Wednesday, December 3, 2008

WARUNG PADANG: "KENCING AJA BAYAR!"

Sekarang ini saya harus hati-hati makan di restoran Padang. Yang saya maksud di sini bukan tempat makan di belakang gedung-gedung perkantoran yang kebetulan menjual masakan Padang. Bukan, bukan itu. Namun restoran Padang di sini yang kebetulan sudah di-franchise-kan namanya. Sebut saja Sari Bundo.

Kenapa saya harus hati-hati, atau bahkan sekarang ini saya jadi kapok makan di Sari Bundo? Latar belakangnya barangkali karena kebodohan saya sendiri. Bahwa saya nggak ngerti apa-apa yang disajikan di restoran itu dan kemudian kita makan atau diminum itu semua dihargai. Pasti jawaban Anda: ”Ya, iyalah!”

Siang itu saya dan istri lapar sekali. Perut kami sudah mendendangan irama keroncon yang aduhai. Kami kebetulan lagi ngidam masakan Padang. Sudah dua bulan ini, kami nggak makan masakan Padang. Bukan karena uang, lho, tapi lebih kepada masalah kesehatan. Buat yang ngerti, pasti akur menjawab, makan di warung Padang nggak boleh sering-sering. Santannya itu lho, nggak ”tahan”, euy! Nah, karena dalam posisi lapar dan kebetulan melihat ada warung Padang Sari Bundo, kami langsung membelokkan mobil.

Siang itu restoran nampak sepi. Saya nggak tahu kenapa sepi, padahal waktunya makan siang. Kami duduk di sebuah meja, dimana persis di samping meja yang kelihatannya baru ditinggalkan pelanggannya yang baru makan. Itu terlihat dari piring kotor, gelas kosong yang berisi sisa jus, dan mangkuk-mangkuk kosong yang di tengahnya masih terlihat sedikit sisa kuah. Yang menarik perhatian kami, ada mangkuk berisi aneka buah yang masih utuh. Ada potongan buah pepaya, semangka, dan melon.

Seperti biasa, pelayan warung itu meletakkan mangkuk-mangkuk berisi lauk dan sayuran di atas meja kami. Selain makanan, tak lupa segelas teh tawar. Dari dulu, resep mengapa bisnis warung Padang nggak ada matinya. Tipsnya, sediakan sebanyak mungkin aneka lauk di mangkuk. Mulai dari ayam pop, otak, ikan kembung bakar, sampai telor balado. Tak lupa nasi putih tambahan. Secara psikologis, jika aneka lauk sudah tersedia di depan mata orang lapar, bukan tak mungkin akan berpengaruh pada nafsu. Ujung-ujungnya, orang lapar akan menggambil lauk lebih dari satu dan nasi pun ditambah. Ini terjadi pada saya yang secara emosional akhirnya menggambil tiga lauk.

Begitu lahapnya saya. Maklum lapar. Keringat yang mengucur deras. Padahal di warung itu terdapat ruang penyejuk udara. Sambil terus melahap, sesekali saya menyerup teh hangat yang sudah disediakan bersama kobokan. Begitu nikmat. Sampai-sampai saya tak sadar sudah menghabiskan beberapa lauk dan sepiring nasi lagi. Kelar makan, saya masih sempat menikmati beberapa potong buah di mangkuk.

Saya dan istri cukup kaget begitu terima bon. Bukan kami tak bawa uang dan harga di warung Padang itu mahal. Kami sudah sadar, warung Padang franchise model Sari Bundo pasti harganya di atas rata-rata. Yang bikin kaget sebenarnya justru hal yang menurut kami sepele. Air teh hangat dan potongan buah itu ternyata dihargai juga. Segelas teh dihargai duaribu rupiah, sementara potongan-potongan buah dihargai limaribu rupiah.

Mohon maaf kalo saya dianggap terlalu berhitung, terlalu pelit untuk mengeluarkan tujuhribu rupiah untuk segelas teh tawar dan semangkuk potongan buah. Bukan, bukan itu masalahnya. Saya cuma protes, perlakukan warung Sari Bundo itu ke pelanggan. Bahwa saya mengira sebuah teh tawar dan buah adalah sebuah bentuk complementary, sebagaimana saya makan di sebuah restoran yang selalu memberikan complementary puding atau es krim setelah makan. Ternyata di Sari Bundo, dua item itu nggak gratis. Kejadian itu menyadarkan saya dan saya jadi mengerti, kenapa orang yang makan sebelumnya, yang di samping saya tadi, tidak makan buah sama sekali. Pasti mereka sudah tahu kalo apa yang disediakan di meja, nggak gratis.

Pengalaman di atas itulah yang membuat saya harus hati-hati makan di warung Padang. Selain teh tawar dan semangkuk buah, jangan-jangan nantinya tusuk gigi dan tisu akan dihargai juga. Tapi memang inilah wajah Indonesia, khususnya Jakarta. Semua hal harus diukur dengan uang. Makanya jangan heran kalo ada idom: “Ini Jakarta, Bang! Kencing aja bayar, kok!”

Buat saya, apa yang dilakukan di warung Padang Sari Bundo, bisa menjadi cermin buat para pengusaha makanan. Nggak usah pelit-pelit lah memberikan complementary ke customer, karena bukan masalah nilai uang yang harus dikeluarkan Costomer. Tapi caranya aja yang (kalo bahasa politiknya) kurang elegan. Ini untuk kepentingan si warung itu juga kan? Ingat, kesan pertama akan berpengaruh pada keinginan untuk makan di tempat itu lagi. Apalagi sistem promosi untuk sebuah tempat makan itu via MLM alias mulut lewat mulut.

No comments: