Wednesday, January 21, 2009

MANUSIA PINDAH-PINDAH

Percaya nggak percaya, sejak zaman primitive sampai zaman modern sekarang ini, manusia punya sifat tukang pindah. Sudah banyak bukti yang menunjukan manusia sifat manusia itu.

Manusia berpindah udah ada sejak 2000 SM. Ini ditandai dengan imigarsi bangsa Austronesia melakukan kepulauan Indonesia melalui Malaya ke Jawa. Juga ke pulau Formosa, Filipina ke sebagian pulau Kalimantan. Konon, bangsa Austronesia ini yang kelak menjadi nenek moyang langsung Indonesia.




Cara hidup bangsa Austronesia adalah berburu dan berladang. Alat yang mereka gunakan anak panah dan tombak. Mereka hidup di gua-gua untuk sementara dengan mengembara berpindah-pindah tempat. Pada masa ini dikenal dengan sebutan zaman batu muda atau Neolitikum.

Perpindahan manusia gelombang kedua terjadi tahun 500 SM. Perpindahan kali ini udah membawa kebudayaan Dongson melalui jalan barat lewat Malaysia barat. Kebudayaan Dongson, yakni kebudayaan yang telah memakai logam sebagai alat bantu kehidupan dikenal dengan sebutan zaman perunggu.

Nah, di abad 20-an, manusia masih aja punya sifat tukang pindah-pindah. Namun, alasan perpindahannya nggak cuma soal pindah tempat tinggal aja. Lalu pindah apa? Please see these note!

1. Pindah Sekolah

Motivasi orang pindah sekolah ada bermacam-macam. Ini juga tergantung orang yang pindahan itu. Kalo orangnya dari keluarga baik-baik dan kebetulan anak orang kaya, pindah sekolah gara-gara nantinya pengen kuliah di luar negeri. Daripada pas kuliah bahasa Inggris-nya belum bisa cas-cis-cus, so mulai dari SMP sampai SMA, sekolahnya pindah, dari sekolah negeri pinggir kali ke sekolah di luar negeri.

Sodara gw melakukan hal ini pada anak-anaknya. Sejak SMP, anak-anaknya disekolahan di luar negeri, lebih tepatnya di Santa Monica, Amerika Serikat. Bertahun-tahun sekolah si sana sampai kuliah. Begitu selesai kuliah, mereka tetap aja bahasa Inggris-nya pasif. Kasihan banget deh! Seilidik punya selidik, ternyata bukan karena sodara gw itu males conversation dengan native speaker, tapi memang gagu alias tuna wicara.

Buat orang dari keluarga nggak bener, pindah sekolah gara-gara nggak naik kelas. Daripada menanggung malu keluarga, mending anak dipindahin. Makanya kalo ada anak yang wajahnya lebih tua di kelas, langsung tanya umurnya. Kalo udah ketahuan umurnya lebih tua beberapa tahun dan nggak masuk akal dengan umur rata-rata anak di kelas, bisa dipastikan anak itu nggak naik kelas.

Nggak naik kelas nggak selalu anak itu goblok atau tolol. Bisa jadi, faktor kenapa anak itu nggak naik kelas karena anak itu memang malas belajar, malas ujian, sering bolos, otaknya sinting, gila, miring, atau punya otak mirip keledai.

Lain halnya nggak naik kelas karena terlambat bayar uang sekolah. Maklum, kudu ngumpulin seperak dua perak recehan. Pas begitu mau bayaran, kurang limaratus perak, ditolak sama Administrasi Sekolah. Lain waktu lain, uang ribuannya robek. Persoalan-persoalan ini biasanya datang dari keluarga miskin.

2. Pindah Kuliah

Seringkali kita kuliah bukan karena kemauan hati. Kuliah cuma gara-gara menyenangkan hati orangtua. Supaya nggak dianggap sebagai “anak durhaka”, “anak setan”, atau “anak tak bertuan” kita terpaksa kuliah.

“Masa Bapak dan Ibumu Sarjana kamu cuma lulusan SMA? Malu dong!” kata seorang Ayah pada seorang anak yang ogah kuliah.

“Emang gini hari gelar masih berlaku ya?” tanya anak itu.

“Ya masih lah! Buktinya banyak hal-hal yang harus pake gelar...”

“Contohnya?”

“Gelar tinju profesional, gelar akbar, dan gelar tiker...”

Kalo kondisinya udah nggak tertarik kuliah, biasanya akan putus kuliah. Baru semester 2 atau 3, udah nggak kuliah-kuliah lagi. Namun kalo anak ini punya prinsip, beda keputusannya. Di awal-awal dipaksa kuliah oleh orangtua, tapi anak ini tertarik kalo jurusannya sesuai pilihan hati. Orangtua boleh mendaftarkan ke sekolah kedokteran, karena berharap anaknya jadi Insinyur. Tapi begitu udah keterima di kedokteran, anak itu pindah jurusan, yakni jurusan Kampung Melayu-Pologadung, eh salah jurusan Administrasi Negara.

“Kenapa kamu ngambil jurusan itu?” kata orangtua Y, menanyakan alasan anaknya pindah jurusan ke jurusan Administrasi Negara.

“Karena saya ingin jadi Arsitek dan membangun gedung-gedung bertingkat,” jawab sang anak.

“Bagus-bagus-bagus,” sambut orangtua seperti menirukan gaya Pak Tino Sidin. Sambil mengangguk-anggukan kepala.

3. Pindah Kerja

Orang yang selalu pindah kerja disebut kutu loncat. Gw nggak tahu kenapa kutu yang jadi sasaran untuk sebutan manusia pindah kerja. Kenapa bukan kambing loncat? Kenapa bukan bajing loncat? Atau gajah loncat? Untuk kambing, barangali karena kambing najis tralala baunya. Kalo bajing loncat, nggak mungkin. Sebab, bajing loncat udah dibuatkan lagu. Begini lagunya: bajing luncat ceuceu... kelapa muda...Nah, kalo gajah loncat, ini berbahaya. Ya tahu sendiri badan gajah segede tembok, begitu loncat, yang ada temboknya ambrol.

Barangkali kutu adalah binatang kecil yang tubuhnya mungil. Gara-gara kemungilan tubuhnya kutu, jadi mudah loncat kesana-kemari kali ya. Inilah makanya si kutu yang jadi sasaran dipersonifikasikan buat manusia pindah-pindah. Padahal seharusnya sebutan kutu loncat cuma buat manusia yang tubuhnya kayak kutu (kecil dan mungil). Kalo yang pindah itu manusia dengan bobot 5 karung beras, seharusnya lebih cocok gajah loncat.

Biasanya manusia pindah kerja lebih banyak karena faktor jabatan dan uang. Semakin tinggi jabatan, semakin gede gaji yang didapat. Nggak mungkin dong jabatan Chief Executive Officer (CEO) gajinya setara dengan Office Boy (OB)? Meski begitu, ukuran gaji CEO di perusahaan A dengan perusahaan B nggak sama.

“Apa betul ini Bapak X?” tanya seorang Headhunter yang kebetulan sedang mencari CEO perusahaan sandal jepit.

“Iya betul. Ini siapa ya?” tanya Bapak X yang saat itu masih menjabat sebagai CEO di perusahaan pengolahan kardus.

“Hayo tebak ini siapa?”

“Ini pasti Adnan Buyung deh?”

“Bukan!”

“Kusni Kasdut?”

“Kan udah mati!”

“Kalo begitu ini siapa dong?”

“Ini Headhunter! You are under arrested! Eh, bukan! Maksudnya kami ingin membajak Bapak untuk jadi CEO perusahaan sandal jepit. Bapak mau nggak?”

“Mau! Mau! Gajinya berapa?”

“Emang gaji Bapak sekarang berapa?”

“Enampuluh juta!”

“Nah, karena Bapak punya pengalaman, maka di perusahaan yang baru nanti, kami menawarkan gaji 40 juta. Tertarik pindah?”

“Hayo! Siapa takut!”

Selain jabatan dan salery, faktor lain kenapa orang pindah kerja adalah faktor lingkungan. Ketika lingkungan kerja udah nggak asyik lagi, Bos-nya nggak mem-back up, teman-teman udah memusuhi, nggak ada jalan lain ya pindah kerja. Ngapain juga mempertahankan diri kalo suasana kayak neraka? Ini bisa mempengaruhi produktivitas kerja serta performance si karyawan itu.

4. Pindah Jurusan

Kalo ini terjadi pada Penumpang kendaraan umum, ada dua kemungkinan. Pertama, tujuan utamanya memang jauh, sehingga kudu pindah dari kendaraan satu ke kendaraan lain. Ada temen gw, buat mencapai kantor, kudu naik kendaraan umum sampai 4 kali. So, dia kudu pindah-pindah kendaraan yang jurusannya berbeda-beda.

“Emang rumah loe dimana kok sampai 4 kali pindah kendaraan?”

“Rumah gw sih dekat di Cempaka Putih...”

“Lah, kalo dekat, kenapa pindah sampai 4 kali?”

“Pertama kan gw nebeng Bos gw sampai jalan Pemuda. Nah, di jalan Pemuda, gw ambil mobil. Berarti gw pindah dong? Pindah dari mobil Bos gw ke mobil gw. Setelah gw ambil mobil, gw pergi jemput istri di kantornya di Gatot Subroto. Mobil gw tinggal di kantor istri gw, dan gw naik Mayasari Bakti 57. Itu pindah lagi dong?! Dari mobil gw ke Mayasari Bakti. Tarkhir, setelah naik Mayasari Bakti, gw turun lagi dan pindah lagi ke ojek. Jadi, kalo dihitung-hitung gw 4 kali turun naik kan?

Kemungkinan kedua, pindah jurusan karena Penumpang itu linglung. Nggak tahu alasan dia linglung. Bisa karena banyak pikiran, banyak anak, banyak rezeki, atau banyak masalah di kantor. Yang seharusnya mau ke Blok M, orang linglung ini naik jurusan Bandung. Begitu sampai di stasiun Kota, mau pergi ke Semarang. Karena salah jurusan kendaraan, dia terpaksa pindah jurusan.

Beda kasus kalo tiba-tiba kita disuruh pindah ke kendaraan lain oleh Kondektur. Ini memang sering terjadi nih. Mentang-mentang Metromini yang kita naiki kosong, si Kondektur langsung mengoper (maksudnya menurunkan dan menaikkan dengan paksa ke Metromini lain) kita. Biasanya dengan Metromini nomor yang sama. Tapi ada juga sih yang nggak sama, tapi masih satu tujuan.

5. Pindah Rekening Bank

Dalam dunia perbankan, pindah-memindahkan rekening udah menjadi hal biasa. Dari rekening kita ke rekening orangtua kita. Ini anak berbakti namanya. Si anak transfer uang ke ibunya yang kebetulan lagi nggak punya uang. Atau dari rekening Bapak atau Ibu ke rekening anaknya yang lagi kuliah. Ini memang kewajiban.

Pindah rekening jadi nggak wajar kalo yang transfer atau yang ditransfer itu orang yang bukan muhrimnya. Misalnya, Pengusaha Perkayuan ke anggota DPR/ MPR, politisi sebuah partai ke calo WTS gang Doli, atau Calon Presiden yang ditransfer uang dari negara Yordania gara-gara niat banget jadi Presiden.

Rekening yang ditransfer dengan cara nggak wajar, itu namanya korupsi. Banyak kasus-kasus yang membongkar rekening fiktif. Sebenarnya nggak fiktif, karena rekening itu pasti ada yang punya. Kebetulan daripada ketahuan korupsi, namanya dibuat bukan nama asli. Misalnya namanya Totok di rekening diubah menjadi Titik. Atau ada yang nama aslinya Tol diubah menjdi Til.

“Maaf nomor rekening Bapak berapa ya? Saya mau transfer nih,” tanya seorang Pengusaha yang mau transfer sekian miliard ke salah seorang Politikus.

“Ke DVD aja deh Pak,” kata si Politikus yang kumisnya jarang itu, mirip kayak tikus.

“Maksudnya Pak?”

“Bapak jangan transfer ke VCD, karena kualitasnya nggak bagus. Kalo DVD, kualitasnya lumayan. Tapi terserah Bapak deh, mau transfer ke Betacam, miniDV, atau seloloid juga nggak masalah...”

Pindah-pindah di atas tadi memang nggak berdosa. Kalo kata agama gw, hukumnya masih makruh: kalo dikerjakan nggak dapat pahala, nggak dikerjakan nggak berdosa. Nah, ada pindah-pindah yang sebaiknya jangan dilakukan, karena berdosa, yakni pindah orangtua, pindah pasangan, pindah kelamin, apalagi pindah agama.

Kita akan dikutuk seperti Malin Kundang kalo nggak mengakui orangtua kandung kita dan pindah orangtua. Memang elo mau jadi batu? Kalo gw mah mau, asal batunya batu es, karena batu es bisa mencair. Nggak ding! Gw nggk mau kayak Malin Kundang. Biar orangtua kita jelek, pesek, kepalanya botak, badannya kurus kering, kakinya korengan, mereka tetap orangtua kita. Apalagi dengan Ibu. Jangan pernah pindah ke lain Ibu. Bisa durhaka! Masuk neraka!

Pindah pasangan terjadi kalo hubungan kita mentok. Komunikasi antarasuami istri nggak bisa berjalan lagi. Elo bisa pindah ke lain hati. Ini kalo elo memang udah resmi jadi suami istri. Tapi kalo masih bujangan, pindah-pindah pasangan, bisa berakibat vital. Bisa kena visrus HIV atau virus Brontok.

Gw adalah orang yang nggak setuju kampanye AIDS dengan menggunakan kondom. Lho kok kondom? Ini bukan sama aja menganjurkan orang melakukan seks bebas tapi sopan (maksudnya aman). Menganjurkan seks bebas demi menghindari AIDS, sama aja menghancurkan nilai-nilai agama. Gawat! Kalo suami istri nggak mungkin dong takut HIV? Kecuali sejak awal married, istrinya udah tahu suaminya HIV atau sebaliknya. Lagipula jarang suami-istri pake kondom. Nggak nikmat katanya. Mending langsung-langsung aja tanpa “dibatasi” oleh karet. Makanya pake spiral atau suntik atau obat atau kalender (Lho! Kok ini jadi kampanye Keluarga Berencana seh?!).

Pindah jenis kelamin juga perbuatan dosa. Biar Dorce Gamalama udah mengkalim diri sebagai wanita, udah pergi haji dan bergelar Hajjah, tetap aja dia adalah lelaki. Nggak ada yang bisa mengelak status kelaminnya itu. Dia tetap bernama Ahmad Ashadi. Biar Titit-nya udah diganti jadi Vagina, payudaranya udah disumpal dengan silikon, tetap aja Dorce adalah lelaki. Jangan-jangan Titit-nya memang masih ada?

“Tapi kan dia udah punya suami?”

“Suaminya aja yang bego! Masa cowok kawinin cowok?! Kalo perkawinan itu tercatat di KUA, gw bisa bilang Kepala KUA-nya iku wong edan!”

“Tapi kan orang-orang panggil dia ‘Ibu’ bukan ‘Bapak’?”

“Orang-orang aja yang pada tolol. Harusnya panggil dia Abang!”

“Abang becak?”

“Kalo si Dorce punya Becak ya sok aja panggil Abang Becak!”

Friends, kalo elo saat ini berniat pindah kelamin, mending nggak usah deh. Tobat! Balik ke jalan yang benar. Udah nggak zaman lelaki jadi perempuan, atau perempuan jadi lelaki. Sekarang zamannya, lelaki kewanita-wanitaan. Tapi begitu kenal Perempuan, si laki-laki ini ereksi. Ujung-ujungnya, masih normalah. Atau wanita agak kelelaki-lelakian. Ini namanya Tomboy. Temennya Tomboy adalah Tom Riders atau Tom Tam Group. Apapun namanya, tetap wanita harus jadi wanita. Hanya orang-orang tolol yang suka dengan sesama pasangan jenis.

Yang terakhir dan nggak boleh terjadi adalah pindah-pindah agama. Bro, please deh jangan pernah pindah agama gara-gara tergoda dengan harta, tahta, dan wanita. Dijanjikan mobil mewah, asal mau pindah agama. Idih! Najis! Ditawari jabatan terhormat di sebuah perusahaan, asal pindah agama. Ya, amplop! Ngapain sih? Yang paling sering, gara-gara wanita cantik atau pria ganteng, kita jadi pindah agama.

Biar Sophia Latjuba suka sama gw dan mau married sama gw, nggak akan sudi gw pindah agama. Emang sih itu nggak mungkin terjadi. Begitu juga kalo Tamara Bleszynsky atau Luna Maya ngajakin gw kawin, tapi dengan syarat pindah agama. Wah, ke laut ajah mereka. Emang wanita cantik cuma Sophia, Tamara, atau Luna aja? Si Yati juga cantik. Kebetulan aja hidungnya pesek, jadi namanya Yati Pesek. Coba kalo Yati hidungnya mancung, pasti panggilannya Yati Mancung (ini apa hubungannya ya?). Trus, gara-gara Tora Sudiro ganteng dan macho, gw jadi bela-belain pindah agama. Wah, mohon maaf deh! Mending gw selingkuh sama monyet!

Agama tuh bukan untuk dibuat main-main, Bro! Agama bukan kayak bola, yang bisa pindah sana, pindah sini, digocek sana digocek sini, ditendang sana dan sini. Begitu elo lahir dan mengucapkan kalimat yang menyatakkan komitmen loe pada agama itu, seumur hidup kudu komit. Kalo sebelumnya elo biasa nyembah batu, ya jangan nyembah petromak lah. Petromak itu cuma khusus buat cari kodok atau cari belut. Kecuali.... (silahkan persepsikan sendiri!)

Supaya nggak jadi manusia pindah-pindah, makanya sering-seringlah menyanyi lagu Kla Project, supaya nggak pindah orangtua, pasangan, kelamin, maupun pindah agama.

Aku tak bisa pindah...pindah ke lain hati...

Tuesday, January 20, 2009

MEMBUNUH BAKAT SYIRIK

Dimanakah tempat paling asyik berjumpa dengan setan? Buat penggemar Ziarah, kuburan menjadi tempat nongkrong yang paling asyik. Di kuburan, mereka akan bersuka cita dengan setan-setan yang katanya akan memberikan rezeki, kesehatan, umur panjang, jodoh, dan aneka permintaan manusia lainnya.

Kenapa Ziarah bisa ketemu setan? Kalo perkara cuma Nyekar ke kuburan orangtua, mungkin persoalan akan lain. Nyekar biasanya setahun sekali. Ya, sekedar kangen-kangenan sama orangtua. Sebenarnya dalam kamus agama gw, nggak diwajibkan Nyekar. Kalo mau mendoakan orangtua, nggak harus ke kuburan segala. Cukup selesai sholat, baca deh doa buat orangtua. Dijamin sampe ke Tuhan. Soalnya nggak ada yang korupsi doa. Lebih praktis dan ekonomis kan daripada harus ke kuburan?



Beda Nyekar sama Ziarah (ini menurut versi gw ya, Bro!), Ziarah lebih “dahsyat”. Yang didatangi ke kuburan bukan orangtuanya, tapi orang lain. Orang yang katanya semasa masih hidup punya ilmu tinggi. Yang kalo dipukul nggak bisa benjol. Yang kalo dibacok nggak bisa mengeluarkan darah, tapi mengeluarkan kentut. Yang kudu disucikan, daripada dikotori. Orang yang udah terkubur ini disembah-sembah sama para Peziarah (orang yang melakukan Ziarah). Mereka sok baca-baca cuplikan dari kitab suci Al-Qur’an sambil memegang tasbih. Kalo orang tolol melihat, pasti akan berkata: “Wow! Mereka ini luar biasa ya. Pasti orangnya sangat alim dan sangat bertakwa sama Tuhan yang Maha Esa”. Yang mereka lakukan itu namanya syirik! Ayo sama-sama kita teriak: “SYIRIIIIIIK!”

Beruntunglah Emak dan Babe gw nggak pernah ngajarin how to Ziarah. Beruntung juga istri keluarga gw nggak diwariskan nilai-nilai ancur dengan melakukan Ziarah. Kalo diwariskan, udah pasti gw akan mengajarkan ke anak-anak gw atau anak-anak gw mengajarkan ke anak-anaknya lagi tentang menyebah kuburan, berdoa di depan kuburan dengan mengucapkan doa-doa plus membawa tasbih. Yang lebih goblok lagi, gw bisa jadi diajarkan sholat di depan kuburan dan ditutup dengan doa minta apa pun via orang yang dikubur itu. Memang sih tergantung niat sih. Tapi kalo Nyekar ke kuburan orang lain, kira-kira niatnya apa ya kalo bukan karena melakukan sebuah kesyirikan?

Gw juga berpesan ke istri dan anak-anak gw, kalo nanti gw udah mati, nggak ditengokin di kuburan juga nggak masalah. Gw nggak merasa terhina atau minta dihormati dengan tidak hadirnya keluarga gw ke kuburan. Gw udah cukup senang, istri dan anak-anak gw mendoakan gw setelah sholat. Kalo mau sekedar melepas rindu, membersihkan makan gw supaya nggak kotor, ya silahkan aja sih. Prinsipnya, gw memang nggak mau menyusahkan keluarga gw. Mau datang ke kuburan silahkan, nggak datang nggak apa-apa. Better not lah! And please don't minta yang macam-macem dari kuburan gw, karena gw nggak akan ngasih apa-apa. Yang ngasih kita ya Tuhan kita.



“Oh Tuanku, tolonglah hambamu ini agar mendapatkan jodoh wanita yang cantik, seksi, kaya raya, rumahnya di Pondok Indah, mobilnya Hammer, dan punya bisnis berlian...” Itu kata-kata seorang Peziarah.

“Maruk amat,” itu kata salah seorang Peziarah lain yang berada di samping Peziarah yang tadi banyak mintanya. Sebut saja Peziarah A. Gara-gara dikomentari seperti itu, Peziarah A langsung ngomel ke Peziarah yang komentar itu (kita sebut Peziarah B).

“Syikirk, loe!”

“Lah, bukannya elo sekarang sedang melakukan hal syirik? Berdoa-doa di kuburan?” protes Peziarah B.

“Iya-ya,” Peziarah A baru sadar. “Jadi kita sama-sama syirik ya?”

“Ya-iyalah! Masa ya-iya dong?”

Mereka akhirnya berteman. Nggak saling syirik-syirikan lagi. Mereka sepakat lebih baik mensyiriki orang lain daripada mensyiriki diri mereka sendiri.
\
Di kuburan, kita memang bisa melakukan kesyirikan. Sebenarnya alam jiwa dan raga semua manusia (termasuk gw), memiliki bakat syirik. Nah, kalo kita ditanya lagi dimana tempat paling asyik berjumpa dengan setan, ya di dalam diri kita ini. Kita yang mengaku sebagai manusia beradab nan keren, memiliki potensi yang luar biasa buat berjumpa dengan setan. Ada hati yang berfungsi sebagai tombol yang setiap waktu akan mempertemukan sama setan.

“Jeng, tahu nggak si Ibu Anu? Dia itu baru beli kulkas 4 pintu, lho?” kata si Ibu A membuka pergosipan dengan Ibu B.

“Kok kayak mobil ya 4 pintu?” jawab Ibu B.

“Iya-ya kayak mobil,” pikir Ibu A ragu-ragu dengan gosip yang sebelumnya udah terlanjur dihembuskan. “Jangan-jangan saya salah lihat? Jangan-jangan memang mobil? Iya, mobil kali ya?”

Hati-hati dengan hati kita. Setiap kali mata kita melihat, setiap kali kuping kita mendengar, dan kemudian masuk ke hati kita, maka hati kita akan mempertanyakan ke arah mana elo akan memilih? Apakah hati elo akan ke arah syirik? Atau hati loe cuek bebek?

Kalo ke arah syirik, udah dipastikan hati loe akan langsung men-switch ke tombol negatif. Hati loe jadi nggak terima dengan tetangga yang beli kulkas 4 pintu. Nggak terima teman loe beli blackbarry rasa strawbarry. Nggak terima saudara loe bisa beli mobil BMW padahal kerjanya cuma di kantor LSM. Nggak terima melihat kenyataan Bos loe yang wajahnya jelek rupawan itu dapat istri cantik secantik Tamara Blezensky. Nggak terima orang di satu busway lagi chatting-chatting-an dengan menggunakan laptop mini buatan Kerawang. Dan nggak terima-nggak terima lainnya.



Melakukan kesyirikan bukan cuma soal siapa menyembah apa. Maksudnya, kalo di agama gw, menyembah selain Allah, itu namanya syirik. Menyama-nyamakan Tuhan dengan manusia apalagi binatang, itu syirik. Tuhan is Tuhan. Batu bukanlah Tuhan. Kayu juga bukan Tuhan. Gajah bukan Tuhan juga. Masa Tuhan ada belalainya? Gendut pula. Gw mah ogah punya Tuhan kayak gajah.

Kata orang syirik tanda nggak mampu. Statement ini bergulir ketika ada orang nggak mampu, melihat orang mampu membeli sesuatu yang lebih, yang harganya mahal. Oleh karena nggak punya uang dan nggak mampu punya sesuatu yang mahal itu, orang yang nggak mampu itu bergunjing, bergosip ria, membahas orang kaya itu. Misalnya orang kaya yang baru operasi plastik.

“Lihat deh hidung si Kokom mancung banget. Pasti doi dioperasi plastik di Haji Tjeje yang ada di Mangarai itu,” komentar si B yang nggak lain nggak bukan teman kantor si Kokom.

“Ah, masa Haji Tjeje mancungnya begitu?” kata si D.

“Memangnya mancungnya Haji Tjeje gimana?”

“Mancungnya Haji Tjeje ya kayak hidungnya Haji Tjeje lah yau...”

“Iya juga sih...”

Syirik memang sulit dilupakan oleh hati kita. Seringkali kita berharap dan berdoa agar syirik-syirik yang ada di hati segera meninggalkan diri. Namun sebagai manusia yang keturunan Monyet, kita seringkali lupa. Monyet aja lupa masa manusia nggak bisa lupa? Oleh karena itu, membunuh syirik yang udah menjadi bakat alami dalam diri kita ini, perlu nyali tersendiri. Nyali bahwa kita bisa membunuh. Kita bisa meneriakkan genderang perang.

“Hai pasukan syirik! Enyahlah kau dari hatiku dan hati-hati manusia! Please don’t come back again! If you come back, I’ll fight you! Till dead do us part!”

"ALWAYS" - BON JOVI

Monday, January 19, 2009

WAJAH KOTA REZEKI KAMPUNG

Dahulu kala, saya seringkali menilai status sosial seseorang cuma dengan melihat tampang. Kalo tampangnya keren, hidungnya mancung, matanya tajam, dan kulitnya nggak kasar, pasti orang itu orang kaya. Sebaliknya kalo tampangnya dekil, hidungnya pesek nggak mancung nggak, rambutnya berminyak, kulitnya ditumbuhi beberapa jerawat, ketiaknya ditumbuhi rambut tapi nggak dipotong, itu pasti dari golongan orang kere alias miskin.

Begitulah manusia, selalu cepat menilai dari pandangan pertama. Sebenarnya kebiasaan nilai menilai orang itu seringkali akibat dari generasi sebelumnya. Maksudnya, ortu kita, Mbah buyut kita, dan buyut-buyut yang lain dan buyut-buyutnya tetangga mengajarkan soal penilaian ini.





”Agus iku orange apik yo,” kata Mbahnya tetangga dengan bahasa Jawa campursari ini. ”Aku yakin, Agus iku pasti anak’e wong akeh,” tambah Mbak yang kupingnya sudah budeg tapi kalau mendengar ada wanita merintih masih bisa mendengar ini.

Mbahnya tetangga itu mengajarkan pada saya, orang yang rapi, bersih, dan tampan termasuk golongan kaya, ningkrat, punya uang, anak Menteri, anak penjabat, anak angota DPR, masih saudara dengan Presiden, atau keturunan konglomerat. Waktu kecil, saya jelas mengamini, mengangguk: ”Iya, pasti dia anak orkay (baca: orang kaya),” pikir saya sambil terbengong-bengong melihat ketampanan orang kaya yang dimaksud.

Terkadang, waktu kecil saya juga banyak diajari soal status sosial ini. Kali ini bukan cuma fisik, tapi soal attitute. Manusia-manusia yang punya attitute lemah lembut, baik budi, sopan, itu pasti anak orang kaya. Dia pasti tinggal di rumah gedong, bertingkat, yang pembantunya ada dua sampai tiga. Yang tiap pagi breakfastnya pakai omlet, telur rebus, dan segelas susu.

Lain halnya dengan manusia yang sering mencuri, merampok, membunuh, pasti dari golongan nggak mampu. Yang pendidikannya cuma sampai Sekolah Dasar (SD). Yang rumahnya di rumah kumuh yang ukurannya 2x3, dimana kalo hujan pasti tetesan airnya harus ditadahkan oleh sebuah baskom. Yang selalu makan dari sisa-sisa hotel murahan, syukur-syukur bisa makan tiga kali sehari, makan sehari saja sudah Alhamdulillah. Yang selalu pakai celana dalam side A side B.

Begitulah pendidikan ”menilai orang”. Kata orang pendidikan itu lahir dari keluarga, sebuah ”kerajaan kecil”, dimana segala attitute, perintah, kebijakan, pengetahuan, dan life skill lain diajarkan. Tinggal masalahnya ”pelajaran” itu bisa lurus atau malah bengkok. Kalo lurus output-nya jadi positif, kalo bengkok output-nya jadi negatif.

Ternyata setelah saya sudah nggak goblok lagi, otak saya mulai berfungsi normal. Penilaian-penilaian itu tidak absolute. Standar penilaian bukan lagi pada masalah tampang, ato bukan lagi pada masalah attitude. Ini semua berdasarkan pengalaman dan juga berdasarkan survey yang bukan dari Survey Research Indonesia (SRI).
Bahwa saya menemukan seorang pria gagah seperti Ariel Peter Pan, tinggi, berbulu dada, kulitnya nggak berminyak, ternyata dia adalah tukang ojek di Mampang Prapatan. Di sebuah Mal kelas CD yang berada di bilangan Senen, saya juga menjumpai wanita seksi berbodi mirip Sarah Azhari, dengan pakaian branded, hidung mancung, kuping caplang, rambut dicat, eh begitu kenalan dia adalah seorang pembantu di Cempaka Putih.




Belum cukup contoh di atas, saya sempat berkenalan dengan anak muda pada saat saya kesasar di sebuah jalan. Anak muda itu rambutnya dipotong dan diberi gel ala spike, sepatunya adidas, celana jins branded, wajahnya perpaduan antara Rano Karno dan Nazar Amir, eh nyatanya begitu saya ikuti rumahnya di gang sempit MHT. Yang kalo makan cuma pake celana pendek plus kaos singlet dekil.

Mereka ternyata berwajah kota, namun sayang rezekinya rezeki kampung. Padahal kalo saja mengikuti penilaian ortu-ortu kita, mereka sudah dikategorikan manusia-manusia kaya. Dengan fisik yang nyaris sempurna, dengan penampilan yang luar biasa, mereka sepatutnya bisa disandangkan dengan orkay-orkay lain. Namun nyatanya?

But dear friends, mereka memang punya wajah kota dan rezeki kampung. Namun attitude mereka sometimes nggak ada relevansinya dengan penilaian kampungan ato nggak kampungan. Attitute mereka terkadang jauh melebihi orkay-orkay yang masih bergentayangan di negara kita. Orkay-orkay yang korup, nggak sopan, suka membunuh, atau merampok hak orang.






Belum lama ini, saya pergi ke Tasimalaya. Di Tasik, ada sebuah pembuat kerajinan anyaman yang hasil anyamannya ini diskspor ke Amerika dan Eropa. Mereka membuat tas, tempat baju, tikar, maupun sandal. Dengan menggunakan bahan dari batang pohon kelapa, mereka mampu mengembangkan usahanya di tengah krisis sekarang ini. Luar biasa bukan? Mereka telah berhasil menjalankan ekonomi kreatif yang sedang didengung-dengungkan belakangan ini sebagai gelombang ekonomi keempat.

Sekarang, dengan otak saya yang sebagian masih ada sisa di dengkul, saya pilih-pilih menilai orang. Kelihatannya baik, tapi perlu penelitian lebih dalam soal kebaikannya. Jangan-jangan dia bagi-bagi duit supaya menghilangkan jejak korupsinya (baca: money laundry). Kelihatannya kaya, ternyata sok kaya. Pakai mobil X-Trail ternyata X-Trail hasil sogokan. Kelihatan tampangnya kaya, eh ternyata tukang bajaj. Hidungnya mancung, eh ternyata mancungnya palsu, mancungnya gara-gara dipencet-pencet sama Haji Jeje Manggarai. Man! Don’t judge a book by it’s cover!

Sunday, January 18, 2009

THE REAL HARLEY DAVIDSON MAN



Terus terang gue nggak habis pikir, sampe setua ini bokap gue ngefans berat sama mogenya. Padahal banyak bokap-bokap lain yang seumuran bokap gue ngefans sama Rhoma Irama dan Ikang Fauzi. Namun sebuah Harley Davidson toku yang umurnya mungkin sepadan dengan Gajah Mada adalah idola bokap. Harley yang koplingnya masih di samping tangki bensin (bukan di stang yang kebanyakan motor Harley keluaran sekarang), dan menggunakan engkol kaki kalo mau menghidupkan mesinnya.

Boleh jadi gue terlahir sebagai anak Harley. Makanya nama gue Samsul Bachri bin Aditjondro (nggak ada hubungannya dengan Harley ya?). Dulu gue pernah punya foto di rumah gue zaman bahuela, dimana posenya bokap gue lagi menggendong gue di jok belakang Harley. Cantik sekali gue waktu itu. Pake jepitan, kalung, dan anting (sebenarnya gue cewek apa cowok sih?). Sampe sekarang, foto hitam putih itu masih gue cari-cari eksistensinya. Foto itu menandakan, sebelum gue lahir, Harley bokap gue sudah lahir duluan. Gue bahkan curiga, Harley bokap gue barangkali bekas peninggalan tentara Jerman zaman Hitler yang ditinggalkan pasukan saat Jerman menyerang Asia di Perang Dunia ke-II.

Gue nggak tahu sudah berapa kali Harley bokap gue ini berganti warna. Yang gue inget, Harley ini pernah berwarna hijau army, trus pernah berwarna hitam. Entah gue waktu itu lagi buta warna apa nggak, Harley ini pernah juga diwarnai pink. Gue yakin, warna itu dibuat gara-gara menyambut hari Valentine. Eh ternyata bener, warna Harley sesuai dengan musim. Ketika musim kurban, Harley-nya diwarnai putih, supaya mirip dengan kambing ato domba. Sekarang ini Harley bokap gue diwarnai kuning. Gue bingung kenapa diwarnai kuning?




”Supaya disamain sama Partai yang warnanya mirip kotoran manusia,” ungkap Bokap. Gue masih bingung, emang ada Partai yang mirip kotoran manusia? Setahu gue adanya partai yang warnanya mirip tokai deh.

Begitu sayangnya bokap sama Harley ini. Buat bokap, lebih baik naik Harley ketimbang nggak naik Harley. Prinsipnya memang sederhana, tapi mengena setiap umat manusia. Harley dijadikan simbolisasi diri Bokap gue yang keras dan tegas. Gara-gara simbolisasi itu, Bokap jadi dikenal sebagai pemilik Harley di kampung halaman kami di Marunda, dimana Pitung sempat tinggal. Nggak ada yang nggak kenal dengan Bokap. Nama boleh nggak dikenal, tapi ciri khas Bokap sebagai pemilik Harley sudah dikenal seantero kampung, bahkan sudah terdengar sampai ke angkasa raya. Selain Harley, ciri khas Bokap gue ada di kumis yang hitam lebat nan merdu merayu.

”Oh rumah bapak yang punya Harley-nya? Itu-tuh dekat sungai. Kamu belok kiri aja, trus mentok belok ke kanan. Setelah belok kanan lurus trus. Nyebrangnya naik perahu ya. Ingat! kalo jalan jangan nenggok ya,” begitu kata penduduk setempat ketika ditanya lokasi rumah gue.




Meski gue terlahir dengan Harley, tapi yang menurunkan hobi main Harley adalah adik gue. Kenapa? Gue nggak begitu suka dengan motor, termasuk Harley. Buat gue, motor bikin senewen, bikin naik darah. Coba lihat aja ke jalan. Perhatikan! Motor menyalip seenak udel. Begitu kita kena senggol, mereka cuek. Sebaliknya begitu kita yang nyengol, teman-temannya seperjuangan motor pada ngerubung kayak laron. Siap-siap membantu kalo pengendara motor dikalahkan oleh pengendara mobil.

Belum cukup itu bukti motor bikin gue kesel. Lihat lagi ulah pengendara motor yang seenak udel juga melewati jalan verboden. Trus benar-benar nggak melihat tanda ”motor dilarang berada di jalur besar”, para pengendara malah jalan santai di jalur utama. Pokoknya aneka kebegoan bikin gue nggak suka naik motor, termasuk satu paket dengan para pengendara motornya.

Motor juga lebih banyak celakanya daripada menyenangkannya. Ini pasti gara-gara mereka juga ugal-ugalan, plus kalo naas jatuh pada saat nggak pake helm. Coba deh riset, berapa jumlah kendaraan roda dua sekarang ini. Kalo nggak salah, pertambahan motor per bulannya mencapai 20%. Ini artinya, motor laku keras kayak kacang goreng dan akan mengalahkan mobil. Ini artinya pula, motor akan menghiasi setiap sudut-sudut jalan, mulai dari jalan tikus, maupun jalan gajah.

Gara-gara nggak tertarik naik motor dan Harley, maka tahta mahkota diberikan ke adik gue nomor dua. Benar dugaan gue, adik gue tergila-gila pada Harley Davidson. Saking tergila-gila, adik gue jadi gila beneran. Untung setelah diamputasi, dia normal kembali. Namun kecintaan pada Harley, tetap ada. Nggak heran pada saat adik gue married, kendaraan pengantin bukannya Mercy, BMW, ato Alphard, tapi motor Harley milik bokap gue. Walah!

Kalo loe tahu bunyi Harley, itu nyaring tujuh turunan. Kedengarannya dari Pulogadung sampe Monas. Nah, bayangin rumah gue yang berdekatan dengan tetangga. Begitu Bokap gue membunyikan Harley, semua tetangga terbangun serempak. Habis bangun, mereka langsung ambil bantal dan menutup kepala mereka dengan bantal itu. Nggak Cuma manusia yang merasa terganggu, seluruh binatang peliharaan para tetangga juga terganggu. Anjing salah satunya. Begitu Harley bokap gue melewati rumah yang ada anjingnya, semua anjing menggonggong dengan dahsyatnya. Anjing baru diam ketika asap knalpot mengenai hidung sang anjing. Anjing mulai batuk dan lama kelamaan tewas.




Boleh jadi Bokap bangga ada anaknya yang bisa mewariskan kecintaan pada Harley. Ini bisa diibaratkan seperti seorang Raja yang bangga memiliki Putra Mahkota yang akan menggantikannya sebagai Raja. Contohnya: Pangeran Charles ke Charles Hutagalung dari Inggris. Ato Pangeran Kimigayo ke Pangeran Doraemon dari Jepang. Tapi bedanya, yang satu dianugerahi mahkota berlapis emas dan berlian, kalo Bokap gue ke adik gue cuma menganugerahkan seperangkat kunci pas dan obeng supaya bisa ngutak-ngatik Harley kalo rusak.

Bokap juga mungkin bangga dengan adik kedua gue yang kerja di toko bahan bangunan, yang kebetulan jualan motor Harley. ”Nggak apa-apa lah nggak punya Harley baru, yang penting ada perwakilan (maksudnya anak) yang bisa liat-liat Harley model muktahir. Moga-moga kalo sering dielus-elus motor barunya itu bisa jinak dan akhirnya jadi milik pribadi,” harap Bokap gue, meski harapannya nggak mungkin terjadi. Diharap-harap begitu adik gue kedua cuma cenggegesan.




Karena kecintaannya pada Harley, Bokap punya prinsip ”aneh”. Lebih baik miskin daripada Harley ini dijual ke tangan orang lain. Nggak punya uang no problem, yang penting Harley masih ada di nongkrong di rumah. Padahal Harley bokap gue pernah ditawar 100 juta pada tahun 1999. Pernah juga ada yang mo barter dengan burung perkutut. Tapi burung perkututnya sudah pandai berbunyi lah yau, dimana harga burung itu sempat ditaksir senilai 90 jutaan. Yang bokap nggak mau ketika ada yang mo tukar guling antara Harley dengan beras 1 ton. Tapi bokap gue keukeh mempertahankan Harley tuanya. ”Harley adalah kebanggaan milik bangsa,” kata Bokap mirip dengan slogan salah satu televisi swasta. ”Harley-ku memang beda,” tambah Bokap lagi-lagi mirip dengan slogan televisi news yang saat ini lagi naik daun kayak uler keket itu. Nah, kalo ada penobatan The Real Harley Davidson Man saat ini, pasti Bokap gue bisa masuk nominasi.

Thursday, January 15, 2009

SENSE OF URGENCY




“Bagaimana bisa sebuah perusahaan yang membelanjakan 102,34 dolar per saham jika hanya mempunyai pendapatan sebesar 17,92 dolar per saham? Anak kecil mana pun akan bisa mengatakan, membelanjakan 102,34 dolar ketika hanya berpendapatan 17,92 dolar bukanlah manajemen keuangan yang baik”.

Pernyataan Robert T. Kiyosaki soal General Motor (GM) itu membuat saya takjub. Betapa tidak, Kiyosaki yang dikenal sebagai investor, wiraswasta, pendidik, dan penulis buku best seller ini, sudah bisa meramalkan GM akan bangkrut dalam tempo yang tak lama lagi. Padahal, pernyataan Kiyosaki yang tertuang di buku ”Why We Want to Be Rich” itu sudah lebih dulu beredar sebelum GM dinyatakan bangkrut pada pertengahan November lalu.

Masih ingat note saya beberapa waktu lalu dengan judul ”If You don’t change direction You will end up where You headed”? Bahwa perusahaan sekelas GM yang baru merayakan ulang tahun ke-100 saja memiliki potensi bangkrut, apalagi perusahaan yang baru setahun dua tahun. Bahwa dengan kebangkrutan GM, itu artinya perusahaan ini akan mem-PHK karyawan sebanyak 266 ribu orang di seluruh dunia.

Cerita sedih GM sebenarnya bisa menjadi pelajarin kita. Jika Anda berada di posisi pemilik perusahaan, seharusnya sudah lebih dulu memperhitungkan kerugian secara finansial. Lihat lagi contoh GM! Meski sudah membukukan kerugian 38,7 miliar dolar AS sejak tahun 2007, namun banyak jumlah karyawan yang tidak produktif dan juga tidak bekerja masih tetap digaji. Padahal kalau saja GM bisa lebih dulu menawarkan paket golden shake hand atau PHK pada karyawan yang tidak perform (termasuk para GM dan Direksi), kas finansial GMA pasti bisa di-save.

Bodohnya lagi, GM masih membayar para pensiunan. Padahal dana pensiun tidak cukup. Sementara banyak sekali tunggakan dana medis dari Rumah Sakit. Mengertilah, seseorang yang sudah uzur dan pensiun, biasanya sering sakit-sakitan. Oleh karena mendapatkan fasilitas dana pensiun, otomatis para pensiunan memanfaatkan fasilitas tersebut untuk berobat. Bisa dibayangkan orang yang tidak produktif (dalam hal ini para pensiunan), mampu memoroti dana dari kas GM. Sementara itu, profit GM sangat mengawatirkan alias minus. Kondisi tersebut ibarat pepatah: ”Besar pasak daripada tiang”.

Gobloknya, banyak orang tertipu dengan bujukan Pialang. Meski kondisi GM parah, namun jutaan orang tetap berinvestasi ke GM, dalam hal ini membeli saham di Bursa Saham. Pialan tetap mempromosikan GM sebagai saham unggulan. Tak mengherankan jutaan orang tertipu. ”Itu karena orang-orang itu tidak mendapatkan pendidikan finansial secara benar,” kata Kiyosaki.

Yap! Pendidikan finansial! Dua kata itu relatif usang buat kita, apalagi buat mereka yang belajar di jurusan ekonomi. Namun, kata Kiyosaki dan juga Donald J. Trump, pendidikan finansial tidak hanya dipelajari saat kita sudah duduk di bangku kuliah. Pendidikan finansial sudah harus diajarkan sejak usia dini.

”Nggak usah mikir yang ribet-ribet!” jelas salah seorang Finance Advisor. ”Pendidikan financial itu bisa diajarkan dimana aja dan kapan aja”. Kayak slogan Coca-Cola ya? Maksudnya Finance Advisor itu, pas lagi belanja, Anda bisa ajarkan pada anak-anak soal bagaimana belanja secara ekonomis. Dengan budget tertentu, bisa mengakomodir beberapa item barang.

”Anak-anak juga bisa diajarkan bisnis,” terang Finance Advisor. Bisnis yang dimaksud tentu yang bentuknya sederhana. Misalnya, anak-anak kita dibelikan pernak-pernik lucu. Nah, pernak-pernik itu selain buat anak Anda, juga buat dijual. Anak kita diajarkan menawarkan dagangan itu ke teman-temannya di kelas. Dari praktek itu, anak jadi ngerti, dari model beli sekian akan menghasilkan keuntungan sekian.

Inti maksud saya di atas tadi, kita tidak boleh takut akan resiko. Resiko itu pasti akan terjadi. Masalahnya, apakah Anda melakukan resiko itu udah direncanakan sebelumnya atau memang secara gegabah melakukan sesuatu tanpa perencanaan. Kalo Anda berada di lingkaran kedua, sudah dipastikan hidup Anda akan megap-megap.

Banyak pensehat keuangan cuma mengajarkan hal-hal yang aman. Menabung atau membeli reksadana, sambil terus bekerja dan mendapatkan gaji. Memang aman, tapi kita tidak akan pernah akan kaya. You will be employee forever! Harusnya kita juga punya cukup sense of urgency. Apa maksudnya?

Buku karya Muk Kuang berjudul “Think and Act like a Winner” mengajarkan, diri kita perlu didesak. Desakan dalam hidup akan membuat kita seolah dipecat esok hari. Bahwa besok kita akan kehilangan pekerjaan, namun sayangnya kita belum siap. Sense of urgency akan memaksimalkan potensi diri kita, yang sebelumnya (baca: di perusahaan sekarang) cuma terpakai 50%, tapi berkat desakan yang maha dahsyat, potensi Anda boleh jadi akan terpakai sampai 200%.

Kuang mencontohkan, seorang Pelari yang merasa larinya sudah sangat cepat. Namun si Pelatih justru mengatakan Pelari itu bisa lebih cepat larinya daripada yang ia kira. Untuk membuktikannya, tanpa sepengetahuan Pelari, si Pelatih melepas seekor anjing. Gara-gara dikejar anjing, Pelari itu berhasil berlari sekuat tenaga dan hasilnya memang lebih cepat.

Sense of urgency. Tanpa desakan seekor anjing dalam contoh kasus di atas, tidaklah mungkin si Pelari bisa lari secepat-cepatnya. Jika contoh di atas kita aplikasikan pada kehidupan kita, tentu kita harus mencari ”anjing-anjing” lain yang menjadi urgency kita. Mungkin kita bisa membayangkan kondisi perusahaan yang sudah tidak nyaman lagi. Mungkin kita sudah merasa gondok dengan atasan kita yang tidak mengerti posisi kita. Mungkin juga visi perusahaan sudah tidak sejalan dengan visi kita yang dahulu klop. Intinya, kita harus mencari ”anjing” untuk dapat berlari kencang.

Kasus GM boleh jadi awal konsep kita berpikir soal ”anjing”. Soal sense of urgency. Kasus kebangkutan Lehman Brothers sebenarnya juga sudah bisa mengindentifikasikan contoh nyata, bahwa usia perusahaan belum tentu menjamin eksistensi perusahaan tersebut. Sekadar info, usia Lehman Brothers jauh di atas usia perusahaan GM yang sudah 1 abad. Sekarang pertanyaannya: berapa usia kantor tempat Anda cari duit tiap bulan?

ULTAH: NEVER ENDING STORY

Memusingkan! Mungkin itu kata yang paling tepat buat program ulang tahun di kantor gw tercinta. Kenapa? Nggak jelas siapa yang terlalu sok tahu; nggak jelas siapa yang kurang tegas membagi job; nggak jelas siapa yang hatinya terlalu baik, meski udah dimentahkan berkali-kali konsepnya dan selanjutnya dijadikan konsep oleh orang lain. Memusingkan bukan?

"Enggak ah! Elo aja ya sok pusing!"

"Masa pusing disok sok-in? Pusing is pusing!

Benar kata Meggy Z, lebih baik sakit hati daripada pusing mikirin ulang tahun yang bisa bikin sakit gigi. Emang gw pusing? Tergantung dari mana loe menilainya? Kalo mengurus program ultah dengan kebebasan full, nggak masalah. Pusing sih pusing. Bisa minum obat sakit perut, eh maksudnya obat pusing. Namun pusing dengan penuh keindahan. Tapi kalo persentase in charge-nya masih samar-samar, nggak full concentrate, yang setiap waktu bisa diubah. Setiap waktu bisa ganti. Setiap waktu bisa dipakai lagi konsepnya. It means aneh namanya!

"Jadi loe nggak ikhlas ngerjain program ini?" tanya seseorang yang nggak mau disebutkan namanya, karena takut di-PHK.

"No comment!" Itu suara hati gw, mirip Dessy Ratnasari.

aktu

Gemes! Barangkali ini yang dirasakan oleh kami. Betapa berdukanya hati kami ketika sesuatu yang udah dibangun, dibongkar dengan mudah. Begitu ketemu di kesempatan lain, puing-puing yang dibongkar, ternyata dipungut lagi satu per satu. Puing itu dibangun lagi menjadi sebuah bangunan lagi, dan diakui oleh orang lain. That's very very funny, tapi nggak lucu! Lho kok?!

Sakit hati? Mau bunuh diri? Ah, gitu aja aja kok pake bunuh diri? Bener kata Gus Dur: "Gitu aja kok repot!" Memang sih nggak repot, but this project, birthday project, bener-bener just like story that never ending. Daripada sakit hati, trus mau bunuh diri, lebih baik mari kita nyanyikan bersama lagu "Aku Rindu" karya Farid biar nggak nyambung sekalian.

"Oh...aku rindu...
Katakan padanya aku rindu...
Oh burung...nyanyikanlah...
Katakan padanya aku rindu..."

HOW TO SNORKLING?

Belakangan ini, olahraga Snorkling sangat diminati orang. Snorkling sebenarnya sebutan buat orang yang mengambang di bawah permukaan laut dengan menggunakan Snorkle, yakni sebuah alat masker dan pipa udara.

Anda benar! Yang mengambang bukan cuma tokai manusia aja. Tapi yang punya tokainya pun bisa mengambang. Si tokai dan manusia ini saling berkompetisi untuk mengambangkan diri. Tapi di note ini, kita nggak akan ngomong soal kompetisi, nggak nomongin soal tokai, atau manusia. Kita ngomongin soal snorkling. Sekali lagi snorkling! Mari bersama-sama berteriak...

"S-N-O-R-K-K-L-I-N-G!!!!"

Sekali lagi mengingatan, snorkling butuh kasih sayang, eh salah! Butuh masker dan pipa udara. Masker akan menutupi hidung elo. Oleh karena hidung elo ditutup, maka hidung nggak bisa difungsikan sebagai alat pengambil udara atau alat buat bernafas. Nggak mungkin pula elo nyelam tapi hidung dibiarkan bernafas. Kalo bernafas pake hidup pada saat menyelam, udah dipastikan air akan dengan mudah masuk ke lubang hidung elo yang segede lubang tikus itu. Trus gimana cara bernafasnya? Ya dengan menggunakan mulut elo, dimana via bantuan pipa udara yang panjangnya kira-kira 15 cm itu.

Melakukan aktivitas snorkling memang kudu jago bernafas dengan menggunakan insang, eh salah, menggunakan mulut maksud gw. Paling enak kalo elo udah ahli tahan nafas sampe kira-kira 2 jam. Mungkin nggak ya tahan nafas sampai 2 jam? Hmm... anyway, selama menyelam, meski menyelamnya cuma sekitar 1 meteran, mulut yang difungsikan buat bernafas. Caranya ditiup dan ditarik, lagi-lagi via pipa udara itu.

Hati-hati, buat pemula kadang-kadang suka panik kalo pipa itu kemasukan air pada saat menyelam. Biasanya kalo kejadiannya kemasukan air, elo akan megap-megap. Syukur-syukur langsung mati. Kalo belum mati? Pasti akan menyusahkan orang banyak, dengan cara minta tolong. Nah, kalo masuk air, segera ambil posisi ke permukaan lagi, dimana pipa saluran itu lebih tinggi dari permukaan air. Kalo pipa saluran udah lebih tinggi, semburlah air ke luar sekuat-kuatnya, setelah itu elo akan nyaman lagi bernafas dengan mulut tanpa ada air.

Nah, kata ahli Snorkling, pada saat melakukan Snorkling harus dalam keadaan rileks atau enjoy. Nggak boleh dalam kondisi lagi nerves atau stres. Kenapa? Ini akan berakibat pada kondisi gerakan maupun tenaga saat kita menyelam. Kita jadi kehilangan kendali.



Yang kudu juga elo perhatikan pertama kali, ya kenali equiptment Snorkling itu sendiri. Abis itu, latihan mengambang secara horizontal alias lurus dengan konstan. Udah gitu, latihan up and down, muncul ke permukaan dan menyelam lagi. Tapi menyelamnya tetap nggak usah dalam-dalam. Yang terakhir, latihan melihat objek yang berada ke depan, samping kiri maupun kanan. Dengan mengenali objek di dalam air, kita nggak mungkin akan nabrak karang atau ikan paus. Paling-paling nabrak gurita.

Snorkling enak banget! Meski masih ada yang lebih asyik lagi, yakni Diving, namun dengan Snorkling kita tetap masih bisa menikmati alam bawah laut. Kita bisa melihat aneka ikan, batu karang, dan putri duyung. Please hati-hati, jangan pernah snorkling di sungai Ciliwung. Kenapa? Pertama, badan loe pasti gatel-gatel setelah Snorkling. Kedua, elo nggak akan bisa ngeliat aneka ikan karena airnya item banget. Yang elo bisa lihat paling-paling kotoran manusia yang mengambang.

Sebaiknya, sebelum terjun ke laut bebas, latihan Snorkling dulu di bak mandi rumah loe. At least di kolam renang yang ada di sekitar rumah loe. Kalo udah terbiasa bernafas dengan mulut, baru deh tes ke laut. Nggak usah jauh-jauh ke Manado, Pulau Umang, atau Pantai Gapang, ya di laut Ancol dulu lah. Kan enak, abis Snorkling bisa main ke Dufan. Oh iya, kalo elo usianya di atas 60 tahun, nggak usah sok belajar snorkling. Kenapa? Lebih baik belajar ngaji di masjid atau musholla. Kalo udah jago ngaji, ya ngajinya dikelarin sampai tamat alias katam. Umur segitu inget akhirat lah! Kan nggak enak tiba-tiba ngeliat tubuh elo hanyut di laut dengan masih pake masker dan pipa udara dan celana kolor?

Wednesday, January 14, 2009

PEMPEK SERIES III: THE PEMPEK YANG UDAH DIREBUS

PEMPEK SERIES II: THE IKAN TENGGIRI GILINGS

PEMPEK SERIES I: THE BAHAN-BAHAN OF KUAH PEMPEK

HOME SWEET HOME

Rumahku istanaku. Ungkapan itu boleh jadi tepat. Buat gw, rumah memang kayak "istana". Yakni sebuah persinggahan kita yang nggak ada duanya. Meski kata orang mungil, dan memang kenyataannya kecil mungil ukuran tanahnya, rumah gw tetaplah kami anggap sebagai sebuah istana. Dimana kami bisa hidup bahagia kayak kisah di dongeng-dongeng: happily ever after. Luar biasa bukan?



Rumah gw berada di kawasan bebas banjir. Gini hari nggak cari rumah yang bebas banjir? mending ke laut aja! Alhamdulillah (sekali lagi) meski tanahnya kecil, kami dapat rumah yang anti banjir dan anti bom, karena nggak mungkin Israel gebleg itu akan nge-bom rumah kami. "Dimana sih rumah loe?" Biasanya teman-teman gw atau istri gw tanya kayak gitu. Rumah kami tepatnya di belakang Kompleks Cempaka Putih Indah.

Buat menuju kompleks itu, terlebih dulu yang elo kudu lakukan adalah berada di daerah Cempaka Putih Barat, trus perhatikan plang warna hijau kotak persegi panjang kecil yang nggak lain adalah petunjuk jalan. Cari tulisan di plang itu "Cempaka Putih Barat XXVI". Kalo udah nemu plang itu, congrats elo bakal dapat kulkas dua pintu! Eh, enggak ding! Itu tandanya, elo udah dekat lagi masuk ke kawasan rumah gw. Cuma ngingetin, di dekat plang itu, ada sebuah country club atau sport club. Nama bekennya sport club itu Arcici. Kepanjangannya Rawasari Country Club. Kenapa disebut Rawasari Country Club? Karena lokasinya di Rawasari, mungkin kalo di Bogor namanya jadi Teles Bogor Country Club.



Begitu berjumpa dengan Cempaka Putih Indah, buru-buru cari pohon kelapa yang berada di pojok kompleks. Di bawah pohon kelapa inilah gw biasa numpang parkir. Kok numpang-numpang? Itu kan depan rumah orang? Friends, sebelum orang itu tinggal, gw udah lebih dulu parkir, Bo! Tapi gw juga tahu diri, kok, setiap kali ketemu pemilik rumah gede itu, gw selalu menyapa: "Hai! Godain kita dong?" Mereka pun menjawab: "Emang kita cowok apaan?" Nggak kok! Mereka baik kok. Meski warga keturunan (maksudnya bermata sipit), mereka sangat welcome dengan kami yang memarkirkan mobilnya di depan rumahnya.

Oleh karena ada pohon kelapa, kode gw atau istri gw kalo ketemu orang ya "pohon kelapa". Misalnya, kalo gw ketinggalan barang dari rumah, para Asisten gw tahu dimana lokasi menyerahkan barang itu.

"Mbak tolong bawain ke pohon kelapa ya?"

Ketika ada tamu yang mau ke rumah gw, kodenya pun "pohon kelapa". Gw minta teman gw cari Kompleks Cempaka Putih Indah dan cari pohon kelapa. Banyak yang pintar mencari, banyak pula yang agak-agak tolol. Buat yang pintar, mereka bisa tanya Security kompleks dimana lokasi pohon kelapa berada. Buat yang agak tolol, mereka pergi ke pantai dan cari pohon kelapa.

"Pak, tahu pohon kelapa nggak?" tanya salah seorang tamu gw yang sekolahnya tamat SD.

"Lah, ini banyak pohon kelapa, Dik," jawab seorang Nelayan di pantai Anyar yang tangannya menujuk ke arah beberapa pohon kelapa yang ada di pinggir pantai.

"Maksudnya rumah Bapak Brillianto yang keren itu?"

"Oh, itu mah Bapak tahu. Adik luruh aja, kalo ada belokan belok aja. Kalo ada belok kiri ke kiri. Kalo ada belok kanan, ya ke kanan. Nah, di sekitar belokan-belokan itulah rumah teman Adik yang keren itu".

"...."



"Kenapa sih nggak memasukkan mobil loe ke depan rumah loe sendiri?"

Pertanyaan yang bagus, tapi menyakitkan. Tenang, Bro! Gw nggak sakit hati kok ditanya begitu. Kenyataannya begitu kok, memang mobil gw nggak bisa masuk ke garasi rumah. Kalo masuk dari kompleks Cempaka Putih Indah, mobil gw cuma bisa mentok sampe pohon kelapa itu tadi. Dan gw cukup puas memarkirkan kendaraan di bawah pohon kelapa. Selanjutnya? Jalan kaki melewati gang.

Menuju jalan rumah gw, elo memang kudu lewat gang. Ingat gang, bukan geng! Kalo geng, biasanya menjurus ke arah negatif. Contoh geng motor. Geng motor itu kerjaannya kebut-kebutan. Sering punya urusan sama aparat. Banyak yang mati gara-gara ngebut. Nyusahin Nenek sama Kakeknya, karena bikin jantungan. Pokoknya segudang tendensi negatif deh.

Balik lagi ke gang yang ada di rumah gw. Gang di rumah gw bukan gang senggol, karena masih relatif bisa buat jalan tiga orang. Tapi seringkali kalo badan si Pejalan kaki gede, kayak King Kong, doi akan menyenggolkan orang-orang di sekitar.

Gang ini cuma bisa dilewati manusia, hewan, motor, dan sepeda. Mobil nggak bisa. Makanya mobil gw nggak bisa. Belum pernah sih ada mobil maksa lewat gang ini. Padahal kalo gw ukur-ukur, mobil kayak Karimun, atau Chery QQ, mungkin bisa maksa lewat gang ini. Ya paling-paling resikonya, pintu kanan-kiri tergores-gores tembok yang ada di gang itu.

Yang menarik dari gang ini, ada sebuah taman di situ. Di taman itu tumbuh, beraneka tumbuhan, salah satunya pohon tebu. Taman itu awalnya adalah kandang ayam dan bebek. Ada salah seorang tetangga gw yang memelihara mahkluk kesayangan manusia yang sering dibunuh itu. Tapi, peliharaan itu bikin bau gang itu. Bikin kotor gang itu. Setiap manusia yang lewat di gang itu jadi bau bebek atau bau ayam. Alhamdulillah, sejak pemeritahan RT baru, kandang bebek dan ayam itu disulap jadi taman yang indah. Bukan cuma taman, Ketua RT itu menghimpung warga buat membangun musholla dan juga kolam ikan.

Sungguh, Ketua RT gw yang baru ini luar biasa. Dia bukan kayak Caleg-Caleg yang lebih banyak mengeluarkan slogan di poster daripada melakukan sesuatu yang bermanfaa buat warga. Tahu nggak, musholla itu berguna sekali bagi berbagai kalangan di wilayah RT gw. Kalo nggak buat ngaji ibu-ibu, ya ngaji anak-anak.



Rumah gw boleh mungil, tapi tetap ada pekarangannya. Itu memang prinsip kami. Bahwa penghijauan adalah sebagian dari iman. Enak kan kalo pagi-pagi melihat warna-warna hijau di pakarangan? Apalagi kalo hijau-hijau di halaman bekas kena air hujan. Seger banget ngeliatnya!

Di halaman ini, hidup aneka macam tumbuhan. Ada kembang sepatu, pohon dolar, lidah buaya, pohon kamboja, dan pohon pisang. Kami memang rada gokil memelihara beraneka ragam tumbuhan di halaman yang sempit. Kami nggak peduli, yang penting penghijauan. Lagipula, tumbuhan itu bisa jadi patokan dimana rumah kami berada.

"Maaf rumahnya Ibu Sindhi dimana ya?" tanya teman istri gw pada tetangga rumah gw.

"Coba Mbak cari rumah yang ada pohon pisangnya, itu pasti rumahnya Ibu Sindhi," kata tetangga itu yang cuma pake celana kolor.

"Terima kasih,"

"Eh, Mbak, kalo pohon pisangnya Ibu Sindhi lagi ada buahnya, jangan lupa bawain buat kita ya..."

Dahulu, rencananya halaman ini mau dijadikan tempat parkir mobil. Makanya kami sempat membuatkan track buat ban mobil memarkirkan diri. Tapi rencana itu kami gagalkan. Kenapa? Kayak-kayaknya kalo halaman dijadikan parkir mobil, pemandangan yang terlihat, pasti bukan tumbuh-tumbuh tapi mobil. Kami jadi nggak lagi melihat penghijauan. Bukankah dewasa ini lagi musim serba green? Makanya, supaya mata kami tetap hijau dan tempat parkir nggak sia-sia, kami menampatkan sepeda sebagai kendaraan yang diparkir di halaman rumah kami.



Dari halaman rumah gw, kalo kepala kita diangkat ke atas, elo akan melihat balkon rumah kami. Kami memang agak sok kaya pake balkon-balkon segala. Boleh dong? Impian kami, dengan adanya balkon, tiap sore gw dan istri bisa ngopi dan baca koran di atas balkon. Bikin cerita pake laptop. Ngobrol-ngobrol soal investasi masa depan. Makin syahdu kalo saat di balkon melihat hujan rintik-rintik. Buat gw, situasi kayak gitu lebih nikmat daripada ngopi di Sturbuck yang milik Yahudi itu.

Pemandangan memang lebih asyik kalo kita berada di atas balkon. Kalo pandangannya eye level, kita memang cuma melihat atap-atap rumah tetangga gw sih. Nggak banyak tumbuhan di depan, kecuali daun-daun pisang yang tumbuh di halaman gw. Kalo kita berada di tepi balkon dan melihat ke bawah, ke halaman gw, tumbuhan yang hijau itu akan terlihat jelas. Kelihatan mana pohon yang tumbuh, mana yang perlu ditebang, mana yang perlu disiram. Kadang-kadang kalo beruntung, kita akan melihat sejumlah tikus yang hilir mudik di halaman itu dan masuk ke lubangnya.



Aneka atap ini adalah pemandangan kalo kita melihat dari atas genteng rumah kami. Gimana naiknya? Caranya mudah kok, cukup memiliki nyali buat naik ke atas genteng via balkon. Sebaiknya naik pada saat musim semi. Kalo musim hujang, elo akan kehujanan dan licin. Kalo musim panas, udah pasti akan kepanasan dan wajah loe bisa gosong.

Sebelum langganan pay tv, kalo antena tv lagi butuh kasih sayang, gw terpaksa jadi monyet. Naik dari balkon ke atas genteng. Di atas genting, gw bukan berjemur kayak orang bule berjemur di pantai Kuta, tapi putar-putar antena.

"Udah oke belum gambarnya!" Itu teriakkan gw dari atas genting ke orang-orang yang ada di ruang tamu, dimana terdapat televisi.

"Beluuuum!" Itu teriakan salah satu orang di bawah, dimana mengabarkan kalo gambar di televisi masih nggak bagus. Maksudnya belum pas. Masih meletat-meletot.

Alhamdulillah, sejak langganan pay tv, gw nggak puter-puter antena lagi. Tapi puter-puter badan buat cari ada kamar mandi yang bisa diintip apa nggak. Ah, itu mah masa lalu. Sekarang gw nggak perlu ngintip kamar mandi lagi, karena udah ada yang bisa diintip gratis. Lagipula kebetulan kamar mandi di tetangga gw udah modern. Udah nggak ada yang bisa diintip. Super ketat penjagaannya alias temboknya.



Sebelum naik balkon, kita kudu melewati tangga menuju lantai dua. Tangga ini muncul begitu elo membuka pintu rumah gw. "Ciluk ba!" Tangga gw ini terbuat dari beton asli yang diplester dengan keramik model kotak warna cokelat muda.

Kata beberapa ahli feng shui, tangga ini kurang tepat. Nggak dibelok-belokin. Langsung lurus dari pintu masuk. Katanya nggak boleh kalo langsung lurus. Gara-gara kurang tepat, rezeki jadi mudah kabur. Udah kabur, nangkepnya pun susah. Ada sih rezeki, tapi banyak yang lewat. Coba kalo tangga ini dibetulkan, nggak langsung dari pintu ke lantai atas, bisa jadi rezeki kami akan berubah. Duit akan berkoper-koper kami simpan. Duitnya duit halal dong! Tapi syirik nggak sih cuma urusan tangga yang nggak tepat kayak gitu?



Kamar kami adalah hidup kami. Ini pepatah yang bukan cuma basa-basi. Kenapa? Kami hidup di kamar ini, dimana di sini ada diskusi, ada tangis, ada haru, nonton DVD, menghitung rezeki, menyimpan buku, mengetik cerita, menghubungi teman, menerima telepon, dan banyak aktivitas yang positif kami lakukan.

Bukan karena kami jorok kalo kamar kami terlihat kayak "kapal pecah". Kamar kami memang dinamis. Sometimes bersih banget, sometimes penuh buku berserakan, DVD berserakan, CD berserakan (bukan Celana Dalam, lho!), duit-duit berserakan (meski duitnya recehan), dan benda-benda lain berserakan. Ini tanda kedinamisan sebuah kamar calon OKB alias orang kaya baru.



Kami yakin banget, dari kamar ini, kami merintis sesuatu hal besar di masa depan. Rencana-rencana masa depan, entah buat anak kami, maupun buat kami sendiri. Kami selalu optimis dan semangat. Meski kadang ada benturan-benturan kecil, alhamdulillah kami selalu bisa menyelesaikannya dengan itikad baik. Inilah kenapa perkawinan kami bisa bertahan sampai sebelas tahun. Padahal, kalo melihat ke sekeliling kami, banyak teman-teman kami yang nggak mampu mempertahankan rumah tangga. Ada yang bercerai, kawin lagi, punya anak, bercerai lagi. Alhamdulillah kami survive. Kok jadi serius ya?



Kamar anak kami ini seringkali nggak terpakai. Maksudnya, pada saat malam tiba, anak-anak kami seringkali meninggalkan kamar mereka dan pindah ke kamar kami. Bukan karena kamar mereka bau, kotor, panas, dan banyak tikus. Kamar mereka dingin kok, karena pakai penyejuk ruangan sebagaimana kamar kami. Mereka ternyata lebih suka tidur malam beramai-ramai. Mungkin lebih hangat. Lebih terasa hidup bersama kayak slogan rumah kami yang happily ever after itu.



Anak kami memang lucu-lucu. Nggak tahu keturunan siapa? Yang jelas sih keturunan kami yang lucu-lucu juga. Lucu alamiah, meski kami nggak sempat jadi Pelawak. Kami memang lucu, tapi khusus konsumsi anak-anak kami. Tapi lucu ada waktu-waktunya dong. Masa pada saat marah kita pasang muka lucu? Yang ada, kami jadi terlihat nggak berwibawa di hadapan anak-anak kami.

"Papa lucu kayak badut". Begitu kata anak gw paling kecil. Kok kayak badut? Padahal perut gw nggak gendut-gendut amat deh. Hidung gw juga nggak pakai benda merah bulat yang mirip buah tomat itu. Sepatu gw juga nggak kegedan. Jadi kenapa anak gw menyatakan gw kayak badut? Ah, mungkin karena teman-teman gw banyak yang politisi, yang ngomong dan tingkah laku mereka kayak badut.



Kalo udah puas melihat kamar, lebih baik elo mampir dulu ke kamar mandi. Nggak perlu mandi, karena gw nggak menyediakan handuk lebih. Kalo nggak mandi ngapain dong? Ya kalo nggak kepengen pup, ya sekadar kencing lah. Nggak bakal ditagih uang seribu perak, kok kalo elo kencing. Kencing di WC gw gretong. Kecuali nanti kalo gw memang udah bener-bener BU alias butuh uang, dimungkinkan seseorang menjaga di pintu WC sambil memberikan sobekan tiket bertuliskan: "Terima kasih Anda udah kencing di WC kami dan membayar uang kencing. Sampai jumpa lagi dan selamat sampai tujuan!"

You know what? dari kamar mandi yang kecil mungil ini, kami mendapat banyak ide gokil, terutama gw. Beberapa cerita gw, lahir dari kamar mandi ini. Memang nggak seperti seniman-seniman (karena gw memang bukan seniman) yang mencari inspirasi di gunung atau hutan atau pojokan tembok, gw cukup di kamar mandi. So, jangan heran kalo gw seringkali lama nongkrong di WC. Hitungannya bisa berjam-jam. Bukan cuma sejam dua jam, tapi lebih dari lima jam. Bohong ding! Nggak sampe berjam-jam kok, tapi berhari-hari. Mandinya sih sebentar, nongkrongnya yang lama.



Ini tangki air yang letaknya persis di samping kamar anak kami. Kalo mau menuju tangki ini, selain naik tangga dari bawah, bisa lewat jendela kamar anak. Kalo keputusannya lewat jendela anak kami, mirip maling sih. Tapi dipastikan elo nggak akan digebukin. Paling-paling dipukulin sampai benjol!

Tangki ini buat menampung air dari PAM. Sebelum masuk ke tangki, ada perjalanan air PAM yang berlika-liku. Pertama, air PAM dimasukkan ke dalam bak mandi. Nah, dari bak mandi yang udah penuh air, ada pipa yang menuju ke tangki itu. Lalu siapa yang menyedot? Yang pasti bukan gw. Yang menyedot adalah jet pump. Setelah air tersedot via pipa, maka air akan masuk ke dalam tangki. Indikator air di tangki penuh, air-air akan bubar jalan alias keluar dari tangki itu.

"Kebakaran! Kebakaran!" begitulah suara Asisten kami berteriak kalo air tangki udah penuh. Kok kebakaran? Maksud mereka kebakaran jenggot, karena air yang tumpah dari tangki atas itu menyiprat manusia-manusia di bawah. Kalo udah kena ciprat, keran air PAM segera dimatikan.

Sekali-sekali mampirlah ke tangki berwarna oranye itu. Memang ngapain mampir ke tangki? Kurang kerjaan ya? Eit! Jangan nuduh kurang kerjaan dong, Bro! Soalnya, someday gw perlu mencuci tangki dari lumut-lumut yang menempel di dalam bak tangki. Hah?! Ada lumut? Jijai bajay banget! Itu dahulu kala, masih zaman rekiplik. Dahulu sebelum pakai PAM, kami memang biasa menggunakan air tanah yang disedot via jet pump. Ternyata air tanah di rumah gw menggandung lumut. Coba mengandung duit ya?

Oh iya, percaya nggak percaya, gw bisa masuk ke dalam tangki itu. Masuk ke tangki dalam rangka membersihkan tangki kale! Bukan ngumpet dalam rangka main petak umpet sama anak gw lah yau. Itu pun dahulu kala. Nggak tahu kalo sekarang, masih muat apa nggak badan gw masuk ke situ.



Tur kita terakhir kali di rumah gw, adalah di halaman belakang. Hebat kan rumah kami, biar kecil tetap ada halaman di depan maupun di belakang? Sekali lagi, halaman selain berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman, juga sebagai sarana angin masuk ke dalam rumah. Ada angin masuk dari halaman depan, masuk ke dalam rumah gw, dan keluar lewat halaman belakang.

Lubang ini bukan lubang kuburan. Ini adalah lubang sampah. Ceritanya kita pengen hidup dengan cara orang-orang enviromentalist, yakni dengan mengubur sampah-sampah organik agar nanti mengurai di tanah. Apa aja sampah-sampah organik? ya bekas potongan-potongan sayur, buah, dan aneka daging. Tapi be carefull with tikus tanah. Mereka senang banget dibuatkan lubang kayak begini. Nggak heran begitu kami buatkan lubang sampah, beberapa tikus tanah akrab di halaman belakang rumah gw. Terus terang gw nggak berani bergaul sama tikus. Jiji! Beruntunglah gw punya istri superwoman. Selain cantik, berani menghadapi pasukan tikus yang nggak lucu itu.