Monday, January 12, 2009

THE MAKING OF PEMPEK - a Tutorial Video

Nggak perlu disangsikan lagi, makanan khas Palembang yang ngetop itu bernama Pempek. Siapa yang nggak kenal Pempek? Makanan ini diidolakan oleh semua generasi, termasuk generasi yang udah nggak punya gigi. Saking banyak yang mengidolakannya, nggak heran saat ini banyak berdiri fans club Pempek.

Gw beruntung banget punya Kakak Ipar asli Palembang, yang nggak murtad. Maksudnya, doi fasih banget bikin Pempek. Alias bikin Pempek udah khatam banget! Ada dong, orang asli Palembang yang nggak bisa bikin Pempek. Yang biasanya cuma makan doang. Kalo ada yang kayak begitu, sama aja ibaratnya orang kelahiran Jawa, tapi nggak bisa cas-cis-cus dalam bahasa Jawa. Sekali lagi, orang dengan jenis seperti ini disebut murtad.

Beberapa waktu lalu, Kakak Ipar gw ini berbaik hati membuka kursus kilat how to make Pempek in the right way. Padahal rumah doi di ujung langit, tepatnya di Jakarta coret. Nah, buat elo-elo yang kebetulan maniak Pempek dan kepengen bikin Pempek sendiri, ini langkah-langkahnya yang elo bisa praktekkan anytime.

Pertama, belilah ikan tenggiri di pasar. Ingat! Di pasar, bukan di toko bahan bangunan. Setelah beli, ikan ternggiri dipotong-potong, dibuang tulangnya alias dibuat fillet. Kalo udah jadi fillet, lalu digiling deh. Kalo elo beli ikan 2 kilo, maka elo akan dapat kira-kira 1 kilo fillet.

Fillet-fillet ikan tenggiri itu kemudian dicampurkan dengan air garam dan sagu. Aduk hingga rata. Setelah tercampur dengan rata, adonan dibagi-bagi menjadi kira-kira seberat 100 gram. Untuk tahu beratnya 100 gram, kudu ditimbang. Jelas ditimbangnya pake timbangan, bukan pake mesin giling.

Kalo udah jadi adonan sebesar 100 gram, baru kita mulai membentuk Pempek. Nah, kalo mau bikin Pempek kapal selam, kita kudu melonjong-lonjongkan adonan itu. Dalam melonjongkan, jempol kita dimasukkan ke dalam adonan. Ini dilakukan untuk membuat lubang.

Lubang yang tadi diputar-putar dijempol nggak usah gede-gede. Kecil aja. Kenapa? Supaya kuning telur bisa masuk ke dalam, bukan masuk ke luar. Dimana-mana masuk ke dalam bukan? Jadi, lubang itu memang dimasukkan cuma kuning telur. Putih telur diletakkan di tempat lain. Jangan dibuang, Bo!

Sekadar note, untuk membuat kantong yang sempurna, dibutuhkan teknik khusus. Teknik ini memang perlu jam terbang. Tapi pada saat kursus singkat yang dilakukan Kakak Ipar gw, terbukti Newcomer pun bisa juga kok!

Setelah dimasukkan kuning telur, adonan tersebut langsung ditutup seperti kayak membuat kue Pastel. Tahu dong kue Pastel? Kue yang isinya ada bihun dan wortel itu. Nah, kalo udah ditutup, adonan Pempek ini siap diluncurkan ke dalam panci berisi air mendidih.




Biarkan adonan Pempek itu bersenang-senang di panci itu. Biar matang, maksudnya. Bagaimana bisa tahu Pempek itu udah matang? Gampang, Man! Kalo ada Pempek yang mengapung, itu tandanya udah matang. Beda lho dengan sebuah benda warna kuning yang mengapung di got. Itu bukan matang, tapi jorse alias jorok sekali.

Dengan mengapungnya Pempek, maka berakhirlah pembuatan Pempek. Soal bagaimana cara memakannya, ya Pempek yang udah diangkat dan ditiriskan, ya tinggal digoreng aja. Mudah bukan?

Sunday, January 11, 2009

PLEASE DON'T PERKOSA GW - A Youndri Story Episode One


Kepercayaan memang segala-galanya. Begitu kita udah percaya pada satu orang, nggak ada yang bisa tergantikan oleh siapapun juga. Walau badai datang, gludug menggelegar, kita tetap percaya pada orang yang kita prcayai itu. Ini gw alami sendiri dengan Hairstylist gw.

Hairstylist itu adalah sebutan keren, buat menggantikan profesi seorang yang ahli dalam menata rambut. Kalo istilah kampungnya, Tukang Potong Rambut. Meski nama dalam jabatan itu ada kata “Tukang Potong”, namun jabatan Hairstylist beda sama Tukang Potong Ayam atau Tukang Potong lain, Tukang Potong Kompas misalnya. Tukang Potong Ayam kudu berdarah dingin dan nggak punya prikebinatangan, karena harus membunuh ayam-ayam. Kalo Tukang Potong Kompas, ini lebih negatif lagi, yakni sebutan buat orang yang mau ambil jalan pintas dengan berbagai cara. Orang yang biasa Potong Kompas sangat licik dan berbahaya. Sementara Tukang Potong Rambut atau Hairstylist, itu lebih style, lebih gaya. Makanya gw gaya. Sok potong rambut di salon sama seorang yang bernama Hairstylist itu.

Hairstylist gw bernama Youndri. Proses pertemuan gw dan kemudian akhirnya jadian sama Youndri, berlangsung singkat aja dan biasa-biasa aja. Ceritanya pas gw masih di kantor lama sekitar tiga tahun lalu. Kebetulan waktu itu kantor gw dekat dengan Pasar Festival, Kuningan (Pasfes). Tinggal turun gedung, jalan kaki 100 meter, nyeberang via jembatan penyeberangan, sampe deh. Di Pasfes ini, ada sebuah salon berinisial “Y” (Maaf, gw nggak mau menyebutkan nama salonnya, karena takut disangka promosi terselubung dan elo jadi tertarik pergi ke situ). Di salon Y inilah gw pertama kali berjumpa dengan kekasih tercinta, ups, salah! maksudnya my future Hairstylist: Youndri.

“Hai godain kita dong,” begitu pertama kali Yondri menyapa gw.

“Boleh aja. Situ harganya berapa?” tanya gw dengan logat ikut-ikutan Bencong Taman Lawang.

“Ah, terserah situ aja, deh!”

Dialog di atas tadi bohong. Bukan Youndri dulu yang menyapa, dan bukan gw pula. Jadi siapa dong? Nggak ada! Waktu itu gw ujug-ujug masuk ke dalam salon dan langsung di-treatment oleh Youndri. Dia tanya mau model seperti apa? Gw jawab, model muktahir yang bisa tahan waktu segala zaman. Gw juga minta tambahan permintaan, model rambut gw kudu membuat wajah gw bersinar-sinar dan look young.

“Gimana kalo aku potingin model spike?” tawar Youndri.

Waktu itu gw nggak ngerti model-model rambut. Maklum, sebelum berjumpa dengan Youndri, gw sempat potong di beberapa tempat. Nggak pernah di satu tempat. Pasti pindah-pindah. Gw pernah potong rambut di samping stasiun Cawang, persis di depan gedung Menara Saidah, MT Haryono, Jakarta Selatan. Di tempat potong rambut yang gw lupa namanya itu, Tukang Potong Rambut-nya asal Padang. Ini bisa dibuktikan dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan seperti Tukang Saji di restoran Padang.

Terus terang gw gak puas sama Tukang Potong Rambut asal Padang itu. Bukan membuat tambah ganteng, tapi malah merubah status kelaki-lakian gw jadi sirna ditelan ombak. Masa habis potong rambut gw jadi dibilang mirip Tanti Yosefa? Padahal gw merasa mirip sama Ida Royani. Gw maklum kenapa tempat potong rambut ini nggak bisa membuat rambut gw seindah tampang gw. Kereta api yang setiap 5 menit sekali lewat itu cukup mengganggu konsentrasi si Padang itu dalam memotong rambut gw.

Selain di dekat stasiun kereta api Cawang, gw juga dah pernah coba potong rambut di belakang gedung Sentra Mulia. Kali ini Tukang Potong Rambut-nya asalnya dari Jawa Timur. Kalo nggak salah Purbolinggo. Ini terdengar dari logatnya yang bletak-bletuk kayak Pegawai di warteg. Di tempat ini, lagi-lagi gw nggak puas. Rambut gw terlalu mirip tentara, dimana pitak-pitak yang ada di kepala gw akan nampak jelas sejelas matahari pagi menyinari bumi. Bukan cuma masalah pitak. Kebetulan juga gw nggak pernah suka sama tentara, karena gw orang yang cinta damai. Dengan potongan tentara seperti itu, jadi memposisikan diri gw jadi suka tentara. Ini berbahaya!

Memang sih murah potong rambut di Cawang atau di belakang Sentra Mulia itu. Sekali potong, biayanya waktu itu cuma 7.000 perak buat dewasa. Buat anak-anak, biayanya 5.000 perak. Nggak bisa ngutang, apalagi gesek sama kartu kredit. Duitnya pun nggak boleh lecek.

“Maaf Bos, di sini cuma bisa terima cash,” kata si Tukang Potong Rambut Sentra Mulia yang menolak gw yang udah siap-siap mengeluarkan dompet yang ada banyak kartu kreditnya.

“Ternyata harga murah menyusahkan juga ya?” kata gw dalam hati. “Nggak heran kalo ada slogan: ada harga, ada barang. Harga selanjit, kualitas nggak ngasal”. Dalam konteks ini, harga potong rambut gw.

Akibat pengalaman gw yang tidak mengenakkan dengan para Tukang Potong Rambut, maka gw mencari dari venue satu ke venue lain. Gw juga nggak ngerti dengan model-model rambut yang cocok buat orang lain, eh buat gw maksudnya. Nah, makanya ketika Youndri menawarkan potongan rambut spike, gw rada tolol. Bener-bener nggak mudeng! So, gw pasrah aja. Gw yakin, si Youndri pasti udah ngeliat kepala gw yang indah berseri ini cocok model rambut spike. Gw juga yakin, nggak mungkin salon segede salon “Y” yang namanya udah tersohor di seluruh Indonesia ini, akan dijatuhkan oleh kredibilitas Youndri.

Sehari, dua hari. Sebulan, dua bulan. Akhirnya selesai juga Youndri memotong rambut gw.

“Gimana potongannya Bang?” tanya Youndri.

Tolong dipikirkan kenapa gw menggulirkan kata “bulan” bukan “jam” atau “menit” buat menggambarkan durasi Youndri potong rambut gw. Sebagai orang yang terpelajar dan dewasa, elo pasti ngerti dong? Kalo nggak melihat dengan mata sendiri, mungkin elo akan memaki-maki Youndri. Menuduh doi ada kolusi dengan rambut gw. Korupsi dengan waktu potong, sehingga pelanggan-pelanggan lain banyak yang nunggu. Kok lama banget sih kerjanya? Bukankah rambut gw nggak gondrong-gondrong amat kayak anak metal?

Saudara-saudara Pembaca setanah air yang budiman, Youdri itu orangnya teliti. Doi detail banget potong rambut gw. Nggak boleh ada satu helai rambut pun yang panjangnya nggak sama dengan rambut lain. Kudu sama, sejajar. Supaya rapi. Kalo perlu, rambut-rambut itu ditanyaai satu per satu apakah mereka (si rambut-rambut ini) udah rapi? Kalo nggak sempat ditanyain, ya diukur pake pengaris.

Dalam memotong rambut, Youndri juga menggunakan equiptment yang beda-beda. Nggak cuma satu sisir. Juga nggak cuma satu gunting. Kalo gw perhatikan, doi pertama potong rambut gw dengan shaver. Alat ini digunakan buat potongan rambut gw yang tebal, yakni rambut samping kiri dan kanan dan belakang. Setelah itu, baru deh gonta-ganti gunting. Ada gunting yang model setengah-setengah, maksudnya setengah tajam, setengah lagi gunting model sisir. Lalu gunting yang asli tajam dua-duanya. Kalo rambut gw agak badung, Youndri akan mengeluarkan gunting rumput.

“Kamu adalah orang yang selama ini aku cari! You are brilliant! Fantastic! Great! Prima!” Begitu komentar gw pada hasil potongan Youndri terhadap rambut gw. “Mulai detik ini, kamu aku baptis jadi Hairstylis-ku. Bersediakah kamu?”

Youndri senyam-senyum. Bulu-bulu tangannya yang tersusun rapi dan banyak itu berdiri, sebagaimana bulu dadanya yang lebat membara itu. Nggak tahu kenapa bisa begini bisa begitu. Apakah beliau ereksi melihat gw? Kan gw lelaki? Doi juga lelaki? Apakah status kelaki-lakiannya perlu dipertanyakan? Apakah tiba-tiba Youndri jadi ge’er dipuji hasil kerjanya sama gw dan doi langsung love at the first sight?

Berbagai prediksi soal Youndri, berkibar di otak gw. Terus terang, gw ngerti banget, soal status kelaki-lakian Youndri, gw memang rada bimbang dan ragu. Maklum, gaya bicaranya banci banget. Benar-benar banci Taman Lawang. Tahu dong gimana intonasinya Banci Taman Lawang? Gw yakin, elo semua udah pernah godain Bencong once in a lifetime. Cara berjalan Youndri pun mirip Peragawati ketimbang Peragawan. Padahal doi asli Batak, lebih tepatnya lahir di Berastagi, Sumatera Utara. Marganya aja Pangaribuan. Mohon dibacanya jangan salah! Pa-nga-ri-bu-an! Bukan seribuan.

Ngeri juga sih bergaul dengan pria model Youndri begitu. Soalnya, gw punya story yang nggak mengasyikkan. Maaf, storynya nggak bisa jadi konsumsi publik alias off the record. Meski status Youndri nggak jelas arahnya, gw keukeh membaptis doi jadi Hairstyle gw. Bukankah selama bisa menjaga diri dengan baik terhadap godaian-godaan syeitan yang terkutut, kita akan tetap jadi lalaki normal bukan? Apalagi tujuan utama gw ke salon “Y” cuma buat potong rambut bukan melakukan sesuatu yang dilarang oleh MUI?

“Sering-sering main ke sini ya,” kata Youndri dengan gaya agak menggoda, begitu gw memberikan tips dan hendak keluar dari salon “Y”. “Nanti aku call kamu deh..”

Sambil mengucapkan kalimat tadi, mata kanan Youndri berkedip. Cling! Mirip seseorang yang memberi aba-aba suka. Bibirnya dikulum-kulum sehingga nampak basah. Gw membalas dengan senyuman. Tapi senyuman maksa. Moga-moga Youndri ngerti, gw nggak mau diperkosa. At least until next appointment buat potong rambut gw.

PLEASE DON'T PERKOSA GW - a Video of Youndri: My Favourite Hairstylist

MENELAN LUDAH SENDIRI

Sebaiknya setiap kali berbicara, Anda harus berpikir puluhan kali. Sebab, statement yang Anda ucapkan, yakni berupa isi pesan, direkam oleh otak Komunikan. Jangan seperti Pejabat di kantor saya. Statement yang sudah diucap, dijilat kembali ludahnya. Hebatnya, Pejabat ini pura-pura nggak tahu.

”Ah, kayaknya saya nggak ada deh waktu itu,” ucap si Pejabat itu.

”Ada kok, Pak. Waktu itu kan ada Bapak, saya, dan mereka,” seorang Manager mencoba mengingatkan si Pejabat yang masih sok nggak ingat ucapan yang pernah dilontarkan olehnya di meeting Direksi.

”Nggak! Saya nggak ada!”

Menelan ludah sendiri memang nggak enak. Biasa bayangkan, muncratan ludah yang Anda sudah keluarkan, lalu Anda jilat-jilat sendiri pakai lidah. Itu kalo secara harfiah. Namun secara simbolisasi, menjilat lidah itu banyak dilakukan oleh manusia-manusia yang nggak tahu malu. Boleh jadi urat malunya sudah putus.

Sungguh menyebalkan bertemu dengan mereka yang seringkali menelan ludahnya sendiri. Dengan tampang sok cool, sok wise (rambut ubanan, kacamata, dan nada bicara berat), dia membuat orang-orang nggak lagi respek.

”Gue baru tahu ternyata sifatnya dia kayak begitu, toh,” seorang Bawahan mengomentari si Pejabat itu.

”Segitu ajah tuh sikap seorang Pimpinan?” Bawahan lainnya menambah perbendaharaan sosok si Pejabat berbulu domba.

Aneh juga kalo ada manusia penjilat ludah ini bisa eksis dan mendapat dukungan. Mungkin karena ketololan orang-orang di sekitar yang memang nggak berani melawannya. Boleh jadi karena dia terlalu licik untuk dilawan, dimana lawan malah akan terpeleset ke jurang kehancuran. Maklumlah, si penjilat ludah pasti berani karena punya backingan yang juga orang yang nggak begitu waras. Yang bilangnya selalu objektif, padahal apa yang dilakukan juga tendensinya ke subjektif, kok.

Si penjilah ludah biasanya juga biasa menjilat-jilat hal lain. Dia bisa sok merendahkan diri, padahal maksudnya adalah menikam seseorang atau sebagian besar orang. Dia pikir, mereka nggak tahu apa yang ia tikam. Dia pikir, orang-orang bodoh nggak mengerti dengan tikamannya.

”Dengan kerendahan hati, di semester kemarin kami memang nggak begitu perform. Namun kami sudah banyak menyumbang banyak angka fantastis yang menyebabkan raport kami berwarna hijau,” papar si Pajabat di suatu meeting.

Kenapa harus ada yang membela? Inilah yang membuat pusing Nenek-Nenek kita pada anak-anak sekarang. Kok pacaran zaman sekarang lebih gokil dibanding zaman dahulu? Lebih bebas! Lebih berani berciuman di depan umum! Lho, apa hubungannya dengan si Pejabat yang mendapat pembelaan? Nggak jauh beda, kok! Sama-sama gokil!

Ataukah zaman sekarang untuk sebuah great achievement harus menjilat lidah sendiri? Yang terlebih dulu menjilat pantat Atasannya? Boleh jadi demikian. Dan memang sudah banyak buktinya, kok. Atasan-Atasan yang menjilah pantat Atasan-Atasannya lagi. Menjilat ludahnya sendiri agar tidak mempermalukan pantatnya yang sudah dijilat sama lidah Bawahannya lagi. Kabar ini menjadi kabar menghebohkan. Bisa jadi masuk Repley’s Believe or Not! Dengan demikian, mari kita saling menjilat pantat dan menjilat ludah kita sendiri. Amin!

ADA HANTU DI SASAK CIHARONG

Terus terang gw baru pertama kali melewati Sasak Cirahong. Namun gw langsung love at the first sight alias jatuh citrong pada pandangan pertamrong (maksudnya pertama). Selain unik, karena cuma bisa dilewati satu mobil. Juga fungsional, yakni menghubungkan dua Kabupaten dan bisa dilewati oleh kereta api. Seperti juga di jembatan-jembatan lain, di Sasak Ciharong ini ada penunggunya, lho! Hiiiii!!!

Disebut Sasak, karena itu bahasa setempat. Yang mengganti kata jembatan. Sasak Cirahong dibangun di atas sungai Citanduy dengan panjang 200 meter.

Sasak Ciharong dibangun pada awal tahun 1900-an dimasa pemerintahan Bupati Ciamis RAA Kusumadiningrat.Sejarah berdirinya Sasak Ciharong, nggak bisa lepas dari sejarah kota Ciamis yang sebelumnya bernama Galuh.

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, pusat kerajaan Galuh, adanya di sekitar Kawali. Menurut Meulen, kata "galuh" berasal dari kata "sakaloh". Artinya, "dari sungai asalnya", Dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja dan belum menikah.

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional. Mengandung unsur gado-gado. Maksudnya campuran antara mitos, dongeng dan legenda, disamping unsur yang bersifat historis tentunya. Naskah-naskah ini termuat antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulau Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, dan Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ÔNg Karesian. Naskah tersebut ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada. Serta Naskah Carita Parahyangan yang ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama nggak bisa lepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan. Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok. Ibukotanya Medang Gili (kira-kira tahun 78 Masehi).

Kerajaan selanjutnya adalah Galuh Rahyang. Lokasinya di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan. Lalu Kerajaan Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh". Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).

Pada bagian cerita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja memerintah di Kawali. Setelah menjadi Raja selama tujuh tahun, dia pergi ke Jawa. Di Jawa, dia perang dengan Majapahit. Asal muasal perangnya relatif sederhana. Begini, dari sumber lain diketahui, Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, minta Puteri Prabu Maharaja buat menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada mau kalo Puteri itu menjadi upeti. Gokil! Masa Perempuan dijadikan upeti, Bo?!
Raja Sunda nggak terima dengan sikap arogan Majapahit itu. Dia memilih perang hingga tetes darah pengabisan di Bubat. Puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu, kerajaan dipegang Hyang Bunisora beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.

Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan beda pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Beda pendapat juga terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan itu, Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (sekarang bernama daerah Cineam).

Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (masih di sekitar daerah Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).

Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, selain dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Buat meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga.

Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.

Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis. Oleh karena Kabupaten ini berdekatan dengan Tasikmalaya, buat kelancaran sarana transportasi plus hubungan perekonomian, maka dibangunlah Sasak Ciharong.

Melewati sasak Ciharong kudu sabar. Mobil bergantian lewatnya. One by one alias satu per satu. Maklum, jalur mobilnya cuma bisa dilalui satu mobil. Ada dua papan yang sengaja dibuat sesuai dengan lebar ban kiri dan kanan. Papan kaso yang tebalnya sekitar 2,5 senti itu dipasang sepanjang 200 meter. Di bawah papan ada balok-balok melintang.

Ada dua pos berada di Kabupaten Ciamis dan pos yang berdiri di Kabupaten Tasik. Pos berukuran 2x1 meter itu ditunggui oleh masing-masing seorang petugas yang mengatur mobil. Kalo dari arah Kabupaten Ciamis yang dapat giliran, petugas akan menghentikan laju mobil dari arah Kabupaten Tasik. Begitu juga sebaliknya. Sekedar info, jembatan ini cuma boleh dilalui oleh kendaraan pribadi. Kendaraan kayak truk atau minibus, nggak bisa lewat Sasak Ciharong. Portal setinggi 1,5 meter udah dibuat permanen sebagai bentuk aksi melarang truk atau mini van melalui Sasak.

Selama berada di jembatan, gw merasa berada di luar negeri. Kayak di New Zealand gitu. Soalnya, di bawah ada sungai yang gede banget. Sungai Citanduy itu tadi, yang aliran airnya waktu gw lewati cukup deras. Sebenarnya kalo buat bungy jumping di Sasak ini memungkinkan banget. Wong dari jembatan ke sungai tinggi banget.
Gw menghayal, kalo bikin film di Sasak ini keren banget kali ya? Kalo ganre-nya action dan kebetulan lagi sekuel kejar-kejaran, ada mobil yang nekad mendahului mobil di depannya. Padahal mobil kudu pelan-pelan dan nggak boleh ada yang menyalip. Atau ada mobil yang seharunya ngantri dari arah berlawanan, tiba-tiba menerobos masuk, sehingga mobil A dan mobil B saling beradu. Mereka ngebut untuk saling menabrak. Namun begitu dekat, mobil A dimirinkan ke kiri, mobil B dimirinkan ke kanan. Beda lagi kalo ganrenya film romantis. Sepasang kekasih sedang menikmati pemandangan dengan melihat ke sisi kiri dan kanan jembatan. Atau mereka memberhentikan mobil, sepasang kekasih itu berada di tengah-tengah jembatan memandang matahari yang udah mau terbenam. Sinar mataharinya menembus batang-batang besi jembatan, mengenai wajah dua insan yang sedang mabuk kepayang.

Menakjubkan memang Sasak Cirahong ini. Ada cerita yang membuat bulu kudu jadi merinding. Seperti juga di jembatan-jembatan lain. Konon di Sasak Ciharong ini ada “penunggu”-nya. Maksudnya ada hantunya. Mungkin nama hantunya Hantu Jembatan Ciharong. Kalo saja ada Producer film yang tertarik bikin film, pasti bakal diangkat lagi Hantu di Ciharong ini. Maklum, stock hantu-hantuan yang diangkat ke film udah habis. Hantu Casablanca udah. Hantu Jeruk Purut udah juga. Tarkhir, Film Maker maksain mendisain nama hantu. Yang terakhir gw lihat di spanduk bioskop ada merek hantu lagi, yakni Hantu Jamu Gendong. Apa pula ini Bah?!

Anyway, gw nggak percaya nama hantunya cuma Hantu Jembatan Ciharong. Nggak kreatif kalo namanya cuma segitu aja. Jadinya? Kalo di jembatan Ancol ada hantu yang disebut sebagai Si Manis Jembatan Ancol. Nah, di Sasak Ciharong ini hantunya nggak manis, tapi pahit. Jadi nama hantunya Si Pahit Jembatan Ciharong.

KENAPA HARUS NGERTIIN ELO, BUKAN NGERTIIN MEREKA?

Dalam hubungan antarmanusia, kata yang paling dibenci adalah ”aku”, ”saya”, atau ”gw”. Dalam buku-buku komunikasi atau people skill yang gw baca, kata itu kudu dihindarkan. Ini kalo elo memang berniat memiliki banyak teman daripada banyak musuh.

Sayang, orang suka membicarakan diri sendiri ketimbang mendengarkan orang lain. Mulut kita lebih banyak dipekerjakan ketimbang diistirahatkan. So, jangan heran kata yang muncul pastilah ”aku”, ”saya”, atau ”gw”. Manusiawi memang. It’s so human! Kita nggak terbiasa menjadi a good listener.

Nggak cuma kebiasaan membicarakan diri sendiri, soal sikap pun kadang kita seringkali nggak peduli orang lain. Apa yang kita lakukan, terserah apa kata orang. Mereka mau ngomong apa, EGP: Emang Gue Pikirin! Mending yang dilakukan itu positif. Artinya, aktivitasnya bermanfaat bagi banyak orang. Namun, justru malah sebaliknya, bikin orang kesal. Ini terjadi di kantor gw.

Seorang Pejabat tua bangka seenaknya merokok di ruang ber-AC. Padahal di ruang itu jelas-jelas tertulis NO SMOKING yang artinya DILARANG MEROKOK. Selain kalimat itu, ada gambar sebatang rokok yang disilangkan oleh garis warna merah. Kalo si Pejabat ini buta huruf udah pasti nggak mungkin. Nggak bisa bahasa Inggris, masih mungkin, tapi masa kalimat NO SMOKING nggak mungkin ngerti dong? Pun buta gambar. Seorang dengan jabatan tinggi seperti Pejabat tua beruban ini nggak mungkin kalah sama anak umur 4 tahu yang ngerti simbol DILARANG MEROKOK.

”Nggak ada yang berani melawan saya!”

Pejabat ini memang bak preman. Nggak ada yang berani menegur, even Security berbadan besar pun nggak punya nyali. Padahal mungkin menegurnya dengan cara baik-baik, apalagi dengan cara kasar. Baik Security maupun HRD beraninya memang menegur pada karyawan kelas kambing yang kebetulan merokok sembarangan. Padahal belum tentu sembarangan juga sih, paling cuma di ruangannya, sama persis dengan Pejabat itu. Tapi sekali lagi, Pejabat ini punya backing lebih gede ketimbang gw dan temen-temen gw yang kroco ini. Soal gaji pun, si Pajabat ini punya gaji 10x lebih gede dari gw. Hmm...

Nggak perlu gw ceramahin lagi bahaya merokok. Yang perlu dicermati sebenarnya adalah bahaya keegoisan para Perokok, yang juga dilakukan Pejabat di kantor gw ini. Sebagai Passive Smoker, kalo ada waktu berdua dengan Pejabat ini (ingat dalam kondisi berdua dengan mood yang asyik), gw rasanya pengen menegur deh. Tentunya dengan cara gw. Kenapa berdua? Kalo dalam forum meeting, teguran gw (walau relatif sopan) bisa mempermalukan dirinya maupun diri gw.

”Saya boleh nggak sih merokok di dalam kantor seperti Bapak?” begitu pertanyaan gw pada Pejabat itu.

”Nggak boleh!”

”Lho, kenapa Bapak boleh?”

”Saya bukan kamu. Saya ini Direktur! Kamu ini siapa? Manager aja bukan kok sok-sokan mau ngikutin saya...”

Gw memang kroco. Nyatanya memang kroco. Kalo prinsipnya seperti Pejabat ini, dimana kalo level tinggi bisa semena-mena melakukan suatu kegiatan yang mengganggu orang lain, kapan kita punya Pemimpin yang patut dicontoh? Bukankah seorang Pemimpin harus memberi contoh orang-orang yang dipimpinnya? Dari Pejabat ini, sedikitnya ada dua hal negatif yang menjadi tanda tanya besar apakah dia layak menjadi Pemimpin atau seharusnya dia dipimpin. Pertama, soal merokok yang sudah dipastikan nggak sehat. Kedua, merokok di tempat yang seharusnya dilarang untuk merokok.

Too selfish!

”Kenapa sih kita harus ngertiin dia, bukan dia ngertiin kita yang mayoritas ini?” tanya teman gw berinisiap KI.

Manusia egois memang begitu sifatnya. Dia (manusia egosi ini) lebih menonjolkan ke-AKU-annya. Ke-SAYA-annya. Ke-GW-annya. Gw mau ngerokok dimanapun gw mau, gw mau makan tokai kek, itu hak gw. Kalo soal ego, dia yang terpelajar ternyata lebih tolol dari mereka nggak sempat menimba ilmu di sekolah. Dia yang bergelar Sarjana, ngga lebih dari lulusan TK yang masih perlu diberi wejangan-wejangan soal sopan santun, soal ada orang lain selain kita, soal ada kewajiban yang harus kita patuhi selain hak kita.

”Saya mau kerja di sini, karena Owner mau mematuhi syarat yang saya ajukan,” papar si Pejabat tua yang sudah mulai pikun ini. ”Pertama saya boleh merokok dimana pun saya suka dan punya hak mengatur semua operasional di perusahaan ini!”

Bukan cuma si Pejabat sok kuasa ini yang egois. Terkadang, sadar atau nggak, kita semua egois, termasuk gw. Ketika sedang hamil atau mens, wanita bisa seenaknya marah atau punya sikap nggak mengenakkan. Marah dan sikap nggak baik itu seolah sudah menjadi sebuah bentuk kewajaran.

”Kan gw lagi mens, boleh dong gw marah?”

”Masa orang hamil nggak boleh marah? Boleh dong?!”

Padahal yang namanya mens, yang namanya hamil, bukan tercipta untuk menjadi Wanita beda. Wanita yang emosional. Memang betul, setiap mens, emosi diri wanita terlanjur memungkinkan untuk marah. Namun ini bukan menjadi alasan wanita jadi berbeda. Katanya mau dibilang emansipasi?

Nggak beda dengan pada saat hamil. Apakah orang hamil bisa seenaknya memaki-maki orang lain? Membuat orang lain sakit hati dan harus mengerti dirinya yang sedang hamil? Yang gw tahu, menurut dokter hamil itu sebenarnya sama halnya dengan wanita biasa yang nggak hamil. Dia (wanita hamil) kebetulan punya kandungan di perutnya, sehingga perlu asupan makanan lebih. Gw memang nggak hamil atau belum hamil dan nggak tahu kapan gw bisa hamil. Namun, seorang Psikolog pernah mengatakan: ”Nggak ada hubungannya kehamilan dengan sikap egois!”

”Harunya elo dong ngertiin gw, masa gw ngertiin elo?!” kata seorang teman gw yang hamil pada temannya lagi yang kebetulan belum sempat dihamili.

Buat si hamil, ucapannya biasa. Tapi buat si yang belum hamil, ucapannya memotong-motong hatinya. Si belum hamil jadi sakit hati. Ia merasa si hamil nggak mengerti pekerjaan yang sedang dilakukannya, sementara si hamil merasa nggak peduli. Merasa ngerti, padahal nggak ngerti. Ironis!

”Padahal aku kerja untuk bantuin dia juga,” begitu si belum hamil curhat sambil menangis.

Para pria juga seringkali menuntut pengertian lebih besar pada istri-istri yang kerap kali bertanya soal pekerjaan suami. Suami merasa, istrinya nggak pernah ngerti alasan pulang malam. Suami merasa, istrinya super tolol. Padahal yang tolol si suami itu. Kenapa? Ya, karena keegoisannya itu tadi.

”Aku pulang malam ini untuk nyari uang, Ma! Untuk kamu! Untuk anak-anak kita! Masa sih kamu nggak ngerti-ngerti?”

Gw seringkali terjebak pada sikap itu. Sikap egois. Dan gw yakin bukan cuma gw doang yang terlanjur menciptakan sifat egois dan menancapkan sifat itu tanpa mau dirubah. Tapi kalo Pejabat yang jabatan Direksi itu aja memberi contoh sikap egois, kemana lagi kita mencontoh sikap toleran ya? Kenapa sih harus ngertiin elo, bukan ngertiin mereka?

SUKSES DALAM PERSPEKTIF GW - Episode Number 2

Ketika kita masih tolol, segala hal yang kita pikirkan maupun kita lakukan pasti juga ikut-ikutan tolol. Seperti cerita gw sebelumnya, dimana ukuran sukses seseorang cuma gara-gara pakai dasi. Ternyata gw salah besar!

Dari dasi, pencerahan gw bertambah. Ukuran sukses mulai berubah. Kali ini jauh lebih mahal dari dasi. Nggak lain nggak bukan mobil. Yap! Mereka yang berhasil punya mobil, apalagi mobil baru, gw anggap orang sukses.

Mobil adalah cermin suatu progres atau achievement dalam hidup seseorang dalam hal karir. Karir di sini tentu termasuk satu paket dengan jabatan plus salary yang dimilikinya. Nggak mungkin dong, ada orang yang awalnya naik motor trus berani beli mobil kalo orang ini nggak maju karirnya? Entah itu karir bisnis atau karir sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

”Nggak nyangka ya si A naik sekarang naik mobil, padahal dulunya naik getek sama-sama gw,” ujar si B yang hidupnya masih S3 alias susah-susah senang.

”Betul. Padahal waktu kecilnya kalo pilek hidungnya ingusan,” kata si C mengamini ada peningkatan di karir si A.

Mobil bukan dasi. Mobil punya roda, dasi nggak punya. Namun buat gw, ketololan gw memandang orang sukses dengan melihat mobil, sama halnya ketika pandangan gw melihat orang memakai dasi. Kali ini tentu ketololan gw meningkat tinggi. Artinya gw naik level, dari cuma prespektif dasi kini ukurannya mobil.

Mari kita hitung-hitungan! Kalo karyawan berani membeli mobil seharga minimal 100 jt, itu artinya gajinya sebulan harusnya 12 juta. Sehingga kalo sudah setahun bekerja dan menabung 10 juta per bulan, dia mampu membeli mobil itu cash (10X12 = 120 jt.). Sisa 2 jt tiap bulannya untuk biaya hidup sehari-hari, meski di Jakarta seperti ini 2 jt sungguh berat. Sisa yang 20 jt-nya lagi, biar aja ditabung. Siapa tahu bisa untuk hal-hal urgent ato nambahin beli saham Bumi Resources yang murah itu.

Hitungan di atas tentu tanpa gw berpikir dimana si karyawan tinggal, bagaimana life style-nya, dan udah married apa belum. Kalo si karyawan itu ngontrak, wah hitungannya itu hangus demi hukum! Apalagi kalo life style-nya gokil-gokilan, yang tiap minggu kudu ke Starbuck, Izzi Pizza, ato tempat-tempat gaul yang bikin tekor. Nggak cukup punya biaya hidup 2 jt per bulan plus nabung 10 jt per bulan untuk beli mobil next year. Apalagi kalo udah punya anak, sementara gaya hidup-nya masih belum berubah (spend time and money in a useless way), mending ke laut ajah!

Itu pikiran relative normal. Yang nggak normalnya, gw nggak peduli dengan isi kantong karyawan yang punya mobil baru ato keren. Gw juga nggak peduli dengan jabatan si karyawan. Buat gw, begitu si karyawan udah punya mobil, dia sukses. Padahal mobilnya cuma mobil kantor yang ada logo perusahaan.
”What’s wrong with that?” Tanya karyawan soal mobil kantor yang seolah menjadi mobil pribadi karena selalu dibawa pulang.

Memang nggak wrong-wrong amat sih, tapi itu ternyata namanya pseudo sukses. Maaf bukan sirik, karena nggak dapat jatah mobil, tapi kadang gw lucu juga kalo lihat berseliweran orang naik mobil yang mobil itu dinomorin, apalagi ada logonya. Kalo si pemilik mobil lagi nyetir sendiri, mirip Driver si perusahaan itu. Kalo dia kebetulan disupirin, jangan-jangan nggak cuma mobilnya ada angka 001 atau 005, tapi di dadanya ada nomor itu juga.

Kadang si karyawan sok banget. Dengan pakaian super style, disupirin seorang Driver, padahal naik mobil perusahaan. Kadang si karyawan sok galak-galak di kantornya, padahal begitu pulang, mobilnya udah nggak ada. Mobil yang biasa dipake antar-jemput ke kantornya harus diserahkan ke General Affairs perusahaan itu, karena bannya bocor.

Ada yang bilang, lebih terhormat mencicil mobil pakai gaji sendiri daripada memanfaatkan property miilik kantor. Lebih terlihat kerja kerasnya karena tiap bulan kudu bayar cicilan mobil.

”Lah, perusahaan ngasih gw jatah mobil, masa disia-siakan? Lagipula gw belum sanggup juga bayar cicilan?”

”Kalo belum sanggup bayar cicilan, artinya elo seharusnya belum layak pakai mobil. Elo masih kudu kerja keras! Ya, naik bemo dulu deh ke kantor..”

”Nanti wajah gw jadi hitam dong…”

Ampun!

Identitas sebuah jabatan memang ada di mobil. Ketika karyawan naik pangkat, dia akan mendapatkan jatah mobil. Kalo masih agak ”rendahan”, mobilnya dikasih yang ada logonya atau logo plus nomor mobil. Kalo levelnya udah Manager ke atas, mobilnya rada-rada mahalan, mulai dari Soluna sampai ke Alphard.

”Kok Bapak itu naiknya Alphard sih,” kata si M sok mengomentarai.

”Lah, memangnya kenapa? What’s wrong? Doi kan Direktur! Masa Direktur naiknya bajaj? Ya nggak mungkin lah yau?”

“Gw juga bisa naik Alphard!”

”Emang situ oke? Situ Direktur?”

”Lah, gw tinggal naik aja di hotel Mulia. Di situ banyak Alphard. Gw cukup bayar 10 rb sekali naik, beres kan?”

“Maksud loe Alphard taksi?”

Si M nyengir.

Mau Alphard ato Soluna, dua-duanya merek Toyota yang dipake taksi. Kata orang, memang jadi nggak prestis lagi punya dua mobil itu. Soalnya ketika mobil itu lewat, banyak orang yang melambaikan tangan. Maksudnya mau naik tuh mobil, karena dikira taksi. Meski begitu, baik Alphard maupun Soluna lebih mendingan, daripada naik mobil pinjeman kantor yang berlogo.

Gw perhatikan, pasti orang ini luar biasa sukses, karena mobilnya ganti-ganti atau mobilnya built up alias diimport dari luar negeri. Padahal kalo otak normal gw berkerja dengan baik, mereka ini adalah anak-anak orang kaya atau yang terlahir kaya, kok. Yang begitu lahir langsung dipakein sepatu Nike atau Adidas. Boro-boro ibaratnya nginjek tanah, main dampu atau kasti aja mungkin belum pernah.

Padahal lagi, mereka yang mobilnya mengkilap ini dapat mobil gara-gara Ayahnya yang konglomerat itu nggak mau anaknya naik bus kota. Panas dan nggak nggak pake AC. Atau punya suami orang kaya, sementara sang istrinya cuma ngabisin alokasi dana HRD untuk karyawan yang sebenarnya lebih memerlukan gajinya daripada dia (maksudnya istri kaya itu).

”Elo nggak boleh sinis begitu dong Bos,” papar temen gw.

”Enggak! Gw nggak sinis kok, tapi cemburu,” jawab gw.

”Kalo gitu, elo nggak usah cemburu gitu dong. Cemburu itu nggak beda sama sirik, iri, atau dengki. Itu dosa Bos...”

”Wah, elo bener juga! Mulai hari ini elo gw panggil Ustadz, gimana?”

Temen gw ge’er. Hidungnya kembang kempis. Gw baru tahu, kalo keinginannya untuk dipanggil Ustadz udah lama diidam-idamkannya. Sayang, nggak ada orang yang mau panggil dia jadi Ustadz. Soalnya, temennya kabarnya punya sifat sirik, iri, atau dengki.

”Thanks ya Bos. Gw sebel sama si X. Harusnya gw udah lama dipanggil Ustadz, eh masa di X yang nggak bisa ngaji, lebih dulu dipanggil Ustadz? Sama di Y juga gw iri banget, masa dapat istri cantik, nah istri gw kayak gitu tampangnya. Kelihatan kayak cowok, kok ternyata fisiknya cewek. Cewek yang kecowok-cowokan lebih tepatnya...” ungkap temen gw.

Uh, dasar manusia!

Berhubung udah sepuluh tahun bekerja, gw kudu nunjukin pada dunia kalo gw sukses. Caranya? Gw harus pake mobil! Dengan mobil, gw akan nunjukin ke temen-temen gw yang pake mobil berlogo perusahaan, bernomor perusahaan, kalo gw sukses.

Alhamdulillah, gw berhasil membawa mobil. Bukan sembarangan mobil, tapi mobil Grand Vitara warna siver metalik. Keren banget! Peleknya crome seharga puluhan juta rupiah. Gw udah sukses!

”Lah, ini kan mobil gw? Kenapa Anda bawa?”

”Maaf Pak. Saya lagi test drive…”

”Memang Anda siapa?”

”Saya karyawan bengkel, Pak,” jawab gw memelas.

Mobil yang gw pake langsung dibawa Pemiliknya. Gw ditinggal sendirian di Kebon Teh di Puncak. Emang apes nasib gw.

HELLO GOODBYE



Inilah versi aslinya...

MENDING IKUT NIKAH MASAL DEH!


Mungkin udah ada yang tahu kalo gw baru aja melangsungkan pernikahan untuk yang kedua kali. Pernikahan gue kali ini relatif sederhana, yakni di sebuah gedung pertemuan di daerah Pejompongan, Jakarta Barat. Beda banget dengan pernikahan gw pertama di salah satu Hotel berbintang lima di Jakarta Selatan, dimana waktu itu dihadiri oleh kurang lebih 1000 undangan.

Gue sebenarnya agak malu membuat resepsi pernikahan kali ini. Ya iyalah, tamu-tamu yang diundang sebagian tentu adalah tamu-tamu yang gw undang di pernikahan pertama gue. Sodara-sodara gw, temen-teman SMA gw, temen-temen kuliah gw, kenalan-kenalan ortu gw, dan tetangga-tetangga gw. Niatnya cuma mau ngundang 200 orang, eh jadi membludak 500 undangan.

Tadinya gw bilang ke istri gw, resepsi nggak usah dibuatlah. Cukup akad nikah aja. Toh, kami sudah resmi secara negara maupun agama. Tapi itu kan maunya gw. Nah, maunya istri gw dan keluarga besarnya beda banget. Maklumlah, buat dia, ini pernikahan pertama dan harusnya terakhir.

Awalnya, keluarga besar istri gw mau merayakan di Puncak pas. Alasannya, bokap istri gw suka suasana Puncak yang sejuk merayu. Ada view pohon teh, kabut yang turun naik, dan tukang-tukang jualan yang ada di pinggir jalan. ”Suasananya mengingatkan saya waktu kuliah di Afrika dulu,” kata bokap istri gw. Tamu yang bakal diundang pun jumlahnya 2000 orang. Gw ngerti bokap istri gw ini Pejabat yang pasti relasinya bejubun. Tapi kalo undangannya sampe 2000 orang bisa-bisa Puncak akan semakin macet parah. Udah gitu, gw pasti akan gempor ngeladenin para undangan. ”Kenapa nggak di lapangan bola aja, Om?” tawar gw pada mertua waktu itu.

Buat yang udah pernah married, pasti ngalamin hal-hal kayak begitu. Sering terjadi tarik menarik antara dua keluarga. Sementara keluarga A minta begini, eh keluarga B mintanya lain lagi. Gw inget banget waktu pernikahan pertama, memakai adat apa itu perlu setahun untuk memutuskan. Sementara gw asli Betawi, istri gw asli Timor Timur. Makanya waktu itu, karena kelamaan, gw putuskan memakai adat setengah-setengah. Dari perut ke atas memakai adat Betawi. Sementara dari perut ke bawah memakai adat Timor Timur. Adil bukan?

Untuk makanan pun supaya adil, gw nggak pesan makanan dari Betawi atau Timor Timur. Kenapa? Ya, nggak asyik lah masa orang daerah makan makanan daerah itu pula. Bosen lah yau! Ini juga untuk membentuk sebuah toleransi sosial. Makanya gw putuskan pesan gubuk dari berbagai propinsi, di luar Betawi dan Timor Timur. Ada gubuk Padang yang berisi sate padang. Ada gubuk Menado yang menyajikan ikan tude. Ada gubuk Makassar yang berisi coto Makassar. Ada pula gubuk Tegal yang menyajikan masakan khas Warteg. Khusus untuk gubuk Tegal, di depan gubuk disediakan bangku kayu panjang, mirip di warteg-warteg, supaya para tamu bisa makan langsung sambil angat kaki. Yang nggak ada cuma gubuk derita.

Kata orang, pernikahan itu memang bukan cuma untuk kita berdua. Tapi kita menikah itu juga satu paket dengan keluarga besar pria atau keluarga besar wanita. So, jangan heran kalo ada seringkali ada tarik menarik kepetingan. Inilah yang terkadang bikin cape. Bahkan ada beberapa pasangan yang membatalkan married setelah melihat iklim yang nggak kondisif seperti itu.

Gw adalah orang yang hampir membatalkan married yang kedua ini. Intervensi mertua gw kedua ini terlalu dominan. Untung gw nggak begitu terima mentah-mentah usulan-usulan keluarga besar istri gw. Gw punya prinsip dong! Apalagi ini pernikahan gw yang kedua. Akan percuma dirayakan besar-besaran tapi nantinya harus kawin lagi yang ketiga, keempat, kelima, dst.

Gw nggak ngebayang gimana perasaan Dessy Ratnasari atau Ulfa ketika melangsungkan pernikahan kedua kali, trus ketiga kali, dan kemudian kempat kali. Gw ngebayang Dessy dan Ulfa bersalaman dengan para tamu yang di pernikahan pertama sempat datang. Pasti pesan para tamu itu punya grafik statement.

”Selamat ya,” bisik ibu A di pernikahan pertama.

”Semoga kali ini awet ya,” bisik ibu A di pernikahan kedua.

”Diawet-awetin lah dengan yang ini (maksudnya pasangannya),” bisik ibu A di pernikahan ketiga.

”Kalo udah nggak suka, kasih saya ya,” bisik ibu A di pernikahan keempat.

Apa nggak malu ya si Dessy sama Ulfa? Nikah berkali-kali. Gw aja malu banget! Ups, mungkin gw yang rada bego kali ya. Ya jelas beda lah rasa malunya, gw kan bukan selebritis, mereka selebritis, yang jelas-jelas punya cadangan malu banyak. Bukankah selebitis itu juga dikenal antimalu?

Gw salut banget punya ortu yang sudah melewati 50 tahun masa perkawinan. Jelas sudah melewati masa perkawinan emas, perak, dan perunggu kali ya. Mereka masih terlihat romantis dan rukun. Foto yang elo-elo lihat di atas itu, adalah foto ortu gw saat married tahun 1913.

Gw tahu lah, mereka pasti sering konflik. Namanya juga mahkluk planet yang berbeda: Mars VS Venus. Salah satu konflik yang gw masih inget ketika hamil adik gw kelima, mereka ingin adik gw itu dijadikan wanita, karena adik-adik gw nggak ada yang berjenis kelamin wanita. Namun, nyokap gw nggak setuju, karena anak yang lahir jelas-jelas berjenis kelamin pria. Masa pria dipaksa jadi wanita? Bisa-bisa mejeng di Taman Lawang kalo kejadian.

Menurut ortu gw, ada beberapa resep jitu agar awet selama jadi suami-istri. Pertama, terbuka. Terbuka di sini bukan cuma kalo di ranjang buka-bukaan, tapi terbuka dalam komunikasi. Terbuka berarti jujur. Kita kudu jujur pada pasangan. Kalo pasangan mukanya lagi jelek, ya bilang langsung aja: ”Muka Mama jelek deh, sini Papa cubit”.

Resep kedua, sering-sering memuji. Memuji itu seperti sebuah hadiah, dimana seorang yang menerimanya akan berbinar-binar wajahnya. Pujilah pakaian istri kalo memang pakaiannya bagus. Pujilah saat istri lagi ngulek sambel: ”Ma, Mama kalo ngulek sambel seksi deh. Papa jadi pengen ML”.

Resep ketiga, don’t give up! Maksudnya kita kudu sabar menghadapi pasangan. Konflik yang terjadi itu biasa dalam perjuangan. Setiap muncul konflik, jangan inget yang bukan-bukan, misalnya inget sidang perceraian, inget pacar di kantor, inget harga cabe di pasar. Please don’t. Inget yang positif-positif aja, misal bayangkan istri kita mirip Madonna ato suami kita mirip Cinderella ato Gepeto Tua. Gali sesuatu yang menurut kita istri ato suami pernah berjasa bagi diri kita. Contoh, ketika kita mau terjun dari apartemen lt 20, istri ato suami kita sudah siap-siap menjaga kita di lantai bawah dengan kasur springbed.

Resep dari ortu itu kali ini gw pegang. Gw komit. Nggak heran, di pernikahan gw kedua ini, gw berharap akur trus sampe cucu-cicit. Karena kalo cerai lagi, gw akan ribet lagi ngurusin ini-itu, termasuk resepsi. Namun barangkali kalo benar-benar terjadi, gw dan juga gw usul ke Dessy dan Ulfa, lebih baik ikut pernikahan masal aja. Nggak perlu keluar uang banyak, nggak perlu menahan rasa malu dengan orang-orang yang sempat bersalaman dengan kita di resepsi.

INDONESIA MAKANAN APAAN TUH?

Buat mereka yang sering berpergian ke luar negeri, pasti mengalami banyak “gangguan” pertanyaan soal Indonesia. Suka nggak suka, gini hari di tahun 2008 ini, masih banyak orang asing yang nggak tahu dimana itu letak Indonesia. Boro-boro letak, negara Indonesia pun mereka sering mempertanyakan: “Memangnya ada negara bernama Indonesia?”

Mampus nggak loe?!

Kejadian tersebut di atas tadi, pernah gw alami sendiri pada saat gw melancong ke Italia. Gw pikir, Indonesia pasti udah ngetop sampai Italia dong. Wong banyak kok perempuan-perempuan Indonesia yang berwajah jelek maupun setengah cantik kawin dengan Italiano. Sayangnya, anggapan gw salah. Gw, yang saat itu bersama istri dan anak-anak gw, dikejutkan dengan pertanyaan seorang Penjual souvenir. Dia menanyakan prihal eksistensi Indonesia. Menurut gw pertanyaannya parah banget, Bo!

“Memang udah banyak ya orang Indonesia yang pakai baju?” tanya di Penjual souvenir itu.

“Yeee...loe pikir gw sama keluarga gw baru pake baju tahun 80-an?! Loe pikir politikus-politikus Senayan pada saat sidang berbugil-bugil ria?!” maki gw dalam hati.

Bagi mayoritas orang Eropa maupun Amerika, Indonesia masih dianggap negara primitif. Di dalam persepsi mereka, orang-orang Indonesia banyak yang masih nggak pakai baju alias bugil. Masih sering bunuh-bunuhan. Perang antarsuku. Makannya masih pakai daun. Yang menyedihkan, tinggalnya masih di atas pohon. Persis kayak monyet.

Belum lama ini, gw ngobrol banyak dengan Trie Utami. Kebetulan, dia bersama Dwiki Dharmawan sering tur keliling dunia bersama grup mereka: Krakatau. Di dalam lawatan tur, banyak pertanyaan-pertanyaan aneh binti ajaib yang selalu dilontarkan oleh para wartawan luar negeri.

“Makanya tiap di konferensi pers, wartawan-wartawan itu bukan tanya soal musik yang gw akan mainkan, tapi nanya soal lain,” ungkap Trie Utami yang akrab disapa Teh I’ie ini. “Pertanyaannya: Indonesia aman nggak sih? Kenapa sih masih banyak perang suku? Kenapa sih antarmuslim saling bunuh-bunuhan?....”

Terus terang sebagai orang Indonesia, gw sedih plus sakit mendengar cerita Teh I’ie. Gila, Bo! Masa Indonesia yang kaya raya ini dilecehkan begitu? Apa mereka nggak tahu kalo Indonesia adalah salah satu negara terbesar yang punya pulau 17.508 buah? Yang luas wilayahnya 5.193.252 km2? Apa mereka nggak mudeng kalo Indonesia kaya dengan rempah-rempah sejak dahulu? Dimana bangsa Belanda sempat menjajah negara ini 350 tahun lamanya hanya untuk menguasai lada, tembakau, cengkeh, kopi, pala, cokelat, kelapa, dan hasil rempah-rempah lain. Tidakkah negara-negara tahu kalo Indonesia juga negara penghasil minyak bumi, gas alam, alumunium, timah, batubara, tembaga, nikel, mangaan, emas, dan perak?

Menyebalkan memang Indonesia belum 100% diketahui orang-orang Eropa, Amrik, atau negara-negara lain. Padahal, Indonesia memiliki 200 lokasi suaka alam yang luasnya 7 juta hektar. Padahal, flora di Indonesia memiliki 50 jenis tumbuh-tumbuhan yang udah sangat langka di dunia, memiliki 780 jenis angrek, 1.600 jenis kayu-kayuan, dan 6.000 jenis pakis. Padahal juga, Harimau Sumatera merupakan jenis satwa termasyur di dunia, dan juga orang utan.

Kalo gw pikir-pikir, nggak salah juga sih negara-negara di luar sana, masih nggak tahu eksistensi Indonesia. Public relations soal Indonesia di luar negeri konon memang parah banget. Promosi Indonesia nggak seheboh Singapura atau Malaysia yang punya Tourism Board kelas wahid. Dua negara ini bahkan mengklaim diri sebagai “Trully Asia”. Padahal gw yakin banget, yang patut dapat julukan “Trully Asia” harusnya Indonesia.

Gw pikir juga, ada benarnya kalo negara-negara maju mengganggap kita primitif. Percaya nggak percaya, sampai saat ini ciri khas manusia primitif masih terjadi kok di Indonesia.

Perang antarsuku?

Realitanya, masih terjadi perang antarsuku. Bukan cuma suku yang ada di pedalaman, tapi di Jakarta yang konon katanya kota metropolitan pun masih ada perang antarsuku. Tengok saja perebutan tanah sehingga terjadi perang antarsuku B lawan A. Di lain tempat, ada lagi perang antara suku M melawan suku D.

Lucunya, perang-perangan ini juga terjadi di kalangan intelektual. Kalangan dimana selalu meneriakkan reformasi di tiap orasi mereka. Misal salah satunya, perang antara para mahasiswa Universitas U lawan mahasiswa-mahasiswa Universitas Y. Mereka timpuk-timpukan batu. Peperangan mereka jadi membuat macet di sepanjang jalan Salemba.

Munafik, sok moralis, sok reformis, sok intelektual. Kata-kata itu memang tepat diperuntukan untuk mahasiswa-mahasiswa yang doyan tawuran. Mereka ini terlihat nggak konsisten dengan apa yang diucapkan, apa yang dituntut pada Pemerintah, dan apa yang dilakukan oleh mereka sendiri. Meminta Pemerintah agar mereformasi struktur birokrasi, eh diri mereka sendiri nggak becus.

Masih belum banyak yang pakai baju?

Boleh jadi benar. Suku-suku di pedalaman, memang masih banyak yang nggak suka pakai baju dan nggak pakai celana pula. Ada yang sudah terbiasa pakai celana, tapi masih tetap nggak pakai baju. Bahkan tetangga gw yang nggak tinggal di pedalaman, kalo kegerahan bertelanjang ria. Mending perutnya six pack, ini mah one pack alias buncit.

“Orang-orang Betawi di kampung sini emang begitu Mas,” kata tetangga gw mengometari tetangga gw yang doyan bertelanjang dada itu.

Belakangan, beberapa orang juga coba-coba mau telanjang. Tapi telanjangnya masih setengah-setengah alias malu-malu kucing. Ini gw perhatikan kalo ke mal. Gw lihat perempuan-perempuan pake kaos ketat yang menonjolkan bodongnya. Tali behanya kemana-mana. Biasanya kalo ngeliat begitu, rasanya gw pengen ambil gunting trus putusin tuh beha. Ditambah lagi mereka banyak yang pake hotpants yang bulatan pantatnya seringkali mencuat ke luar dari sarang si hotpants.

Lucu juga sih. Sementara Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh negara-negara luar sana, penetrasi budaya Barat udah merajalela. Barangkali ini yang namanya krisis budaya. Well, gw nggak bisa menyalahkan 100% pada mereka yang melakukan alkulturasi budaya. Keterbukaan media udah nggak bisa dibendung. Generasi MTV, CNN, serta bioskop 21 dan Blitz udah menjadi bagian dari life style bangsa Indonesia. Semua udah terjadi begitu, lantas mau diapakan lagi.

Gw cuma berpikir, jangan-jangan orang-orang bule sana in next years menanggapi soal Indonesia dengan sangat memilukan. Ini lantaran ketakutan gw dengan kultur keindonesiaan serta public relation yang samar-samar ini.

“Indonesia? What kind of food is that?”