinggal 2 bioskop non-21 yang masih bertahan di Jakarta ini.

Kisah di atas adalah opening scene film Temtation Summary yang dibintangi oleh Siao Ze Cin, Wang Ching Ho, Yang Yu Siang, dan Chang Tai. Film Mandarin yang disutradarai oleh Ho Bam ini adalah film terakhir yang diputar di bioskop Benhil Raya Theater yang berlokasi di jalan raya Bendungan Hilir no 1, Jakarta Pusat.

Per 1 April 2010 ini, manajemen bioskop Benhil Raya Theater memang sudah harus mengosongkan bioskop. Mereka harus hengkang, karena manajemen bioskop ini secara resmi sudah menghentikan operasional bioskop yang sudah beroperasi semenjak tahun 1974 ini.

”Kabarnya pimpinan kami terlilit hutang dengan manajemen sebelumnya,” ujar pak Sai’in yang sudah bekerja sejak tahun 1980-an ini sebagai petugas pemutar film dan teknisi.

Yang dimaksud ’terlilit hutang’ adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) gedung bioskop yang belum dibayar selama dua tahun. Menurut pak Sai’in, manajemen sebelumnya tidak membayar PBB dan hal tersebut dibebankan oleh manajemen yang sekarang ini. Kalo PBB-nya cuma limaratus ribu atau dua juta barangkali masih bisa dibayarkan, tetapi lebih dari segitu.

”Setahun PBB bioskop ini sekitar duapuluh juta rupiah,” ungkap pak Sai’in. ”Jadi kalo bioskop ini menunggak dua tahun, manajemen ini hutang 40 juta rupiah.”

Barangkali buat bioskop sekelas Cineplex 21, XXI, atau Blitz, membayar PBB seharga Rp 20 juta nggak masalah. Maklumlah, harga tiket bioskop-bioskop itu antara Rp 15 ribu sampai Rp 35 ribu. Lebih dari itu, jumlah penonton bioskop-bioskop buat kelas menengah ke atas tersebut. Nah, harga tiket bioskop Benhil Raya Theater cuma 3.000 perak!

DARI DULU TETAP BEGITU

Selama ini bioskop Benhil Raya Theater menjadi bioskop kelas bawah. Orang-orang yang berpenghasilan rendah sangat mengandalkan bioskop ini sebagai tempat hiburan. Bahkan dahulu, ketika bioskop non-21 belum memonopoli perbioskopan nasional, bioskop Benhil termasuk bioskop elit.


Kebangkrutan bioskop Benhil Raya Theater membuat pak Sai'in kembali ke kampungnya di Bogor.

”Di sekitar Benhil ini dulu ada dua bioskop,” ujar pak Sai’in. ”Tapi yang bertahan cuma bioskop Benhil ini. Bioskop yang satu lagi sudah berubah menjadi Menara Batavia (persis di samping pintu keluar Sahid Jaya Hotel, jalan Prof. Satrio, Casablanca)”.

Sejak tahun 1974, kondisi gedung dan jumlah bangku bioskop Benhil tidak berubah. Awalnya, bioskop Benhil Raya Theater ini memiliki 1.200 bangku. Sekadar info, bioskop-bioskop ‘tempo doeloe’ memuat 800 sampai dengan 1.000 kursi. Begitu 21 menguasai bioskop di tanah air , jumlah kursi yang banyak itu dibagi menjadi beberapa studio, sehingga jumlah kursi menjadi lebih sedikit, yakni rata-rata menjadi 200 kursi per studio atau per layar. Meski dari segi kursi berkurang, namun dari jumlah layar jadi banyak. Sebab, sebelum 21 merubah bioskop ‘tempo doeloe’ menjadi seperti studio-studio ‘mini’, di satu bioskop cuma memiliki 1 layar. Hal ini menyebabkan film yang diputar cuma 1 judul. Ketika ada judul lain yang ingin diputar, maka dibutuhkan jam putar film yang berbeda.

Jumlah layar bioskop tahun 2008 ini masih jauh dibanding dengan limabelas tahun lalu, yakni tahun 1993. Pada tahun 1993, jumlah layar yang tersedia sebanyak 3.045 layar. Angka 3.045 layar tersebut memang naik dari dua tahun sebelumnya (1991), dimana jumlah layar mencapai 2.853 layar yang tersebar di 2.306 gedung bioskop . Tahun 2007, Indonesia hanya memiliki 327 bioskop berlebel sinepleks 21 dan 146 bioskop yang non-21, dimana total layar yang dimiliki adalah 473 layar.


Ibu penjual tiket bioskop Benhil Raya Theater. Nggak jelas nasibnya.

Jika sebuah bioskop sinepleks memiliki minimal 3 layar, maka jumlah bioskop sinepleks yang berjumlah 327 bioskop itu memiliki 981 layar. Jika ditambah 146 layar dari bioskop non-21 yang rata-rata hanya memiliki satu layar per bioskop, maka akan menghasilkan angka sebanyak 1.127 layar. Namun biskop Benhil Raya Theater tidak seperti bioskop-bioskop lain itu. Dari dulu sampai menjelang 'ajal', biskop ini tetap kayak begitu. Berbeda dengan bioskop Metropole yang dahulu sebelum menjadi sinepleks dan XXI, jumlah kursinya masih 1.446 kursi di tahun 1954.

NASIB KARYAWAN

Menurut Manager bioskop Benhil Raya Theater Yoyo Soenaryo, bioskop ini sudah beberapa kali pindah pengelola. Awalnya, bioskop ini dikelola oleh Tedy Mukti di bawah perusahaan PT Benhil Raya. Namun Tedy tidak sanggup mengelola. Pada tahun 1999, pengelolaan dialihkan ke H, Ridwan Suhadji. Nama pria terakhir ini tercatat pada surat izin tetap usaha pariwisata bidang rekreasi dan hiburan umum yang dikeluarkan Pemerintah DKI Jakarta pada 25 Juli 1999, dengan nomor193/5/1.758.1. Pengelolaan terakhir dipegang oleh pak Yoyo.


Bangku bioskop. Awalnya bioskop ini bisa memuat 1.200 penonton.

“Pada tahun 1997, bioskop ini masih berjaya,” ujar pak Yoyo yang profesi aslinya sebagai kontraktor. “Dengan kapasitas bangku yang cuma 1200, jumlah penonton di tahun itu membludak melebihi jumlah bangku. Pernah kami harus menyediakan bangku tambahan ke dalam bioskop.

“Saya sering ke bioskop ini,” ujar pak Duloh (73 tahun), warga Pasar Minggu. “Apalagi sejak bioskop seperti ini sudah tidak ada lagi di Jakarta. Dulu waktu bioskop model Benhil ini masih ada di Pasar Minggu, saya masih sering nonton di situ. Tapi bioskop itu sekarang sudah tidak ada dan jadi kolam renang.”

Boleh jadi, tanpa pak Yoyo, bioskop ini sudah lama mati beberapa tahun lalu. Menurut pak Sai’in dan juga diakui oleh karyawan lain, pak Yoyo dianggap menyelamatkan ‘nyawa’ bioskop ini plus karyawan bioskop ini.

“Saya kasihan dengan mereka (karyawan bioskop), pak,” ujar pak Yoyo. “Saya mau diangkat menjadi pengelola bioskop ini lebih, karena rasa sosial saya pada mereka. Mereka pun mengandalkan saya dan meminta agar saya mempertahankan bioskop ini.”

Saat ini karyawan bioskop Benhil Raya Theater berjumlah 6 orang, yang terdiri dari 2 pemutar proyektor, 2 penjaga tiket bioskop, dan 2 tenaga keamanan. Sekadar info, mereka ini semua dibayar di bawah Upah Minimum Regional (UMR) yang diterapkan di Provinsi DKI Jakarta ini sebesar Rp 1,5 juta. Jadi kebayang dong berapa penghasilan mereka?

Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan eksistensi bioskop tua ini. Meminta keringanan pajak tontonan misalnya. Menurut pak Yoyo, rata-rata per bulan, manajemen bioskop ini menyetor pajak tontonan senilai Rp 80 ribu. Namun kalo PBB, bioskop ini tetap menyetor cukup besar, yakni sekitar Rp 20 juta per tahun.

Selain strategi meminta keringanan pajak tontonan, pak Yoyo juga memakai strategi dalam hal pemutaran film. Selama ini, buat menarik minat penonton, film-film yang diputar adalah film-film yang bergenre seks atau biasa disebut film ‘esek-esek’, seperti film Temtation Summary yang sore itu saya tonton.

“Kalo kami putar film eksyen apalagi drama, wah pasti nggak ada yang mau nonton,” aku pak Yoyo. “Tetapi kalo film yang berbau seks, pasti ada yang nonton.”

Jangan salah, meski film yang diputar film ‘esek-esek’, namun belum tentu bioskop ini ada penontonnya. Boleh jadi dari 800 bangku yang masih dianggap layak sebagai tempat duduk, ada sekitar 10 penonton yang menyaksikan film tersebut. Namun manajemen bioskop punya kebijakan, kalo jumlah penonton tidak mencapai 10 orang, maka tiket akan dibagikan pada calon penoton yang sudah terlanjut membeli tiket seharga Rp 3.000 itu.

Namun sayang, pak Yoyo tidak mampu mempertahankan keberadaan bioskop tua. Pasalnya hutang PBB selama dua tahun yang harusnya dibayarkan bioskop ini, ternyata tidak dibayarkan. Gara-gara berhutang PBB sebanyak Rp 40 juta, pak Yoyo tidak sanggup lagi mengelola bioskop ini. Itulah yang kemudian pihak manajemen menyerah dan memutuskan buat menutup bioskop ini.

“Saya sangat sedih melihat kenyataan ini,” kata pak Sai’in, bapak 3 anak dan 2 cucu ini. “Saya juga tidak bisa menyalahkan pak Yoyo dalam hal ini. Beliau sudah berusaha mempertahankan bioskop ini, namun ternyata harus menyerah, apalagi diminta untuk membayar PBB.”


Saya dibelakang proyektor tua merek philips
Itulah kenyataan yang harus dialami oleh bioskop Benhil Raya Theater. Per 1 April 2010, mereka harus mengosongkan ruang bioskop. Kabar yang beredar, bioskop ini dan seluruh gedung pasar yang berada di kompleks Pasar benhil akan dirubuhkan dan akan digantikan oleh gedung BRI yang kebetulan lokasinya dekat situ.

Ironis sekali kenyataan ini kalo dikaitkan dengan Hari Film Nasional yang jatuh pada besok, yakni 30 Maret 2010. Kalo saya analogikan, penutupan bioskop ini merupakan ‘kado terindah’ di Hari Film Nasional. Barangkali kalo sekadar penutupan bioskop selama ini sudah dimaklumi. Namun yang menyedihkan adalah nasib 6 karyawan bioskop ini yang masih terkatung-katung.

“Saya sih tidak berharap mendapatkan uang pesangon puluhan juta,” ungkap pak Sai’in.”Tapi setidaknya kami diberikan uang buat pengabdian kami selama ini lah.”


all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Wednesday, March 24, 2010

SEMANGAT REFORMASI DARI PETAKSINGKIAN

Tak banyak orang tahu, di daerah Glodok, di tengah-tengah gedung dan perumahaan penduduk, ada sebuah stadion sepakbola tua. Lapangan sepakbola yang berada di jalan Ubi no 10, Mangga Besar, Jakarta Barat ini bernama stadion Union Makes Strength atau disingkat UMS.

Stadion UMS dahulu bernama lapangan Petaksingkian. Lapangan yang semula adalah kebon singkong ini memang sejak lama dikelola oleh UMS. Cikal bakalnya terjadi tahun 1905, dimana sejumlah etnis Tionghoa bermain bola di tempat kebon milik orang Betawi asli bernama Haji Manap.


Pintu depan lapangan Petaksingkian yang sekarang dikenal sebagai stadion UMS. Dari stadion ini, semangat reformasi di tubuh PSSI begitu menggelora.

Tentu gara-gara keseringan pakai kebon, para pemain bola dari etnis Tionghoa tersebut nggak enak hati. Mereka akhirnya menyewa kebon itu pada tahun 1913, dan kemudian disulap menjadi lapangan sepakbola. Empatpuluh tahun kemudian, yayasan UMS membeli lapangan seluas 12.300 m2 itu dengan harga Rp 200 ribu.

Setalah diresmikan berdiri pada tahun 1905, dari stadion inilah muncul pemain-pemain yang masuk ke Tim Nasional (Timnas) PSSI dan membela bangsa Indonesia. Nama seperti Him Tjiang, Kiat Sek, Chris Ong adalah lulusan UMS. Lalu ada juga Mulyadi, Surya Lesmana, Sugeng Haryanto, Yudo Hadiyanto, Risdianto, dimana mereka berkali-kali memperkuat Timnas PSSI. Yang juga nggak bisa dilupakan adalah Fam Tek Fong atau Hadi Mulyadi, stropper andalan mantan Pelatih Nasional PSSI (alm) Endang Witarsa. Sejak dulu, UMS menjadi andalan Persija dalam berbagai kompetisi dan turnamen sepakbola.


"Kepengurusan PSSI memang harus ganti," kata Wahyu Hidayat dengan suara lantang.

Kemarin (Rabu, 24/3/2010) saya berkesempatan mengunjungi stadion yang usianya lebih dari 1 abad ini. Selain bertemu dengan pemain nasional yang menjadi legenda hidup Fam Tek Fong, saya juga ngobrol dengan beberapa pemain di situ. Dua di antaranya adalah mantan pemain nasional PSSI, yakni Bambang Nuswanto dan Wahyu Hidayat.

Bambang Nuswanto adalah mantan pemain Timnas PSSI asal Persiraja Banda Aceh. Sedangkan Wahyu Hidayat adalah pamain Timnas dari Persija Jakarta. Mereka berdua sangat concern dengan prestasi sepakbola saat ini yang nggak bisa dibanggakan lagi seperti dahulu kala. Mereka berniat akan berangkat ke Malang dalam rangka menghadiri Kongres Sepakbola Nasional (HSN) pada 30-31 Maret 2010. Mereka nggak sendirian, tetapi membawa pasukan, dimana pasukan tersebut membawa semangat reformasi di tubuh PSSI.

“Nggak ada kata yang paling tepat, selain mengganti seluruh kepengurusan PSSI yang sekarang,” kata Wahyu Hidayat.


"Sudah ada beberapa nama yang menurut saya pantas jadi Ketua Umum PSSI," ujar Bambang Nuswanto

Tentu apa yang dikatakan Wahyu Hidayat dan teman-temannya beralasan. PSSI yang sudah berdiri sejak 19 April 1930 ini seharusnya sudah matang, baik matang dalam pembinaan sepakbola sehingga berprestasi maupun matang dalam sistem kepengurusan. Namun dalam sepuluh tahun terakhir ini, nggak banyak prestasi PSSI yang dibanggakan, bahkan mayoritas berpendapat nggak ada prestasinya. Nah, baik Wahyu maupun Bambang begitu sedih melihat kenyataan ini. Ia ingin menjadikan lagi PSSI sebagai kebanggaan bangsa.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

ROY SURYO...ROY SURYO...ADA-ADA SAJA!





Tuesday, March 23, 2010

NEGARA MALING!

Kalo kebetulan melintas di jalan bypass menuju ke arah Cililitan, perhatikan halte-halte busway. Andn akan melihat halte-halte tersebut rusak berat. Sedih banget! Selintas saja, Anda pasti akan melihat kaca-kaca halte tersebut pecah. Kalo masuk ke halte, kondisi lebih parah lagi. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri lembaran-lembaran yang terbuat dari baja, dimana digunakan sebagai lantai halte, dicopot.

Siapakah yang tega melakukan ini?


Halte di depan kantor beacukai yang rusak berat. Padahal di depan halte ada banyak warung rokok, warteg, tukang ojek. Pasti mereka lihat aksi orang-orang maling, ya nggak? Tetapi pasti mereka punya prinsip, sesama orang miskin dilarang usil. Prinsip ini juga terjadi di kalangan politisi dan pejabat lain, sesama pejabat dilarang mengorek-ngorek hasil korupsi!












Mohon maaf, bukan mau menuduh, tetapi saya yakin adalah mereka yang hidup dari besi, lembaran-lembaran baja, dan alumunium. Mereka mencabut barang-barang itu lalu ditimbang di tempat penimbangan agar bisa mendapatkan uang. Saya nggak yakin mereka yang mencuri ini adalah politisi atau polisi. Saya juga nggak yakin yang nyolong pernak-pernik halte busway ini adalah karyawan kantoran. Yang mencuri pasti orang-orang miskin yang butuh makan, tetapi mendapatkan uangnya dengan cara instan, yakni dengan mencuri. Nyolong.

Indonesia memang negara maling! Nggak kaum politisi, teknokrat, atau pegawai negeri, tetapi juga orang-orang miskin. Mereka pikir, halte yang kosong dan nggak dipergunakan, dianggap bukan milik siapa-siapa dan boleh diambil. Dicolong. Mereka pikir, daripada nggak dipergunakan, pernak-pernik yang ada di halte tersebut bisa dicolong, lalu dijual, dan si miskin pun mendapat makan. Gokil!



Benar-benar negara maling! Jadi benar juga ya kalo ada istilah maling teriak maling. Si miskin teriak, para politisi maling, pejabat maling. Eh, ternyata si miskin juga nggak kalah jagonya soal cabut-mencabut pernak-pernik halte busway. Mereka juga maling. Mau barang kecil atau barang gede, kalo barang itu bukan hak mereka, ya maling kalo diambil. Mau duit cuma puluhan ribu atau triliunan rupiah, kalo bukan hak kita, ya kita adalah maling. Moga-moga Anda bukan termasuk golongan maling-maling ini ya?

all photos copyright by Brillianto K. Jaya