Wednesday, November 25, 2009

BERITA PENGROYOKAN ITU TERNYATA NGGAK SEPENUHNYA BENER

Akhirnya saya mendapatkan juga kisah dari pihak SMU Negeri 82, yakni kisah pemukulan salah satu siswa kelas 2 yang bernama Ade Fauzan Mahfuza. Kalo berita di koran-koran -salah satunya yang sempat saya kutip di Warta Kota (Sabtu, 7/11)-, kisahnya cuma berasal dari pihak Ade, dimana ujung-ujungnya mendeskreditkan pihak sekolah yang bermarkas di jalan Daha II, Kebayoran Baru ini. Siswa-siswa kelas 3 SMUN 82 lah yang menyebabkan Ade babak belur.

Ketertutupan pihak sekolah, siswa-siswinya, serta alumni makin membuat SMUN 82 dicap sebagai sekolah yang mempopulerkan bulliying. Inilah yang membuat hampir seluruh wartawan media cetak, bahkan eletronik men-judge, yang paling bersalah dalam kasus pemukulan Ade adalah pihak SMUN 82. Apalagi dikuatkan dengan laporan Ibunda Ade: Ibu Marlin Angraini ke Polsektro Kebayoran Baru.



Terus terang saya penasaran. Apa betul SMUN 82 yang bersalah 100%? Saya beruntung bisa hadir di program Opini yang kebetulan lagi shooting di Citywalk, Sudirman. Pada hari Rabu (26/11) lalu, program yang ditayangkan di tvOne ini mengangkat tema: STOP KEKERASAN DI SEKOLAH! Di program Opini ini, dihadirkan Kak Seto, Dewi Reezer yang sempat mendapat perlakukan kurang asyik semasa di sekolah dulu, dan yang menarik menghadirkan siswi-siswi SMUN 82, yakni Ninies.

Menurut Ninies, apa yang ditulis di media nggak 100% benar. Memang terjadi pemukulan, tetapi tidak sampai 30-an orang yang memukul Ade. Sebelum terjadi pemukulan, Ade pun sempat memukul. Anda tahu memukul siapa? Memukul seniornya, yakni anak kelas 3!


Ninies, salah satu wakil SMUN 82 yang menjelaskan soal jalur gaza dan pemukulan yang mencemarkan nama baik sekolahnya.


"Pernah ada cerita ketika Ade sedang buang air kecil di WC, pintu WC-nya terbuka. Tanpa sengaja, ada anak kelas 3 yang membuka pintu WC tersebut. Begitu selesai buang air kecil, Ade langsung mendorong jidat anak yang sempat membuka pintu WC tersebut (baca: mentoyor)," jelas salah seorang siswa SMAN 82 yang hari itu nonton shooting program Opini kemarin.

Tambah teman-temannya Ninies, Ade sebenarnya memang sudah "bermasalah", khususnya dalam prilaku sehari-hari. Gayanya sebagai anak kelas 2 memang sudah melebihi gaya senior-seniornya. Bukan cuma menoyor kakak kelasnya, ia pun sempat memukul. Namun prilaku-prilaku Ade yang membuat kesal, selalu ditolerir dan nggak dipermasalahkan, baik oleh pihak sekolah maupun teman-teman sekelas dan seniornya. Kasus pemukulan merupakan puncak menara gading dari rasa sebal dari sikap Ade. Itu pun bukan dilakukan oleh segerombolan anak, dimana dalam berita-berita tertulis Ade dikeroyok. Yang sebenarnya, Ade nggak dikeroyok. Itu pun sudah terjadi perlawanan dari Ade pada kakak kelasnya.


Siswa-siswi SMUN 82 yang siang itu ikut menyaksikan program Opini di tvOne. Bukan mendukung pemukulan terhadap Ade, lho, tetapi justru mendukung kampanye STOP BULLYING!

Saya bukanlah alumni dari SMUN 82, tetapi mendengar sisi lain dari kisah pemukulan ini saya jadi gemas. Ternyata berita penggeroyokan itu nggak benar 100%. Namun tulisan media telah mendeskriditkan sekolah ini. Oleh karena itu, saya sempat menganjurkan pada siswa-siswa yang hadir di acara Opini kemarin agar melakukan pencitraan kembali. Ini bertujuan agar SMUN 82 jadi punya image positif lagi. Apalagi sekolah ini sempat mendapatkan ISO 9001:2000 sebagai sekolah percontohan anti-bullying.

"Sebenarnya sekolah kami mah asyik-asyik aja, kok," kata salah seorang siswi lagi menutup pembicaraan dengan saya.

No comments: