Sunday, January 11, 2009

ADA HANTU DI SASAK CIHARONG

Terus terang gw baru pertama kali melewati Sasak Cirahong. Namun gw langsung love at the first sight alias jatuh citrong pada pandangan pertamrong (maksudnya pertama). Selain unik, karena cuma bisa dilewati satu mobil. Juga fungsional, yakni menghubungkan dua Kabupaten dan bisa dilewati oleh kereta api. Seperti juga di jembatan-jembatan lain, di Sasak Ciharong ini ada penunggunya, lho! Hiiiii!!!

Disebut Sasak, karena itu bahasa setempat. Yang mengganti kata jembatan. Sasak Cirahong dibangun di atas sungai Citanduy dengan panjang 200 meter.

Sasak Ciharong dibangun pada awal tahun 1900-an dimasa pemerintahan Bupati Ciamis RAA Kusumadiningrat.Sejarah berdirinya Sasak Ciharong, nggak bisa lepas dari sejarah kota Ciamis yang sebelumnya bernama Galuh.

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, pusat kerajaan Galuh, adanya di sekitar Kawali. Menurut Meulen, kata "galuh" berasal dari kata "sakaloh". Artinya, "dari sungai asalnya", Dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja dan belum menikah.

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional. Mengandung unsur gado-gado. Maksudnya campuran antara mitos, dongeng dan legenda, disamping unsur yang bersifat historis tentunya. Naskah-naskah ini termuat antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulau Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, dan Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ÔNg Karesian. Naskah tersebut ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada. Serta Naskah Carita Parahyangan yang ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama nggak bisa lepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan. Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok. Ibukotanya Medang Gili (kira-kira tahun 78 Masehi).

Kerajaan selanjutnya adalah Galuh Rahyang. Lokasinya di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan. Lalu Kerajaan Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh". Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).

Pada bagian cerita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja memerintah di Kawali. Setelah menjadi Raja selama tujuh tahun, dia pergi ke Jawa. Di Jawa, dia perang dengan Majapahit. Asal muasal perangnya relatif sederhana. Begini, dari sumber lain diketahui, Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, minta Puteri Prabu Maharaja buat menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada mau kalo Puteri itu menjadi upeti. Gokil! Masa Perempuan dijadikan upeti, Bo?!
Raja Sunda nggak terima dengan sikap arogan Majapahit itu. Dia memilih perang hingga tetes darah pengabisan di Bubat. Puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu, kerajaan dipegang Hyang Bunisora beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.

Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan beda pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Beda pendapat juga terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan itu, Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (sekarang bernama daerah Cineam).

Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (masih di sekitar daerah Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).

Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, selain dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Buat meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga.

Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.

Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis. Oleh karena Kabupaten ini berdekatan dengan Tasikmalaya, buat kelancaran sarana transportasi plus hubungan perekonomian, maka dibangunlah Sasak Ciharong.

Melewati sasak Ciharong kudu sabar. Mobil bergantian lewatnya. One by one alias satu per satu. Maklum, jalur mobilnya cuma bisa dilalui satu mobil. Ada dua papan yang sengaja dibuat sesuai dengan lebar ban kiri dan kanan. Papan kaso yang tebalnya sekitar 2,5 senti itu dipasang sepanjang 200 meter. Di bawah papan ada balok-balok melintang.

Ada dua pos berada di Kabupaten Ciamis dan pos yang berdiri di Kabupaten Tasik. Pos berukuran 2x1 meter itu ditunggui oleh masing-masing seorang petugas yang mengatur mobil. Kalo dari arah Kabupaten Ciamis yang dapat giliran, petugas akan menghentikan laju mobil dari arah Kabupaten Tasik. Begitu juga sebaliknya. Sekedar info, jembatan ini cuma boleh dilalui oleh kendaraan pribadi. Kendaraan kayak truk atau minibus, nggak bisa lewat Sasak Ciharong. Portal setinggi 1,5 meter udah dibuat permanen sebagai bentuk aksi melarang truk atau mini van melalui Sasak.

Selama berada di jembatan, gw merasa berada di luar negeri. Kayak di New Zealand gitu. Soalnya, di bawah ada sungai yang gede banget. Sungai Citanduy itu tadi, yang aliran airnya waktu gw lewati cukup deras. Sebenarnya kalo buat bungy jumping di Sasak ini memungkinkan banget. Wong dari jembatan ke sungai tinggi banget.
Gw menghayal, kalo bikin film di Sasak ini keren banget kali ya? Kalo ganre-nya action dan kebetulan lagi sekuel kejar-kejaran, ada mobil yang nekad mendahului mobil di depannya. Padahal mobil kudu pelan-pelan dan nggak boleh ada yang menyalip. Atau ada mobil yang seharunya ngantri dari arah berlawanan, tiba-tiba menerobos masuk, sehingga mobil A dan mobil B saling beradu. Mereka ngebut untuk saling menabrak. Namun begitu dekat, mobil A dimirinkan ke kiri, mobil B dimirinkan ke kanan. Beda lagi kalo ganrenya film romantis. Sepasang kekasih sedang menikmati pemandangan dengan melihat ke sisi kiri dan kanan jembatan. Atau mereka memberhentikan mobil, sepasang kekasih itu berada di tengah-tengah jembatan memandang matahari yang udah mau terbenam. Sinar mataharinya menembus batang-batang besi jembatan, mengenai wajah dua insan yang sedang mabuk kepayang.

Menakjubkan memang Sasak Cirahong ini. Ada cerita yang membuat bulu kudu jadi merinding. Seperti juga di jembatan-jembatan lain. Konon di Sasak Ciharong ini ada “penunggu”-nya. Maksudnya ada hantunya. Mungkin nama hantunya Hantu Jembatan Ciharong. Kalo saja ada Producer film yang tertarik bikin film, pasti bakal diangkat lagi Hantu di Ciharong ini. Maklum, stock hantu-hantuan yang diangkat ke film udah habis. Hantu Casablanca udah. Hantu Jeruk Purut udah juga. Tarkhir, Film Maker maksain mendisain nama hantu. Yang terakhir gw lihat di spanduk bioskop ada merek hantu lagi, yakni Hantu Jamu Gendong. Apa pula ini Bah?!

Anyway, gw nggak percaya nama hantunya cuma Hantu Jembatan Ciharong. Nggak kreatif kalo namanya cuma segitu aja. Jadinya? Kalo di jembatan Ancol ada hantu yang disebut sebagai Si Manis Jembatan Ancol. Nah, di Sasak Ciharong ini hantunya nggak manis, tapi pahit. Jadi nama hantunya Si Pahit Jembatan Ciharong.

2 comments:

arip purwadi said...

Kren gan?? Ide certa nya keren..gkgkkk

arip purwadi said...

Keren gan.?? Ide cerita gokil abis.. Hahaaa