Tuesday, March 3, 2009

BORDERLESS WORLD: KETERBUKAAN VS NARSISME

Sekarang ini eranya teknologi media. Manusia seolah dimanjakan oleh sesuatu yang berbau teknologi. Nggak cuma internet yang kini sudah bisa diakses dimana-mana, baik di ruang kuliah atau di cafe. Tapi siaran-siaran televisi yang juga bisa dinikmati kapan pun dan dimana pun kita berada. Komunikasi antarmanusia pun nggak serumit beberapa tahun lalu.

Di awal-awal telepon selular menjamur, orang bisa dengan mudah mengirim short massage services (SMS) alias layanan pesan singkat. Teknologi media telepon selular kemudian beralih lagi ke 3G, dimana orang bisa melakukan komunikasi nggak cuma dalam bentuk tulisan (SMS) atau voice. Tapi komunikasi dalam bentuk audio-visual. Kemudahan-kemudian inilah yang membuat orang kini seperti dimanjakan oleh teknologi. Sebagaimana menurut Clay Shirkly dalam bukunya: The Power Without Organization, bahwa orang lebih memilih melakukan komunikasi ke orang lain dengan cara sederhana, sehingga efektif dan efisien.




"Collaborative production, where people have to coordinate with one another to get anything done, is considerably harder than simple sharing, but the results can be more profound. New tools allow large groups to collaborate, by taking advantage of nonfinancial motivations and by allowing for wildly differing levels of contribution"

Teknologi media membuat dunia sekarang, seolah jadi nggak terlalu luas lagi. Buat berhubungan dengan teman saya di Melbourne, Australia, saya nggak perlu lagi mendial nomor interlokal via Telkom. Tapi cukup mengklik feature chatting di Facebook dan memanggil nama teman saya, kami bisa melakukan komunikasi antarbenua: benua Asia dan benua Australia. Begitu pula dengan teman saya yang sudah 15 tahun di Amerika Serikat. Dengan mudahnya kami bisa chatting berjam-jam via Facebook. Nggak heran kalo saya menyebut fenomena kehebohan telnologi media menyebabkan borderless world alias dunia tanpa batas.

Bukan omong kosong kalau saya menyebut dunia tanpa batas. Pasti bukan cuma saya yang menyimpulkan era teknologi media sebagai borderless world. Betapa tidak, apapun yang kita mau akses, bisa dilakukan cukup via media laptop dan jaringan internet. Bahkan sekarang dengan media berukuran mini, seolah dunia ada digenggaman manusia. Media yang dimaksud nggak lain nggak bukan Blackbarry.

Bukan cuma urusan komunikasi intrapersonal, teknologi media memungkinkan orang untuk mengekspresikan diri. Di era keterbukaan seperti ini, komunikasi justru malah semakin melebar. Sepertinya ruang-ruang yang sebelumnya tertutup, penuh kerahasiaan, sekarang justru diperlihatkan. Ekspresi-ekpresi diri tersebut bisa kita perhatikan pada feature “status updates” yang terdapat di Facebook. Setiap menit, setiap detik, “status updates” dari teman-teman kita berubah.



“Status updates” nggak cuma mengungkapkan ekspresi. Hal-hal yang relatif nggak penting, ditulis juga oleh mereka yang menjadi member Facebook. Misalnya sedang menunggu tiket bioskop, memilih baju di mall, makan di restoran, dan lain sebagainya. Buat mereka yang nggak terbiasa dengan komunikasi via dunia maya, hal tersebut jelas membingungkan. Kok narsis sekali? Kok kayak ajang pamer diri? But this is social life. Welcome to the real world! World of cyber media.

“Status updates” cuma satu feature. Banyak feature yang mengungkapkan ekspresi pengguna keajaiban teknologi media. “Add photo” atau “write note” misalnya. Kita sudah nggak bisa lagi membedakan mana hedonis, mana narsis, dan mana hal yang seharusnya nggak dipamerkan ke khalayak. Begitu mudahnya member men-upload atau men-tagged foto. Begitu mudahnya member menulis hal-hal yang menurutnya perlu dikritisi atau diungkapkan blak-blakan.

Blog merupakan salah satu media ekpresi diri via dunia maya. Dalam sebuah blog, kita bisa menulis apa saja. Jika kita mengkonsepkan blog sebagai ajang dairy pribadi, blog memungkin untuk itu. Hanya saja kita memang kudu rajin meng-update blog. Berbeda kalau blog dikonsepkan sebagai media current issue atau feature, dimana si Pemilik nggak harus meng-update setiap hari. Cukup menulis apa yang menjadi perhatiannya berdasarkan gagasan yang sifatnya timeless atau isu-isu yang berkembang. Kebetulan blog yang saya buat ini mengambil konsep kedua.



Ketika Facebook belum begitu marak (pertengahan tahun 2007), tulisan-tulisan saya diupload seluruhnya. Sehingga, teman-teman saya yang kebetulan sudah terdaftar menjadi teman, bisa membaca full. Begitu pula foto-foto karya saya, bisa dilihat via Facebook. Belakangan setelah pengguna Facebook marah seiring pertambahan jumlah teman, saya justru menjadikan Facebook sebagai jembatan agar teman-teman saya membuka blog saya. Saya lebih suka teman-teman saya melihat seluruh tulisan-tulisan saya via blog. Terserah orang menyebutkan blog milik saya ini sebagai media kenarsisan atau media ekspresi. Satu hal yang pasti, buat saya lewat blog, saya bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, foto, maupun video.


all photos by Brillianto K. Jaya

tulisan ini sebagai bahan Mid-Test mata kuliah Teknologi Media

A BEAUTY KNOWLEDGE

Do you know?

Kulit yang terus menerus kena sinar matahari bisa menyebabkan kerusakan kulit. Ini kondisinya kalo kulit kita nggak dilindungi oleh alat pelindung. Kalo nggak bawa payung, ya beli koran kek, atau kardus. Yang penting sinar matahari nggak langsung kena kulit. Kalo kena terus-terusan, kulit akan jadi kering, pigmentasi, penuaan dini, dan yang lebih parah: kanker kulit, bo!



Do you know?

Kulit akan menua begitu usia loe menginjak 20 tahun. Tentu aja, proses penuaan ini nggak terjadi begitu aja. Ada tahapannya, bo! Faktor yang paling jelas, ya kena matahari langsung itu. Apa lagi? radikal bebas, alkohol, dan gaya hidup sehat. Maksudnya gaya hidup sehat di sini, jarang olahraga dan merokok!

Do you know?

Jangan pernah pilih kasih dalam merawat kulit. Berikan treatment yang sama antara kulit tangan dengan kulit kaki sebagaimana memperlakukan kulit wajah. Jangan mentang-mentang kaki adanya di bawah, perlakuannya beda kayak kulit wajah. Kasihan kan kalo kulit kaki udah kendor duluan daripada kulit wajah. Kalo kejadiannya begitu, wajah boleh cantik, kaki udah keriput.



video copyright by Brillianto K. Jaya

Monday, March 2, 2009

MASIH LEBIH SUKA YANG GRATISAN

Krisis global yang terjadi memang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pertelevisian. Tak cuma pengurangan jumlah karyawan. Durasi body program pun berpengaruh gara-gara spot commercial break tak lagi penuh. Yang lebih lucu, Raja Host Jay Leno yang beken lewat Tonight Show, terpaksa menunda pensiunnya gara-gara dipaksa menggenjot perolehan Sales NBC.


Terlepas dari krisis global di dunia broadcasting, webisode dianggap menjadi alternatif tontonan. Menarik juga membicarakan webisode. Kenapa? Pertama, penonton yang ingin melihat kembali episode-episode yang lewat bisa mengklik fitur program yang dikehendaki. Kedua, weibisode bisa menjadi tontonan personal, dimana kita bisa melihat berkali-kali episode yang dikehendaki. Beda dengan televisi baik televisi teresterial maupun pra bayar yang nggak bisa memilih program itu kembali jika kita ingin menyaksikan lagi.



Bagi negara-negara kapitalis yang cenderung individual, barangkali webisode bisa menjadi alternatif tontonan. Di tengah keterbatasan waktu, mereka bisa menyaksikan sendiri episode-episode program yang tak sempat disaksikan. Saat menyaksikannya pun bisa secara personal dan dimana pun berada. Tinggal membuka laptop dan lokasi yang wifi atau mencolok kabel internet langsung bisa mengakses webisode. Mau di tempat tidur, di meja makan, dan saat melakukan aktivitas olahraga di rumah, kita bisa melihat episode-episode yang dikehendaki.

Namun, menurut saya webisode belum “menarik” diwujudkan di Indonesia. Kenapa? Banyak faktor yang menyebabkan webisode tak akan “laku” sebagai produk dagangan. Pertama, jumlah pemilik internet belum sebanyak di negara kapitalis seperti Amrik. Bahkan mungkin di Amrik sendiri, hampir 90% warga negara sudah menggunakan internet seperti layaknya menggunakan mobil, dengan kata lain seperti kebutuhan primer.

Berbeda di Indonesia. Jumlah pemakai internet belum masuk ke angka 90%. Internet belum sebagai kebutuhan utama. Sehingga rumah-rumah yang menggunakan internet belum banyak. Meski area wifi sudah banyak di kota-kota besar di Indonesia ini, khususnya di Jakarta, namun itu pun tidak menjamin gagasan webisode sebagai alternatif tontonan.



Kedua, kalau pun webisode nakad diproduksi oleh stasiun televisi nasional atau production house, jumlah penontonnya tak sehebat penonton televisi. Sekadar gambaran, biasanya webisode menampilkan program-program yang memiliki jumlah penonton cukup banyak di televisi, misalnya soap opera. Di Indonesia, soap opera boleh dikatakan sebagai sinetron. Penonton sinetron berada pada segmentasi C-D-E. Memang penonton mayoritas. Tapi penonton mayoritas di televisi, bukan pengguna aktif internet. Ironisnya, barangkali penonton ini belum melek internet alias tidak tahu apa itu internet.

Meski krisis, televisi tetap sesuai khitah-nya. Artinya, sesuai kodratnya sebagai media di ruang keluarga. Menurut saya, ini merupakan sebuah psikologi penonton yang harus kita perhatikan. Dimana di Indonesia, segala sesuatu yang gratisan akan “dimanfaatkan”. Sementara hal yang harus mengeluarkan uang, misalnya pay-television apalagi webisode yang via internet, akan penonton pikirkan beberapa kali untuk “memanfaatkan”.


Boleh jadi, saat ini jumlah pemakai aktif internet masih sedikit. Meski begitu, beberapa stasiun televisi tetap memanfaatkan website sebagai ajang menarik minat audience yang kebetulan juga aktivis di dunia maya. Salah satu satu stasiun televisi swasta tersebut adalah tvOne. Sebagai televisi berita, website menjadi bagian penting, dimana di websitenya terdapat beberapa cuplikan berita (hard news) yang sudah ditayangkan di stasiun televisi tersebut. Selain itu, mereka yang mengakses website tvOne akan melihat live streeming program acara yang sedang on air.


Tulisan ini dibuat dalam rangka kuliah on line

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

CUMA SERIBU PERAK, CIN!

Tiap kali melihat jajanan ini, otak gw langsung memerintahkan diri buat membuka file masa kanak. File dimana terdapat hal-hal yang menggembirakan yang sebenarnya terlalu naif buat diingat kembali. Salah satunya, ya jajan jajanan kayak begini.

Terus terang gw nggak tahu kalo makanan ini nantinya bakal mempengaruhi kondisi kesehatan kita kelak. Tapi mana ada anak kecil mikirin sebagaimana manusia-manusia dewasa mikirin kayak begitu? Makanya kadang-kadang orangtua zaman sekarang terlalu cerewet dengan anak-anak mereka. Biasanya orangtua yang well educated. Yang ngerti soal bahaya zat pewarna, mengkonsumsi gula berlebihan, dan lain sebagainya. Sementara orangtua yang agak-agak kurang baca, ya cuek aja.




Kemajuan cara berpikir yang gw sebut sebagai health life style alias gaya hidup sehat, akhirnya memojokkan Tukang-Tukang jajanan kayak begini. Sekarang ini, relatif sulit menemukan Tukang ini. Dahulu, hampir tiap hari ngider di depan rumah gw. sekarang, kita bisa menemukan di SD-SD Negeri (ini kalo kita masih untung menemukan) atau nunggu di kampung-kampung (maksudnya pinggiran kota).

"Seribu, Dik," kata Bapak Tua penjual jajanan ini.

Busyet! Cuma seribu perak, Cin?! Yap! Inilah jajanan yang terbuat dari taburan gula yang diletakkan di sebuah piringan bulat, dimana piringan bulat itu mengitar. Mesin pengitar itu sangat manual. Taburan gula itu kemudian berubah menjadi sekumpulan benang-benang kusut. Mirip kayak rambut Nenek-Nenek. Makanya nggak heran jajanan ini disebut Rambut Nenek.

Kenapa Rambut Nenek? Memangnya nggak ada Rambut Kakek-Kakek yang kayak gini?

Udah dari sononya dinamakan begitu. Nggak tahu benar, nggak tahu salah, penamaan ini buat menghormati kaum Ibu. Ingat! Surga di telapak kaki Ibu, bo! Meski nggak ada Bapak-Bapak yang protes soal penamaan jajanan ini yang berbau gender, toh jajanan ini masih tetap eksis di era kapitalis. Lagipula terlalu berlebihan pula kalo masalah jajanan dikaitkan dengan masalah gender. It's too norak! Buat konsumen jajanan ini, yang penting hati senang dan perut kenyang.

"Emang makan Rambut Nenek bisa kenyang?"

"I don't know! Mungkin kalo elo makan Rambut Nenek gw yang keribo kenyang kali..."


video copyright by Brillianto K. Jaya

MIMPI BIKIN FILM ACTION

Buat gw, terowongan ini paling yahud di Jakarta. Terowongan yang berada di kawasan SCBD ini menghubungkan kita dari kawasan SCBD menuju ke dua jalan. Kalo ke kiri ke jalan Gatot Subroto. Lebih tepatnya samping Komdak. Sementara kalo ke arah kanan, ke arah jalan Senopati, yang melewati Electronic City dan JakTV.


Terowongan di waktu siang hari.


Kenapa gw bilang yahud? Sebab, tiap kali gw melewati terowongan ini, ide gw langsung muncul. Terutama ide membuat film action. Sebagai anak kampung yang sok jadi anak kapitalis, gw mencampurkan gaya bercerita Hollywood dengan kemasan lokal. Maklum, gw selalu menganut faham "think globally act locally".

Scene di terowongan ini menggambarkan Tukang Sayur yang dikejar-kejar beberapa penduduk kampung. Alkisah, penduduk kampung nggak terima salah seorang warganya ditukar dengan ayam potong. Padahal Tukang Sayur ngebet banget pada warga kampung itu buat dijadikan istri. Kebetulan baik si warga kampung yang kebetulan berstatus janda juga udah terlanjut suka pada Tukang Sayur.

"Kalo loe berani ambil si Zuleha, langkahi dulu mayat gw," begitu kata Ketua RT yang ternyata naksir berat sama Zuleha, yang tadi kita sebut sebagai warga kampung.

Tentu Tukang Sayur nggak mau jadi mayat atau melangkahi mayat Pak RT. Supaya nggak ada pertumpahan darah, Tukang Sayur mengulirkan ide menukar Zuleha dengan ayam potong yang jumlahnya lima ekor. Merasa terhina salah seorang warganya disamakan kayak barang dagangan yang bisa dibarter, Pak RT memprovokasi warga setempat buat membunuh Tukang Sayur. Nggak heran kalo Tukang Sayur langsung mengambil langkah seribu sampai ke terowongan di SCBD ini.


Terowongan di waktu malam hari.

Belum sampai ke ujung terowongan, dari arah berbeda, muncul sepasukan Tukang-Tukang yang membantu Tukang Sayur. Nggak heran kalo beberapa warga kampung yang sebelumnya mengejar Tukang Sayur jadi balik body dan kabur. Melihat warga kampung kocar-kacir, Tukang Sayur nyengir.

"Dimana-mana Pengusaha masih lebih unggul daripada Konsumen," kata Tukang Sayur yang mengaku diri sebagai Pengusaha. Gara-gara mengaku sebagai Pengusaha, doi kini berhasrat mau masuk jadi anggota Kadin alias Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

Sambil terus melaju dengan mobil, gw masih memikirkan judul yang tepat film action yang gw yang akan garap di bawah terowongan SCBD ini. Gw nggak yakin apakah tepat dikasih judul The Curious Case of Tukang Sayur? atau Underworld? Sementara ini masih gw diskusikan sama Producer yang biasa menggarap film biru.


video copyright by Brillianto K. Jaya

Wednesday, February 18, 2009

DUNIA TANPA SIMBOL

Sebagai manusia, kita terbiasa dengan kondisi yang udah ada saat ini. Wajah sih, namanya juga manusia. Dalam diri manusia, selalu ingin hidup santai. Take it easy. Kata orang, hidup udah susah, ngapain dipersulit lagi. Bikin pusing otak aja!

Padahal! Kalo kita mau sedikit mikir, ada banyak hal yang akan aneh kalo nggak eksis. Dalam note ini, hal yang gw maksud adalah simbol. Simbol? Yes! Kita memang nggak sempat berpikir jauh soal bantuan simbol dalam kehidupan kita. Aspek-aspek kehidupan kita udah terbantu oleh hal yang bernama simbol ini. Nggak bisa dipungkiri lagi, simbol juga membantu hidup para pemilik usaha, terutama produk-produk konsumtif.

“Terbayang nggak loe dunia tanpa simbol?” kata temen gw yang kerja di sebuah Agency Periklanan.

“Nggak! Ngapain gw bayangin? Ngabisin waktu aja! Mending gw ngurusin ketek gw yang udah mulai bau lagi. Padahal gw udah kasih deodoran berkali-kali. Deodorannya pun udah segala merek, Cin! What’s wrong with my ketek ya?”

“Lah, itu mah urusan elo! Mungkin ketek loe kudu disekolahin dulu kali!”

“Bener juga loe. Emang ketek loe sempat disekolahin, Cin?”

“Sempet dong, Cin! Sekolah sampe S3!”

Intermezo dikit, bo! Soalnya kita ngebahas simbol yang rada berat. Memang nggak seberat politik dan ekonomi sih. Back to simbol! Nah, sekali lagi simbol itu sangat membantu. Mari gw ambilkan contoh. Simbol di toilet yang menggambarkan “kepala pria” dan “kepala wanita” itu sngat penting. Bisa bayangkan kalo toilet tanpa simbol dua “kepala” itu? Pasti banyak cowok dan cewek yang nyasar. Cowok ke toilet cewek, sebaliknya cewek masuk ke toilet cowok.

Contoh simbol “kepala” di toilet kelihatannya sepele sih, tapi penting banget. Wong kadang-kadang, udah ada simbol “kepala” aja masih banyak yang nyasar masuk kok, ya nggak? Elo pernah kan nyasar? Ngaku deh! Padahal simbolnya udah jelas, simbol “kepala wanita” adalah seseorang yang rambutnya panjang atau pakai konde. Bibir orang ini pun diberi ketebalan warna. Itu maksdnya lipstik. Sementara penggambaran sosok pria di simbol “kepala pria” adalah berambut pendek dan bibirnya tanpa diberikan ketebalan warna.


Ini lebih cocok disebut sign atau tanda. Tanda sebuah batas antara Kelurahan A dengan Kelurahan B. Dikasih tanda supaya nggak gontok-gontokan soal wilayah masing-masing. Jangan sampai Lurah A minta dana ke warga yang seharusnya ada di wilayah Lurah B. Kalo terjadi, bisa-bisa perang antarwarga.


Beda kalo yang masuk toilet itu Waria. Manusia berjenis kelamin Waria ini memang gokil. Doi lebih nyaman masuk ke toilet bersimbol “kepala wanita”. Soalnya, doi merasa dunianya udah dunia wanita, meski Titit si Waria masih belum dipotong. Lagipula si Waria ini udah terbiasa kencing duduk kayak perempuan. Kalo si Waria masuk ke toilet bersimbol “kepala pria”, takut Tititnya dilihat sama pria-pria lain dan dikomentari. “Kok Tititnya kecil sih?” atau “Kok Tititnya belum dipotong sih?”

Simbol di toilet adalah contoh sederhana betapa simbol memberi peranan penting dalam kehidupan. Masih nggak percaya juga soal pentingnya simbol? Mari gw kasih contoh lagi. Sekarang elo bayangin simbol-simbol di jalan raya dihapus. Nggak ada lagi simbol “S coret” sebagai tanda dilarang parkir atau “P coret” sebagai simbol dilarang parkir, atau “U turn” sebagai tanda kendaraan boleh memutar balik, dan simbol-simbol lainnya. Apa yang terjadi? Yakin deh, dunia persilatan eh salah perlalulintasan akan kacau balau. Mobil akan seenaknya parkir di bawah tanda “P coret”. Mikrolet seenaknya berhenti di tanda “S coret”.

Traffic light gw anggap masuk dalam kategori simbol. Kenapa? Warna-warna yang ada di traffic light menunjukan simbol di dunia lalu lintas. Di seluruh dunia, udah disepakati bersama kalo di traffic light berwarna merah, itu tandanya kendaraan kudu berhenti. Lalu warna hijau, kendaraan boleh jalan. Sedang warna kuning, bisa dua arti. Arti pertama, siap-siap warna akan berganti jadi hijau. Ini kalo warna sebelum warna kuning adalah merah. Kalo warna sebelum warna kuning hijau, maka arti kuning setelah hijau maksudnya hati-hati warna akan berganti merah. Bingung?

Sebenarnya sih disiplin berlalulintas Manusia Indonesia, nilainya masih di angka 5. Ada nggak ada simbol, Angka ini sebenarnya masih mending dibanding angka 4. Padahal kalo harusnya angkanya memang 4. Separah itukah? Gw bisa berteriak: YES! Disiplin berlalulintas kita baru pada tahap kucing-kucingan. Maksudnya, kalo ada Polisi kita disiplin, kalo nggak ada jadi berprilaku primitif. Ironisnya, ada Polisi pun kadang para pengendara masih nekad menunjukan diri dalam hal ketidakdisiplinan mereka. Gokil nggak sih?

Di perempatan rumah gw, lampu merah udah nggak dianggap, Cin. Baik motor maupun mobil seenaknya menerobos traffic light. Apalagi Metromini atau Angkot, wah nggak perlu ditanya lagi, pasti menerobos, Cin. Polisi kadang ada, kadang nggak ada di situ. Lebih banyak nggak adanya sih. Kalo ada pun, nggak dianggap. Polisi lebih sibuk dengerin suara-suara yang keluar dari handy talky (HT) ketimbang ngurisin lalu lintas.

Sekarang dah ngerti kan kalo simbol itu penting dalam kehidupan kita? Nah, ada sebuah pemikiran yang gw ambil dari buku “Estetika: Sebuah Pengantar Filsafat Keindahan” karya DR. Matius Ali, M. Hum. Pemikiran filusuf asal Inggris: Susanne K. Langer yang mementahkan contoh gw di atas tadi. Lho kok?


Ini simbol Manusia yang punya dompet kurang uang. Kenapa? Yaiyalah, di dompetnya cuma tinggal selembar uang 50 ribuan. Sisanya cuma recehan. Padahal tanggal masih menunjukan tanggal 19. It means, gajian masih lama, bo!


Susanne membedakan antara tanda dan simbol. Tanda atau bahasa sononya sign itu dipakai buat menyatakan suatu hal, peristiwa, atau keadaan. Tanda merujuk pada objek. Antara tanda dan objek saling berhubungan. Ada dua macam tanda (1) tanda alamiah dan (2) tanda buatan.

Asap adalah contoh tanda alamiah. Penjelasannya begini, kalo kita melihat asap, itu tandanya bermacam-macam: air yang dimasak udah mendidih, ada kebakaran di hutan, ada orang merokok di dalam WC, dan contoh lain. Sementara contoh tanda buatan adalah peluit. Wasit yang meniupkan peluit di menit pertama maksudnya memberikan tanda ke para Pemain sepakbola agar memulai pertandingan. Semua Pemain pasti udah faham itu. Kalo ada Pemain yang nggak ngerti tanda bunyi peluit, itu namanya Pemain tolol.

Sekarang gimana dengan simbol? Simbol lebih merujuk pada konsep. Maksudnya, butuh pemikiran buat memahaminya. Ada makna denotatif maupun konotatif di dalam sebuah simbol. Beda dengan tanda yang cuma punya satu makna, yakni makna denotatif aja. Ngerti kan maksud makna denotatif dan konotatif? Itu pelajaran SMP kalee! Yasud, gw terangin lagi.


Kalo ada akronim "HD" itu tandanya Harley Davidson. HD udah jadi simbol biker sejati. Mereka yang pakai motor bermerek HD, udah pasti berjiwa biker. Nggak mungkin berjiwa Rinto Harahap atau Pence Pondaan. Saking mengkultuskan HD, banyak Manusia yang rela mentato diri simbol HD. Nggak cuma di lengan, tapi ada yang mentato jidat, dan di pantat.


Makna denotatif itu makna sesungguhnya. Maksudnya kalo kita melihat Maryln Monroe, kita akan memaknai Marlyn sebagai seorang wanita yang bernama Marlyn Monroe. Nah, kalo makna konotatif, kita akan memaknai Marlyn Monroe sebagai wanita seksi dan bintang Hollywood. Ngerti? Gw kasih contoh lagi ya? “Merah”, misalnya. Kalo makna denotatif, “merah” cuma dimaknai sebagai warna yang berwarna merah. Tapi kalo kita memaknai “merah” dalam konotatif, itu artinya “berani”.

Menurut Susanne, ada dua macam simbol. Simbol Diskursif dan Simbol Representasional. Simbol Diskursif adalah simbol rasional atau yang dapat dimengerti oleh nalar kita. Simbol ini biasanya terungkapnya secara bertahap. Misalnya “S Coret”. Kalo di frame cuma ada “S Coret”, itu sebuah tanda “dilarang stop”. Namun kalo pada frame berikutnya, ada seorang Wanita jalan dan berdiri di “S Coret”, itu akan melahirkan sebuah Simbol Diskursif. Coba tebak maksud adegan itu apa?


Simbol M kayak begini udah pasti tempat sasana tinju. Kok tinju? Soalnya, Manusia kudu berantem dengan emosinya. Di satu sisi kudu menjaga kesehatan, karena udah janji nggak makan fast food. Di sisi lain kudu berantem dengan perut yang keroncongan. Siapa yang menang? Bertinjulah sang emosi dan perut yang keroncongan itu.


Simbol Representasional yang lebih absurd dan subjektif. Kita yang mau coba memahami, perlu berkali-kali melihat. Sebagai contoh, lukisan-lukisan abstrak, ekspresionis, atau sur-realis. Buat elo yang bukan penggemar lukisan, pasti bakal kecewa melihat lukisan kayak cakar ayam. Nggak jelas! Absurd! Isi lukisan di kanvas cuma garis-garis atau cipratan-cipratan cat minyak. Padahal, si Pelukis bukan nggak bisa melukis. Garis-garis itu pasti punya makna simbolik.

Lain Susanne, lain Douglas Atkin. Menurut Direktur Strategi Agency Merkley and Partners dalam buku The Culting of Brands: When Customers Become True Believers ini, simbol adalah merek. Merek adalah simbol. Ini kok dibolak-balik? Piye? Udah jangan marah-marah! Mari kita lanjutkan. Simbol bukan sekadar sebuah ikon sederhana kayak salib, bintang, atau patung Buddha berperut besar. Simbol lebih seperti sebuah jejaring tanda-tanda yang terikat secara bersama membentuk keseluruhan makna.


Supaya menancapkan simbol atau merek ke otak Customer, salah satu resto membuat tulisan di cream kopi. Kreatif? Iya. Sama kreatifnya ketika resto ini membuat promosi via SMS yang mengelabui gw. Dibilang diskon 50%, eh ternyata cuma berlaku buat makanan tertentu. Udah gitu pesannya pun kudu di atas berapa puluh ribu. Dasar!


Tambah Atkin, merek telah menjadi tanda individual identitas manusia. Merek telah menjadi sesuatu yang begitu penting bagi representasi kultural. Ibarat kata, manusia rela “merajah” tubuh mereka dengan merek tersebut. Inilah yang dimaksud Atkin ujung-ujungnya “mengkultuskan” merek. Maksudnya? Begini, mohon maaf kalo rada sombong, gw kalo beli jins pilihannya cuma dua: Levi’s atau Lea. Kalo lagi punya duit banyak, ya Levi’s. Terserah mau yang serinya 501 atau 505 atau seri lain. Itu kalo punya duit. Tapi kalo duitnya cekak, ya pilihannya Lea. Kalo bener-bener nggak punya duit tapi nggak punya jins? Ya pake celana dalam aja kali, bo!

Nah, sekarang udah pada bingung kan soal simbol? Pokoknya, elo bisa simpulkan sendiri dari pendapat-pendapat di atas. Kalo gw tetap pada pendirian. Tanda-tanda di sekitar kita itu masuk kategori simbol. Simbol yang maknanya lebih denotatif alias mudah dimengerti. Begitu pula kalo elo melihat gambar “kerang” warna kuning, itu simbol Shell.

“Kalo gambarnya kayak kapal selam kecil berwarna kuning?”

“Ngambang nggak?”

“Ngambang di kali. Itu simbol apa hayo?”

“Itu mah tokai kaleeeee!!!!”


all photos by Brillianto K. Jaya

IKLAN KOCAK




Saturday, February 14, 2009

NGOMONG-NGOMONG MAS PERNAH NGUTANG NGGAK?

Rekor eksistensi warung ini barangkali bisa disejajarkan sama jabatan Presiden Soeharto. Tigapuluhdua tahun! Bukan waktu yang sebentar dan masih lebih tua dari umur Warmo di Tebet atau warung di Bulungan, Blok M. Entah kapan akan terus meladeni para Customer yang kelaparan. Uniknya lagi, bukan meladeni Manusia. Tapi meladeni Seniman yang doyan ngutang. Walah!


Lokasi warung ini cukup unik, yakni berada membelah tembok. Segaris dengan garis tembok. Kalo nggak ada warung ini, pasti jalanan ini cuma ada tembok putih. Berkat doa para Seniman, Warsen ini eksis meladeni perut lapar para Seniman dan warga sekitar situ selama lebih dari 30-an tahun.


Inilah Warung Mimi. Nama terakhir itu adalah pemilik asli warung ini. Wanita tua ini asli Cirebon. Jadi warung makan ini nggak cocok dibilang Warteg atau Warung Tegal. Lebih cocok disapa Warcir. Tapi kayaknya nggak enak menyebutkannya. Lebih pula jarang ada warung Cirebon yang disingkat-singkat. Ada baiknya kita singkat sebagai Warsen alias Warung Seniman.

Lho kok Warung Seniman?

“Dulu banyak Seniman makan di sini,” jelas seorang Ibu setengah baya ke gw. Ibu setengah baya ini nggak lain adalah Putrinya Ibu Mimi, pencetus lahirnya Warsen ini.


Jendela kayu yang menggunakan kayu sebagai penyangga, tetap dipertahankan sampai sekarang. Bukti, arsitektur bahuela gak harus ikut-ikutan arsitektur modern. Yang penting makanan yang tersedia tetap lezat. Perhatikan tembok di depannya. Itu tembok TIM yang saat berdiri Warsen ini masih pakai seng.


Menurut Ibu setengah-setengah tadi itu, banyak Seniman jebolan TIM yang sekarang udah ngetop, makan di sini. Mulai dari El Manik, Didi Petet, Darmanto, dan Sardono W. Kusomo yang sekarang jadi Rektor Institut Kesenian Jakarta. Deretan nama-nama ini semakin panjang, karena memang terlalu banyak Seniman yang udah pernah merasakan makan di Warsen milik Ibu Mimi ini. Nggak cuma makan, banyak yang ngutang pula. Jangan-jangan mereka yang udah jadi “orang” ini masih punya hutang?

“Nggak tahu deh!” Ibu setengah itu tersenyum. Kayaknya doi nggak peduli sama hutang Seniman-Seniman yang udah ngetop itu. “Yang penting someday mereka bisa mengharumkan nama bangsa dan negara di kancah internasional. Dengan begitu, kita-kita sebagai orang Indonesia jadi ikut-ikutan happy”. Kalimat itu bukan milik Ibu setengah-setengah. Tapi milik gw.


Banyak Seniman TIM yang udah jadi "orang" sempat makan dan ngutang di Warsen ini. Wajah para Seniman, kini cuma bisa disaksikan di televisi yang ada di Warsen itu. Mereka udah jarang datang ke Warsen. Boro-boro bayar utang, mencicipi usus dan ati ampela udah nggak sempet lagi. Sibuk syuting lah yau!


Cara makan Seniman sama kayak Manusia biasa. Sometimes mereka pakai sendok dan garpu, sometimes mereka cuma pakai tangan dan kaki. Menu yang dimakan para Seniman juga nggak beda-beda amat kayak menu yang dipilih para Manusia. Kalo kebetulan ada duit, makannya sayur plus dadar telor. Kalo kebetulan nggak ada duit dan niat mau ngutang, makannya pake sayur plus telor dadar. Bedanya apa ya? Sebenarnya memang nggak ada beda. Bukankah gw udah bilang Seniman dan Manusia nggak ada bedanya? Begitu pula kalo lagi punya duit dan nggak punya duit pun nggak ada bedanya kalo makan? Maklum Seniman, nyentrik!

“Kalo mbak Renny mah sukanya makan pakai ati ampela,” kata Ibu setengah-setengah itu. Yang dimaksud Renny di kalimat Ibu tadi bukan Renny Pattinasarani. Soalnya Renny itu nama Wanita. Sementara Renny yang belakangnya pake Pattinasarani itu pemain sepakbola nasional yang udah wafat. Renny yang berwujud Wanita ini nggak lain nggak bukan si Lady Rocker yang selalu memakai banyak aksesoris di seluruh badannya: Renny Jayoesman. Bagi yang nggak kenal nama ini, please bayangin aja wajahnya ya? Mirip-mirip kayak Mariem Barlina gitu deh!


Menu makanan di Warsen macam-macam. Nggak cuma tahu atau tempe goreng. Ada usus, ati ampela, telor ceplok dicabein, tempe orek, dan lain sebagainya. Jangan lupa cicipi sambalnya. Pedes-pedes gimana gitu...


Terus terang, jasa Warsen ini sangat berjasa bagi khalayak Seniman saat itu. Berdiri sejak 30-an tahun lalu, kala Taman Ismail Marzuki masih sebuah proyek yang sedang menggerjakan kompleks seni. Tembok yang sedang udah berdiri tegak, dahulu masih berupa seng. Elo pasti bisa ngebayangin kalo sebuah proyek sedang dikerjakan, pasti seluruh lokasi proyek ditutupi seng. Nah, berdirinya Warsen milik Mimi ini masih kayak begitu.

Soal lokasi, dari dulu sampai sekarang sih masih sama. Berada di sebuah gang di Kalipasir. Warsen benar-benar nyempil di tengah sebuah tembok yang membatasi gang Kalipasir dan duni lain. Dunia lain ada bank, ada bangkel, dan ada-ada yang lainnya. Struktur bangunan Warsun ini nggak banyak berubah. Ada sih renovasi sedikit demi sedikit.

“Itu kalo ada orang bengkel yang mau makan,” kata Ibu setengah-setengah yang menjelaskan soal lubang di bagian dapur.


Ini di bagian dapur yang menghubungkan dengan ruang istirahat. Ada dipan tempat tidur Pelayan Warsen yang kalo lagi cape bisa ngaso di situ. Perhatikan di samping lemari, ada lubang berdiameter 5 cm. Itu lubang udah ada sejak dahulu kala. Entah berapa juta rupiah transaksi yang terjadi lewat lubang itu. Yang pasti itu lubang halal toyyiban.


Lubang itu boleh jadi lubang sejarah. Soalnya umurnya udah lama. Sejak gw terakhir makan di Warsen ini tahun 2004-an, lubang itu dibiarkan berlubang sampai tahun udah memasuki 2009. Entah udah berapa rupiah yang dihasilkan Warsen ini via transaksi lubang. Untung lubang itu halal. Artinya transaksi yang terjadi via lubang, menghasilkan uang yang diridhoi Tuhan. Coba kalo lubang yang dimaksud adalah lubang maksiat, mau harga lubangnya selangit tetap aja duit yang diterima adalah duit panas alias nggak halal.

Kini, di tengah-tengah persaingan para Caleg yang narsis, Warsen masih eksis. Terus terang gw bersyukur masih bisa menikmati tahu goreng atau sayur labu siem yang maknyos di warung ini. Gw juga masih menikmati sambal yang dari tahun 1999 sampai 2009 ini racikannya masih sama. Pedas-pedas endang! Gw berdoa, semoga Ibu setengah-setengah ini bisa mewarisi Warsen ini dari Ibu Mimi yang kebetulan gw nggak sempat melihat lagi wujudnya. Katanya sih masih hidup dan tinggal di Cirebon.

“Ngomong-ngomong Mas pernah ngutang di warung ini nggak ya?”

Terus terang, ditodong begitu gw jadi minder. Antara yakin nggak yakin punya utang. Tapi gw sempat mempertanyakan di luar masalah utang, yakni soal Seniman. Harusnya gw nggak makan di warung ini, karena gw bukan Seniman. Gw cuma Manusia biasa yang penuh bergelimangan dosa. Jadi, maafkan daku kalo dianggap masih punya utang. Moga-moga ada yang ikhlas mau bayarin gw. At least nanti gw bayar setelah dapat bonus dari kantor gw.

“Emang situ dapat bonus?”

all photos by Brillianto K. Jaya

Thursday, February 12, 2009

MEMPERTANYAKAN OBJEKTIVITAS DOKTER

Waktu kecil gw sempat ditanya Mama dan Papa. Biasalah, pertanyaan klise, soal cita-cita. Mau jadi apa kalo gw udah besar nanti? Sebenarnya pertanyaan orangtua gw yang tercinta ini kayak pertanyaan jebakan. Lho jebakan? Iya! Mereka pasti udah tahu kalo udah besar, gw tetap jadi Manusia, bukan jadi Monyet.

Gw terlahir bukan kayak anak kecil biasa. Yang kalo ditanya soal cita-cita, jawabannya pasti klise. Kalo nggak mau jadi Dokter, Insinyur, ya biasanya mau jadi Pilot. Ada juga sih ada anak-anak yang lebih pintar. Ketika ditanya mau jadi apa, jawabannya mau jadi Astronot. Keren banget kan cita-cita jadi Astronot? Bisa pergi ke bulan. Padahal kalo nggak sempat ke bulan, anak-anak berjenis kelamin Wanita, nggak perlu risau kalo nggak sempat jadi Astronot dan pergi ke bulan. Kenapa? Soalnya saban bulan, pasti Wanita akan dapat bulan. Kecuali Wanita itu sebenarnya berwujud Pria kayak Dorce.

Ada juga sih yang mau jadi Polisi atau Tentara. Ini profesi yang luar biasa. Sempat-sempatnya kepikiran ya anak-anak kecil? Mungkin anak-anak ini udah bisa melihat, profesi ini bakal laku keras di pasaran. Maksudnya? Kalo Polisi ini memang dibutuhkan saat-saat ini. Nggak cuma di Jakarta, tapi di Sumatera Utara, maupun kota-kota lain. Jumlah Polisi yang belum seimbang sama warga masyarakat, membuat lowongan menjadi Polisi terbuka lebar.

Tanpa Polisi, nggak mungkin demonstrasi anarkis yang dilakukan Mahasiswa atau LSM bisa selesai. Polisi kudu turun menangani Intelektual Muda yang norak-norak itu. Norak gara-gara demontrasinya sampai menghancurkan fasilitas umum. Polisi juga kudu menangani masalah perang antarkampung yang kerap terjadi dan menjadi bagian budaya primitif Indonesia.


Malaikat kecil gw lagi main dokter-dokteran, karena cita-cita mereka jadi Sutradara atau Animator. Apa hubungannya? Emang nggak ada! Yang satunya lagi cita-citanya jadi President. Tapi gw pesan, kalo jadi Presiden jagan kebanyakan promosi dan korupsi


Lalu kalo ditanya cita-cita apa jawaban gw?

Sebagai anak kecil, gw udah sempat berpikir besar. Gw ingin jadi Medical Representative. Apaan tuh? Nah, elo-elo ini jangan udik dan norak deh. Masa nggak tahu profesi yang selalu dekat dengan Dokter ini? Coba deh sekali waktu elo sakit dan nunggu di rumah sakit. Beberapa orang yang berpakaian rapi yang duduk di situ, bukanlah pasien. Jarang banget pasien dandan pas ke dokter. Yang rapi itu nggak lain adalah Medical Representative alias seorang wakil dari perusahaan farmasi yang menjual produk obat-obatan. Kita sebut dia dengan akronim MR.

Selain dandan, ciri-ciri MR adalah membawa tas. Ada yang pakai tas ransel, tas genggam, dan tas gendong. Gw nggak akan jelaskan satu per satu tas-tas itu. Nggak penting. Yang penting cerita soal si MR itu, ya nggak?

Di dalam tas-tas itu, biasanya ada brosur-brosur produk yang mereka wakili. Tergantung dari perusahaan tempat si MR ini kerja. Kalo di perusahaan ada banyak produk, otomomatis brosurnya banyak. Kalo di perusahaannya cuma ada satu produk, ya brosurnya cuma satu. Supaya nggak terlihat miskin brosur, makanya di tas MR dimasukin brosur-brosur lain, mulai dari brosur apartemen, rumah makan, dan brosur promo toko elektronik.




Target MR menjual sebanyak-banyaknya produk dari perusahaannya. Semakin banyak terjual, semakin memungkinkan mereka mendapatkan bonus. Ada strategi yang udah lazim digunakan agar target penjualan si MR tinggi, yakni bekerjasama dengan Dokter. Di sinilah beberapa Dokter “bermain”.

“Terserah mau pilih apa: mau mobil baru, rumah baru, atau jalan-jalan ke luar negeri?”



Pilihan-pilihan menarik kayak begitu, seringkali ditawarkan perusahaan farmasi via MD. Siapa yang nggak tergiur dengan tawaran tersebut? Buat Dokter yang belum punya rumah, tentu akan pilih rumah baru. Buat yang udah sering jalan-jalan ke luar negeri tapi nggak punya rumah, jelas akan pilih mengganti mobil lama menjadi mobil baru.

“Kalo udah punya mobil, rumah, dan jalan-jalan ke luar negeri milih apa dong?”

“Istri baru kali!”

Entahlah, ada nggak Dokter yang punya permintaan kayak begitu. Mungkin juga sih Dokter melakukan poligami. Bukankah Dokter juga manusia? Anyway, barangkali ada yang bertanya-tanya apa yang melatarbelakangi Dokter ditawari hal-hal menarik dari perusahaan farmasi?

• Ucapan Dokter seringkali kayak ucapan “Tuhan”. Maksudnya, mayoritas Pasien akan menelan mentah-mentah apa yang Dokter ucapkan. Dokter memberi saran A, Pasien akan menjalankan saran A itu. Apalagi kalo si Pasien udah jadi pelanggan tetap Dokter tertentu, wah ini udah pasti Dokter itu akan jadi “Tuhan”-nya si Pasien itu. Padahal ucapan Dokter nggak boleh ditelan mentah-mentah. Uniknya, saran Dokter A belum tentu sama dengan saran Dokter B. “Mungkin lain Universitas, lain sarannya kali,” kata seorang Pasien yang agak goblok tapi tolol.

• Persaingan antarperusahaan farmasi membuat perusahaan-perusahaan ini melancarkan strategi “perang dagang”. Kalo nggak mampu berperang, udah pasti perusahaan farmasi itu akan gagal dan ujung-ujungnya gulung tikar. Oleh karena itu, sebagai garda terdepan produk perusahaan farmasi, MR dikasih target. Target MR akhirnya juga menjadi target Dokter. Kalo Dokter mampu menjual produk tertentu, maka akan mendapatkan imbalan. Imbalannya ya itu tadi: mobil baru, rumah baru, atau jalan-jalan keluar negeri

Tulisan ini bukan bermaksud mendeskriditkan profesi Dokter. Buat gw, Dokter adalah profesi terhormat. Tanpa Dokter, nggak mungkin orang-orang sakit bisa mendapatkan clue atau solusi, penyembuhan penyakit yang mereka derita. Ya nggak? Namun, tulisan ini adalah refleksi dari pengalaman gw dan hasil gw mendengar dari teman-teman gw yang kebetulan udah pernah berhubungan dengan Dokter.

Berbeda kasus dengan Dokter yang ikutan Multi Level Marketing (MLM). Dokter jenis ini nggak mau dikasih target oleh MR. Buat doi, kalo terget MR terlampaui, itu sama aja mensukseskan perusahaan farmasi milik orang lain. Lho kan Dokter yang memenuhi target tetap dapat kompensasi? Iya sih mobil baru, rumah baru, atau jalan-jalan ke luar negeri.



“Tapi kalo sukses di MLM, hasilnya buat diri sendiri dan keluarga,” kata temen gw sok tahu. “Hasilnya pun bisa diwariskan buat anak dan cucu”.

Kalo dipikir memang enak sukses di MLM ketimbang mensukseskan target perusahaan farmasi. Dalam MLM, Dokter nggak menjual obat-obatan. Biasanya MLM menjual food supplement. Apa itu food supplement? Food supplement sebenarnya beda banget sama vitamin. Namun banyak orang menyamakan food supplement dengan vitamin, termasuk beberapa Dokter.

Menurut buku yang gw baca, food supplement adalah “makanan tambahan”. Maksudnya, “makanan” yang dibuat kayak vitamin yang berfungsi buat menambah kebutuhan yang kurang di tubuh kita. Setiap manusia beda-beda kebutuhannya. Ada yang nggak suka sayur. Ada yang nggak suka buah. Ada yang kurang vitamin A. Ada yang suka ngerokok dan butuh antioksidan. Nah, di tubuh mereka kudu disupply “makanan” yang memenuhi kekurangan-kekurangan itu.

Data World Health Organitation (WHO), konsumsi buah dan sayuran penduduk Indonesia cuma 2,5 porsi sehari. Padahal yang disarankan sebanyak 5-9 porsi setiap hari. Nah, food supplement membantu memenuhi asupan gizi orang. Kasus lain, lingkungan yang tercemar polusi udara trus ditambah aktivitas manusia yang padat, memproduksi jutaan radikal bebas. Kasus ini banyak terjadi di kota-kota besar, Oleh karena itu, dibutuhkan antioksidan buat memperbaiki sel-sel yang rusak, yakni food supplement yang mengandung asupan vitamin A, C, dan E.

“Tapi gw nggak butuh food supplement!” kata Pasien yang lebih mempercayai ucapan dokter dari fakta-fakta soal food supplement. “Kata Dokter gw, yang penting kita menjaga pola makan kita.” Aneh!


Kata sebagian Dokter, yang penting jaga pola makan. Nggak perlu food supplement. Dokter mana yang bisa menjamin si Pasien selalu punya pola makan sehat? Kalo si Pasien suka makanan kayak begini, kayak-kayaknya food supplement tetap penting deh!

Berdebat soal food supplement memang nggak akan habisnya. Lagi pula kita nggak akan membahas banyak soal food supplement panjang kali lebar kali tinggi di sini. Kita membahas soal hubungan Dokter dan perusahaan farmasi. Kita balik lagi ya? Jadi, sekali lagi Dokter lebih suka sukses di MLM ketimbang produk dari perusahaan farmasi. Food supplement yang direkomendasikan Dokter ke Pasien menjadi alternatif menjaga kesehatannya. Ingat! Bukan untuk mengobati, karena food supplement bukan obat. Nah, kalo rekomendasi Dokter diterima Pasien, otomatis penjualan food supplement akan meningkat. Dari penjualan itu, ada rabat atau selisih keuntungan berupa cash. Kalo yang cash biasanya non-member dari perusahaan MLM. Tapi kalo yang member, ada point-point yang jika terkumpul akan menghasilkan bonus dari si Dokter. Bayangkan kalo member si Dokter jumlahnya puluhan ribu orang? Puluhan ribu orang itu setiap bulan membeli food supplement dan menyumbang point-point buat si Dokter?

“It’s gonna be passive income!”

Namun, Dokter yang ikut MLM nggak terlalu maksa Pasien. Maklum, food supplement bukan obat. Food supplement is only food supplement yang tujuannya mencegah sebuah penyakit berkembang lebih besar atau mencegah agar Pasien nggak terserang penyakit. Intinya, mencegah. Jadi kalo ada perusahaan MLM yang bilang food supplement-nya bisa mengobati, itu bukan kategori food supplement tapi udah obat. Kalo obat, itu artinya nggak dibuat dari bahan alami lagi (non-organik), tapi udah tercampur bahan kimia.

Terlepas dari produk farmasi atau MLM, banyak orang yang mempertanyaan soal objektivitas Dokter. Maksudnya? Kayak yang udah dijelaskan di atas, ucapan Dokter kayak ucapan “Tuhan”, biasanya obat-obatan yang nggak diperlukan Pasien terpaksa diberikan. Pasien jadi nggak punya hak buat memilih obat. Semua berdasarkan resep si Dokter. Resep Dokter ditelan mentah-mentah oleh si Pasien.

“Makanya gw paling sebel kalo ketemu Dokter yang sok nggak punya waktu,” protes temen gw. “Dokter nggak bisa ditanya-tanya soal penyakit si Pasien. Doi cuma periksa badang gw sebentar, trus nulis resep, dan gw langsung diusir keluar. Soalnya banyak pasien yang menunggu.”

“Makanya cari Dokter yang cuma terima Pasien dikit,” kata temen gw yang katanya punya Dokter langganan yang selalu membatasi jumlah pasien.



Dokter membatasi pasien? Mungkin elo nyangka, Dokter ini Dokter nggak laku. Mana ada Dokter membatasi jumlah Pasien? Yang ada Dokter mencari Pasien sebanyak-banyaknya, ya nggak? Salah! Ada beberapa Dokter yang memang idealis. Dokter ini nggak mau periksa banyak Pasien. Dalam sehari, Dokter model begini membatasi jumlah Pasiennya per hari. Ini tujuannya supaya hubungan si Dokter dan Pasien lebih dekat. Artinya, komunikasi nggak tergesa-gesa. Pasien mau tanya apa aja, dijawab dengan waktu yang cukup melegakan si Pasien. Pokoknya Dokter idealis nggak kejar setoran atau kalo istilah televisi kejar tayang.

Selain nggak ngejar setoran, Dokter idealis ini juga memberikan kebebasan si Pasien. Mau pake food supplement silahkan, mau pake produk dari perusahaan farmasi monggo. Sing penting, hidup Pasien nggak ditangan sang Dokter. Tapi atas diskusi antara Dokter dan Pasien. Indah bukan?

all photos by Brillianto K. Jaya

AN EVENING AT BALAI KARTINI - a video version




video by Brillianto K. Jaya

Tuesday, February 10, 2009

THE VERY BEST VAN HALEN

Lagu Pretty Woman dinyanyikan di US Festival tahun 1983...



Ini versi video klip asli Jump, dimana masih ada David Lee Roth...






Nah, ini lagu Panama yang dinyanyikan oleh Sammy Haggar ketika Van Halen live di Tokyo Dome tahun 1989...



Ini ketika Van Halen live di Toronto Canada tahun 1995...



Van Halen ketika vokalinya Gary Cherone (vokalis Extreem), live pada tahun 1998 di Australia...

Monday, February 9, 2009

DO YOU REMEMBER ME?

Umur memang nggak bisa diprediksi. Entah itu manusia atau bisnis, kalo umur udah diharuskan tamat, mengakhiri hidup alias mati, ya matilah. Ini dialami sendiri oleh Bale Air Food Village. Vanue yang di tahun 2000-an sempat dikeramatkan sebagai one of best tongkrongan at Jakarta, eh akhirnya bernasib mengenaskan. Padahal di sini dulu ada jibunan resto. Ada Banana Cafe, Flame Wine And Grill, Kentucky Fried Chicken, Boutique Cafe, Dapur Tempo Doeloe, Resto Sunda Kelapa,dan tentu saja Dapur Sunda.

Kini Bale Air Food Village yang dahulu nan jaya tinggal puing-puing berserakan. Air mancur nggak lagi mengucur. Air PAM-nya udah diputus. Kalo PLN, masih ada sedikit watt buat menerangi beberapa spot. Padahal dulu bayar listrik sampai 40 juta, bo! Saluran telepon (021) 520442 dan 5204253 juga nggak bakal nyambung. Kecuali Anda nekad menghubungi nomor itu, bisa jadi Anda akan mendengar suara Sundel Bolong atau Hantu Gatot Subroto (Hantu Gatsu yang masih temenan sama Hantu Jeruk Purut).

Do you remember me? One of a great place to hang out?


Pintu masuk Bale Air yang letaknya di jalan Gatot Subroto kav 18. Pesis di apit sama gedung Menara Jamsostek dan Museum ABRI Satria Mandala.


Dahulu ini resto di depan Dapur Sunda. Gw lupa nama resto itu, karena nggak ada Tuyul atau Mbak Yul yang bisa gw tanyain.


Petunjuk arah, dimana akan memberikan arah kemana elo mau makan. Kalo sekarang petujuk kemana arah elo mau ketemu Setan. Ke Utara ketemu Setan Utara, ke Selatan ketemu Setan Selatan. Which one do you choose?


Di depan pot-pot ini dahulu ada air mancur. Sekarang cuma ada genangan air bekas hujan yang nggak mancur-mancur.


Papan petunjuk again yang letaknya ada di depan. Pas elo parkirin mobil, papan petunjuk ini udah ada. Sekarang papan petunjuk ini pun udah ada, tinggal elo mau parkirin mobil di reruntuhan eks Bale Air ini apa nggak?


Sisa bale-bale yang dahulu jadi incaran orang-orang buat leye-leye. Maksudnya duduk, makan, dan menikmati angin sepoi-sepoi. Sekarang, boro-boro bisa dinikmati, pantat elo bisa ketusuk paku kalo bale ini diduduki.


Konon bekas sisa-sisa beton ini tercium bau ayam goreng. Artinya, dahulu di sini berdiri salah satu outlet Kentucy Fried Chicken yang dikomandoi oleh seseorang yang pangkatnya nggak naik-naik dari dulu sampe sekarang, yakni Kolonel Sanders. Harusnya udah jadi Jenderal Sanders?


all photos by Brillianto K. Jaya