Sunday, April 19, 2009

KOK DISKRIMINASI GITU SIH OM?

Tiap Sabtu atau Minggu, gw selalu ngidam pengen malaksanakan ibadah olahraga di venue yang baru lagi. Tujuan gw mulia, spuaya memberlakukan azas "semua kebagian giliran". Memang gitu prinsip gw, hidup kudu dinamis. Olahraga juga kudu dinamis. Nggak cuma di satu tempat aja. Minggu ini tempat yang gw incer bernama Taman Jogging.

Taman Jogging terletak persis di pojokan bunderan Kelapa Gading. Adanya di pjok sebelah kiri sebelum Mal Kelapa Gading. Taman ini umurnya udah 15 bulan. Peresmiannya pada tanggal 25 Januari 2008 lalu oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Terus terang awalnya gw salut banget dengan Pengembang Summarecon Kelapa Gading ini. Tanah yang barangkali bisa jadi ruko atau bahkan mal, dihibahkan buat kepentingan umum. Kalo istilahnya sekarang dijadikan ruang terbuka. Susah lho, Cong merelakan tanah yang ada di-hook buat masyarakat. Nggak semua Pengembang di sebuah real estate atau kompleks perumahan mau melakukan apa yang udah dilakukan Summarecon.


Taman Jogging yang ada di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.


"Yang terjadi, ada tanah sedikit dijadikan pusat perbelanjaan..."

"Betul!"

"Atau dijadikan tempat parkir..."

"Atau dijadikan WC umum..."

"...."

"Buat tempat boker, Bos! Tapi gratisan..."

Namun sayang seribu kali sayang, pagi ini gw kecewa berat. Nggak tahu kekecewaan ini gara-gara kesalahan gw atau memang ada semacam diskriminasi terselubung ya? I don't know! But apa yang membuat gw kecewa karena di Taman Jogging nggak ada track buat main sepeda. Ini kan zamannya orang-orang naik sepeda Om!

"Lah, namanya juga Taman Jogging, Bro. Ya elo harusnya ngerti itu. Taman Jogging adalah sebuah taman buat jogging," ucap Cuplis, teman gw yang paling pintar sedunia dalam berita.


Tanda sepeda dicoret ini menyakitkan hati gw. Sebagai Penggemar sepeda, tanda ini sangat diskriminatif. Mungkin nggak ya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bisa membantu menanggulangi masalah ini? Atau mengerahkan pasukan Bike to Work dan geng sepeda buat protes dengan tanda itu....

"Apa salahnya kalo Taman Jongging juga ada track buat mereka yang doyan bersepeda hayo?"

"Terserah si Pengembang lah!"

"Ini namanya diskriminasi! Coba elo telaah sedalam-dalamnya apakah Taman Kodok cuma buat para Kodok? Atau Taman Buaya cuma buat nongkrong para Buaya? Atau Taman Suropati deh. Pak Suropati kan udah wafat? Bisa gawat kalo Taman itu cuma buat Pak Suropati. Bakal kabur orang-orang yang ada di situ..."


Taman segini gede nggak ada track buat sepeda. Gokil deh! Padahal kalo ada sepeda, kendaraan bermotor di situ nggak bakal ada. It means mengurangi polusi.


Gw sebagai Penggemar berat benar-benar kecewa pagi ini. Sejak detik ini, gw nggak akan mau menginjakkan kaki ke Taman Jogging. Taman itu ternyata memang buat konsumsi mereka yang berkendaraan motor, entar mobil or sepeda motor. Buat gw yang cuma berolahraga pake sepeda ini, nggak ada tempatnya. Didiskriditkan.

Tanda yang ada di Taman itu, yakni gambar sepeda yang dicoret, membuat hatiku luka. Kejadian pagi itu mirip dengan lagunya Dian Piesesa: "Hati Yang Luka". Juga mirip dengan lagunya God Bless: "Semut-Semut Hitam", karena kebetulan kaki gw kesemutan gara-gara gemes melihat Rider kayak gw nggak punya sarana di Taman ini. Kok diskriminasi gitu sih Om Summerecon?


All photos copyright by Brillianto K. Jaya

No comments: